Aku menyalakan kompor dengan tangan yang masih gemetar. Air mulai mendidih di dalam panci kecil, sementara pikiranku kosong. Bau bawang putih yang kutumis perlahan memenuhi dapur, tetapi tidak mampu mengusir rasa takut yang selalu tinggal di rumah itu. Dari ruang tamu terdengar suara televisi yang dinyalakan Lanang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa beberapa menit sebelumnya.
Aku meletakkan semangkuk mi di depannya.
“Makasih,” katanya pelan.
Aku hanya mengangguk.

Dia makan dengan tenang, bahkan sesekali memintaku mengambilkan sambal. Orang yang baru saja memukulku kini bersikap seperti suami biasa. Dulu aku selalu bingung melihat perubahan sikapnya yang begitu cepat. Sekarang aku tahu, itulah caranya membuatku terus bertahan. Setelah setiap luka, selalu ada sedikit kelembutan yang membuatku berharap semuanya akan berubah.
Harapan itu ternyata adalah penjara.
Malam semakin larut. Setelah memastikan Lanang tertidur, aku masuk ke kamar anak-anak. Raka masih memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Di pipinya masih terlihat bekas air mata yang mengering.
“Maaf ya, Nak,” bisikku sambil mengusap rambutnya.
Aku tidak sadar air mataku menetes hingga mengenai tangannya.
Tiba-tiba Raka membuka mata.
“Mama…”
“Iya, Sayang.”
“Ayah marah lagi?”
Dadaku terasa sesak.
“Tidak apa-apa.”
Raka menggeleng pelan.
“Aku sudah besar. Jangan bohong sama Raka.”
Kalimat sederhana dari anak berusia empat tahun itu membuatku merasa gagal menjadi seorang ibu.
Keesokan paginya aku mengantar Raka ke taman kanak-kanak seperti biasa. Saat guru kelasnya, Bu Siska, melihat lenganku yang mulai membiru, dia berhenti sejenak.
“Bu Nayla, itu kenapa?”
Aku refleks menarik lengan bajuku.
“Tadi malam kepentok pintu.”
Bu Siska tersenyum tipis, tetapi matanya seolah tahu bahwa aku sedang berbohong.
Sebelum aku pergi, dia menyelipkan secarik kertas ke dalam tasku.
“Ada nomor saya di situ. Kalau suatu hari Ibu butuh teman bicara, jangan sungkan.”
Aku hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan kertas itu.
Sudah berkali-kali orang melihat luka di tubuhku. Tetangga, kasir minimarket, bahkan bidan yang memeriksa anak bungsuku. Semua seolah mengerti, tetapi aku selalu menutupinya.
Karena aku percaya ancaman Lanang.
Aku takut dia benar-benar membawa anak-anakku pergi.
Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Saat sedang mencuci pakaian, ponsel Lanang yang tertinggal di meja tiba-tiba berdering.
Layar ponselnya menyala.
Nama pengirimnya bukan nama orang.
Hanya tertulis: “R.”
Biasanya aku tidak pernah berani menyentuh ponselnya.
Tetapi entah kenapa, hari itu tanganku bergerak sendiri.
Pesan yang muncul membuat napasku tercekat.
“Kalau istrimu mulai curiga, jangan panik. Dokumen lama sudah saya amankan.”
Dokumen?
Dokumen apa?
Belum sempat kubaca lebih jauh, suara motor Lanang terdengar memasuki halaman.
Aku buru-buru mengembalikan ponselnya.
Sejak hari itu rasa penasaranku semakin besar.
Aku mulai memperhatikan kebiasaan Lanang.
Setiap hari Jumat malam dia selalu keluar setelah anak-anak tidur.
Dia bilang sedang lembur.
Tetapi pakaiannya terlalu rapi untuk orang yang lembur.
Suatu malam, aku memberanikan diri mengikutinya.
Aku meminjam motor tetangga dengan alasan membeli obat.
Dari kejauhan kulihat Lanang masuk ke sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Yang membuatku terkejut, beberapa menit kemudian seorang pria tua berkacamata membukakan pintu sambil memeluk Lanang.
Mereka terlihat sangat akrab.
Aku mengambil beberapa foto dari kejauhan.
Saat Lanang keluar dua jam kemudian, wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya.
Esok harinya, ketika Lanang berangkat kerja, aku kembali ke rumah itu.
Seorang perempuan tua membukakan pintu.
“Maaf, saya mencari Pak Rahmat.”
“Wah, beliau sedang ke pasar. Mbak siapa?”
Aku gugup.
“Saya… teman kerja Mas Lanang.”
Perempuan itu tersenyum.
“Oh, Lanang. Anak kasihan itu memang sering ke sini.”
Aku terdiam.
“Anak kasihan?”
“Iya. Sejak kecil hidupnya berat.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Apa maksud Ibu?”
Perempuan itu menghela napas.
“Kamu belum tahu?”
Aku menggeleng.
“Lanang bukan anak kandung keluarga yang membesarkannya.”
Aku membeku.
“Ibunya meninggal waktu dia masih kecil. Ayah tirinya sering memukul dia sampai beberapa kali dirawat di puskesmas. Pak Rahmat dulu tetangganya. Beliau yang sering menyembunyikan Lanang kalau ayah tirinya sedang mengamuk.”
Aku tidak tahu harus merasa apa.
Untuk pertama kalinya, aku memahami dari mana semua kemarahan itu berasal.
Tetapi luka masa kecil tidak pernah menjadi alasan untuk melukai orang lain.
Sebelum pulang, perempuan itu berkata pelan,
“Lanang dulu anak yang baik. Kami juga tidak tahu kenapa setelah dewasa dia berubah.”
Malam itu aku menangis lagi.
Bukan hanya karena sedih.
Melainkan karena aku sadar, aku tidak akan pernah bisa menyembuhkan seseorang yang tidak mau menyembuhkan dirinya sendiri.
Seminggu kemudian keadaan semakin buruk.
Lanang kehilangan pekerjaannya.
Dia pulang siang hari dengan wajah gelap.
Tanpa berkata apa-apa dia membanting tasnya.
“Aku dipecat.”
Aku mencoba menenangkan.
“Mungkin nanti bisa cari pekerjaan lain.”
Tamparan keras langsung mendarat di pipiku.
“Diam!”
Aku jatuh terduduk.
Raka melihat semuanya.
Kali ini dia tidak menangis.
Dia berdiri di depan tubuhku.
“Jangan pukul Mama!”
Lanang terdiam.
Mungkin untuk pertama kalinya dia melihat anaknya berdiri melawannya.
“Ayah jahat.”
Kalimat itu membuat wajah Lanang berubah pucat.
Dia mundur beberapa langkah lalu keluar rumah tanpa berkata apa-apa.
Malam itu dia tidak pulang.
Aku tahu inilah saatnya.
Aku mengambil kertas pemberian Bu Siska.
Tanganku gemetar saat menekan tombol panggil.
“Halo?”
Suara lembut di seberang sana membuatku langsung menangis.
“Saya… saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Tidak apa-apa. Ceritakan pelan-pelan.”
Untuk pertama kalinya selama empat tahun, aku menceritakan semuanya.
Tentang pukulan.
Tentang ancaman.
Tentang rasa takut.
Tentang anak-anak.
Keesokan harinya Bu Siska datang bersama seorang konselor dan seorang pengacara dari lembaga pendamping perempuan.
Mereka tidak memaksaku melapor.
Mereka hanya menjelaskan hak-hakku.
Ternyata ancaman Lanang selama ini tidak sesederhana yang kubayangkan.
Dia tidak bisa begitu saja membawa anak-anak tanpa konsekuensi hukum.
Aku merasa seperti seseorang yang baru keluar dari ruangan gelap.
Selama ini aku dikendalikan oleh ketakutan yang sengaja dibangun.
Malam berikutnya, saat Lanang pulang, rumah sudah kosong.
Aku membawa kedua anakku ke rumah aman.
Lanang menelepon puluhan kali.
Aku tidak mengangkat.
Pesan-pesannya berganti dari marah menjadi memohon.
“Nay, pulang.”
“Nay, aku berubah.”
“Nay, demi anak-anak.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak percaya.
Beberapa hari kemudian, surat panggilan mediasi dikirimkan.
Di ruang mediasi, Lanang menangis.
Dia meminta maaf.
Dia mengaku ingin berobat.
Aku mendengarkan semuanya tanpa memotong.
Setelah dia selesai, aku berkata pelan,
“Aku berharap kamu benar-benar sembuh.”
Wajahnya sedikit berbinar.
“Tapi perjalanan itu harus kamu lakukan tanpa aku.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan. Anak-anak berhak tumbuh di rumah yang tidak membuat mereka gemetar setiap malam.”
Air mata Lanang mengalir.
Dia tidak membantah.
Beberapa bulan berlalu.
Aku mulai bekerja kembali.
Raka kembali tertawa.
Adiknya mulai belajar berjalan.
Suatu sore aku menerima surat dari pusat rehabilitasi psikologis.
Lanang mengikuti terapi secara sukarela.
Di bagian akhir surat itu terdapat sebuah pesan tulisan tangannya.
“Terima kasih karena akhirnya berhenti memaafkanku. Kalau kamu tetap tinggal, mungkin aku tidak akan pernah sadar bahwa aku sedang berubah menjadi orang yang paling kubenci semasa kecil.”
Aku melipat surat itu perlahan.
Aku tidak kembali kepadanya.
Sebagian luka memang bisa sembuh.
Tetapi tidak semua hubungan harus disatukan kembali agar seseorang bisa berubah.
Hari itu Raka berlari memelukku.
“Mama, kita sekarang bahagia ya?”
Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya.
“Iya, Sayang.”
Karena akhirnya aku mengerti, bertahan bukan selalu berarti mencintai. Kadang, bentuk cinta terbesar kepada diri sendiri dan kepada anak-anak adalah keberanian untuk pergi sebelum luka itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
