Arka terdiam beberapa detik. Ucapan Arini barusan seperti tamparan keras yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut istrinya. Selama ini, Arini selalu memilih mengalah. Sekeras apa pun mereka bertengkar, perempuan itu selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf. Namun kali ini, sorot matanya benar-benar berbeda. Tidak ada lagi kelembutan yang biasa menyambutnya setiap kali pulang ke rumah.
“Apa kamu serius ngomong begitu?” suara Arka mulai melemah.
Arini mengangguk pelan.

“Aku sangat serius, Mas. Justru aku yang ingin bertanya. Apa kamu masih menganggap aku istrimu?”
“Tentu saja.”
Arini tertawa hambar.
“Kalau aku masih istrimu, kenapa setiap ada Maya, aku selalu jadi orang yang harus mengalah? Kenapa uang hasil kerjaku dipakai membahagiakan mantan istrimu? Kenapa anak kita harus menunggu ayahnya pulang sementara ayahnya sibuk mengantar mantan istri belanja?”
“Itu cuma membantu.”
“Membantu?” Arini menatap tajam. “Membantu sampai membelikan baju jutaan? Membantu sampai membiarkan anakmu sendiri menunggu seharian?”
Arka mengusap wajahnya.
“Maya sedang kesulitan.”
“Aku juga kesulitan, Mas.”
Kalimat itu membuat Arka terdiam.
“Aku menulis novel sampai tengah malam supaya punya penghasilan sendiri. Aku mengurus rumah, mengurus Mesya, mengurus semua kebutuhan keluarga. Pernah sekali saja kamu bertanya aku capek atau tidak?”
Arka membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar.
Arini melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.
“Kamu bahkan tidak tahu kalau beberapa bulan terakhir aku sering begadang demi mengejar tenggat penerbit. Kamu tidak tahu aku sering sakit kepala. Kamu tidak tahu aku diam-diam menangis karena merasa suamiku lebih peduli pada perempuan lain.”
Hening memenuhi dapur.
Arka perlahan mulai menyadari bahwa semua yang dikatakan Arini memang benar.
Namun egonya masih terlalu besar.
“Kalau memang kamu merasa tersiksa, kenapa baru sekarang ngomong?”
Arini tersenyum pahit.
“Karena selama ini aku masih berharap kamu sadar tanpa harus kehilangan aku.”
Arka mengepalkan tangan.
“Jadi sekarang kamu benar-benar mau cerai?”
“Iya.”
Jawaban itu terdengar begitu tenang, justru membuat dada Arka terasa sesak.
Saat itulah Mesya keluar dari kamar sambil mengucek mata.
“Papa…”
Anak kecil itu langsung berlari memeluk Arka.
“Kok Papa sama Mama marah-marah?”
Arini buru-buru menghapus air matanya.
“Nggak, Sayang.”
Mesya menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Papa jangan bikin Mama nangis lagi.”
Ucapan polos itu membuat Arka membeku.
Selama ini ia tidak pernah sadar bahwa Mesya ternyata mengerti apa yang terjadi di rumah mereka.
Anak kecil itu memegang tangan Arka.
“Papa tadi pergi sama Tante Maya lagi ya?”
Arka mengangguk pelan.
Mesya langsung menunduk.
“Aku nggak suka.”
“Kenapa?”
“Soalnya kalau Papa sama Tante Maya, Papa lupa sama aku.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati Arka lebih keras daripada semua ucapan Arini.
Ia memandang putrinya yang kini memeluk kaki Arini erat-erat.
Untuk pertama kalinya, rasa bersalah benar-benar muncul.
Malam itu Arka memilih tidur di ruang tamu.
Ia mencoba berkali-kali menghubungi Maya untuk menjelaskan keadaan, tetapi perempuan itu justru terus mengirim pesan.
“Mas, besok jangan lupa transfer uangku.”
“Mas, skincare yang aku mau lagi diskon.”
“Mas, Sisil juga minta sepatu baru.”
Pesan demi pesan berdatangan tanpa satu pun menanyakan keadaan Arka.
Baru kali itu Arka menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah ia pikirkan.
Selama ini Maya selalu menghubunginya saat membutuhkan uang.
Tidak lebih.
Keesokan paginya Arka sengaja mengambil cuti.
Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Arini.
Namun saat masuk ke ruang makan, meja sudah kosong.
Arini hanya meninggalkan secarik kertas.
Aku mengantar Mesya ke sekolah. Setelah itu aku ke kantor penerbit. Tolong pikirkan baik-baik apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Arka menghela napas panjang.
Siang harinya ia datang ke kantor bank untuk menanyakan alasan kartu debitnya diblokir.
Petugas menjelaskan bahwa pemilik rekening sendiri yang mengajukan pemblokiran melalui aplikasi digital dan mengubah seluruh akses transaksi.
“Itu memang hak pemilik rekening, Pak.”
“Berarti uang di rekening itu…”
“Masih utuh.”
Arka mengangguk pelan.
Ia baru ingat.
Rekening itu memang atas nama Arini.
Selama ini Arini mempercayainya dengan memberikan kartu ATM beserta PIN.
Kepercayaan yang telah ia sia-siakan.
Sepulang dari bank, Arka langsung menuju rumah Maya.
Begitu tiba, ia mendengar suara tawa dari dalam rumah.
Pintu sedikit terbuka.
Tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang membuat tubuhnya membeku.
“Untung si Arka masih bodoh.”
“Itu ATM memang enak banget dipakai.”
“Tinggal bilang Sisil butuh ini itu, pasti langsung dibayarin.”
“Tapi sekarang kartunya diblokir.”
“Gampang. Nanti juga Arka bakal bujuk istrinya. Dia itu nggak mungkin nolak aku.”
Maya tertawa puas.
“Aku cuma butuh uangnya. Lagian mana mungkin aku mau balikan sama duda kayak dia.”
Sisil ikut tertawa.
“Iya, Ma. Yang penting dia masih bisa dijadiin mesin ATM.”
Wajah Arka memucat.
Tangannya bergetar.
Selama ini…
Jadi hanya itu nilai dirinya di mata Maya.
Perempuan yang selama ini selalu ia bela ternyata hanya memanfaatkannya.
Arka mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Maya langsung terkejut.
“Mas…”
Arka menatap mereka dengan wajah dingin.
“Mesin ATM datang.”
Maya panik.
“Mas, tadi bukan begitu maksudku.”
“Cukup.”
Arka mengeluarkan semua kuitansi belanja yang sempat ia simpan.
“Mulai hari ini jangan pernah hubungi aku lagi.”
“Tapi…”
“Aku sudah terlalu lama dibodohi.”
Maya mencoba meraih tangan Arka.
Namun laki-laki itu langsung menghindar.
“Semua bantuan yang pernah kuberikan selesai sampai di sini.”
Arka pergi tanpa menoleh lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, kepalanya dipenuhi rasa penyesalan.
Ia teringat wajah Arini yang selalu tersenyum saat menunggunya pulang.
Ia teringat Mesya yang selalu berlari memeluknya.
Ia baru sadar bahwa keluarga yang selama ini ia abaikan justru selalu tulus mencintainya.
Malam itu Arka pulang membawa semua bunga favorit Arini.
Ia juga membawa boneka baru untuk Mesya.
Namun rumah terasa sepi.
Tak ada suara tawa.
Tak ada aroma masakan.
Di atas meja terdapat sebuah map cokelat.
Tangannya gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya terdapat surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani Arini.
Ada pula sebuah amplop.
Perlahan ia membacanya.
“Mas, aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku. Karena itu aku bertahan selama bertahun-tahun. Aku berharap suatu hari nanti kamu menyadari bahwa keluargamu adalah aku dan Mesya. Tapi ternyata aku salah.
Aku tidak membencimu.
Aku hanya lelah menjadi pilihan kedua.
Mulai hari ini aku memilih mencintai diriku sendiri dan memberikan hidup yang lebih tenang untuk Mesya.
Semoga suatu saat nanti kamu menemukan kebahagiaanmu.
Dan semoga saat itu tiba, kamu tidak lagi terlambat menghargai orang yang benar-benar mencintaimu.”
Air mata Arka akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, ia menangis tanpa mampu menghentikannya.
Ia memeluk surat itu erat-erat.
Namun semuanya sudah terlambat.
Di luar rumah, sebuah taksi perlahan melaju meninggalkan kompleks.
Di dalamnya, Arini menggenggam tangan Mesya sambil menatap ke depan.
Mesya menyandarkan kepala di bahu ibunya.
“Mama sedih?”
Arini tersenyum tipis sambil mengusap rambut putrinya.
“Sedikit.”
“Kalau nanti Papa minta maaf?”
Arini menatap langit malam melalui jendela mobil.
“Memaafkan itu mudah, Sayang. Tapi mengembalikan kepercayaan yang sudah berkali-kali dihancurkan jauh lebih sulit.”
Mobil terus melaju menembus jalanan malam Jakarta.
Di belakang mereka, seorang pria baru menyadari bahwa ia telah kehilangan dua orang yang selama ini diam-diam menjadi seluruh dunianya.
Dan penyesalan, sekeras apa pun, tidak pernah mampu memutar kembali waktu.
