Aqeela mengendarai motor matiknya menembus jalanan malam yang mulai lengang. Angin dingin menerpa wajahnya, tetapi tidak mampu meredakan sesak di dadanya. Setiap kali lampu merah memaksanya berhenti, bayangan wajah Adnan kembali muncul di kepalanya. Tatapan dingin pria itu, ucapan ibunya yang merendahkan dirinya, hingga rasa sakit yang masih tersisa dari malam sebelumnya bercampur menjadi satu.
“Kontrak tinggal empat bulan lagi,” gumamnya pelan. “Setelah itu semuanya selesai.”
Kalimat itu terus ia ulang seperti mantra agar hatinya tidak goyah.

Satu per satu pesanan dessert berhasil ia antarkan. Para pelanggan menyambutnya dengan ramah. Beberapa bahkan memuji rasa tiramisu buatannya dan langsung memesan lagi untuk minggu depan. Senyum kecil akhirnya menghiasi wajah Aqeela. Dunia kecil yang ia bangun sendiri masih memberinya alasan untuk bertahan.
Ketika ia selesai mengantar pesanan terakhir, ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Selamat malam, Kak Aqeela. Saya Dina dari Kafe Langit Senja. Saya dapat nomor Kakak dari Bu Reni. Katanya Kakak menerima pesanan dessert dalam jumlah besar?”
Aqeela terdiam beberapa detik.
“Iya, betul.”
“Kami sedang mencari supplier tetap untuk dessert box. Kalau cocok, kami butuh sekitar tiga ratus kotak setiap minggu.”
Mata Aqeela langsung membulat.
“Tiga… tiga ratus?”
“Iya. Besok siang apakah Kakak bisa datang membawa beberapa sampel?”
Jantung Aqeela berdegup sangat cepat.
“Tentu. Saya akan datang.”
Telepon ditutup.
Untuk pertama kalinya hari itu, Aqeela tersenyum lebar.
Mungkin memang beginilah jalannya. Saat satu pintu ditutup, pintu lain perlahan terbuka.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah mobil hitam sejak tadi mengikuti motornya dari kejauhan.
Di balik kemudi mobil itu, Adnan menggenggam setir lebih erat.
Ia tidak tahu mengapa setelah melihat Aqeela pergi sendirian, kakinya justru membawanya mengambil kunci mobil dan mengikuti istrinya.
Awalnya ia hanya ingin memastikan Aqeela benar-benar mengantar pesanan.
Namun semakin lama mengikutinya, semakin banyak hal yang membuatnya terdiam.
Aqeela mengangkat sendiri kotak-kotak berat itu.
Ia tersenyum tulus kepada pelanggan.
Ia menerima pembayaran dengan penuh rasa syukur.
Tidak ada sedikit pun sikap manja seperti yang selama ini dibayangkan ibunya.
Saat melihat Aqeela duduk sebentar di pinggir jalan hanya untuk menghitung uang hasil jualannya sambil tersenyum puas, dada Adnan terasa aneh.
Selama ini…
Apa ia benar-benar tidak pernah mengenal perempuan yang tinggal serumah dengannya?
Keesokan harinya.
Aqeela datang ke Kafe Langit Senja membawa berbagai sampel dessert.
Pemilik kafe, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun bernama Nirmala, mencicipi satu per satu dengan wajah serius.
Ruangan menjadi sunyi.
Aqeela menggenggam kedua tangannya erat di bawah meja.
Akhirnya Nirmala tersenyum.
“Ini yang kami cari.”
Aqeela hampir tidak percaya.
“Benarkah, Bu?”
“Mulai bulan depan kita kerja sama.”
Air mata Aqeela hampir jatuh.
“Terima kasih banyak.”
“Tapi ada satu syarat.”
Aqeela kembali tegang.
“Kami ingin dapur produksi yang lebih layak. Kalau bisnis berkembang, kami bahkan siap membantu promosi.”
Aqeela mengangguk berkali-kali.
“Saya akan berusaha.”
Hari itu ia pulang dengan hati berbunga-bunga.
Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama.
Saat memasuki rumah, ia melihat Mama Ratna sedang duduk di ruang tamu bersama seorang perempuan cantik berpenampilan elegan.
Perempuan itu langsung berdiri ketika melihat Aqeela.
“Oh… jadi ini istri kontrak Adnan?”
Aqeela berhenti melangkah.
Mama Ratna tersenyum tipis.
“Kenalkan. Ini Rissa.”
Nama itu membuat jantung Aqeela berdegup lebih cepat.
Inilah wanita yang berkali-kali disebut oleh Mama Ratna.
Wanita yang seharusnya menjadi istri Adnan.
Rissa tersenyum manis.
“Senang akhirnya kita bertemu.”
Senyumnya begitu sempurna hingga justru terasa menyeramkan.
Aqeela hanya membalas dengan anggukan.
Mama Ratna segera berkata, “Rissa baru pulang dari Singapura. Dia datang untuk makan malam bersama keluarga.”
Saat itulah suara mobil Adnan terdengar memasuki halaman.
Beberapa menit kemudian pria itu masuk ke ruang tamu.
Begitu melihat Rissa, langkahnya berhenti.
“Kamu?”
Rissa tersenyum hangat.
“Hai, Adnan.”
Tatapan mereka bertemu cukup lama.
Aqeela merasa dadanya diremas.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kata-kata Mama Ratna.
Makan malam berlangsung canggung.
Mama Ratna terus membandingkan Rissa dan Aqeela.
“Rissa sekarang sudah jadi konsultan internasional.”
“Rissa jago memasak makanan Eropa.”
“Rissa juga pintar investasi.”
Setiap kalimat seolah sengaja diarahkan untuk menjatuhkan Aqeela.
Aqeela memilih diam.
Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Namun saat hendak bangkit membawa piring kotor, Rissa tiba-tiba berkata pelan.
“Aku dengar kamu jualan dessert.”
“Iya.”
“Bagus juga. Pasti capek ya.”
Nada bicaranya terdengar lembut.
Tetapi sorot matanya tidak demikian.
“Semoga usahanya tetap jalan.”
Kalimat itu terdengar seperti doa.
Entah mengapa Aqeela justru merasa sedang diancam.
Dua hari kemudian.
Ancaman itu menjadi kenyataan.
Saat Aqeela datang ke ruko yang hendak ia sewa untuk dapur produksi, pemilik ruko terlihat kebingungan.
“Maaf, Mbak. Tadi pagi ada orang yang langsung membayar lunas setahun.”
Aqeela terkejut.
“Tapi kemarin Bapak bilang ruko ini masih untuk saya.”
“Iya. Tapi mereka membayar dua kali lipat.”
Aqeela pulang dengan langkah lemas.
Sore harinya, pemasok keju langganannya juga membatalkan kerja sama.
Besoknya, pemasok krim melakukan hal yang sama.
Dalam tiga hari, semua rencana bisnisnya runtuh.
Aqeela mulai curiga.
Ini bukan kebetulan.
Seseorang sedang berusaha menghancurkan usahanya.
Malam itu ia duduk sendirian di dapur.
Adnan masuk sambil membawa segelas air.
“Kamu belum tidur?”
Aqeela tidak menjawab.
“Ada masalah?”
“Tidak.”
“Aku tahu ada sesuatu.”
Aqeela tertawa kecil.
“Mas memang tiba-tiba perhatian sekarang?”
Adnan terdiam.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
“Aku lihat kamu bekerja keras.”
Aqeela menoleh.
“Mas mengikuti aku malam itu?”
Adnan tidak menyangkal.
“Aku cuma memastikan kamu aman.”
Aqeela menggeleng pelan.
“Sudah terlambat.”
Adnan ingin mengatakan sesuatu.
Namun ponselnya berdering.
Mama Ratna.
Ia mengangkat telepon lalu berjalan menjauh.
Tanpa sengaja, sebuah map cokelat yang dibawanya terjatuh.
Aqeela hendak mengambilnya.
Beberapa lembar dokumen keluar dari dalam map.
Matanya membeku.
Di sana terdapat salinan kontrak pernikahan mereka.
Tetapi ada satu lembar tambahan yang belum pernah ia lihat.
Di bagian bawah tertulis jumlah uang yang sangat besar.
Lima miliar rupiah.
Dan terdapat tanda tangan ayahnya.
Tangan Aqeela langsung gemetar.
Apa ini?
Saat Adnan kembali, Aqeela sudah berdiri sambil memegang dokumen itu.
“Apa ini?”
Wajah Adnan langsung berubah.
“Kamu buka map itu?”
“Aku tanya ini apa!”
Suara Aqeela bergetar.
Adnan menarik napas panjang.
“Itu bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku?”
Air mata Aqeela akhirnya jatuh.
“Namaku ada di kontrak ini!”
Adnan memejamkan mata beberapa detik.
“Ayahmu menerima uang itu.”
Aqeela membeku.
“Tidak mungkin.”
“Itu kenyataannya.”
“Lima miliar?”
“Iya.”
“Dibayar untuk apa?”
Adnan menatapnya cukup lama.
“Lima miliar itu adalah syarat agar kamu bersedia menikah denganku.”
Dunia Aqeela seakan berhenti berputar.
Selama ini ia percaya ayahnya hanya ingin menyelamatkan perusahaan keluarga Adnan melalui pernikahan kontrak.
Namun ternyata…
Ada uang lima miliar yang berpindah tangan.
“Berarti…”
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Ayah menjualku?”
Tidak ada jawaban.
Kesunyian itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan.
Aqeela mundur beberapa langkah.
Seluruh tubuhnya terasa dingin.
Selama ini ia mengira dirinya hanya menjadi korban keadaan.
Ternyata sejak awal…
Ia memang telah dijadikan alat transaksi.
Adnan memandang wajah istrinya yang hancur.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan penyesalan yang benar-benar menyiksa.
Ia sadar, bukan hanya dirinya yang telah melukai Aqeela.
Orang-orang yang seharusnya melindunginya pun ternyata telah mengkhianatinya jauh sebelum pernikahan itu dimulai.
Dan di luar rumah, dari balik kaca mobil yang terparkir dalam gelap, Rissa menurunkan ponselnya setelah berhasil merekam seluruh percakapan mereka.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Akhirnya rahasia itu terbongkar,” bisiknya pelan.
“Tinggal satu langkah lagi… dan semuanya akan menjadi milikku.”
