Sore itu, setelah layar monitor di ruang kontrol menampilkan Siska yang masih canggung menggosok kloset dengan wajah penuh keterpaksaan, aku mematikan layar tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Banyak orang mengira balas dendam selalu berbentuk amarah. Padahal, balas dendam yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang dipaksa merasakan kenyataan yang selama ini ia remehkan.
Aku kembali ke ruang direktur utama. Di atas meja sudah menunggu beberapa map baru yang dibawa Maya.
“Bu Aletta,” katanya pelan, “tim audit mengirim hasil sementara.”
Aku membuka halaman pertama.

Semakin kubaca, semakin dingin darahku.
Bukan hanya pengadaan vacuum cleaner fiktif. Ada kontrak kendaraan operasional yang nilainya dinaikkan hampir tiga kali lipat. Ada pembayaran pelatihan yang tidak pernah dilaksanakan. Bahkan beberapa vendor ternyata menggunakan alamat yang sama.
Semua bermuara pada satu nama.
Siska Amelia.
Bukan sebagai penerima uang secara langsung, melainkan sebagai pemilik perusahaan-perusahaan cangkang yang digunakan untuk mengalirkan dana.
Aku menutup map perlahan.
Berarti hubungan mereka bukan sekadar perselingkuhan.
Mereka sudah lama bekerja sama.
Ponselku kembali bergetar.
“Bu, kami menemukan transfer rutin ke rekening pribadi atas nama Siska sejak hampir dua tahun lalu.”
Aku mengembuskan napas panjang.
Dua tahun.
Artinya ketika Mas Arvin masih memelukku setiap malam, mengucapkan selamat ulang tahun, bahkan mengajakku merencanakan liburan, dia juga sedang membangun kehidupan lain.
Yang lebih menyakitkan bukan kebohongannya.
Melainkan betapa rapinya dia menyembunyikan semuanya.
Belum sempat pikiranku tenang, Maya masuk kembali.
“Bu, Pak Adrian sudah datang.”
Aku berdiri.
“Persilakan masuk.”
Beberapa detik kemudian, seorang pria tinggi dengan jas abu-abu memasuki ruangan. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam, tetapi tidak menunjukkan kesombongan sedikit pun.
“Selamat sore, Bu Aletta.”
“Selamat sore, Pak Adrian.”
Kami berjabat tangan.
“Aku turut berduka atas kepergian Pak Arvin.”
“Terima kasih.”
Tidak ada basa-basi berlebihan.
Aku menyukai orang seperti itu.
Pak Adrian langsung duduk.
“Saya sebenarnya sudah beberapa kali menolak kerja sama dengan Pak Arvin.”
“Aku tahu.”
“Bukan karena perusahaan Ibu buruk.”
“Lalu?”
“Karena saya tidak percaya pada orang yang memimpin perusahaan.”
Aku tersenyum tipis.
“Insting bisnis Bapak ternyata cukup tajam.”
Pak Adrian mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya.
“Saya datang bukan untuk menawarkan kerja sama.”
“Lalu?”
“Saya datang untuk mengembalikan sesuatu.”
Aku menerima flashdisk itu.
“Apa isinya?”
“Rekaman pertemuan terakhir saya dengan Pak Arvin.”
Aku menatapnya.
Pak Adrian melanjutkan.
“Beliau mencoba meminta pinjaman investasi menggunakan saham perusahaan sebagai jaminan. Ketika saya menolak, beliau menawarkan sesuatu yang jauh lebih menarik.”
“Apa itu?”
“Mayoritas kendali PT A Clean.”
Aku membeku.
“Tentu saya menolak.”
“Lalu kenapa Bapak merekam pembicaraan itu?”
“Karena sejak awal saya merasa ada sesuatu yang tidak beres.”
Aku memasukkan flashdisk ke laptop.
Video mulai diputar.
Wajah Mas Arvin muncul jelas.
“Pak Adrian, istri saya tidak akan tahu.”
Dadaku sesak.
“Semua aset perusahaan bisa saya alihkan pelan-pelan.”
Aku menggenggam kursi begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.
“Lagipula Aletta terlalu sibuk bekerja. Dia percaya penuh sama saya.”
Video berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Adrian menatapku tanpa rasa iba.
“Saya rasa sekarang Ibu membutuhkan bukti ini.”
“Terima kasih.”
Ia berdiri.
“Satu lagi.”
Aku mendongak.
“Hati-hati pada orang yang paling dekat dengan Ibu.”
“Maksud Bapak?”
“Pak Arvin tidak bekerja sendirian.”
Kalimat itu terus terngiang bahkan setelah Pak Adrian meninggalkan ruangan.
Aku langsung memanggil Maya.
“Siapa saja yang punya akses penuh terhadap dokumen keuangan selain Arvin?”
Maya tampak berpikir.
“Direktur keuangan… kepala pengadaan… dan…”
“Dan?”
“Pak Budi.”
Aku mengernyit.
Pak Budi adalah CFO yang sudah bekerja sejak perusahaan ini masih menyewa ruko kecil.
Mustahil.
Namun dalam bisnis, mustahil sering kali hanya berarti belum terbukti.
Aku segera meminta seluruh aktivitas komputer Pak Budi diperiksa.
Sementara itu, dari ruang pelatihan terdengar keributan.
Maya menerima telepon.
“Bu…”
“Ada apa?”
“Bu Siska pingsan.”
Aku menghela napas.
“Kenapa?”
“Katanya tidak kuat bau toilet.”
“Tapi dia baik-baik saja?”
“Dokter perusahaan bilang hanya syok.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau sudah sadar, suruh lanjut pelatihannya.”
Maya menatapku seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Bu…”
“Di perusahaan ini semua karyawan diperlakukan sama.”
Maya mengangguk pelan.
Malamnya, rapat pemegang saham dimulai.
Ruangan penuh.
Semua mata tertuju kepadaku.
Pengacara perusahaan membuka rapat.
“Agenda pertama adalah penunjukan direktur utama pengganti.”
Belum sempat pembahasan dimulai, pintu terbuka keras.
Siska masuk bersama ibu mertuaku.
Wajahnya masih pucat, tetapi riasannya tetap tebal.
“Aku keberatan!” teriaknya.
Seluruh peserta menoleh.
“Aku istri Mas Arvin! Aku berhak atas perusahaan ini!”
Ruangan langsung gaduh.
Aku hanya memandangnya tenang.
“Siska.”
“Iya!”
“Kamu yakin mau bicara soal hak?”
“Tentu!”
Aku memberi isyarat kepada tim legal.
Mereka menyalakan layar proyektor.
Muncul dokumen-dokumen perusahaan fiktif.
Nama Siska terpampang besar.
Nomor rekening.
Akta perusahaan.
Transfer dana.
Semuanya lengkap.
Wajah Siska perlahan memucat.
“Apa ini?” bisiknya.
Aku berdiri.
“Ini perusahaan milikmu.”
“Aku… aku tidak mengerti.”
“Benarkah?”
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Tanda tangan ini milik siapa?”
“Itu…”
“Lalu foto saat pembukaan rekening?”
Ibu mertuaku mulai gelisah.
“Aletta, hentikan!”
“Tidak, Bu.”
Aku menatap seluruh peserta rapat.
“Selama dua tahun terakhir, perusahaan dirugikan lebih dari dua belas miliar rupiah melalui perusahaan fiktif.”
Ruangan menjadi hening.
Aku melanjutkan.
“Semua perusahaan itu atas nama Siska Amelia.”
“Aku tidak tahu apa-apa!” teriak Siska.
“Mas Arvin yang mengurus semuanya!”
“Tapi rekeningnya milikmu.”
“Aku cuma disuruh tanda tangan!”
“Itu tetap tindak pidana.”
Siska terduduk lemas.
Tangisnya pecah.
Ibu mertuaku ikut panik.
“Aletta… jangan laporkan dia.”
