Aku tidak pernah membayangkan bahwa penyesalan bisa terasa begitu menyakitkan hingga membuat dada sesak setiap kali mengingat nama seseorang. Malam itu, saat rumahku sunyi tanpa suara tawa Yoga dan langkah lembut Alya yang biasanya menyambutku di depan pintu, aku akhirnya sadar bahwa semua kemewahan yang selama ini kubanggakan ternyata tidak mampu membeli kembali keluarga yang sudah kuhancurkan dengan tanganku sendiri.
Aku benar-benar tidak bisa tidur. Bayangan wajah Alya ketika mengusirku dari rumah keluarganya terus berputar di kepalaku. Tatapannya tidak dipenuhi kebencian, justru itu yang membuatku semakin tersiksa. Di matanya, aku bukan lagi orang yang pantas dibenci. Aku hanyalah seseorang yang sudah selesai.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, ponselku berdering tanpa henti.
“Ris! Cepat ke kantor!” teriak Papa panik.

“Ada apa?”
“Saham turun dua puluh lima persen sejak pembukaan pra-pasar! Investor panik setelah mendengar kabar Ardan Grup menarik seluruh pendanaannya!”
Aku langsung melesat menuju kantor.
Begitu tiba, suasana benar-benar kacau. Para direktur keluar masuk ruang rapat dengan wajah pucat. Telepon berdering tanpa henti. Beberapa media bahkan sudah menunggu di depan gedung.
Papa duduk lemas.
“Semua bank mulai mempertanyakan likuiditas kita.”
Aku mengepalkan tangan.
“Masih ada cara.”
Papa menggeleng.
“Tidak ada. Semua orang tahu Ardan Grup adalah investor terbesar kita.”
Belum sempat kami mencari jalan keluar, sekretaris masuk dengan wajah cemas.
“Pak… Bu Maya datang.”
Aku mengernyit.
“Apa urusannya ke sini?”
Maya masuk sambil membawa tas mahal yang dulu kubelikan.
“Mas… kita harus bicara.”
“Aku sedang sibuk.”
“Tapi ini penting.”
Papa langsung memandang sinis.
“Kamu penyebab semua ini.”
Maya pura-pura menangis.
“Aku juga korban.”
Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat.
“Ada apa?”
Maya menarik napas.
“Apartemen itu… cicilannya belum lunas.”
Aku memejamkan mata.
“Lalu?”
“Aku butuh uang.”
Aku tertawa hambar.
Perusahaan keluargaku sedang berada di ujung jurang, sementara wanita yang dulu kuanggap cinta sejati hanya datang untuk meminta uang.
“Maya… kamu masih sempat memikirkan apartemen?”
“Tentu saja. Itu kan buat masa depan kita.”
“Masa depan?”
Aku memandangnya lama.
“Kita sudah tidak punya masa depan.”
Wajah Maya berubah.
“Kamu serius?”
“Aku sudah bilang kemarin. Semuanya selesai.”
Ekspresinya langsung berubah dingin.
“Kalau begitu jangan salahkan aku.”
Ia membanting sebuah map ke meja.
“Apa ini?”
“Bukti transfer.”
Aku membukanya.
Jantungku langsung berhenti sesaat.
Selama hampir dua tahun, Maya ternyata diam-diam memindahkan uang dari rekening pribadiku ke berbagai rekening lain menggunakan surat kuasa yang dulu pernah kutandatangani tanpa membaca isinya.
Nominalnya membuatku hampir roboh.
Lebih dari tiga belas miliar rupiah.
“Kamu…”
“Itu hadiah dari kamu.”
“Itu pencurian!”
“Buktikan saja.”
Ia tersenyum tipis lalu pergi begitu saja.
Aku terduduk.
Selama ini aku mengira Alya memanfaatkanku.
Padahal justru Maya yang menguras semua hartaku sedikit demi sedikit.
Papa memukul meja.
“Kamu benar-benar sudah kehilangan akal.”
Hari itu juga kami melaporkan Maya kepada polisi.
Namun kerusakan sudah terjadi.
Media mulai memberitakan skandal perselingkuhan, gugatan cerai, hingga dugaan penyalahgunaan dana perusahaan.
Nama Kencana Grup hancur dalam semalam.
Beberapa hari kemudian, sidang perceraian pertama digelar.
Aku datang lebih awal.
Ketika Alya masuk bersama Yoga, langkahku terhenti.
Yoga menggenggam tangan ibunya erat.
Anakku terlihat jauh lebih ceria dibanding saat masih tinggal bersamaku.
Ia bahkan tersenyum.
Senyum yang sudah lama tidak kulihat.
Aku mencoba mendekat.
“Yoga…”
Anakku menatapku sebentar.
“Halo, Ayah.”
Suara kecil itu membuat mataku panas.
“Ayah kangen.”
Yoga menoleh kepada Alya.
“Ibu… boleh aku bicara sebentar?”
Alya mengangguk.
Aku berjongkok di depan putraku.
“Ayah minta maaf.”
Yoga mengangguk pelan.
“Ibu bilang… orang yang salah harus berani minta maaf.”
Aku menangis.
“Iya.”
“Tapi Bu Guru juga bilang… minta maaf tidak selalu membuat semuanya kembali seperti dulu.”
Aku terdiam.
Yoga mengeluarkan selembar kertas dari tasnya.
“Ayah masih ingat gambar yang dulu Ayah buang?”
Aku membeku.
“Itu gambar keluarga kita.”
“Aku gambar lagi.”
Tanganku gemetar menerima kertas itu.
Di sana ada gambar dirinya, Alya, dan… hanya dua orang.
Tidak ada aku.
“Kenapa Ayah nggak ada?”
Yoga menjawab polos.
“Karena Ayah sudah memilih rumah lain.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Aku memeluk gambar itu sambil menangis.
Sidang berlangsung singkat.
Hakim memberi waktu mediasi terakhir.
Mediator mencoba membujuk Alya.
“Apa masih ada kemungkinan rujuk?”
Alya tersenyum sopan.
“Saya sudah memaafkan Mas Aris.”
Aku langsung mengangkat kepala.
Harapan itu muncul lagi.
“Tapi memaafkan tidak selalu berarti kembali.”
Ruangan kembali sunyi.
“Ada luka yang sembuh, tetapi bekasnya tidak pernah hilang.”
Aku tahu saat itu bahwa aku benar-benar telah kehilangan keluargaku.
Beberapa minggu berlalu.
Kencana Grup resmi kehilangan sebagian besar asetnya.
Papa memutuskan menjual beberapa anak perusahaan.
Rumah besar kami ikut dijual.
Mobil-mobil mewah dilelang.
Untuk pertama kalinya sejak muda, aku hidup di apartemen sederhana.
Aneh.
Dulu aku takut miskin.
Sekarang aku sadar, kemiskinan terbesar bukan kehilangan uang.
Melainkan kehilangan orang yang mencintaimu dengan tulus.
Suatu sore aku sedang keluar dari minimarket ketika melihat seorang pria tua kesulitan membawa barang belanjaannya.
Tanpa sadar aku membantu.
Pria itu tersenyum.
“Terima kasih.”
Senyum itu mengingatkanku pada Ayah Alya.
Sejak hari itu, hidupku perlahan berubah.
Aku mulai bekerja sebagai konsultan lepas.
Tidak ada lagi ruang direktur.
Tidak ada sopir.
Tidak ada sekretaris.
Aku mengerjakan semuanya sendiri.
Anehnya, aku mulai belajar menghargai setiap rupiah yang kuhasilkan.
Berbulan-bulan kemudian, aku mendapat kabar mengejutkan.
Maya ditangkap.
Polisi berhasil membuktikan adanya penipuan, pemalsuan dokumen, dan pencucian uang.
Sebagian aset yang pernah diambil dariku berhasil disita negara.
Namun uang itu tidak membuatku bahagia.
Sudah terlambat.
Setahun kemudian, secara tidak sengaja aku bertemu Alya dan Yoga di sebuah acara amal pendidikan yang diselenggarakan yayasan keluarga Ardan.
Aku datang sebagai donatur kecil dari hasil tabunganku sendiri.
Alya terlihat terkejut melihatku.
“Kamu di sini?”
“Aku cuma ingin membantu.”
Yoga berlari menghampiriku.
“Hai, Ayah.”
Ia memelukku.
Pelukan itu membuat air mataku jatuh lagi.
Aku menatap Alya.
“Aku nggak datang untuk meminta apa pun.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma ingin bilang… terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena kamu pernah menjadi istriku. Karena kamu sudah melahirkan Yoga. Dan karena akhirnya kamu membuatku belajar menjadi manusia.”
Alya tersenyum tipis.
“Aku juga berterima kasih.”
“Apa?”
“Kalau semua ini tidak terjadi, mungkin aku tidak pernah berani keluar dari hubungan yang menyakitkan.”
Aku mengangguk pelan.
Ia benar.
Kadang kehilangan adalah harga yang harus dibayar agar seseorang benar-benar berubah.
Sebelum pulang, Yoga menggandeng tanganku.
“Ayah.”
“Iya?”
“Nanti kalau ulang tahunku… Ayah datang, ya.”
Aku tersenyum lebar.
“Pasti.”
“Tapi jangan bertengkar sama Ibu.”
Aku tertawa kecil.
“Nggak akan.”
Yoga berlari kembali kepada Alya.
Aku memandang mereka berjalan berdampingan.
Mereka tampak bahagia.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi berharap Alya kembali kepadaku.
Aku hanya berharap mereka selalu bahagia.
Beberapa langkah sebelum masuk ke mobil, seseorang menepuk bahuku.
Aku menoleh.
Pak Ardan berdiri di belakangku.
“Aris.”
“Selamat sore, Pak.”
Ia mengangguk.
“Saya dengar kamu sudah banyak berubah.”
“Aku hanya sedang belajar menebus kesalahan.”
Pak Ardan tersenyum.
“Tidak semua kesalahan bisa ditebus.”
Dadaku kembali sesak.
“Tapi…”
Beliau melanjutkan sambil menatap lurus ke mataku.
“Setiap orang selalu diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.”
Beliau lalu menyerahkan sebuah kartu nama.
“Perusahaanku sedang membuka program sosial untuk membantu UMKM di desa-desa. Kami butuh orang yang benar-benar pernah jatuh dan tahu rasanya kehilangan segalanya.”
Aku menatap kartu itu dengan bingung.
“Bapak… masih percaya padaku?”
“Aku tidak sedang mempercayai Aris yang dulu.”
Beliau tersenyum hangat.
“Aku memberi kesempatan kepada Aris yang baru.”
Aku menggenggam kartu nama itu erat.
Hari itu aku sadar, cinta memang tidak selalu memberi kesempatan kedua. Namun kehidupan sering kali masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Aku memang kehilangan seorang istri yang luar biasa. Aku juga kehilangan keluarga yang dulu kuanggap akan selalu ada. Tetapi dari seluruh kehancuran itu, aku akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki ketika masih bergelimang harta.
Kerendahan hati. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar menjadi seorang ayah dan manusia yang layak dihormati.
