Mirza membawa mobilnya menjauh dari vila. Ia tak tahu hendak pergi ke mana karena kawasan itu jauh dari perkotaan. Tak mungkin ia pulang dan meninggalkan Rena di vila.

Mirza menggenggam kaleng bir yang sudah kosong cukup lama hingga jemarinya memutih. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dipaksakan oleh sang kakek, ia merasa dirinya bukan korban. Selama ini ia terus menyalahkan Rena atas hidup yang menurutnya dirampas, tetapi malam itu semua keyakinannya runtuh hanya dalam beberapa menit.

Ia berdiri perlahan. Langkahnya terasa berat menuju kamar utama. Di depan pintu, tangannya terangkat hendak mengetuk, tetapi berhenti di udara. Ia tak pantas masuk begitu saja setelah semua ucapan dan perlakuannya.

Dengan hati-hati ia membuka pintu.

Lampu kamar masih redup. Rena sudah tidak berada di tepi ranjang. Gadis itu duduk di dekat jendela besar sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong menembus gelapnya pegunungan. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, sementara jemarinya menggenggam ponsel erat seolah benda itu adalah satu-satunya tempat ia merasa aman.

Rena mendengar suara pintu. Bahunya langsung menegang. Ia menoleh sekilas, lalu buru-buru berdiri dan menjauh beberapa langkah.

Reaksi sederhana itu terasa seperti tamparan bagi Mirza.

Ia sadar, Rena takut padanya.

Mirza menundukkan kepala.

“Maaf.”

Suara itu begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.

Rena mengernyit. Bibirnya sedikit terbuka, seolah tak percaya pria itu baru saja meminta maaf.

Mirza kembali mengulanginya.

“Aku minta maaf.”

Tak ada jawaban.

Rena hanya menatapnya dengan mata yang dipenuhi kewaspadaan.

Mirza tidak berani mendekat.

“Aku tahu… maaf nggak akan menghapus apa yang tadi terjadi. Tapi aku benar-benar menyesal.”

Rena menggeleng pelan. Ia mengangkat ponselnya, mengetik beberapa kata, lalu memperlihatkan layarnya.

“Aku lelah.”

Hanya dua kata.

Mirza mengangguk.

“Aku akan tidur di ruang tengah.”

Rena tidak membalas lagi. Ia hanya memalingkan wajah.

Malam itu Mirza benar-benar tidur di sofa. Namun matanya tak pernah terpejam. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Rena yang berdiri gemetar terus muncul. Menjelang subuh, ia bahkan memutuskan menuangkan semua sisa bir ke wastafel.

Ia tak ingin lagi bersembunyi di balik alkohol.

Keesokan paginya, Rena sudah lebih dulu bangun.

Di atas meja makan hanya ada secangkir teh hangat dan roti panggang. Mirza tahu bukan staf vila yang menyiapkannya karena sejak awal mereka memilih vila pribadi tanpa pelayan.

Rena membuat sarapan.

Meski setelah semua yang terjadi.

Hati Mirza kembali terasa sesak.

Ia duduk tanpa berani menyentuh makanan.

Rena hendak pergi ketika Mirza berdiri.

“Tunggu.”

Rena berhenti.

“Aku nggak akan memaksamu bicara.”

Rena tetap diam.

“Tapi izinkan aku memperbaiki semuanya.”

Rena hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya pergi ke halaman belakang.

Kalimat itu jelas belum cukup.

Sepanjang perjalanan pulang menuju Jakarta, suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan. Mirza beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi mengurungkannya. Ia mulai memahami bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan permintaan maaf.

Sesampainya di rumah keluarga Sanjaya, Kakek sudah menunggu di ruang tamu.

Tatapan pria tua itu bergantian mengamati cucunya dan Rena.

“Kalian bertengkar.”

Bukan pertanyaan.

Mirza menghela napas.

“Kakek sudah tahu semua tentang Rena, ya?”

Kakek Sanjaya hanya memandangnya tenang.

“Aku tahu sebagian.”

“Kenapa Kakek nggak pernah bilang?”

“Karena itu bukan rahasiaku untuk diceritakan.”

Mirza mengepalkan tangan.

“Aku sudah menyakitinya.”

“Aku juga tahu itu.”

Mirza terdiam.

Kakek menatapnya lama.

“Mirza, orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu menang. Orang kuat adalah mereka yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.”

Untuk pertama kalinya, Mirza tidak membantah.

Hari-hari berikutnya berubah perlahan.

Mirza berhenti mengganggu Rena.

Ia mulai belajar bahasa isyarat secara diam-diam. Setiap malam setelah pulang bekerja, ia berlatih lewat video dan buku. Jemarinya kaku, sering salah gerakan, tetapi ia tidak menyerah.

Dua minggu kemudian, saat makan malam, Mirza memberanikan diri menggunakan bahasa isyarat sederhana.

“Terima kasih.”

Gerakannya masih canggung.

Rena sempat tertegun.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, sudut bibir gadis itu bergerak tipis.

Bukan senyum penuh.

Namun cukup membuat Mirza merasa usahanya tidak sia-sia.

Sementara itu, Eko terus menyelidiki masa lalu Rena.

Suatu sore, ia datang membawa map cokelat.

“Tuan, saya menemukan sesuatu.”

Mirza langsung mempersilahkannya masuk.

“Apa?”

“Bukan hanya kasus lama Nona Rena.”

Eko membuka beberapa lembar dokumen.

“Salah satu pelaku ternyata anak seorang pengusaha besar.”

Mirza mengernyit.

“Itu belum semuanya.”

Eko menggeser sebuah foto.

Mirza membeku.

Di dalam foto itu tampak lima remaja laki-laki berseragam sekolah elit.

Di belakang mereka berdiri seorang pria dewasa yang sedang memberikan piala.

Mirza mengenali pria itu.

Pamannya sendiri.

“Paman Ardi?”

Eko mengangguk pelan.

“Beliau dulu menjabat sebagai ketua yayasan sekolah tersebut.”

Dada Mirza mendadak sesak.

“Mustahil.”

“Saya juga berharap begitu.”

Eko mengeluarkan dokumen lain.

“Nama sekolah ini berkali-kali muncul dalam penyelidikan lama. Tetapi setiap laporan selalu dihentikan.”

Mirza meraih map itu dengan tangan gemetar.

Semakin banyak ia membaca, semakin pucat wajahnya.

Beberapa saksi tiba-tiba mencabut keterangan.

Dokumen rumah sakit menghilang.

Rekaman CCTV dinyatakan rusak.

Semuanya seperti sengaja dihapus.

Malam itu Mirza tidak bisa tidur lagi.

Ia mulai bertanya-tanya.

Apakah semua ini hanya kebetulan?

Ataukah keluarganya memang ikut menutupi sesuatu?

Keesokan harinya, Mirza mendatangi pamannya tanpa memberi kabar.

Begitu memasuki ruang kerja mewah itu, ia langsung melemparkan map ke atas meja.

“Paman kenal mereka?”

Ardi hanya melirik sekilas.

“Lalu?”

“Jawab!”

Ardi tersenyum tipis.

“Kamu mulai mencari tahu masa lalu istrimu?”

Mirza terdiam.

“Kalau aku jadi kamu, aku akan berhenti.”

“Kenapa?”

“Karena tidak semua kebenaran membuat hidupmu lebih baik.”

Ucapan itu membuat bulu kuduk Mirza meremang.

“Paman menyembunyikan sesuatu.”

Ardi berdiri.

“Aku hanya sedang melindungi keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Ardi mendekat.

“Kalau kamu terus menggali, bukan cuma nama keluarga Sanjaya yang hancur.”

Mirza menatap tajam.

“Orang-orang yang menyakiti Rena… apakah mereka masih hidup nyaman sampai sekarang?”

Ardi tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum samar.

Diamnya jauh lebih menakutkan daripada pengakuan.

Sejak hari itu Mirza diam-diam mengumpulkan semua bukti.

Ia mempekerjakan penyelidik lain tanpa sepengetahuan keluarga.

Sementara itu, hubungan Mirza dan Rena perlahan berubah.

Mereka belum bisa disebut sebagai pasangan.

Namun Rena tidak lagi menghindar setiap kali Mirza berada di dekatnya.

Suatu malam, ketika hujan turun deras, listrik rumah sempat padam.

Rena yang sedang membaca di ruang keluarga tampak terkejut mendengar suara petir.

Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Mirza tidak menyentuhnya.

Ia hanya meletakkan senter di atas meja, lalu mundur.

“Aku di sini.”

Sesederhana itu.

Rena memandangnya cukup lama.

Lalu untuk pertama kalinya, ia mengangkat kedua tangannya.

Dengan bahasa isyarat yang pelan, ia berkata,

“Terima kasih… karena tidak memaksaku.”

Mirza tersenyum tipis.

Ia akhirnya mengerti.

Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta.

Kepercayaan hanya bisa diperoleh sedikit demi sedikit.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Keesokan paginya, Eko menelepon dengan suara panik.

“Tuan! Ada masalah besar!”

“Apa?”

“Orang yang dulu menjadi pengasuh Nona Rena…”

Mirza langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Beliau mengalami kecelakaan dini hari tadi.”

Jantung Mirza berdegup keras.

“Beliau sempat sadar beberapa menit sebelum dibawa ke ruang operasi.”

“Lalu?”

“Eko menelan ludah.”

“Beliau meninggalkan satu pesan.”

“Apa pesannya?”

“Beliau bilang… pelaku utama yang menghancurkan hidup Nona Rena bukan hanya anak-anak sekolah itu.”

Mirza menggenggam ponselnya erat.

“Masih ada seseorang di belakang mereka.”

“Siapa?”

Suara Eko bergetar.

“Beliau hanya sempat menyebut satu nama sebelum kehilangan kesadaran.”

Mirza menahan napas.

“Nama itu adalah Sanjaya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang