Kayla mengembuskan napas pelan.

Namaku Alina. Selama tiga tahun menikah, aku selalu percaya bahwa rumah tangga dibangun oleh kejujuran. Aku rela meninggalkan pekerjaan yang sangat kusukai demi menemani suamiku, Dimas, merintis usaha kecil di Jakarta. Kami tidak hidup mewah, tetapi aku merasa cukup selama kami masih saling menggenggam tangan.

Semua keyakinanku mulai runtuh pada suatu sore ketika sebuah nomor tak dikenal mengirimiku pesan.

“Apa kamu benar-benar mengenal suamimu?”

Aku mengira itu hanya spam. Namun beberapa detik kemudian, masuk sebuah foto. Dimas sedang duduk di sebuah kafe bersama perempuan lain. Mereka saling menatap sambil tersenyum. Tangan perempuan itu menggenggam tangan Dimas di atas meja.

Aku mencoba menghubungi Dimas berkali-kali. Tidak ada jawaban.

Malamnya, ia pulang seperti biasa dengan membawa martabak kesukaanku.

“Maaf ya, rapat sampai malam.”

Aku menatap wajahnya lama. Lelaki itu masih bisa tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Rapat sama siapa?”

“Klien baru.”

Aku hanya mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku memilih diam bukan karena percaya, melainkan karena ingin mencari tahu sendiri.

Esok harinya aku mengikuti mobil Dimas.

Mobil itu tidak berhenti di kantor.

Ia justru masuk ke sebuah kompleks apartemen di kawasan Sudirman.

Jantungku berdetak semakin cepat. Aku menunggu hampir satu jam sebelum melihat Dimas keluar bersama perempuan yang sama seperti di foto. Mereka tertawa, lalu berpelukan sebelum berpisah.

Duniaku terasa berhenti.

Aku ingin langsung menghampiri mereka, tetapi kakiku sama sekali tidak mampu bergerak.

Malam itu Dimas kembali pulang dengan wajah lelah.

“Kamu kelihatan capek,” kataku pelan.

“Iya. Banyak pekerjaan.”

Aku tersenyum tipis.

“Semoga capeknya sepadan.”

Ia hanya mengangguk tanpa menyadari bahwa aku sudah mengetahui kebohongannya.

Beberapa hari kemudian, perempuan itu sendiri menghubungiku.

Namanya Selena.

Ia meminta bertemu di sebuah kafe.

“Aku rasa kita perlu bicara sebagai sesama perempuan,” tulisnya.

Aku datang hanya untuk mendengar apa yang ingin ia katakan.

Selena tampil anggun dengan pakaian kerja yang rapi. Ia tersenyum seolah kami adalah teman lama.

“Aku tahu ini pasti berat buat kamu.”

“Apa maksudmu?”

“Dimas sudah lama mencintai aku.”

Aku tidak menjawab.

Ia mengeluarkan beberapa foto dari tasnya.

Foto-foto itu memperlihatkan dirinya bersama Dimas di berbagai tempat. Ada yang sedang makan malam, ada yang berada di pantai, bahkan ada foto ketika mereka merayakan ulang tahun.

“Dia bilang pernikahan kalian cuma tinggal status.”

Dadaku sesak.

“Aku nggak datang buat rebut dia. Aku cuma ingin kamu berhenti berharap.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau memang dia memilihmu, kenapa dia belum menceraikanku?”

Selena terdiam beberapa saat.

“Lelaki sering takut memulai.”

Aku berdiri.

“Kalau begitu, suruh dia sendiri yang mengatakannya.”

Aku pergi tanpa menyentuh minuman yang kupesan.

Sesampainya di rumah, aku tidak menangis.

Aku justru membuka lemari, mengambil semua dokumen keuangan keluarga, lalu mulai memeriksa satu per satu.

Selama ini Dimas selalu mengurus keuangan usaha. Aku hanya membantu administrasi sederhana.

Semakin lama membaca laporan rekening, wajahku semakin pucat.

Ada transfer rutin bernilai puluhan juta rupiah setiap bulan ke rekening yang tidak kukenal.

Nominalnya jauh lebih besar daripada keuntungan usaha yang selama ini dikatakan Dimas kepadaku.

Aku membuka laptop lama yang biasa dipakai untuk pembukuan.

Di sana aku menemukan folder yang sengaja disembunyikan.

Isinya membuat napasku tercekat.

Laporan keuangan yang selama ini diperlihatkan kepadaku ternyata sudah dimanipulasi.

Usaha kami sebenarnya berkembang sangat pesat.

Keuntungan tahun lalu bahkan mencapai miliaran rupiah.

Selama ini aku dibuat percaya bahwa bisnis kami nyaris bangkrut.

Tanganku gemetar.

Ternyata bukan hanya cintanya yang dibagi.

Kepercayaanku juga dicuri sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

Aku masih mencoba menenangkan diri ketika tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka.

Dimas pulang.

Ia tersenyum seperti biasa.

“Aku bawa makanan favoritmu.”

Aku perlahan menutup laptop dan membalas senyumnya.

“Terima kasih.”

Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa perang yang sebenarnya belum dimulai.

Dan kali ini, aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku tidak akan lagi menjadi istri yang mudah dibohongi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang