“Shena…” bisik Arka lirih.
Suara itu membuat tubuh Shena menegang. Selama tujuh tahun, ia telah membayangkan banyak kemungkinan jika suatu hari bertemu Arka lagi. Ia membayangkan dirinya akan marah, menangis, atau mungkin menampar pria itu. Namun ketika momen itu benar-benar datang, semua kalimat yang sudah ia susun lenyap begitu saja.
Yang tersisa hanya ketakutan.

Shena segera meraih tangan Kenzie dan menariknya mendekat. Sementara Keira masih memeluk pinggangnya, bingung melihat wajah sang ibu yang mendadak pucat.
“Mama kenal Om ini?” tanya Keira polos.
Shena tidak menjawab. Matanya terus terpaku pada Arka, sementara jantungnya berdetak begitu keras seolah hendak menembus dada.
Arka perlahan berdiri. Tatapannya bergantian mengarah pada Shena dan kedua anak itu.
“Usia mereka berapa?” tanyanya.
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Shena mengenal Arka terlalu baik. Di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang ditahan.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Shena pendek.
Arka tersentak. Selama bertahun-tahun ia mencari wanita itu ke berbagai kota. Ia menyewa penyelidik, memeriksa catatan rumah sakit, data perjalanan, bahkan mendatangi setiap orang yang pernah mengenal Shena. Namun tidak pernah ada hasil.
Kini Shena berdiri di depannya.
Bersama dua anak yang wajahnya begitu mirip dengannya.
“Shena, jawab aku.”
“Aku bilang itu bukan urusanmu.”
Shena menggenggam tangan anak-anaknya lebih erat lalu berbalik hendak pergi.
Namun Arka melangkah menghalangi.
“Jangan pergi lagi.”
Kalimat itu terdengar seperti permintaan, bukan perintah. Hal yang sangat jarang keluar dari mulut Arka.
Shena menatapnya dengan mata memerah.
“Tujuh tahun lalu, kamu yang mengusirku. Sekarang jangan bertindak seolah aku yang meninggalkanmu.”
Ucapan itu menghantam Arka tepat di dada.
Kenzie maju satu langkah dan berdiri di depan ibunya. Wajah kecilnya terlihat serius.
“Om, jangan ganggu Mama.”
Arka menatap anak laki-laki itu. Semakin lama ia melihatnya, semakin sulit baginya menyangkal dugaan yang mulai tumbuh.
“Aku tidak akan menyakiti Mama kalian,” ucap Arka pelan.
Kenzie tidak bergeming.
“Semua orang yang bikin Mama sedih bilang begitu.”
Shena menunduk cepat. Ia tidak ingin Arka melihat air mata yang mulai memenuhi matanya.
Saat itulah seorang pria berkaus polo hitam keluar dari salah satu kios makanan di dekat mereka. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
“Shena, ada apa?”
Pria itu berjalan cepat dan berdiri di sisi Shena. Ia menyentuh bahu Kenzie dengan akrab, lalu membungkuk untuk memeriksa lutut Keira yang sempat terjatuh.
Arka langsung menatap pria itu dengan rahang mengeras.
“Siapa dia?” tanya Arka.
Pria tersebut berdiri tegak.
“Saya Dimas. Rekan bisnis Shena.”
“Hanya rekan bisnis?” Arka menatap tajam.
Shena merasa muak mendengar nada curiga itu.
“Status Dimas bukan urusanmu. Sama seperti hidupku dan anak-anakku.”
Arka menahan napas.
“Anak-anakmu?”
Shena tidak menjawab. Ia meraih Keira dan menggandeng Kenzie.
“Ayo pulang.”
Mereka pergi meninggalkan Arka yang masih berdiri membeku di tengah keramaian. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tatapannya mengikuti punggung Shena hingga menghilang di balik pintu kafe kecil bernama Rumah Rasa.
Asistennya mendekat dengan hati-hati.
“Tuan, pertemuan investor sebentar lagi.”
“Batalkan.”
“Tapi para investor sudah datang dari Surabaya.”
“Aku bilang batalkan.”
Arka berbalik, tetapi sebelum pergi, ia memandang papan nama kafe itu sekali lagi.
Malamnya, Arka tidak kembali ke rumah. Ia duduk sendirian di kantor, menatap layar laptop yang menampilkan hasil pencarian tentang Rumah Rasa.
Kafe itu didirikan enam tahun lalu oleh Shena Prameswari. Berawal dari dapur kecil di rumah kontrakan, bisnis tersebut berkembang menjadi layanan katering dan kini memiliki tiga cabang. Hampir seluruh pegawainya adalah perempuan yang pernah mengalami kesulitan ekonomi atau kekerasan dalam rumah tangga.
Arka membaca setiap berita tentang Shena dengan dada sesak.
Wanita yang dulu ia anggap lemah ternyata membangun hidupnya sendiri dari nol.
Tanpa uangnya.
Tanpa namanya.
Tanpa bantuannya.
Pagi berikutnya, Arka mendatangi Rumah Rasa seorang diri. Tidak ada pengawal, tidak ada asisten. Ia sengaja datang sebelum kafe dibuka.
Shena sedang menyusun beberapa kotak makanan ketika melihatnya berdiri di depan pintu kaca.
“Aku belum membuka kafe,” katanya dingin.
“Aku datang bukan untuk makan.”
“Aku juga tidak punya waktu untuk masa lalu.”
Arka masuk perlahan.
“Aku hanya ingin bicara.”
Shena tertawa kecil, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya.
“Tujuh tahun lalu aku memohon kamu mendengarkanku. Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan menjelaskan. Sekarang kenapa aku harus memberimu waktu?”
Arka menunduk. Untuk pertama kalinya, kesombongannya benar-benar runtuh.
“Karena aku menyesal.”
Shena terdiam.
“Aku tahu penyesalanku tidak akan menghapus apa pun,” lanjut Arka. “Aku tahu aku telah menghancurkanmu. Aku percaya pada Vania, mempermalukanmu, dan mengusirmu dari rumah tanpa apa pun. Aku tidak datang untuk meminta kamu melupakan itu.”
“Lalu untuk apa?”
Arka menatapnya.
“Kenzie dan Keira anakku, bukan?”
Shena memejamkan mata sesaat.
Pertanyaan itu akhirnya datang.
“Mereka lahir tujuh bulan setelah aku pergi,” jawab Shena.
Jari-jari Arka bergetar.
“Jadi benar?”
“Apa yang akan berubah jika benar?”
“Semuanya.”
“Tidak.” Shena menatapnya tajam. “Tidak ada yang berubah. Saat aku hamil, aku mencarimu.”
Arka membeku.
“Apa?”
“Aku datang ke kantormu tiga kali. Asistenmu bilang kamu tidak mau bertemu. Aku menelepon, nomor aku diblokir. Aku mengirim surat, semuanya dikembalikan.”
“Aku tidak pernah menerima apa pun.”
“Tentu saja kamu akan bilang begitu.”
“Aku serius, Shena.”
Shena berjalan menuju laci kasir dan mengambil sebuah amplop tua yang warnanya sudah menguning. Ia mengeluarkan beberapa lembar surat dan meletakkannya di atas meja.
Di bagian depan amplop terdapat cap perusahaan Arka dan tulisan penolakan.
Arka mengenali tanda tangan di sana.
Itu bukan tanda tangannya.
Namun ia tahu siapa yang biasa menirukannya.
Vania.
Darah Arka mendidih.
“Dia melakukan ini,” gumamnya.
Shena tertawa getir.
“Berhenti menyalahkan Vania untuk semua hal. Dia memang jahat, tapi kamu yang memilih percaya padanya. Kamu yang mengusirku.”
“Aku tahu.”
“Tidak, kamu tidak tahu.” Suara Shena mulai bergetar. “Aku hamil, tidak punya uang, dan tidak punya tempat tinggal. Aku tidur dua malam di musala terminal sebelum seorang ibu pemilik warung menolongku. Saat aku melahirkan, Keira hampir tidak tertolong karena aku terlambat dibawa ke rumah sakit. Kenzie harus dirawat beberapa hari karena berat badannya rendah.”
Wajah Arka semakin pucat.
Setiap kata yang keluar dari mulut Shena terasa seperti hukuman.
“Aku tidak tahu,” bisiknya.
“Itulah masalahnya, Arka. Kamu tidak pernah mau tahu.”
Arka menatap surat-surat itu dengan mata merah.
“Aku akan melakukan tes DNA.”
Shena langsung menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Aku perlu memastikan.”
“Agar kamu bisa mengambil mereka dariku?”
Arka terkejut.
“Aku tidak akan pernah melakukan itu.”
“Kamu punya uang, koneksi, dan kekuasaan. Aku hanya punya mereka.”
“Aku bersumpah, aku tidak akan memisahkan kalian.”
“Dulu kamu juga pernah bersumpah akan melindungiku.”
Ucapan itu membuat Arka tidak mampu menjawab.
Beberapa hari kemudian, masalah datang dari arah yang tidak diduga. Sebuah video pertemuan Arka dengan Shena di mal tersebar di media sosial. Wajah Kenzie dan Keira terlihat jelas. Berbagai akun gosip mulai menyebut mereka sebagai anak rahasia pengusaha ternama.
Pelanggan dan wartawan memadati Rumah Rasa. Beberapa rekan bisnis membatalkan pesanan karena tidak ingin terseret skandal.
Shena tahu siapa yang berada di balik semua itu ketika Vania mendatanginya sore hari.
Wanita itu masih terlihat glamor, tetapi sorot matanya penuh kebencian.
“Kamu memang hebat,” kata Vania sambil tersenyum sinis. “Tujuh tahun menghilang, lalu kembali membawa dua anak untuk mengikat Arka.”
Shena tetap tenang.
“Aku tidak kembali. Kami bertemu secara tidak sengaja.”
“Jangan pura-pura polos. Kamu pikir dengan anak-anak itu Arka akan menikahimu lagi?”
“Aku tidak menginginkan Arka.”
“Bohong.”
Vania mendekat dan merendahkan suara.
“Lebih baik kamu pergi dari Jakarta. Aku bisa memberikan uang sebanyak yang kamu mau.”
Shena menatapnya tanpa gentar.
“Dulu kamu juga mencoba membeli hidupku. Hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan, kan?”
Wajah Vania berubah.
“Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan.”
“Aku tahu. Kamu memalsukan tanda tangan Arka dan menghalangi semua suratku.”
Vania terdiam sesaat, lalu tertawa.
“Jadi kamu sudah tahu?”
Tanpa disadari Vania, ponsel Shena di atas meja sedang merekam seluruh percakapan.
“Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan,” lanjut Vania. “Kalau Arka tahu kamu hamil, dia pasti mencarimu. Aku tidak bisa membiarkan itu.”
“Jadi kamu mengakui semuanya?”
“Aku tidak takut.”
“Seharusnya kamu takut.”
Suara Arka terdengar dari pintu.
Vania menoleh dengan wajah pucat.
Arka berdiri di sana bersama dua petugas kepolisian dan seorang pengacara. Tatapannya begitu dingin hingga Vania mundur beberapa langkah.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
“Aku sudah mendengar cukup banyak.”
Vania menangis dan mencoba mendekat, tetapi Arka menghindar.
Selain pemalsuan dokumen, penyelidikan Arka juga menemukan bahwa Vania menyuap mantan asistennya untuk menutup semua akses Shena kepadanya. Bahkan Vania menggunakan data pribadi Shena untuk membuat bukti transfer palsu, seolah-olah Shena menerima uang dalam jumlah besar.
Vania akhirnya dibawa pergi untuk menjalani pemeriksaan.
Namun masalah tidak selesai begitu saja.
Meski kebenaran mulai terungkap, Shena tetap menolak memberi Arka ruang dalam kehidupan anak-anaknya.
Arka tidak memaksa. Ia hanya datang setiap pagi ke Rumah Rasa, duduk di meja sudut, memesan kopi yang hampir tidak pernah disentuh, lalu pergi tanpa mengganggu.
Kadang-kadang ia membantu memperbaiki rak. Kadang mengantar bahan makanan. Kadang hanya melihat Kenzie dan Keira mengerjakan tugas sekolah.
Suatu hari, Keira menghampirinya.
“Om Arka.”
Arka menutup laptop.
“Ya?”
“Mama bilang Om sebenarnya papa kami.”
Jantung Arka berhenti sesaat.
Keira menatapnya dengan polos.
“Benar?”
Arka berlutut agar sejajar dengannya.
“Benar. Tapi Om tidak akan memaksa Keira memanggil Papa.”
“Kenapa Papa baru datang sekarang?”
Pertanyaan sederhana itu membuat mata Arka panas.
“Karena Papa melakukan kesalahan yang sangat besar.”
“Papa jahat sama Mama?”
Arka mengangguk perlahan.
“Iya.”
“Terus Papa minta maaf?”
“Setiap hari.”
Keira berpikir sebentar, lalu memeluknya.
“Keira maafin. Tapi Mama mungkin belum.”
Arka menahan tangis sambil membalas pelukan kecil itu.
Dari kejauhan, Shena melihat semuanya. Hatinya bergetar, tetapi luka masa lalu membuatnya tetap berhati-hati.
Beberapa minggu kemudian, hasil tes DNA resmi menyatakan Arka adalah ayah biologis Kenzie dan Keira. Arka tidak menggunakan hasil itu untuk menuntut hak asuh. Sebaliknya, ia menandatangani surat pernyataan bahwa semua keputusan mengenai anak-anak tetap berada di tangan Shena.
Ia juga menyerahkan sebagian saham pusat perbelanjaan barunya untuk dana pendidikan kedua anak itu, tanpa syarat apa pun.
“Kamu tidak perlu melakukan ini,” kata Shena.
“Aku tidak sedang membeli mereka.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya ingin bertanggung jawab.”
Shena menatap pria di depannya. Arka masih memiliki wajah yang sama, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada kesombongan. Tidak ada perintah. Hanya penyesalan yang jujur.
“Kenapa kamu tidak pernah menikah lagi?” tanya Shena tiba-tiba.
Arka tersenyum pahit.
“Karena setiap kali melihat perempuan lain, aku hanya ingat bagaimana aku gagal menjaga satu-satunya perempuan yang benar-benar mencintaiku.”
Shena mengalihkan pandangan.
“Aku tidak bisa kembali seperti dulu.”
“Aku tidak meminta itu.”
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
“Kesempatan untuk menjadi ayah yang baik. Kalau suatu hari kamu bisa memaafkanku, itu sudah lebih dari cukup.”
Enam bulan berlalu.
Arka perlahan menjadi bagian dari rutinitas Kenzie dan Keira. Ia mengantar mereka sekolah, menghadiri pertunjukan kelas, belajar membuat bekal, bahkan membiarkan jas mahalnya dicoret-coret saat Keira bermain desainer.
Kenzie yang awalnya selalu bersikap dingin akhirnya mulai memanggilnya Papa ketika Arka membelanya dari seorang teman yang mengejek ibunya.
Hubungan Arka dan Shena pun perlahan berubah. Bukan kembali seperti dahulu, melainkan tumbuh dalam bentuk baru yang lebih dewasa.
Suatu malam, setelah ulang tahun ketujuh Kenzie dan Keira, Arka berdiri di teras rumah Shena.
“Aku punya sesuatu,” katanya.
Shena langsung waspada ketika Arka mengeluarkan sebuah kotak kecil.
“Aku belum siap menikah lagi.”
Arka tertawa pelan.
“Ini bukan cincin.”
Di dalam kotak itu terdapat kunci.
“Kunci apa?”
“Rumah lama kita.”
Wajah Shena berubah.
“Aku tidak menginginkannya.”
“Aku juga tidak ingin kamu tinggal di sana.” Arka memandangnya lembut. “Aku sudah mengubah rumah itu menjadi yayasan untuk membantu perempuan yang kehilangan tempat tinggal. Namanya Yayasan Shena.”
Shena terdiam, tidak mampu berkata-kata.
“Kenapa memakai namaku?”
“Karena rumah itu dulu menjadi tempat aku menghancurkan hidupmu. Sekarang aku ingin tempat itu menjadi awal bagi perempuan lain untuk membangun hidup mereka kembali.”
Air mata Shena akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arka tidak hanya menyesali masa lalu. Ia benar-benar mengubah penyesalan itu menjadi sesuatu yang berarti.
“Arka,” bisiknya.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa-apa.”
Shena menggeleng pelan.
“Tidak semua luka harus dilupakan untuk bisa sembuh.”
Arka menatapnya, menunggu.
“Tapi orang yang terluka berhak melihat apakah orang yang menyakitinya benar-benar berubah.”
“Dan menurutmu?”
Shena tersenyum tipis.
“Kamu sedang belajar.”
Arka tertawa pelan dengan mata berkaca-kaca.
Dari balik pintu, Kenzie dan Keira tiba-tiba muncul.
“Jadi Mama sama Papa akan menikah lagi?” tanya Keira antusias.
Shena dan Arka saling menatap.
“Siapa yang bilang begitu?” tanya Shena.
Kenzie mengangkat bahu.
“Keira yang bilang. Aku cuma ikut dengar.”
Keira menggenggam tangan kedua orang tuanya lalu menyatukannya.
“Kalau belum mau menikah, nggak apa-apa. Yang penting jangan pergi lagi.”
Kalimat itu membuat Shena dan Arka terdiam.
Arka menggenggam tangan kecil Keira, lalu menatap Shena.
“Aku tidak akan pergi.”
Shena tidak menarik tangannya ketika Arka perlahan menggenggamnya.
Tidak ada janji besar malam itu. Tidak ada lamaran mewah. Tidak ada kepastian bahwa semua luka akan hilang.
Namun untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, mereka berdiri bersama tanpa kebencian.
Beberapa bulan kemudian, Arka menemukan sebuah fakta yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun. Dimas ternyata bukan sekadar rekan bisnis Shena. Ia adalah putra dari pemilik warung yang dulu menyelamatkan Shena di terminal. Selama bertahun-tahun, Dimas membantu Shena bukan karena mengharapkan cinta, melainkan karena ibunya berpesan sebelum meninggal agar ia memastikan Shena dan kedua anaknya tidak pernah sendirian.
Ketika Arka mengucapkan terima kasih, Dimas hanya tersenyum.
“Jangan berterima kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada Shena karena dia masih memberi Anda kesempatan menjadi manusia yang lebih baik.”
Setahun setelah pertemuan mereka di mal, Shena dan Arka menikah kembali dalam sebuah acara kecil di halaman Rumah Rasa. Tidak ada pesta mewah. Hanya keluarga, para pegawai, Dimas, serta anak-anak dari yayasan.
Saat Arka memasangkan cincin di jari Shena, ia berbisik, “Kali ini aku tidak akan berjanji membuatmu selalu bahagia. Aku hanya berjanji akan selalu mendengarkanmu.”
Shena tersenyum dengan air mata di pipinya.
“Itu janji yang seharusnya kamu buat sejak dulu.”
Kenzie dan Keira bertepuk tangan paling keras.
Bagi Arka, pertemuan tak sengaja dengan dua anak yang menumpahkan es krim di sepatunya bukanlah kebetulan. Itu adalah cara kehidupan memaksanya berhadapan dengan kesalahan yang selama bertahun-tahun ia hindari.
Ia akhirnya mengerti bahwa penyesalan tidak berarti apa-apa jika hanya disimpan dalam hati. Penyesalan baru memiliki arti ketika seseorang berani bertanggung jawab, berubah, dan memperbaiki kerusakan yang pernah ia tinggalkan.
Sementara bagi Shena, memaafkan bukan berarti menghapus masa lalu atau berpura-pura tidak pernah terluka. Memaafkan adalah memilih untuk tidak lagi membiarkan luka mengendalikan masa depan.
Dan rumah besar yang dahulu dipenuhi kesunyian itu kini selalu ramai oleh suara perempuan-perempuan yang sedang belajar memulai hidup baru.
Aroma vanila masih sering tercium di sana.
Namun kali ini, aroma itu tidak lagi mengejek Arka.
Aroma itu mengingatkannya bahwa cinta yang pernah ia sia-siakan akhirnya kembali, bukan karena ia pantas mendapatkannya, melainkan karena ia berani berubah untuk menjaganya.
