Hana menyalakan oven lebih awal dari biasanya. Aroma mentega dan vanila segera memenuhi dapur kecil di lantai bawah ruko. Tangannya bergerak otomatis menimbang tepung, mengocok telur, dan menuangkan adonan ke dalam loyang. Di balik ketenangan itu, pikirannya masih dipenuhi bayangan percakapannya dengan Radit.
Ia sadar hidupnya tidak akan kembali seperti dulu.
Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hana merasa sedang berjalan menuju kehidupan yang benar-benar ia pilih sendiri.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan cepat. Surat panggilan sidang pertama dari Pengadilan Agama tiba di alamat tokonya. Hana menerimanya dengan tenang. Ia hanya membaca tanggal persidangan, lalu menyimpannya ke dalam laci meja kasir.

Sebaliknya, Radit mulai kehilangan kendali.
Nomor Hana memang sudah diblokir, tetapi hampir setiap hari ada nomor baru yang mencoba menghubunginya. Ada pula pesan-pesan dari kerabat keluarga Radit yang memintanya mengalah demi menjaga nama baik keluarga.
Hana memilih diam.
Baginya, semua penjelasan sudah terlambat.
Suatu sore, ketika toko sedang ramai oleh pelanggan, sebuah mobil hitam berhenti di depan ruko. Seorang perempuan turun sambil menggendong bayi yang baru berusia beberapa bulan.
Hana mengenali wajah itu seketika.
Salma.
Seluruh pegawai saling berpandangan. Mereka tahu perempuan itu bukan pelanggan biasa.
Salma masuk perlahan. Wajahnya tampak pucat dan lelah.
“Aku ingin bicara sebentar.”
Hana memandang bayi di pelukan Salma. Bocah kecil itu tertidur pulas tanpa mengetahui betapa rumit kehidupan orang-orang dewasa di sekelilingnya.
“Kita bicara di atas.”
Mereka duduk berhadapan di kamar sederhana yang kini menjadi tempat tinggal Hana.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Aku minta maaf,” ucap Salma lirih.
Hana tidak menjawab.
“Aku tahu permintaan maafku tidak akan mengubah apa pun.”
“Tidak.”
Air mata Salma mulai jatuh.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Radit masih tinggal serumah denganmu.”
Hana mengangkat alis.
“Maksudmu?”
“Dia bilang kalian sudah lama berpisah. Dia bilang pernikahan kalian hanya tinggal menunggu surat cerai. Dia bilang kalian tidak lagi hidup sebagai suami istri.”
Hana merasakan dadanya sesak.
Salma mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tasnya.
“Itu salinan pesan-pesan yang dia kirim kepadaku selama dua tahun terakhir.”
Hana membaca satu demi satu.
Setiap kalimat membuat wajahnya semakin dingin.
Radit ternyata membangun dua kehidupan sekaligus dengan kebohongan yang berbeda.
Kepada Hana, ia mengaku sedang bekerja lembur dan sibuk mengurus proyek.
Kepada Salma, ia mengaku hidup sendirian karena istrinya telah meninggalkannya.
Salma bahkan baru mengetahui kenyataan sebenarnya beberapa hari lalu ketika Hana datang ke rumah di Yogyakarta.
“Aku juga merasa ditipu.”
Hana menutup berkas itu perlahan.
“Kenapa kamu datang kepadaku?”
Salma mengusap air matanya.
“Karena dia mulai berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Dia menyuruhku berbohong kalau nanti dipanggil pengadilan. Dia ingin aku mengatakan bahwa anak ini bukan anaknya.”
Hana terdiam.
Salma menggeleng pelan.
“Aku tidak sanggup.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Hana melihat bahwa perempuan di depannya bukan musuh.
Mereka sama-sama korban.
Bedanya, luka mereka datang dari kebohongan yang sama.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
Hana mengangguk pelan.
“Itu keputusan yang benar.”
Hari persidangan akhirnya tiba.
Ruang sidang dipenuhi suasana tegang.
Radit datang mengenakan pakaian dinas sipil. Rambutnya disisir rapi, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya masih seorang pegawai negeri yang terhormat.
Shinta duduk di belakang sambil terus melototi Hana.
Sidang mediasi dimulai.
Mediator memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk berdamai.
“Hana,” kata Radit dengan suara lembut yang dibuat-buat, “aku masih ingin mempertahankan rumah tangga kita.”
Hana hanya menatapnya datar.
“Masih ingin mempertahankan rumah tangga yang mana?”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kamu punya dua.”
Wajah Radit menegang.
“Itu bisa dijelaskan.”
“Tidak perlu.”
Hana mengeluarkan map cokelat dari tasnya.
Di dalamnya terdapat foto, salinan akta nikah siri, tangkapan layar percakapan, serta bukti transfer bulanan yang selama ini dikirim Radit kepada Salma.
Mediator mulai membaca dokumen tersebut.
Wajah Radit semakin pucat.
Shinta berdiri.
“Itu semua fitnah!”
Namun suara lantang itu langsung terhenti ketika pintu ruang mediasi terbuka.
Salma masuk sambil menggendong bayinya.
Semua mata tertuju kepadanya.
“Aku datang untuk memberikan keterangan.”
Radit langsung berdiri.
“Salma! Kamu pulang sekarang!”
Salma tidak menggubrisnya.
Ia berjalan mendekati meja mediator.
“Dua tahun terakhir saya hidup bersama Pak Radit. Anak ini adalah anak kandung beliau.”
Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir.
Radit kehilangan kata-kata.
Shinta hampir jatuh dari kursinya.
Mediator hanya bisa menghela napas panjang.
Mediasi dinyatakan gagal.
Sidang dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Beberapa minggu kemudian, kabar mengenai kasus Radit mulai menyebar di kantor tempatnya bekerja.
Bukan karena Hana menyebarkannya.
Melainkan karena proses pemeriksaan internal yang memang harus dilakukan terhadap setiap pegawai negeri yang diduga melanggar aturan disiplin.
Rekan-rekan kerjanya mulai berbisik setiap kali Radit melewati koridor.
Atasannya memanggilnya hampir setiap hari.
Tekanan itu membuat Radit semakin putus asa.
Suatu malam ia datang ke toko Hana.
Ia berdiri di depan pintu dalam keadaan berantakan.
“Hana… tolong.”
Pegawai Hana langsung menghampiri.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Aku mau bertemu istri…”
Radit berhenti sendiri.
Ia sadar kalimat itu sudah tidak pantas lagi.
Hana keluar dari dapur.
“Ada apa?”
“Aku kehilangan semuanya.”
Hana diam.
“Aku sedang diperiksa. Mungkin aku akan diberhentikan.”
“Itu akibat pilihanmu.”
“Aku tahu.”
Radit menundukkan kepala.
“Tapi tolong cabut laporannya.”
“Aku tidak pernah melaporkanmu.”
Radit tertegun.
“Yang menghancurkanmu bukan aku.”
Hana menatap lurus ke matanya.
“Kebohonganmu sendiri.”
Radit tidak mampu membalas.
Ia pergi dengan langkah gontai.
Beberapa bulan berlalu.
Perceraian akhirnya resmi diputuskan.
Hana keluar dari ruang sidang tanpa setetes air mata.
Ia menghirup udara panjang.
Tidak ada rasa menang.
Yang ada hanya kelegaan.
Di sisi lain, kehidupan mulai menunjukkan arah baru.
Video-video pembuatan kue yang diunggah pegawainya ke media sosial mendadak viral.
Orang-orang tertarik bukan hanya karena kuenya cantik, tetapi juga karena kisah pemilik toko yang bangkit setelah dikhianati.
Pesanan datang dari berbagai kota.
Hana terpaksa menyewa ruko di sebelah untuk memperluas dapur produksi.
Jumlah pegawainya bertambah dua kali lipat.
Bahkan beberapa perempuan yang pernah mengalami nasib serupa datang melamar kerja.
“Aku ingin mulai hidup lagi seperti Mbak Hana,” kata salah satu dari mereka.
Hana menerima mereka bukan karena iba.
Ia hanya tahu bagaimana rasanya kehilangan tempat untuk berpulang.
Sementara itu, Salma memutuskan kembali ke Yogyakarta bersama putranya.
Ia membuka usaha kecil menjual makanan rumahan.
Hubungan mereka dengan Hana perlahan berubah menjadi persahabatan yang tidak pernah disangka siapa pun.
Suatu hari, Salma mengirim foto anaknya yang sudah mulai belajar berjalan.
“Terima kasih karena waktu itu tidak menyalahkanku.”
Hana membalas singkat.
“Kita sama-sama berhak mendapatkan hidup yang lebih baik.”
Hampir setahun setelah perceraian, Hana menerima undangan menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan perempuan di Jakarta.
Ia sempat menolak.
Namun panitia berkata, “Orang-orang tidak hanya ingin belajar bisnis dari Ibu. Mereka ingin belajar bagaimana bangkit.”
Saat berdiri di atas panggung, Hana memandang ratusan perempuan yang memenuhi aula.
Ia tersenyum tipis.
“Dulu saya pikir kebahagiaan berasal dari mempertahankan seseorang sekuat tenaga. Ternyata saya salah. Kebahagiaan datang ketika kita berani mempertahankan harga diri.”
Ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan.
Di barisan paling belakang, seorang perempuan paruh baya berdiri diam.
Shinta.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding setahun lalu.
Setelah acara selesai, ia menghampiri Hana.
“Hana.”
Hana menoleh.
Shinta menundukkan kepala.
“Maafkan saya.”
Kalimat yang dulu rasanya mustahil akhirnya keluar juga.
“Radit sudah pergi.”
Hana mengernyit.
“Pergi?”
“Dia memilih bekerja di kota lain setelah diberhentikan. Sudah berbulan-bulan dia tidak pernah pulang.”
Shinta menghela napas panjang.
“Dulu saya selalu menyalahkanmu karena tidak bisa memberi cucu. Sekarang saya sadar… yang membuat keluarga kami hancur bukan karena kamu tidak melahirkan anak. Tapi karena kami gagal mendidik anak kami sendiri menjadi laki-laki yang jujur.”
Hana memandang perempuan tua itu cukup lama.
Luka memang tidak hilang begitu saja.
Namun kebencian juga tidak perlu dipelihara seumur hidup.
“Aku memaafkan Ibu.”
Air mata Shinta mengalir tanpa bisa ditahan.
Bukan karena semuanya kembali seperti semula.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa penyesalan selalu datang setelah kesempatan terakhir berlalu.
Hana melangkah meninggalkan gedung seminar.
Sore itu langit Jakarta dihiasi cahaya jingga.
Teleponnya berdering.
Seorang pelanggan besar ingin memesan lima ribu kotak kue untuk acara nasional.
Hana tersenyum sambil menerima panggilan itu.
Dulu ia kehilangan seseorang yang ia kira adalah seluruh dunianya.
Kini ia menyadari bahwa kepergian orang yang salah ternyata membuka jalan bagi kehidupan yang jauh lebih baik.
Ia tidak pernah benar-benar kalah.
Yang berakhir hanyalah sebuah pernikahan.
Sementara hidupnya sendiri baru saja dimulai.