Aku memandang perempuan yang selama ini selalu menyalahkanku.
“Dulu waktu Ibu menyuruhku menyerahkan perusahaan pada Siska, apakah Ibu memikirkan aku?”
Beliau terdiam.
“Aku juga manusia, Bu.”
Tidak ada jawaban.
Saat itulah pintu kembali terbuka.
Dua penyidik dari kepolisian masuk bersama tim auditor.
“Selamat malam.”
Semua orang berdiri.
“Kami menerima laporan dugaan penggelapan dan pencucian uang.”
Siska langsung menangis histeris.
“Bukan aku!”
Namun bukti terlalu banyak.
Telepon genggamnya.
Laptop.
Dokumen rekening.
Semuanya disita.
Saat hendak dibawa keluar, Siska tiba-tiba berhenti.
Dia menoleh kepadaku.
“Aku mau jujur.”
Ruangan kembali sunyi.
“Apa?”
“Aku memang selingkuh dengan Mas Arvin.”
Tangisnya semakin keras.
“Tapi bayi ini…”
Tangannya memegang perut.
“Bukan anak Mas Arvin.”
Semua orang membeku.
Ibu mertuaku sampai kehilangan keseimbangan.
“Apa?”
“Aku hamil sebelum kenal Mas Arvin.”
Air mata terus mengalir.
“Mas Arvin tahu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dia tetap mengakuinya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena dia bilang… dengan begitu aku akan tetap bergantung padanya.”
Ruangan terasa semakin dingin.
Jadi semua pengorbanan, semua pengkhianatan, semua uang perusahaan yang dicuri…
Bahkan bukan demi anak kandungnya.
Melainkan demi mempertahankan hubungan yang dibangun di atas kebohongan.
Ibu mertuaku terduduk lemas.
“Bohong…”
Siska menggeleng.
“Ini hasil tes DNA yang pernah dilakukan Mas Arvin.”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
Tim legal membukanya.
Hasilnya jelas.
Probabilitas sebagai ayah biologis: 0%.
Ibu mertuaku menangis sejadi-jadinya.
Selama ini beliau mengusir menantunya sendiri demi seorang perempuan yang bahkan membawa kebohongan sejak awal.
Aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa lelah.
Beberapa minggu kemudian, hasil audit selesai.
Pak Budi ternyata memang terlibat.
Ia menerima komisi dari setiap transaksi fiktif.
Seluruh kasus resmi dibawa ke pengadilan.
Saham yang sempat dijaminkan berhasil dibatalkan karena melanggar anggaran dasar perusahaan.
PT A Clean selamat.
Perjalanannya memang tertatih.
Namun tidak runtuh.
Enam bulan kemudian, perusahaan kembali mencatat keuntungan terbesar sepanjang sejarah.
Di lobi gedung yang dulu dibangun dengan penuh perjuangan, aku berdiri memandangi puluhan karyawan baru yang sedang mengikuti orientasi.
Mereka tertawa, belajar, dan saling membantu.
Tak seorang pun tahu berapa banyak air mata yang pernah jatuh demi menjaga tempat ini tetap berdiri.
Maya menghampiriku sambil membawa secangkir kopi.
“Bu, semua orang bilang perusahaan sekarang jauh lebih hangat.”
Aku tersenyum.
“Bukan karena aku.”
“Lalu?”
“Karena akhirnya perusahaan ini dipimpin oleh kejujuran.”
Aku memandang logo besar PT A Clean yang berdiri megah di dinding utama.
Dulu aku mengira kehilangan suami adalah akhir hidupku.
Ternyata yang benar-benar hilang hanyalah ilusi tentang seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Rumah tangga bisa hancur karena pengkhianatan.
Harta bisa hilang karena keserakahan.
Tetapi harga diri hanya hilang ketika seseorang memilih diam terhadap ketidakadilan.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian Arvin, aku melangkah keluar dari gedung bukan sebagai seorang janda yang ditinggalkan, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya berhasil menyelamatkan rumah yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
