Mayang spontan berteriak, “Reva, Om! Reva bangun!”
Ivan langsung menoleh ke arah ranjang. Dalam sepersekian detik, Mayang memanfaatkan kesempatan itu untuk turun dari meja rias dan mundur beberapa langkah. Dadanya naik turun, sementara tangannya masih menggenggam map berisi perjanjian yang baru saja dibacanya.
Reva ternyata masih tertidur pulas.
Ivan memejamkan mata sesaat sebelum menatap Mayang lagi. Raut wajahnya berubah dingin.
“Kamu bohong.”

Mayang mengangkat dagunya. “Kalau aku nggak bohong, mungkin sekarang Om nggak bakal berhenti.”
Suasana kamar mendadak sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Ivan mengambil napas panjang lalu merapikan kancing kemejanya yang sedikit terbuka.
“Kamu benar. Aku berhenti.”
Mayang tidak menyangka jawaban itu.
“Tapi jangan salah paham,” lanjut Ivan datar. “Aku berhenti bukan karena kamu menang. Aku berhenti karena Reva memang nggak boleh lihat kita bertengkar.”
Mayang menggigit bibir bawahnya. Baru kali itu ia melihat ekspresi Ivan yang benar-benar berubah saat nama putrinya disebut.
Pria itu berjalan menuju ranjang, membetulkan selimut yang menutupi tubuh kecil Reva, lalu mengusap lembut rambut putrinya.
Pemandangan itu membuat Mayang bingung.
Lelaki yang beberapa menit lalu begitu menakutkan kini berubah menjadi ayah yang penuh perhatian.
Mana wajah Ivan yang sebenarnya?
“Ayo.”
Suara Ivan membuyarkan lamunannya.
“Kita turun sarapan.”
“Aku belum selesai baca kontraknya.”
“Baca nanti.”
“Aku mau sekarang.”
Ivan berhenti melangkah. Ia berbalik tanpa sedikit pun menaikkan nada bicara.
“Kamu boleh baca sampai habis. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, semua isi kontrak itu dibuat oleh pengacaraku. Bukan semuanya keinginanku.”
Mayang mengernyit.
“Kalau memang bukan keinginan Om, kenapa Om tanda tangan?”
Ivan tersenyum tipis.
“Karena hidupku jauh lebih rumit daripada yang kamu bayangkan.”
Ia keluar meninggalkan kamar.
Mayang menatap pintu yang tertutup rapat.
Ucapan itu terus terngiang di kepalanya.
Setelah memastikan Reva masih tidur, ia kembali membuka map cokelat itu.
Di halaman terakhir, tepat sebelum tempat tanda tangan, ia menemukan sebuah lembar tambahan yang terselip.
Lembar itu berbeda.
Bukan hasil cetakan.
Melainkan tulisan tangan.
“Jika suatu hari kamu menemukan surat ini, berarti kamu sudah membaca kontrak sampai akhir. Percayalah, jangan pernah menilai semuanya dari isi kontrak. Akan ada saatnya kamu mengerti alasan sebenarnya.”
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah inisial.
T.
Mayang mengingat nama Om Toni.
Apa mungkin lelaki tua itu yang menulisnya?
Belum sempat berpikir lebih jauh, suara ketukan pintu terdengar.
“Non Mayang?”
Ia membuka pintu.
Seorang perempuan paruh baya berdiri sambil tersenyum ramah.
“Saya Bu Rini. Saya yang mengurus rumah ini.”
Mayang membalas senyumnya.
“Silakan turun. Sarapan sudah siap.”
Mayang mengangguk.
Begitu memasuki ruang makan, ia kembali dibuat terpana.
Meja panjang itu dipenuhi berbagai makanan.
Ada bubur ayam, nasi uduk, roti panggang, buah segar, hingga jus.
Ivan sedang membaca koran digital di tabletnya.
Ia bahkan tidak menoleh.
“Duduk.”
Mayang duduk pelan.
“Om…”
“Hm?”
“Aku mau nambah satu poin lagi.”
Ivan akhirnya mengangkat wajah.
“Satu poin saja.”
“Kalau begitu ini poin terakhir.”
“Katakan.”
Mayang mengumpulkan keberaniannya.
“Selama setahun kita nikah, aku minta Om menghormati batasan yang aku buat. Kita tetap jadi suami istri di depan semua orang, tapi semua keputusan yang menyangkut hidupku harus dibicarakan dulu.”
Ivan menatapnya cukup lama.
“Alasan?”
“Aku bukan boneka.”
Beberapa detik berlalu.
Ivan kemudian menyandarkan punggung.
“Oke.”
Mayang membelalak.
“Serius?”
“Aku suka orang yang berani menawar.”
Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
“Toni, revisi satu poin kontraknya.”
Tak lama kemudian sambungan terputus.
Mayang sedikit lega.
Setidaknya suaranya masih didengar.
Saat mereka sedang makan, ponsel Mayang bergetar.
Nomor rumah sakit.
Jantungnya berdegup cepat.
“Halo?”
Suara dokter terdengar dari seberang.
“Ibu Mayang? Kami ingin mengabarkan bahwa kondisi Saudara Damar mulai stabil. Respons terhadap tindakan operasinya sangat baik.”
Air mata Mayang langsung jatuh.
“Benarkah, Dok?”
“Iya. Namun masih perlu observasi beberapa hari.”
“Terima kasih… terima kasih banyak.”
Telepon ditutup.
Mayang menangis tanpa suara.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia bisa bernapas lega.
Ivan hanya menyodorkan sekotak tisu.
“Tangis bahagia?”
Mayang mengangguk.
“Kakakku selamat.”
“Itu kabar baik.”
Mayang menatap Ivan.
“Terima kasih.”
Ivan tidak menjawab.
Ia hanya melanjutkan sarapannya.
Namun entah mengapa, kali ini sikap dinginnya terasa berbeda.
Setelah sarapan selesai, Ivan mengajak Mayang menuju ruang kerja.
Di sana sudah menunggu Om Toni.
“Saya sudah revisi kontraknya,” ujar lelaki tua itu.
Mayang membaca kembali.
Benar saja.
Kini tertulis bahwa segala keputusan yang menyangkut kehidupan pribadi pihak kedua harus melalui kesepakatan kedua belah pihak.
Ia langsung menandatangani perubahan itu.
Om Toni tersenyum lega.
“Sekarang semuanya resmi.”
Baru saja pembicaraan selesai, seorang pria berjas hitam masuk dengan wajah panik.
“Pak Ivan.”
“Ada apa?”
“Saham perusahaan turun drastis.”
Ivan langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Media memberitakan bahwa Bapak menyalahgunakan dana investasi.”
“Itu fitnah.”
“Bukan hanya itu.”
Pria tersebut menyerahkan tablet.
Di layar terpampang berita besar.
PENGUSAHA MUDA IVAN PRASETYO DIDUGA TERLIBAT PENCUCIAN UANG.
Mayang ikut membaca.
Ia menoleh ke arah Ivan.
Wajah pria itu tetap tenang.
Terlalu tenang.
“Siapa yang menyebarkannya?” tanya Ivan.
“Kami belum tahu.”
Om Toni terlihat cemas.
“Pak, rapat direksi dimajukan satu jam.”
Ivan mengangguk.
Sebelum pergi, ia menoleh kepada Mayang.
“Hari ini jangan keluar rumah.”
“Kenapa?”
“Karena mulai hari ini wartawan akan memburu siapa pun yang dekat denganku.”
Mayang mulai memahami.
Ternyata hidup Ivan memang jauh dari kata mudah.
Beberapa jam setelah Ivan pergi, rumah megah itu berubah ramai.
Puluhan wartawan memenuhi gerbang.
Kamera terus menyorot ke arah rumah.
Bu Rini segera menutup semua tirai.
“Sudah biasa begini?”
Mayang bertanya.
Bu Rini menggeleng.
“Belum pernah separah ini.”
Mayang berdiri di balik jendela.
Ia melihat seorang pria memakai topi hitam berdiri cukup jauh dari kerumunan wartawan.
Pria itu tidak membawa kamera.
Ia hanya memperhatikan rumah.
Tatapannya tajam.
Beberapa detik kemudian ia mengangkat telepon.
Tak lama setelah itu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang.
Seorang kurir turun membawa sebuah kotak besar.
Satpam memeriksanya.
Tidak ada nama pengirim.
Kotak itu akhirnya dibawa masuk.
Bu Rini memanggil Mayang.
“Non, ini mungkin paket Tuan.”
Mayang mendekat.
Kotak itu cukup berat.
Begitu tutupnya dibuka, semua orang langsung terdiam.
Di dalamnya hanya ada sebuah boneka beruang kecil milik Reva.
Boneka yang pagi tadi masih berada di kamar.
Mayang membeku.
Tidak mungkin.
Ia yakin boneka itu tadi masih ada.
Di bawah boneka terdapat secarik kertas.
Tulisan tangan berwarna merah.
“Aku sudah menemukan kalian.”
Mayang merasakan bulu kuduknya berdiri.
Saat itu juga ia sadar, pernikahan kontrak yang semula ia anggap hanya cara menyelamatkan kakaknya ternyata menyeretnya ke dalam bahaya yang jauh lebih besar. Musuh Ivan bukan sekadar orang yang ingin menjatuhkan bisnisnya, melainkan seseorang yang sudah mengetahui keberadaan Reva, mengetahui rumah itu, bahkan mampu masuk tanpa seorang pun menyadarinya. Dan sejak saat itu, Mayang mengerti bahwa ancaman terbesar dalam hidupnya bukan lagi isi kontrak yang ia tandatangani, melainkan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan oleh pria bernama Ivan.
