Aku sengaja memblokir semua akses rekening atas namaku yang selama ini dipegang suamiku. Dia langsung panik saat hendak membayar tagihan pesta sahabatnya. Rasakan! Siapa suruh memakai uangku!

Aku sengaja memblokir semua akses rekening atas namaku yang selama ini dipegang suamiku. Dia baru sadar ketika kartu ATM dan mobile banking yang biasa ia gunakan mendadak tidak bisa dipakai saat hendak membayar tagihan pesta ulang tahun sahabatnya.

Rasakan. Siapa suruh memakai uangku tanpa izin?

Duniaku terasa runtuh saat melihat sebuah mobil boks putih berhenti di depan rumah. Satu per satu barang bayi premium diturunkan. Ranjang bayi kayu dengan ukiran mewah, stroller impor, bouncer otomatis, kursi makan bayi, hingga tumpukan popok dan perlengkapan bermerek memenuhi ruang tamuku.

“Sesuai pesanan ya, Bu. Atas nama Ibu Sintia,” kata kurir sambil menyerahkan nota.

Tanganku gemetar ketika membaca total pembayaran.

Rp10.250.000.

Di saat yang sama, ponselku berbunyi.

Saldo berkurang Rp10.250.000.

Aku menutup mata sejenak.

Itu bukan sekadar uang.

Itu tabungan yang kusisihkan selama hampir dua tahun. Aku rela menunda membeli baju baru, menahan keinginan liburan, bahkan mengambil pekerjaan tambahan sebagai desainer lepas setiap malam demi mengumpulkan dana renovasi rumah kami.

Mas Irham menghabiskan semuanya hanya untuk menyenangkan sahabat masa kecilnya.

“Bagus banget!” seru Sintia sambil menggendong bayi laki-lakinya.

Ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyum puasnya.

“Ayu, makasih ya. Eh maksudku… makasih buat Irham.”

Nada bicaranya membuat darahku mendidih.

Saat telepon dari Irham masuk dan Sintia sengaja mengaktifkan pengeras suara, semua batas kesabaranku hancur.

Aku langsung memutus sambungan itu.

Pertengkaranku dengan Irham melalui telepon berakhir dengan kalimat yang terus terngiang di kepalaku.

“Kamu pelit, Ayu. Kamu nggak pernah ngerti arti membantu orang.”

Setelah telepon ditutup, Sintia malah mendekat dan berbisik.

“Kalau laki-laki merasa lebih dihargai di tempat lain, jangan salahkan dia kalau suatu hari pergi.”

Kalimat itu justru membuat pikiranku menjadi sangat tenang.

Aku bukan lagi marah.

Aku mulai berpikir.

Aku langsung menghubungi toko tempat semua perlengkapan bayi itu dibeli. Beruntung barang baru saja dikirim dan belum digunakan.

Pemilik toko mengenalku.

“Kalau memang pembayarannya dari rekening Ibu dan barang belum dipakai, kami bisa proses retur. Tapi harus hari ini.”

“Lakukan.”

Tak sampai tiga puluh menit kemudian mobil pengangkut kembali datang.

Wajah Sintia langsung berubah.

“Kamu serius?”

“Sangat serius.”

“Kamu nggak punya hati.”

Aku tersenyum tipis.

“Yang tidak punya hati itu orang yang memakai uang orang lain tanpa izin.”

Ia buru-buru menelepon Irham.

Kali ini Irham mengangkat.

“Ayu! Apa-apaan kamu? Jangan bikin malu!”

Aku menjawab singkat.

“Kalau kamu ingin barang itu tetap di sini, transfer sepuluh juta sekarang.”

“Kamu mengancam aku?”

“Bukan. Aku sedang mengajarkan batas.”

Telepon kembali ditutup.

Sore itu semua barang kembali masuk ke mobil.

Sintia menangis sambil memeluk bayinya.

Tetangga mulai keluar melihat keributan.

Aku tidak peduli.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memilih membela diriku sendiri.

Malamnya Irham pulang dengan wajah merah padam.

Begitu masuk rumah, ia langsung membanting tas.

“Kamu bikin aku malu di depan Sintia!”

Aku menatapnya datar.

“Aku cuma mengembalikan barang yang dibeli memakai uangku.”

“Itu uang keluarga!”

Aku mengangguk.

“Kalau uang keluarga, kenapa cuma kamu yang memutuskan?”

Ia terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“Kamu berubah.”

“Tidak.”

Aku menatap lurus matanya.

“Aku baru berhenti diam.”

Malam itu kami tidur di kamar terpisah.

Namun ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku.

Bukan soal uang.

Melainkan ucapan Sintia.

“Irham merasa lebih dihargai kalau bisa bantu aku.”

Kalimat itu terlalu aneh.

Seolah mereka berbicara jauh lebih sering daripada yang kukira.

Keesokan harinya aku membuka laptop lama Irham.

Bukan karena ingin memata-matai.

Aku hanya ingin mencari bukti transfer yang pernah kulihat.

Laptop itu ternyata belum keluar dari akun emailnya.

Di sana aku menemukan sesuatu yang membuat napasku berhenti.

Puluhan email.

Puluhan bukti transfer.

Bukan hanya sepuluh juta.

Selama hampir dua tahun terakhir, Irham rutin mengirim uang kepada Sintia.

Lima ratus ribu.

Satu juta.

Dua juta.

Empat juta.

Bahkan pernah lima belas juta.

Aku membuka file Excel yang tersimpan di folder “Keuangan”.

Di sana tercatat semua.

Totalnya membuat tubuhku lemas.

Rp287.450.000.

Hampir tiga ratus juta.

Aku terduduk.

Bukan karena nominalnya.

Melainkan karena semua itu berasal dari rekening gabungan yang selama ini kukira digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Aku menggenggam meja erat-erat.

Tangisku tidak keluar.

Aku terlalu kecewa untuk menangis.

Hari itu juga aku menemui bank.

Aku mencetak seluruh riwayat transaksi selama dua tahun.

Semuanya lengkap.

Aku juga menemui notaris yang dulu mengurus perjanjian pembelian rumah.

Rumah itu ternyata dibeli sebelum menikah.

Status hukumnya sepenuhnya atas namaku.

Aku tersenyum kecil.

Setidaknya masih ada satu hal yang tidak bisa diambil Irham.

Malamnya aku menunggu suamiku pulang.

Begitu masuk rumah, ia terlihat santai.

Sampai aku meletakkan setumpuk dokumen di atas meja.

“Apa ini?”

“Baca.”

Semakin banyak halaman yang ia buka, wajahnya semakin pucat.

“Kamu… ngacak-ngacak laptopku?”

“Aku menemukan hampir tiga ratus juta.”

Ia langsung berdiri.

“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”

“Lalu seperti apa?”

Ia terdiam.

Aku mengeluarkan satu map lagi.

“Ini surat dari bank.”

Lalu satu map lagi.

“Ini bukti kepemilikan rumah.”

Satu map terakhir.

“Dan ini surat gugatan cerai yang tinggal aku tanda tangani.”

Ruangan menjadi sunyi.

Irham akhirnya duduk.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, ia menangis.

“Aku salah.”

Aku hanya diam.

“Sintia memang sering minta bantuan.”

“Aku tahu.”

“Aku kasihan sama dia.”

“Aku juga tahu.”

“Tapi kami nggak pernah selingkuh.”

Aku menatap matanya.

“Aku tidak pernah menuduh kamu selingkuh.”

Ia membeku.

“Yang aku persoalkan adalah pengkhianatan.”

Air mata Irham jatuh.

“Aku cuma ingin jadi orang baik.”

Aku menggeleng perlahan.

“Orang baik tidak mengambil hak istrinya untuk diberikan kepada orang lain.”

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Seorang pria datang ke rumah.

Wajahnya lelah.

Matanya merah.

Ia memperkenalkan diri.

“Aku Dimas.”

Nama itu asing.

“Aku suami Sintia.”

Aku membeku.

“Bukannya…”

“Aku nggak pernah ninggalin dia.”

Jantungku berdegup kencang.

Dimas mengeluarkan map.

Isinya surat-surat.

Foto.

Dan laporan polisi.

“Sintia kabur dari rumah enam bulan lalu.”

Aku semakin bingung.

“Apa maksudnya?”

“Dia bilang aku kasar.”

“Tapi?”

“Pengadilan menyatakan tuduhan itu tidak terbukti.”

Aku membaca semua dokumen.

Benar.

Tidak ada kekerasan.

Tidak ada penelantaran.

Yang terjadi justru Sintia meninggalkan rumah setelah terlilit utang pinjaman online akibat gaya hidupnya sendiri.

“Aku sudah kirim uang buat anak kami setiap bulan.”

Dimas menunjukkan bukti transfer.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada kebutuhan bayi.

“Dia bilang ke semua orang aku kabur.”

Aku memejamkan mata.

Potongan-potongan teka-teki mulai tersusun.

Sintia selama ini hidup dari rasa iba orang lain.

Ia membangun citra sebagai ibu yang ditinggalkan suami agar semua orang mau membantunya.

Termasuk Irham.

Malam itu Dimas memperlihatkan satu video.

Video CCTV sebuah kafe.

Di sana terlihat Sintia tertawa bersama teman-temannya.

“Aku cuma perlu bikin orang percaya kalau aku korban. Pasti ada aja yang kasihan.”

Aku langsung merasa mual.

Esok paginya aku menghubungi Irham.

Tanpa banyak bicara, aku memperlihatkan semua bukti.

Ia terduduk.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Aku… dibohongi.”

Aku menarik napas panjang.

“Bukan.”

Ia menoleh.

“Kamu memilih percaya orang lain daripada mempercayai istrimu.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada semua makian yang pernah kuucapkan.

Seminggu kemudian Sintia menghilang.

Nomornya tidak aktif.

Kontrakan yang selama ini kutahu kosong.

Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.

Irham mencoba memperbaiki semuanya.

Ia mengembalikan seluruh uang yang pernah diambil sedikit demi sedikit dengan menjual mobil kesayangannya dan mengambil pekerjaan tambahan.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia kembalikan.

Kepercayaanku.

Tiga bulan kemudian, sidang perceraian kami selesai.

Saat hakim mengetuk palu, aku tidak menangis.

Aku justru merasa sangat ringan.

Di luar ruang sidang, Irham menghampiriku.

“Ayu… terima kasih.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya aku belajar bahwa menjadi orang baik bukan berarti mengorbankan orang yang paling mencintai kita.”

Aku tersenyum tipis.

Lalu berjalan meninggalkan gedung pengadilan tanpa menoleh lagi.

Hari itu aku kehilangan seorang suami.

Namun aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Harga diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang