“Papa nggak usah datang ke sini. Nggak perlu repot-repot,” potongku dengan suara dingin setajam belati. “Bagi kami… Papa sudah mati. Dan mulai malam ini, aku bukan anakmu lagi!”

Ponsel itu masih berada di genggamanku ketika aku kembali masuk ke bangsal kelas tiga. Bau obat-obatan bercampur dengan udara pengap menyambutku. Zaki kembali memejamkan mata. Napasnya masih berat, sementara Enjel tertidur meringkuk di atas tikar plastik dengan sisa roti yang belum habis di tangannya.

Aku duduk di sisi ranjang Zaki sambil menggenggam jemarinya.

“Abang pasti sembuh,” bisikku lirih. “Mbak janji.”

Untuk pertama kalinya sejak Mama meninggal, aku merasa benar-benar telah kehilangan sosok yang dulu kupanggil Papa. Bukan karena beliau telah tiada, melainkan karena malam itu aku sadar, hatinya sudah lama meninggalkan kami.

Dua hari kemudian, setelah kondisi Zaki mulai stabil dan trombositnya perlahan naik, aku menitipkan kedua adikku kepada tetangga kontrakan yang bersedia membantu beberapa jam. Dengan mengenakan kemeja putih sederhana dan map cokelat berisi seluruh dokumen peninggalan Mama, aku mendatangi kantor Om Januar.

Pria berusia sekitar enam puluh tahun itu berdiri menyambutku begitu aku masuk.

“Kamu semakin mirip ibumu.”

Aku hanya mampu tersenyum tipis.

Om Januar mengajakku masuk ke ruang kerjanya. Di atas meja sudah tersedia beberapa map tebal yang tampak telah disiapkan jauh sebelum aku datang.

“Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun, Zahra.”

Beliau membuka map pertama.

Di dalamnya terdapat salinan akta pendirian PT Artha Propertindo.

“Mayoritas modal awal perusahaan berasal dari ibumu. Tanah yang menjadi kantor pusat perusahaan sekarang juga atas nama ibumu sebelum dialihkan menjadi aset perusahaan.”

Aku menatap dokumen itu tanpa berkedip.

“Kenapa Om tidak pernah memberitahuku?”

“Karena ibumu meninggalkan surat wasiat.”

Beliau mengeluarkan amplop berwarna krem yang telah menguning.

“Beliau berpesan, semua ini baru boleh kuberikan ketika kamu berusia dua puluh satu tahun dan sudah cukup dewasa untuk melindungi adik-adikmu.”

Tanganku bergetar saat membuka surat itu.

Tulisan tangan Mama masih sangat rapi.

“Zahra, jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti Mama sudah tidak bisa menemanimu lagi. Mama percaya kamu akan menjadi perempuan kuat. Jangan membalas kebencian dengan kebencian, tetapi jangan pula membiarkan hakmu dirampas. Lindungi Zaki dan Enjel. Mereka hanya punya kamu.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Om Januar kembali membuka map berikutnya.

“Kamu tahu kenapa ayahmu sangat yakin Tante Meli selalu mengirim sepuluh juta setiap bulan?”

Aku menggeleng.

Beliau memutar layar laptop.

“Itu karena rekening yang ditunjukkan kepada ayahmu memang memperlihatkan transfer sepuluh juta.”

Aku terdiam.

“Tapi…”

“Transfer itu langsung ditarik kembali beberapa menit kemudian melalui rekening lain yang juga dikendalikan Tante Meli.”

Aku membelalak.

“Jadi selama ini…”

“Ya.”

Om Januar mengangguk pelan.

“Yang masuk ke rekeningmu hanya dua juta. Sisanya dipindahkan lagi.”

Dadaku terasa sesak.

Selama dua tahun, Papa sama sekali tidak pernah mengecek rekening kami.

Beliau hanya mempercayai laporan istrinya.

“Masih ada lagi.”

Om Januar mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Ini rekaman CCTV rumah lama.”

Aku memandangnya heran.

“Rumah itu memang sudah direnovasi, tetapi server penyimpanan lama masih sempat diselamatkan oleh petugas keamanan yang dulu sangat menghormati ibumu.”

Video pertama memperlihatkan Lestari sengaja mengunci Zaki di gudang.

Video kedua menunjukkan Enjel didorong hingga kepalanya membentur meja.

Yang paling membuatku menggigil adalah video ketika Tante Meli berkata kepada Lestari sambil tertawa.

“Biarkan saja. Biar anak-anak itu kapok tinggal di rumah ini.”

Aku memejamkan mata.

Semua yang dulu dianggap fitnah ternyata terekam dengan jelas.

“Apakah ini cukup?” tanyaku.

Om Januar tersenyum.

“Belum.”

Beliau menyerahkan satu map terakhir.

“Ini laporan keuangan perusahaan selama lima tahun terakhir.”

Aku membaca beberapa halaman.

Semakin kubaca, semakin aku mengernyit.

“Angka ini…”

“Kamu sadar?”

“Ada penggelapan.”

Om Januar mengangguk puas.

“Kamu memang pantas menjadi lulusan terbaik fakultas hukum.”

Aku menghela napas panjang.

“Papa tahu?”

“Itulah yang harus kita cari.”

Beberapa hari kemudian, undangan wisuda tiba.

Aku benar-benar dinyatakan sebagai lulusan terbaik fakultas hukum.

Pak Ilham bahkan menelepon secara pribadi.

“Jangan lupa hadir lebih awal. Kamu akan menerima penghargaan khusus.”

Aku mengucapkan terima kasih.

Sementara itu, di rumah besar Papa, pesta kelulusan Lestari sedang dipersiapkan dengan meriah.

Foto-fotonya memenuhi media sosial.

Dekorasi mewah.

Artis lokal sebagai pengisi acara.

Ratusan tamu.

Aku hanya melihat sekilas sebelum menutup layar ponsel.

Bagiku, yang lebih penting adalah biaya rawat inap Zaki.

Tepat sehari sebelum wisuda, Om Januar datang ke rumah kontrakanku.

Beliau membawa sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Hadiah dari ibumu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sertifikat deposito atas namaku.

Nilainya membuatku terdiam.

Dua miliar rupiah.

“Ibumu menyimpannya diam-diam untuk pendidikanmu.”

Aku menutup mulutku.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena itu syarat dalam surat wasiat.”

Air mataku kembali jatuh.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi takut memikirkan masa depan Zaki dan Enjel.

Hari wisuda akhirnya tiba.

Aku mengenakan toga dengan sederhana.

Di sisi kanan dan kiriku hanya ada Zaki yang masih tampak kurus serta Enjel yang menggenggam tanganku erat.

“Mbak… nanti Papa datang?”

Aku tersenyum kecil.

“Nggak tahu.”

Di saat yang sama, aula mulai dipenuhi para orang tua mahasiswa.

Ketika namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik fakultas hukum, seluruh ruangan memberikan tepuk tangan panjang.

“Dengan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi serta penghargaan penelitian terbaik tahun ini, kami mengundang Saudari Zahra Amalia.”

Aku melangkah naik ke panggung.

Sorot lampu terasa begitu terang.

Saat itulah aku melihat seseorang berdiri di pintu aula.

Papa.

Wajahnya tampak kebingungan.

Mungkin beliau baru mengetahui dari salah satu relasi bisnisnya bahwa aku adalah wisudawan terbaik.

Beliau berjalan tergesa menuju kursi tamu.

Namun semua kursi keluarga di sampingku sudah ditempati Zaki dan Enjel.

Papa hanya bisa berdiri dari kejauhan.

Ketika aku selesai menerima penghargaan, beliau mencoba mendekat.

“Zahra…”

Aku menoleh.

Beliau terlihat jauh lebih tua dibanding terakhir kali kami bertemu.

“Papa…”

Beliau tersenyum canggung.

“Selamat ya.”

Aku hanya mengangguk.

“Ternyata kamu sudah lulus.”

Belum sempat beliau melanjutkan kalimatnya, Om Januar datang bersama dua pria berjas.

“Akhirnya kita bertemu juga.”

Papa tampak heran.

“Januar?”

“Kita perlu bicara.”

Di depan aula, Om Januar menyerahkan seluruh dokumen.

Papa membaca satu demi satu.

Wajahnya berubah pucat.

“Ini… tidak mungkin.”

“Laporan transfer.”

Papa membuka halaman berikutnya.

“Tidak…”

“Laporan rekening.”

Tangannya mulai gemetar.

“CCTV.”

Video diputar.

Papa mematung.

Lestari yang mengurung Zaki.

Enjel yang didorong.

Tante Meli yang tertawa.

Beliau mundur beberapa langkah.

“Selama ini…”

Om Januar menatapnya tajam.

“Kamu tidak pernah mencari kebenaran.”

Papa menutup wajahnya sendiri.

“Aku…”

Tangisnya pecah.

Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, aku melihat pria itu menangis.

“Aku sudah menghancurkan keluargaku sendiri.”

Beliau mencoba memegang tanganku.

Aku tidak menghindar, tetapi juga tidak membalas genggamannya.

“Maafkan Papa.”

Aku menggeleng pelan.

“Aku tidak membencimu lagi.”

Harapan mulai muncul di wajahnya.

“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”

Beliau menundukkan kepala.

“Aku mengerti.”

Seminggu kemudian, berita besar mengguncang dunia bisnis.

Direktur keuangan PT Artha Propertindo ditetapkan sebagai tersangka penggelapan aset.

Penyelidikan berkembang.

Nama Tante Meli ikut terseret karena terbukti memalsukan laporan keuangan dan menyalahgunakan dana keluarga.

Lestari, yang selama ini menikmati seluruh kemewahan, memilih meninggalkan rumah setelah mengetahui ibunya akan diproses hukum.

Papa mengundurkan diri sementara dari jabatan direktur untuk mempertanggungjawabkan kelalaiannya sebagai pemimpin perusahaan.

Sebagian besar saham yang memang menjadi hak waris Mama resmi dikembalikan kepada kami melalui putusan pengadilan.

Beberapa bulan kemudian, kontrakan sempit itu kami tinggalkan.

Bukan untuk pindah ke rumah mewah.

Aku memilih membeli rumah sederhana yang hangat dan cukup untuk kami bertiga.

Suatu sore, ketika sedang menyiram tanaman, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Papa turun seorang diri.

Tidak ada lagi jas mahal.

Tidak ada lagi sopir.

Beliau membawa sekotak kue.

“Aku hanya ingin mengantar ini.”

Zaki menatapku meminta izin.

Aku mengangguk pelan.

Mereka duduk bersama di teras.

Papa bercerita.

Zaki tertawa.

Enjel sesekali ikut menyela.

Aku memperhatikan dari balik jendela.

Masih ada luka yang belum sembuh.

Namun aku sadar, dendam tidak pernah benar-benar menyembuhkan siapa pun.

Sebelum pulang, Papa berdiri di depan pagar.

“Terima kasih karena masih mengizinkan Papa melihat mereka.”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan untukmu.”

Beliau tampak bingung.

“Untuk Zaki dan Enjel. Mereka tidak boleh tumbuh dengan kebencian seperti yang pernah kita rasakan.”

Papa mengangguk sambil mengusap air matanya.

Mobil itu perlahan pergi meninggalkan rumah kami.

Aku memandang langit senja yang mulai berubah jingga.

Mama memang sudah lama tiada.

Namun semua nilai yang beliau tanamkan akhirnya menjadi warisan paling berharga.

Bukan perusahaan.

Bukan rumah.

Bukan miliaran rupiah.

Melainkan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan hati nurani. Di situlah aku akhirnya memahami bahwa kemenangan terbesar bukanlah saat berhasil merebut kembali semua yang pernah dirampas, melainkan ketika mampu berdiri tegak setelah dihancurkan, lalu memilih membangun masa depan dengan kejujuran, keberanian, dan kasih sayang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang