“Aku mohon, tolong aku,” kata Zafira kepada Samuel, seorang dokter kandungan yang juga merupakan suami dari sahabatnya sendiri, pemilik sebuah agen perjalanan.

Udara di ruang praktik Dokter Samuel terasa menyesakkan bagi Zafira. Aroma antiseptik yang biasanya menenangkan, kini seolah menusuk hidung, memperparah rasa mual yang menderanya bukan karena kehamilan, melainkan karena ketakutan yang luar biasa. Di hadapannya duduk Samuel, dokter kandungan yang juga suami dari Sita, sahabat karibnya. Zafira menggenggam erat ujung blus hijaunya, buku-bukunya memutih menahan emosi yang siap meledak.

“Aku mohon, tolong aku, Mas Samuel,” ucap Zafira, suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi akhirnya luluh, membasahi pipinya yang memiliki bekas luka samar akibat kecelakaan masa lalu.

Samuel menatapnya dengan pandangan iba namun juga serba salah. Ia menghela napas panjang, melepas kacamata bacanya. “Fira… ya ampun. Kamu tahu risikonya. Ini menyangkut kode etik. Aku nggak bisa membuat surat keterangan palsu, apalagi menyatakan kamu sudah keguguran. Davin itu bukan orang sembarangan, dia pasti akan memverifikasi surat itu.”

Zafira menggeleng putus asa. Ia membungkuk, menyentuh tangan Samuel di atas meja. “Aku tahu, Mas. Tapi ini satu-satunya cara. Davin memberikan aku uang dua miliar rupiah, Mas. Dua miliar, dengan syarat aku harus menggugurkan kandungannya hari ini juga. Dia nggak mau anak ini. Dia bilang anak ini akan menghancurkan reputasinya dan rencana pernikahannya dengan Dinda.”

Tangis Zafira pecah menjadi isak tangis yang menyayat hati. “Aku sudah menerima uang itu, Mas, karena aku terdesak. Dia mengancam akan menghancurkan hidup keluargaku kalau aku menolak. Tapi… aku nggak sanggup membunuhnya. Aku sudah ke klinik lain, tapi mereka semua menolak karena usia kandunganku sudah tiga bulan dan detak jantungnya kuat sekali. Aku mohon, Mas. Tolong buatkan surat itu seolah aku keguguran secara alami. Aku akan kembalikan uangnya kalau perlu, atau aku akan pergi jauh dan nggak akan pernah kembali. Tolong selamatkan anakku.”

Pintu ruang praktik tiba-tiba terbuka. Sita, sahabat Zafira, masuk dengan wajah cemas. Ia baru saja memarkir mobil dan mendengar sebagian percakapan itu. Sita segera mendekati Zafira dan merangkul bahunya. Tatapannya tajam namun penuh kasih. Ia tahu persis penderitaan Zafira selama tiga tahun menikah dengan Davin, seorang pengusaha kaya yang arogan dan egois.

“Mas,” panggil Sita lembut namun tegas kepada suaminya. “Tolong bantu Zafira. Davin itu monster. Dia sudah menyiksa Zafira secara batin selama ini, dan sekarang dia mau membunuh anak yang tidak berdosa itu. Aku saksi hidup betapa Zafira sangat mendambakan anak ini.”

Samuel memijat pelipisnya. Dilema besar menggelayutinya. Di satu sisi ada sumpah dokter, di sisi lain ada nyawa dan masa depan sahabat istrinya. “Sita, kamu sadar apa yang kamu minta? Kalau ketahuan, lisensiku bisa dicabut. Davin itu punya koneksi di mana-mana.”

“Kita nggak punya pilihan lain, Mas,” sela Zafira di sela isak tangisnya. “Aku sudah menghubungi Tante Desi, bibiku di kota kecil Jawa Timur. Aku akan pindah ke sana. Davin nggak akan pernah tahu aku melahirkan. Aku akan resign hari ini juga dari agen perjalanan Sita. Tolong, Mas. Sekali ini saja.”

Samuel menatap ketiga wanita itu bergantian. Ia melihat tekad baja di mata istrinya dan keputusasaan yang mendalam di mata Zafira. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengangguk pelan. “Baik. Aku akan buatkan surat rekam medis yang menyatakan kamu mengalami pendarahan hebat dan keguguran spontan di sini, hari ini. Tapi ingat, Fira, ini rahasia kita bertiga. Kamu harus benar-benar pergi jauh dan tidak meninggalkan jejak sekecil apa pun.”

Zafira memeluk Samuel dan Sita bergantian, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Beban di pundaknya sedikit terangkat, meski ketakutan masih membayangi.

Sita menatap sahabatnya dengan prihatin. Zafira adalah karyawan terbaiknya sekaligus teman yang paling setia. Ia tahu kehilangan Zafira akan menjadi kerugian besar bagi agen perjalanannya, namun keselamatan Zafira lebih utama. “Nanti tetap kasih kabar kalau kamu sudah pindah, Fira. Aku tetap bisa mendukung kamu dari jauh. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan. Siapa tahu nanti setelah kamu melahirkan, kamu mau kerja lagi. Kamu pintar, Fira. Mungkin bisa lanjut kuliah, ambil jurusan sekretaris atau bahasa asing.”

Zafira mengangguk lemah, menyeka sisa air matanya. Ia sudah menyusun rencana dalam benaknya. Uang dari Davin akan ia gunakan dengan bijak. Ia akan membeli sebidang tanah di desa bibinya, membangun rumah sederhana, dan membuka usaha kecil-kecilan. Ia juga bertekad melanjutkan kuliah S2, meskipun hanya melalui Universitas Terbuka, demi masa depan anak yang dikandungnya. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa bangkit dari keterpurukan.

Beberapa hari kemudian, Davin menerima laporan dari orang suruhannya. Sebuah foto menunjukkan Zafira keluar dari klinik dokter Samuel dengan wajah pucat pasi, dipapah oleh seorang perawat. Laporan itu mengonfirmasi bahwa Zafira telah mengalami keguguran dan dirawat selama dua hari. Davin tersenyum sinis, merasa lega. Uang dua miliar yang ia berikan terasa sepadan untuk kebebasannya. Ia kini bisa fokus menikahi Dinda, wanita impiannya yang selama ini menjadi selingkuhannya.

Beberapa minggu kemudian, Zafira tiba di sebuah kota kecil di Jawa Timur, tempat bibinya, Desi, tinggal. Seluruh proses perceraian telah ia serahkan kepada pengacara, dan surat-surat penting akan dikirim ke alamat rahasia yang hanya diketahui oleh Desi dan Sita. Zafira disambut hangat oleh keluarga bibinya. Desi, adik mendiang ibu Zafira, sangat terharu melihat kondisi keponakannya yang tampak kurus dan lelah.

“Tante, maaf aku harus merepotkan,” ujar Zafira saat makan malam bersama keluarga bibinya.

Desi mengusap lembut punggung tangan Zafira. “Nggak apa-apa, Fira. Tante senang kamu ada di sini. Kamu sudah seperti anak Tante sendiri. Om Darius juga setuju, kan, Pa?” Desi menatap suaminya yang mengangguk setuju. “Kehidupan di kota besar memang keras, ya, kalau tidak kuat mental.”

“Ngomong-ngomong, Tante,” Zafira mencoba membuka pembicaraan penting. “Aku mau cari sebidang tanah di sekitar sini. Aku ingin membangun rumah sendiri. Apa ada yang dijual?”

Desi dan suaminya terkejut. Mereka tahu Davin kaya, tapi mereka tidak menyangka Zafira memiliki modal sendiri. “Kamu punya uang?” tanya Desi ragu.

Zafira menarik napas dalam-dalam. “Ada, Tante. Sedikit tabungan dari hasil bekerja dan… uang pesangon dari mantan suamiku.” Ia tidak menceritakan tentang uang dua miliar yang sebenarnya adalah uang suap. Ia berbohong demi melindungi dirinya dan bayinya.

Malam harinya, saat hanya berdua dengan Desi di kamar, Zafira akhirnya mengaku. “Tante, sebenarnya aku punya rahasia besar. Aku… aku hamil empat bulan.”

Desi menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut bukan main. “Ya Tuhan, Fira! Davin tahu?”

Zafira menggeleng pelan. “Mas Davin nggak mau mengakui anak ini. Dia bahkan memaksaku menggugurkannya. Uang dua miliar itu adalah uang suap untuk itu. Tapi aku nggak sanggup, Tante. Makanya aku minta tolong Dokter Samuel membuat surat keterangan keguguran palsu dan aku lari ke sini.”

Desi memeluk keponakannya erat-erat. “Ya Tuhan, jahat sekali laki-laki itu. Tante sumpahin dia nggak akan bisa punya anak lagi seumur hidupnya!”

Zafira tersenyum getir. “Aku harap begitu, Tante. Biar dia tahu rasanya dibuang dan tidak diinginkan. Pokoknya kita rahasiakan anak ini dari Mas Davin. Dia kira aku sudah keguguran dan hidup bahagia dengan istri barunya.”

Desi berjanji akan menjaga rahasia itu dan membantu Zafira. Ia pun menyarankan Zafira memeriksakan diri ke dokter kandungan setempat. Keesokan harinya, Zafira ditemani Desi pergi ke klinik.

Saat pemeriksaan USG, dokter mengerutkan kening. Ia melihat ke layar monitor dengan saksama. “Hmm, Bu Zafira. Ada yang aneh.”

Jantung Zafira berdegup kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. “Kenapa, Dok? Ada masalah dengan bayiku?”

Dokter tersenyum lebar. “Bukan masalah, Bu. Tapi ini kabar luar biasa. Selamat, Bu Zafira. Ibu hamil kembar! Lihat ini ada dua kantung kehamilan dan dua detak jantung yang sangat kuat.”

Zafira dan Desi terdiam sesaat, lalu serempak berteriak kegirangan bercampur haru. Zafira menangis sejadi-jadinya. Ternyata bayi yang ingin disingkirkan oleh Davin bukan satu, melainkan dua. Dua nyawa kecil yang tidak berdosa justru tumbuh subur dan kuat di dalam rahimnya, seolah mereka tahu bahwa mereka hanya bisa mengandalkan ibu mereka.

Zafira mengusap air matanya, menatap layar USG dengan penuh cinta. Ia meletakkan tangannya di perutnya yang kini terlihat lebih besar dari usia kehamilan empat bulan pada umumnya. “Mama akan menjaga kalian, Nak. Mama janji. Walaupun Papa kalian tidak menginginkan kalian, Mama akan memberikan cinta dua kali lipat untuk kalian. Kita akan bahagia bertiga. Davin, kamu pasti akan menyesal seumur hidupmu.” Zafira merasa firasat kuat bahwa karma sedang dalam perjalanan menuju mantan suaminya, dan ia akan menyaksikan kejatuhan Davin dari kejauhan, sambil membesarkan kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang