Aku baru saja terbangun. Kualihkan pandanganku ke arah tempat tidur yang seharusnya ditempati Mas Haris. Seprai itu masih rapi. Berarti semalam Mas Haris memang tidak pulang.

Pesan dari Dita muncul di layar.

“Lita, kamu sudah gila, ya!”

Aku menatap layar ponsel sambil tersenyum tipis. Jari-jariku bergerak pelan membalas pesannya.

“Gila? Memangnya kenapa?”

Balasan darinya datang nyaris seketika.

“Jangan pura-pura! Story kamu itu maksudnya apa?”

Aku sengaja tidak langsung menjawab. Kubiarkan beberapa menit berlalu. Di belakang pintu kamar mandi, suara air masih mengalir. Mas Haris sama sekali tidak tahu bahwa perang dingin baru saja dimulai.

Aku akhirnya membalas dengan singkat.

“Story biasa. Memangnya ada yang salah?”

Tanda “typing…” muncul berkali-kali, lalu menghilang. Beberapa detik kemudian, ponselku berdering. Dita menelepon.

Aku sengaja mengangkatnya dengan suara tenang.

“Halo?”

“Lita, kamu sengaja kan?”

“Sengaja apa?”

“Kamu tahu Mas Haris sama aku!”

Aku tertawa pelan.

“Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“Lita! Jangan bohong!”

“Kamu kenapa marah? Bukannya Mas Haris suamiku? Wajar kalau dia meluk dan mencium istrinya.”

Dita langsung terdiam.

Aku bisa membayangkan wajahnya yang memerah karena emosi.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku memutuskan sambungan telepon.

Beberapa menit kemudian, Mas Haris keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.

“Siapa yang telepon, Sayang?”

“Dita.”

Wajahnya berubah sepersekian detik sebelum kembali tersenyum.

“Oh… dia ada apa?”

“Nggak tahu. Tiba-tiba marah-marah nggak jelas.”

Mas Haris mengangguk, tetapi aku melihat kegelisahan di matanya. Dia segera mengambil ponsel yang tadi ditinggalkan di ruang tamu.

Tak sampai semenit, wajahnya mulai panik.

“Mau ke mana, Mas?” tanyaku saat melihatnya memakai kembali kemeja.

“Ada kerjaan sebentar. Teman kantor lagi butuh bantuan.”

“Jam segini?”

“Iya. Penting.”

Aku hanya mengangguk.

“Hati-hati.”

Begitu pintu rumah tertutup, aku langsung membuka aplikasi pelacak lokasi yang selama ini diam-diam aktif di ponselnya. Titik biru bergerak cukup cepat.

Bukan ke kantor.

Bukan pula ke rumah orang tuanya.

Dia menuju apartemen Dita.

Aku tersenyum puas.

Tepat seperti yang kuharapkan.

Malam itu aku tidak mengejarnya. Aku justru tidur lebih nyenyak daripada biasanya.

Keesokan paginya, Andre mengantarkanku ke sebuah kafe.

“Bu, kita ketemu siapa?” tanyanya.

“Seseorang yang sudah lama ingin bicara.”

Tak lama kemudian, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun datang menghampiri. Wajahnya masih cantik meski mulai dihiasi garis-garis usia.

Namanya Bu Ratna.

Ibunya Dita.

Beliau tampak terkejut melihatku.

“Lita?”

“Silakan duduk, Bu.”

Beliau duduk dengan wajah bingung.

“Ada apa?”

Aku mengeluarkan beberapa lembar foto hasil cetakan percakapan WhatsApp, bukti transfer, dan tangkapan layar lokasi.

Aku mendorong semuanya ke arah beliau.

“Saya sebenarnya tidak ingin Ibu mengetahui ini. Tapi saya merasa Ibu berhak tahu siapa sebenarnya anak Ibu sekarang.”

Perlahan-lahan wajah Bu Ratna berubah pucat.

“Tidak… tidak mungkin….”

“Saya juga berharap begitu.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Dulu saya membesarkan Dita supaya menjadi perempuan yang baik.”

Aku menggenggam tangannya.

“Karena itu saya datang kepada Ibu lebih dulu.”

Beliau menangis cukup lama.

Sebelum pulang, beliau berkata lirih,

“Lita… maafkan saya.”

Aku menggeleng.

