Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.

Malam itu seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan bagi Alya. Tiga tahun pernikahan bukan waktu yang singkat. Ia telah mengorbankan karier, mimpi, dan masa mudanya demi menjadi istri yang selalu menunggu suaminya pulang. Namun ketika jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh, ia justru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah seseorang yang menempati ruang kosong di hati laki-laki yang dicintainya.

Telepon yang tertinggal di atas sofa bergetar pelan.

Alya tidak pernah memiliki kebiasaan memeriksa ponsel suaminya. Baginya, kepercayaan jauh lebih penting daripada rasa penasaran. Namun malam itu, entah mengapa, ia melirik layar yang menyala.

Sebuah nama muncul.

Maya.

Di bawahnya tertulis pesan singkat.

“Aku sudah sampai apartemen. Jangan lupa janjimu. Aku menunggumu.”

Jantung Alya seolah berhenti berdetak.

Belum sempat ia mencerna isi pesan itu, pintu rumah terbuka. Arga masuk dengan wajah datar, melewati Alya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kamu belum tidur?” tanyanya singkat.

“Aku menunggumu.”

“Aku lembur.”

Alya hanya mengangkat ponsel itu perlahan.

“Wanita yang menunggumu ini juga bagian dari lembur?”

Arga membeku beberapa detik. Wajahnya tidak tampak bersalah. Justru sebaliknya, ia mengembuskan napas panjang seolah lelah menghadapi pertanyaan yang menurutnya tidak penting.

“Kamu membuka ponselku?”

“Aku tidak sengaja.”

“Tetap saja, itu bukan hakmu.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

Bukan karena ia ketahuan berselingkuh, tetapi karena yang dipermasalahkan justru dirinya.

Alya tertawa pelan. Tawa yang bercampur air mata.

“Tiga tahun aku menjadi istrimu. Ternyata aku bahkan tidak punya hak mengetahui siapa wanita yang kamu temui setiap malam.”

Arga menatapnya dingin.

“Kamu ingin jawaban?”

Alya mengangguk.

“Aku memang bertemu Maya.”

Dadanya terasa sesak.

“Dia mantan tunanganku.”

Kalimat berikutnya menghancurkan seluruh harapan yang masih tersisa.

“Aku tidak pernah berhenti mencintainya.”

Sunyi memenuhi ruang tamu.

Alya tidak menangis.

Ia hanya memandang wajah laki-laki yang selama ini dianggap sebagai rumahnya.

“Tapi kamu menikah denganku.”

“Itu karena Ayah memaksaku.”

“Jadi selama ini?”

“Aku menjalankan kewajiban.”

Tidak ada bentakan.

Tidak ada emosi.

Justru nada bicara Arga yang tenang membuat setiap katanya terasa lebih tajam.

“Kamu wanita baik, Alya. Aku menghormatimu.”

“Aku tidak membutuhkan penghormatan.”

“Lalu?”

“Aku ingin dicintai.”

Arga memalingkan wajah.

“Aku tidak bisa memberikannya.”

Malam itu Alya tidur di kamar tamu.

Namun sebelum tidur, ia membuka lemari kecil tempat menyimpan semua surat yang pernah ditulisnya untuk Arga.

Surat ulang tahun.

Surat saat mereka menikah.

Surat ketika anak pertama mereka lahir.

Tidak satu pun pernah diberikan.

Ia selalu terlalu malu.

Kini surat-surat itu terasa seperti bukti betapa bodohnya dirinya.

Keesokan paginya, Alya bangun lebih awal.

Ia tetap menyiapkan sarapan.

Tetap menyetrika pakaian.

Tetap mengantar putri mereka, Nara, ke sekolah.

Tidak ada yang berubah.

Setidaknya, begitulah yang dilihat Arga.

Namun sebenarnya, sesuatu telah mati di dalam hati Alya.

Hari-hari berikutnya berjalan aneh.

Alya berhenti bertanya.

Berhenti menunggu.

Berhenti berharap.

Ia mulai menerima pekerjaan desain interior yang dulu sempat ditolaknya setelah menikah.

Klien pertama datang.

Lalu kedua.

Kemudian ketiga.

Dalam waktu beberapa bulan, namanya mulai dikenal.

Ia sering pulang lebih malam daripada Arga.

Suatu malam Arga duduk sendirian di meja makan.

Untuk pertama kalinya, makanan belum tersedia.

Alya baru pulang pukul sembilan malam.

“Kamu dari mana?”

“Dari proyek.”

“Kamu bisa memasak dulu.”

Alya tersenyum tipis.

“Aku kira kita hanya menjalankan kewajiban.”

Arga terdiam.

Kalimatnya sendiri kini kembali menghantam dirinya.

Beberapa minggu kemudian, Nara mengalami demam tinggi.

Arga sedang berada di luar kota.

Tanpa berpikir panjang, Alya membawa putrinya ke rumah sakit sendirian.

Selama tiga hari tiga malam ia tidak tidur.

Ia menjaga Nara tanpa meninggalkan sisi ranjang.

Saat Arga tiba di rumah sakit, ia melihat Alya tertidur sambil menggenggam tangan anak mereka.

Wajah perempuan itu pucat.

Matanya sembab.

Tangannya dipenuhi bekas jarum infus karena sempat mengalami kelelahan.

Dokter menghampirinya.

“Istri Anda luar biasa. Kalau terlambat sedikit saja membawa anak ini ke rumah sakit, kondisinya bisa jauh lebih buruk.”

Arga hanya diam.

Itulah pertama kalinya ia melihat Alya bukan sebagai seseorang yang memenuhi kewajiban, tetapi sebagai ibu yang mempertaruhkan dirinya demi anak mereka.

Setelah Nara sembuh, keadaan kembali berubah.

Arga mulai pulang lebih cepat.

Sesekali ia membeli makanan kesukaan Alya.

Namun semuanya terasa terlambat.

Alya tetap sopan.

Tetap tersenyum.

Tetapi senyum itu tidak lagi sampai ke matanya.

Suatu sore, Arga menerima telepon dari Maya.

“Aku akan menikah bulan depan.”

Arga terdiam.

“Bukankah dulu kamu bilang akan menungguku?”

Maya tertawa kecil.

“Aku sudah menunggu tiga tahun.”

“Tapi…”

“Kamu yang memilih tetap menikah.”

“Itu bukan pilihanku.”

“Itu tetap keputusanmu.”

Sambungan telepon terputus.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Arga menangis sendirian.

Ia baru menyadari bahwa selama ini ia mengejar seseorang yang sudah lama melepaskannya.

Saat pulang ke rumah, ia melihat koper besar berada di ruang tamu.

Alya sedang melipat pakaian.

“Kamu mau ke mana?”

“Aku pindah.”

“Apa maksudmu?”

“Aku membeli rumah.”

“Kapan?”

“Beberapa minggu lalu.”

“Kamu tidak pernah bilang.”

Alya mengangkat bahu.

“Kita memang tidak pernah benar-benar saling bercerita.”

Arga mulai panik.

“Kamu marah karena Maya?”

Alya menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku pergi karena akhirnya aku belajar mencintai diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat Arga kehilangan kata-kata.

“Aku tidak meminta cerai.”

Alya mengangguk.

“Aku juga belum mengajukannya.”

“Lalu kenapa pergi?”

“Karena aku ingin tahu seperti apa rasanya hidup tanpa terus-menerus menunggu seseorang yang tidak pernah memilihku.”

Nara memeluk Arga sebelum masuk ke mobil.

“Ayah tetap boleh datang bermain.”

Arga tersenyum pahit.

Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.

Sejak hari itu rumah besar yang dulu selalu terasa biasa tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Tidak ada suara langkah Alya.

Tidak ada aroma masakan pagi.

Tidak ada tawa Nara.

Hanya kesunyian.

Beberapa bulan berlalu.

Arga mulai sering mengunjungi putrinya.

Rumah baru Alya sederhana, tetapi hangat.

Ia melihat banyak penghargaan desain memenuhi dinding.

Foto-foto Alya bersama tim proyek.

Klien-klien besar.

Senyum yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Ia akhirnya memahami sesuatu.

Perempuan itu ternyata tidak pernah lemah.

Ia hanya terlalu lama mencintai orang yang salah.

Suatu malam Arga datang membawa sebuket bunga.

“Alya.”

Perempuan itu menatapnya tenang.

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Alya tersenyum lembut.

“Dulu aku juga pernah mengatakan hal yang sama.”

“Aku benar-benar menyesal.”

“Aku tahu.”

“Bisakah kita mencoba lagi?”

Alya memandang langit yang mulai dipenuhi bintang.

“Ada satu hal yang baru kupahami.”

“Apa?”

“Maaf itu bisa menyembuhkan luka.”

Arga mengangguk penuh harapan.

“Tapi maaf tidak selalu mengembalikan hati yang sudah lama pergi.”

Arga menundukkan kepala.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kebencian.

Hanya penyesalan yang datang terlambat.

Saat ia berbalik meninggalkan rumah itu, suara Nara memanggil dari teras.

“Ayah.”

Arga menoleh.

“Ayah tetap ayah terbaik untuk Nara.”

Air mata Arga jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia kehilangan perempuan yang selama ini diam-diam menjadi rumahnya, tepat ketika ia akhirnya menyadari bahwa cinta sejati tidak pernah datang dengan suara paling keras. Cinta sejati hadir setiap hari, dalam kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan yang sering kali baru dihargai ketika semuanya telah benar-benar terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang