Aku tersenyum tipis sambil menatap wajah ibu mertuaku yang dipenuhi rasa curiga.
“Tenang saja, Bu. Sebentar lagi Ibu juga akan tahu dari mana semua ini berasal.”
Aku meraih tas kerjaku lalu berjalan keluar rumah tanpa menunggu jawaban mereka. Di belakangku, suara Ibu Widya masih terdengar mengomel, sementara Reno memandangi punggungku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Entah marah, bingung, atau mulai merasa kehilangan kendali atas perempuan yang selama ini selalu menuruti semua keinginannya.
Sesampainya di pabrik tekstil, aku menjalani pekerjaanku seperti biasa. Tidak ada satu pun rekan kerja yang tahu bahwa hidupku sudah berubah sejak dua minggu lalu.

Tak seorang pun tahu bahwa aku sebenarnya adalah cucu kandung pemilik Grup Mahendra, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Selama bertahun-tahun, kakekku sengaja menyembunyikan identitasku demi menguji siapa yang benar-benar mencintaiku. Bahkan ketika orang tuaku meninggal dalam kecelakaan, aku tetap hidup sederhana karena permintaan beliau.
Kini semua itu berakhir.
Seluruh aset keluarga resmi diwariskan kepadaku.
Rumah-rumah mewah.
Puluhan perusahaan.
Saham.
Hotel.
Dan uang tunai dalam jumlah yang bahkan sulit kuhitung.
Namun aku memilih tetap bekerja di pabrik untuk sementara waktu.
Aku ingin melihat seberapa jauh wajah asli orang-orang di sekitarku.
Menjelang siang, ponselku berdering.
“Selamat siang, Nona Riana.”
Suara sopan Pak Arman, pengacara keluarga, terdengar dari seberang.
“Kami sudah menyelesaikan proses akuisisi restoran milik Pak Reno.”
Aku menghentikan langkah.
“Sudah?”
“Ya. Melalui perusahaan investasi keluarga, kami membeli seluruh saham mayoritas yang sebelumnya dimiliki investor lain. Mulai hari ini, secara hukum restoran tersebut berada di bawah kendali perusahaan Anda.”
Aku tersenyum.
“Bagus.”
“Lalu bagaimana dengan Pak Reno?”
“Biarkan dulu.”
“Baik, Nona.”
Aku menutup telepon.
Permainan baru saja dimulai.
Sore harinya, ketika jam kerja selesai, aku tidak langsung pulang.
Aku justru menuju restoran yang beberapa hari lalu mengusirku.
Di depan pintu berdiri dua satpam yang dulu memandang rendah diriku.
Mereka langsung menghalangiku.
“Mbak, maaf. Anda tidak boleh masuk.”
Aku tersenyum.
“Begitu?”
“Iya. Kami sudah diperintahkan.”
Belum sempat mereka berkata lebih jauh, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan restoran.
Pak Arman turun bersama beberapa pria berpakaian jas.
Seluruh pengunjung otomatis menoleh.
Pak Arman berjalan lurus menghampiriku.
“Selamat sore, Nona.”
Kedua satpam langsung saling berpandangan.
“Nona?”
Pak Arman kemudian menyerahkan sebuah map hitam.
“Semua dokumen akuisisi sudah lengkap.”
Aku membukanya sebentar.
Lengkap.
Cap notaris.
Tanda tangan.
Semuanya sah.
“Baik.”
Aku menatap kedua satpam.
“Sekarang menurut kalian, siapa yang tidak boleh masuk?”
Wajah mereka langsung pucat.
“Ma… maaf, Bu…”
Belum sempat mereka meminta maaf lebih jauh, suara tawa Selin terdengar dari dalam restoran.
“Sayang, nanti malam kita rayakan keuntungan minggu pertama, ya.”
Reno ikut tertawa.
Mereka belum menyadari kedatanganku.
Aku melangkah masuk.
Suasana restoran langsung hening.
Selin yang sedang memegang gelas wine langsung memutar badan.
Begitu melihatku, wajahnya berubah sinis.
“Lho… buruh pabrik datang lagi.”
Beberapa pegawai ikut tertawa kecil.
Reno berdiri.
“Aku sudah bilang kamu jangan datang lagi.”
Aku tidak menjawab.
Pak Arman justru maju selangkah.
“Permisi.”
Semua mata beralih kepadanya.
“Saya Arman Santoso, kuasa hukum PT Mahendra Capital.”
Reno mengernyit.
“Lalu?”
“Hari ini kami datang untuk menyampaikan bahwa berdasarkan akta jual beli saham yang telah disahkan pagi tadi, restoran ini resmi menjadi milik PT Mahendra Capital.”
Ruangan mendadak sunyi.
Selin tertawa.
“Lucu sekali.”
Pak Arman mengeluarkan dokumen.
“Silakan dibaca.”
Reno mengambilnya.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.
“Tidak mungkin…”
Pak Arman tersenyum profesional.
“Mulai pukul tiga sore tadi, seluruh keputusan operasional restoran berada di bawah pemilik baru.”
Selin mulai panik.
“Terus kami bagaimana?”
Pak Arman menoleh kepadaku.
“Semuanya bergantung pada keputusan Direktur Utama.”
Seluruh ruangan mengikuti arah pandang Pak Arman.
Tatapan mereka berhenti padaku.
Aku melangkah perlahan ke depan.
“Perkenalkan.”
“Aku Riana Mahendra.”
“Pemilik baru restoran ini.”
Suara sendok yang jatuh ke lantai terdengar nyaring.
Reno membelalak.
“Apa?”
Selin tertawa gugup.
“Jangan bercanda.”
Aku mengeluarkan kartu identitasku.
Logo perusahaan keluarga terpampang jelas.
Pak Arman juga menyerahkan salinan akta kepemilikan.
Tidak ada lagi yang bisa mereka bantah.
Reno mundur selangkah.
“Ri… Riana… ini…”
“Aku memang sengaja tidak pernah memberitahumu.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya tanpa sedikit pun kebencian.
“Hanya untuk melihat apakah kamu mencintaiku atau hanya mencintai uang.”
Air muka Reno langsung runtuh.
Ia mulai mengingat semuanya.
Bagaimana aku memberikan dua miliar tanpa syarat.
Bagaimana aku selalu bekerja keras.
Bagaimana aku tidak pernah mengeluh meski diperlakukan seperti pembantu.
Semua potongan itu kini menyatu.
Ia sadar.
Perempuan yang selama ini diremehkan ternyata jauh lebih kaya daripada siapa pun yang pernah dikenalnya.
Selin mendadak memegang lengan Reno.
“Sayang… ini pasti bohong.”
Aku menoleh padanya.
“Kamu yang mengusirku dari restoran ini, bukan?”
Selin tidak menjawab.
“Kamu juga yang menyuruh satpam menyeretku keluar.”
Ia mulai gugup.
“Itu…”
Aku tersenyum tipis.
“Mulai hari ini, kamu dipecat.”
Wajah Selin langsung memucat.
“Apa?”
“Kamu sudah tidak bekerja di sini.”
“Tapi aku manajer!”
“Dulu.”
“Sekarang tidak.”
Ia menoleh panik kepada Reno.
“Sayang!”
Reno bahkan tidak mampu menatapnya.
Pikirannya sudah kacau.
Ia justru berbalik menghampiriku.
“Riana… aku minta maaf.”
Aku diam.
“Aku khilaf.”
“Aku cuma salah paham.”
“Aku masih mencintaimu.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa kemarin kamu memperkenalkan Selin sebagai calon istrimu?”
Reno terdiam.
“Kenapa kamu membiarkan ibumu menghinaku setiap hari?”
Ia tetap membisu.
“Kenapa uang dua miliar yang kuberikan tidak pernah kamu akui berasal dariku?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku salah.”
“Aku benar-benar salah.”
Ia berlutut di depan seluruh pengunjung restoran.
“Maafkan aku.”
Semua orang memandang dengan terkejut.
Laki-laki yang selama ini begitu sombong kini menangis di kakiku.
Namun anehnya…
Aku sudah tidak merasakan apa-apa.
Hatiku kosong.
Rasa cinta itu ternyata benar-benar telah mati.
Aku mundur satu langkah.
“Maaf.”
“Tapi kesempatan itu sudah habis.”
Tepat saat itu, pintu restoran kembali terbuka.
Seorang wanita tua berambut putih memasuki ruangan didampingi beberapa pengawal.
Semua orang otomatis memberi jalan.
“Kek.”
Aku menghampirinya dan mencium tangannya.
Kakek tersenyum hangat.
“Akhirnya kamu selesai juga dengan sandiwaramu.”
Beliau kemudian menoleh kepada seluruh pengunjung.
“Saya Mahendra.”
“Pendiri Grup Mahendra.”
Ruangan kembali gempar.
Nama itu dikenal hampir semua orang.
Beliau menatap Reno.
“Dulu saya sengaja membiarkan cucu saya hidup sederhana.”
“Saya ingin tahu siapa laki-laki yang pantas mendampinginya.”
Tatapan beliau menjadi dingin.
“Sayangnya… kamu gagal.”
Ibu Widya yang baru saja tiba karena mendengar keributan langsung jatuh terduduk.
“Tidak mungkin…”
Ia memukul-mukul dadanya sendiri.
“Riana… menantuku… pewaris Grup Mahendra?”
Beliau langsung merangkak mendekatiku.
“Maafkan Mama.”
“Ayo pulang.”
“Kita keluarga.”
Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun menjadikanku pembantu.
Perempuan yang tak pernah sekalipun membelaku.
“Aneh ya, Bu.”
“Dulu waktu saya miskin, saya bukan keluarga.”
“Sekarang setelah tahu saya kaya, tiba-tiba saya keluarga lagi.”
Beliau menangis.
Aku tidak lagi tersentuh.
Aku menoleh kepada Pak Arman.
“Mulai besok lakukan audit penuh.”
“Kalau ditemukan penyalahgunaan dana, laporkan ke polisi.”
“Baik, Nona.”
Wajah Reno semakin pucat.
Ia tahu betul selama ini banyak transaksi restoran yang tidak pernah dicatat dengan benar.
Aku berjalan menuju pintu keluar bersama kakekku.
Sebelum masuk ke mobil, aku menoleh sekali lagi.
Kulihat Reno masih berlutut.
Selin terduduk lemas.
Ibu Widya menangis sejadi-jadinya.
Mereka kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dibeli dengan uang.
Bukan restoran.
Bukan jabatan.
Melainkan seseorang yang selama ini mencintai mereka dengan tulus.
Mobil perlahan meninggalkan restoran.
Aku memandang langit senja dari balik jendela.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, napasku terasa begitu ringan.
Aku akhirnya mengerti satu hal.
Kemiskinan tidak pernah membuat seseorang hina.
Yang membuat seseorang benar-benar miskin adalah ketika hatinya dipenuhi keserakahan, hingga ia tidak mampu mengenali nilai seorang manusia sebelum melihat isi rekeningnya.