“Bukan Ibu yang harus minta maaf.”

Siang harinya, ponselku kembali ramai.

Kali ini bukan Dita.

Melainkan Mas Haris.

Belasan panggilan tak terjawab.

Puluhan pesan.

“Sayang, kamu ketemu siapa?”

“Kamu ngomong apa ke mamanya Dita?”

“Tolong angkat telepon.”

Aku sama sekali tidak membalas.

Menjelang sore, Bu Ratna ternyata mendatangi apartemen Dita.

Aku tidak berada di sana, tetapi seseorang mengirimkan rekaman CCTV yang sudah kupesan sehari sebelumnya melalui petugas keamanan gedung.

Dalam rekaman itu terlihat Bu Ratna menampar Dita begitu pintu terbuka.

Dita hanya bisa menangis.

Beberapa penghuni apartemen keluar karena mendengar keributan.

Mas Haris yang saat itu berada di dalam apartemen ikut keluar dengan wajah panik.

Rahasia mereka akhirnya terbuka di depan banyak orang.

Aku menonton rekaman itu sampai selesai.

Tidak ada rasa puas yang berlebihan.

Yang ada hanya perasaan kosong.

Mungkin karena cintaku memang sudah benar-benar habis.

Dua hari kemudian, Mas Haris akhirnya pulang.

Dia berdiri di depan pintu rumah dengan wajah lelah.

“Lita… kita bicara.”

Aku mempersilahkannya masuk.

Dia langsung berlutut.

“Maaf.”

Aku hanya memandangnya.

“Aku khilaf.”

“Aku masih sayang sama kamu.”

“Aku putus sama Dita.”

Semua kalimat itu terdengar begitu asing.

Seandainya dia mengucapkannya beberapa bulan lalu, mungkin aku akan memeluknya sambil menangis.

Namun sekarang tidak.

Hatiku sudah tidak bereaksi.

Aku mengeluarkan sebuah map dari laci meja.

“Ini apa?” tanyanya.

“Buka saja.”

Tangannya bergetar saat membaca isi map itu.

Surat gugatan cerai.

“Lita…”

“Aku sudah pikirkan matang-matang.”

“Jangan….”

“Aku capek.”

“Aku bisa berubah.”

“Aku percaya.”

Dia mendongak penuh harapan.

“Tapi aku tidak ingin menunggu perubahan itu.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Lita… kasih aku kesempatan.”

Aku menggeleng pelan.

“Kesempatan itu sudah berkali-kali kuberikan tanpa kamu sadari.”

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat Mas Haris benar-benar kehilangan arah.

Seminggu kemudian, proses perceraian dimulai.

Dita berkali-kali mencoba menghubungiku.

Aku tidak pernah membalas.

Beberapa bulan berlalu.

Aku mulai membangun hidup baru.

Aku kembali mengembangkan usaha kecil yang dulu sempat kutinggalkan demi fokus menjadi istri.

Andre tetap bekerja bersamaku.

Bukan sebagai pengganti siapa pun, melainkan sebagai rekan kerja yang bisa dipercaya.

Suatu sore, saat sedang memeriksa laporan di kantor baru, seseorang datang membawa sebuah amplop.

Tanpa nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto.

Foto Mas Haris dan Dita.

Mereka sedang bertengkar di depan sebuah rumah kontrakan sederhana.

Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan.

“Perselingkuhan memang terlihat indah saat dimulai, tetapi jarang mampu bertahan ketika harus menghadapi kenyataan.”

Aku tidak tahu siapa yang mengirimkannya.

Aku juga tidak ingin mencari tahu.

Foto itu kulipat kembali lalu kumasukkan ke dalam mesin penghancur kertas.

Potongan-potongan kecil berjatuhan seperti serpihan masa lalu.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu bukan karena ingin membalas siapa pun.

Melainkan karena aku akhirnya benar-benar bebas.

Aku sadar, balas dendam terbaik bukanlah membuat mereka menderita.

Balas dendam terbaik adalah berhenti memberikan tempat bagi orang-orang yang pernah menghancurkan kita, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dan saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta, aku melangkah keluar dari kantorku dengan langkah ringan.

Di belakangku, sebuah kisah penuh pengkhianatan berakhir.

Di depanku, kehidupan baru akhirnya benar-benar dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang