“Kenapa belum tidur, Han?”Radit membalikkan badan dengan cepat, tangannya mencengkeram pinggiran meja makan.

“Jangan aneh-aneh kamu, Hana! Tidak usah datang ke sana!” cetus Shinta dengan nada meninggi, membuat Hana tersentak mundur di kursinya.

Pisau di atas talenan bergetar kecil ketika siku Hana tidak sengaja menyenggol meja. Selama hampir dua tahun tinggal serumah, belum pernah Shinta berbicara sekasar itu kepadanya. Bahkan ketika Hana pulang terlambat dari toko atau lupa membeli obat tekanan darahnya, perempuan itu selalu menegur dengan suara lembut.

“Kenapa, Bu?” tanya Hana. “Hana hanya ingin menemui suami Hana sendiri.”

Wajah Shinta berubah tegang. Namun, sedetik kemudian ia menunduk dan kembali memetik kangkung, seolah ledakan emosinya barusan tidak pernah terjadi.

“Maksud Ibu, jangan merepotkan Radit. Dia sedang mengejar jabatan. Kamu datang tiba-tiba bisa mengganggu pekerjaannya.”

“Tapi Mas Radit pasti senang.”

“Kamu tidak tahu keadaan di sana.”

Kalimat itu meluncur terlalu cepat. Shinta seketika diam, sementara Hana menatapnya tajam.

“Keadaan apa, Bu?”

Shinta meremas batang kangkung di tangannya hingga daunnya hancur. “Maksud Ibu, keadaan pekerjaannya. Sudahlah. Jangan membesar-besarkan ucapan Ibu.”

Malam itu, Hana tidak bisa tidur. Ia berbaring memandangi sisi ranjang yang kosong, sementara potongan-potongan kejadian beberapa bulan terakhir berputar di kepalanya. Wajah Radit yang pucat saat ia memergoki percakapan tengah malam. Larangan mengantar ke stasiun. Telepon yang semakin jarang. Suara tawa anak kecil dari seberang sambungan. Kini, kepanikan Shinta saat mendengar rencananya pergi ke Yogyakarta.

Hana ingin percaya kepada suaminya. Namun, kepercayaan yang tidak diberi kejujuran perlahan berubah menjadi kebodohan.

Keesokan harinya, Hana membuka toko seperti biasa. Ia menyapa pegawainya, memeriksa pesanan ulang tahun, dan mencicipi adonan bolu pandan. Tangannya tetap bekerja, tetapi pikirannya sibuk menyusun keputusan.

Menjelang sore, ia menghubungi Dinda, sahabatnya sejak sekolah menengah.

“Aku butuh bantuanmu,” kata Hana setelah menceritakan semuanya.

Dinda terdiam cukup lama. “Kamu yakin mau datang tanpa memberi tahu?”

“Aku harus melihat sendiri.”

“Alamat tempat tinggal Radit ada?”

“Katanya dia tinggal di rumah dinas dekat kantornya. Aku punya alamat kantor dari dokumen mutasi.”

Dinda menghela napas. “Aku ikut.”

Hana menolak. Ia tidak ingin menyeret sahabatnya ke dalam persoalan rumah tangga. Setelah berdebat panjang, mereka sepakat Dinda akan mengetahui jadwal dan lokasi Hana, serta terus menghubunginya selama perjalanan.

Dua hari kemudian, Hana berpura-pura berangkat ke toko seperti biasa. Di dalam tasnya tersimpan tiket kereta, pakaian untuk dua malam, dan sekotak kue kering buatan tangannya sendiri. Kepada Shinta, ia mengatakan ada pesanan besar yang harus diselesaikan hingga larut.

Kereta tiba di Stasiun Yogyakarta menjelang siang. Kota itu disambut gerimis tipis dan langit kelabu. Hana berdiri di antara kerumunan penumpang dengan perasaan campur aduk. Separuh hatinya berharap semua kecurigaan itu salah. Ia bahkan membayangkan Radit akan terkejut, lalu memeluknya sambil menertawakan kecemasannya.

Dari stasiun, Hana memesan mobil menuju kantor tempat Radit mengaku bekerja. Gedung empat lantai itu berdiri di pinggir jalan yang sibuk. Di meja resepsionis, seorang perempuan berkacamata memeriksa nama Radit di komputer.

“Maaf, Ibu mencari siapa?”

“Radit Pratama. Bagian pengembangan proyek.”

Perempuan itu kembali mengetik, lalu menggeleng. “Tidak ada pegawai dengan nama itu di sini.”

Hana merasakan tengkuknya dingin. “Mungkin pegawai cabang baru. Dipindahkan sekitar enam bulan lalu.”

Resepsionis itu memanggil seorang staf senior. Setelah mendengar penjelasan Hana, pria tersebut mengernyit.

“Radit Pratama pernah bekerja di perusahaan ini,” katanya. “Tapi bukan di kantor Yogyakarta. Dia mengundurkan diri delapan bulan lalu.”

Dunia seakan berhenti berputar.

“Delapan bulan?” suara Hana nyaris tak terdengar. “Tapi dia bilang dipromosikan dan dipindahkan ke sini enam bulan lalu.”

Pria itu tampak tidak nyaman. “Saya tidak tahu soal itu, Bu. Maaf.”

Hana berjalan keluar dengan langkah limbung. Gerimis telah berubah menjadi hujan. Ia berdiri di bawah kanopi, memeluk kotak kue di dadanya seperti satu-satunya benda yang mampu menahannya agar tidak roboh.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Radit muncul.

Hari ini sibuk sekali, Han. Mungkin malam baru bisa menelepon. Kamu jangan lupa makan.

Air mata Hana jatuh tanpa suara.

Ia hampir menelepon dan menuntut penjelasan saat itu juga. Namun, nalurinya mengatakan bahwa kebohongan ini terlalu besar untuk dibongkar melalui telepon. Ia harus menemukan tempat tinggal Radit.

Hana teringat satu hal. Beberapa bulan lalu, Radit pernah mengirim foto secangkir kopi di teras rumah. Di belakang cangkir terlihat papan nama sebuah taman kanak-kanak. Hana membuka kembali foto itu, memperbesar bagian latar, lalu membaca tulisan yang samar.

Taman Kanak-Kanak Pelita Bangsa.

Pencarian di peta menunjukkan hanya ada tiga sekolah dengan nama serupa di Yogyakarta. Hana mengunjungi lokasi pertama dan kedua tanpa hasil. Di tempat ketiga, ia menemukan teras rumah bercat hijau pucat yang persis seperti dalam foto Radit.

Rumah itu berdiri di gang sempit, hanya beberapa langkah dari sekolah. Ada sepeda kecil berwarna merah di depan pagar dan sepasang sandal anak di teras. Hana menelan ludah. Suara tawa dari dalam rumah terdengar jelas.

Tangannya gemetar ketika mengetuk pintu.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun membukanya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya ramah meski tampak kebingungan.

“Maaf, mencari siapa?”

Hana menatap cincin di jari manis perempuan itu. Cincin perak dengan garis hitam yang sama persis dengan cincin yang dahulu sering dipakai Radit sebelum katanya hilang di stasiun.

“Saya mencari Radit.”

Senyum perempuan itu memudar. “Mbak siapa?”

Sebelum Hana menjawab, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari dari ruang tengah.

“Ayah belum pulang, Bunda?”

Dada Hana seperti dihantam benda berat.

Perempuan itu segera menarik anak tersebut ke belakang tubuhnya. “Mbak, sebenarnya siapa?”

Hana membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto pernikahannya bersama Radit.

“Saya Hana. Istri Radit.”

Wajah perempuan itu pucat. Tangannya menutup mulut, sementara anak kecil di belakangnya mulai merengek karena ketakutan.

“Itu tidak mungkin,” bisiknya. “Saya Laras. Saya juga istrinya.”

Hana tidak tahu siapa yang mempersilakannya masuk. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang tidak disentuh. Di dinding tergantung foto Radit, Laras, dan anak laki-laki bernama Bima. Dalam foto itu, Radit tersenyum lebar, senyum yang selama ini Hana yakini hanya menjadi miliknya.

Laras mengambil album pernikahan dari lemari. Tanggal yang tercetak di sampul membuat tangan Hana dingin. Radit menikahi Laras lima tahun lalu, tiga tahun sebelum menikahi Hana.

“Dia bilang bekerja di Semarang,” ujar Laras dengan suara bergetar. “Setiap bulan dia pulang beberapa hari. Enam bulan terakhir, dia bilang dipindahkan ke Yogyakarta supaya bisa tinggal bersama kami.”

Hana memejamkan mata. Berarti selama ini justru dirinya yang dianggap sebagai keluarga di kota lain.

“Apakah kalian pernah bercerai?”

“Tidak pernah. Kami bahkan belum pernah berpisah secara resmi.”

Laras mengambil map berisi dokumen pernikahan. Semuanya sah.

Hana teringat Shinta. Mustahil ibu itu tidak tahu Laras dan Bima. Pada malam sebelum keberangkatan, Radit dan Shinta pasti sedang membicarakan bagaimana menyembunyikan keluarga pertama dari dirinya.

“Bu Shinta tahu?” tanya Hana.

Laras menatapnya dengan mata merah. “Bu Shinta tinggal bersama kami hampir setahun setelah Bima lahir. Kami masih sering berkomunikasi.”

Rasa sakit yang dirasakan Hana berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. Ia tidak hanya ditipu oleh suaminya, tetapi juga dipeluk, dipanggil anak, dan ditenangkan oleh seorang ibu mertua yang mengetahui semuanya.

Pintu depan terbuka menjelang petang.

“Ayah pulang!”

Bima berlari dengan gembira. Radit masuk sambil membawa kantong makanan, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat Hana duduk di samping Laras.

Kantong plastik terlepas dari tangannya. Kotak nasi berhamburan di lantai.

“Han…”

Hana berdiri. Anehnya, setelah berjam-jam menangis, ia merasa sangat tenang.

“Katamu sedang rapat, Mas.”

Radit membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Laras memeluk Bima yang mulai menangis. “Jelaskan semuanya, Dit. Sekarang.”

Radit menutup pintu, lalu menyuruh Bima masuk ke kamar. Setelah anak itu pergi, ia menjatuhkan diri ke kursi.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Silakan,” kata Hana. “Aku ingin tahu kebohongan apa lagi yang sudah kamu siapkan.”

Radit mengusap wajahnya. Ia mengaku menikahi Laras ketika masih bekerja serabutan. Setelah beberapa tahun, usaha mereka gagal dan hubungan rumah tangga memburuk. Ia pergi ke kota Hana untuk mencari pekerjaan, lalu bertemu dengannya ketika memesan kue untuk acara kantor.

“Aku benar-benar mencintaimu, Han.”

Hana tertawa kecil. Suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

“Orang yang mencintai tidak membangun kebahagiaan di atas kebohongan.”

“Aku takut kehilanganmu.”

“Jadi kamu memilih menghancurkan kami berdua?”

Radit menunduk. Ia lalu mengakui bahwa Shinta membantu menyembunyikan pernikahan pertamanya. Ibunya menganggap Laras tidak cocok menjadi istri karena berasal dari keluarga sederhana dan tidak mampu membantu kondisi keuangan mereka. Ketika melihat toko kue Hana berkembang, Shinta mendorong Radit mendekatinya.

Pengakuan berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Selama ini, sebagian uang tabungan Hana yang diberikan kepada Radit untuk investasi ternyata digunakan membayar utang lama dan biaya hidup keluarga Laras. Kepindahan ke Yogyakarta bukan promosi jabatan. Radit bekerja sebagai tenaga pemasaran lepas sambil tinggal bersama istri pertamanya.

Hana menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya. Kini ia melihat sosok asing yang bahkan tidak layak menerima kemarahannya.

“Kamu dan ibumu menikahkanku bukan karena menganggapku keluarga,” ucap Hana. “Kalian hanya melihatku sebagai sumber uang.”

“Tidak, Han. Awalnya memang Ibu yang menyarankan, tapi perasaanku kepadamu sungguh-sungguh.”

“Perasaan tanpa tanggung jawab hanyalah keserakahan.”

Hana mengambil kotak kue yang dibawanya dan meletakkannya di meja.

“Aku membuat ini untukmu. Kupikir kita akan makan bersama malam ini.”

Radit berdiri dan mencoba meraih tangannya, tetapi Hana mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Malam itu, Hana menginap di hotel. Laras menghubunginya setelah Bima tidur. Mereka berbicara hingga lewat tengah malam. Tidak ada pertengkaran di antara dua perempuan itu. Mereka sama-sama korban dari laki-laki yang merasa dapat membagi kebohongan seperti membagi jadwal kepulangan.

Keesokan harinya, Hana pulang tanpa memberi tahu Radit. Ketika tiba di rumah, Shinta sedang duduk di ruang tengah. Wajahnya berubah pucat melihat koper Hana.

“Kamu dari mana?”

“Dari Yogyakarta.”

Shinta berdiri terburu-buru. “Hana, dengarkan Ibu dulu.”

“Jadi Ibu sudah tahu.”

Perempuan itu menangis, mencoba meraih tangan Hana. “Ibu melakukan ini demi Radit. Dia punya banyak utang. Laras tidak bisa membantu apa-apa. Ibu pikir setelah menikah denganmu, hidupnya akan berubah.”

“Dan hidup saya boleh dihancurkan?”

“Hana, Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri.”

“Seorang ibu tidak menjual kebohongan kepada anaknya.”

Hana berjalan menuju kamar dan mengeluarkan dokumen yang telah dipersiapkannya selama perjalanan pulang. Ia tidak akan lagi tinggal di rumah itu. Toko kue, rekening, dan seluruh aset yang dibangun dari kerja kerasnya tercatat atas namanya sendiri. Kesalahan terbesar Radit adalah mengira kelembutan Hana sama dengan ketidakberdayaan.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Hana melaporkan pernikahan tersebut dan mengurus pembatalan pernikahannya melalui jalur hukum. Ia juga menyerahkan bukti transfer dan percakapan kepada pengacara untuk menuntut pengembalian dana yang disalahgunakan.

Laras mengambil keputusan serupa. Ia menggugat cerai Radit dan menuntut nafkah yang selama bertahun-tahun tidak diberikan secara layak. Dua perempuan yang seharusnya dipertemukan sebagai musuh justru berdiri bersama sebagai saksi untuk membongkar kebohongannya.

Radit kehilangan kedua keluarganya. Pekerjaan lepasnya juga berakhir setelah perusahaan mengetahui ia memalsukan beberapa dokumen pengalaman kerja. Shinta menjual rumah untuk membantu menyelesaikan utang dan mengembalikan sebagian uang Hana.

Enam bulan kemudian, Hana membuka cabang kedua toko kuenya di Yogyakarta.

Pada hari pembukaan, Laras datang bersama Bima. Perempuan itu kini bekerja sebagai pengelola administrasi di cabang tersebut. Bima berlari mendekati etalase, menunjuk kue cokelat kesukaannya.

“Tante Hana, yang ini boleh?”

Hana tersenyum dan menyerahkan satu potong kepadanya.

Di luar toko, sebuah motor berhenti. Radit berdiri di seberang jalan dengan tubuh lebih kurus dan wajah penuh penyesalan. Ia tidak masuk. Ia hanya memandangi Hana dari kejauhan.

Hana melihatnya, tetapi tidak lagi merasakan nyeri yang sama. Luka itu masih ada, namun tidak lagi menguasai hidupnya. Ia menutup tirai kaca perlahan, bukan karena takut melihat masa lalu, melainkan karena tidak ingin masa lalu menghalangi cahaya yang baru.

Laras berdiri di sampingnya. “Kamu baik-baik saja?”

Hana mengangguk.

Di atas meja kasir terdapat papan kecil bertuliskan nama toko baru mereka, Dua Perempuan.

Nama itu bukan untuk mengenang pengkhianatan seorang laki-laki, melainkan untuk merayakan dua perempuan yang menolak saling menyalahkan atas dosa yang tidak mereka lakukan.

Hana menatap toko yang dipenuhi pelanggan, aroma roti hangat, dan suara tawa Bima. Dulu ia mengira kehilangan Radit berarti kehilangan seluruh masa depannya. Ternyata, pria itu hanyalah pintu yang salah. Ketika pintu itu tertutup, Hana justru menemukan jalan yang membawanya kembali kepada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang