Pria berhoodie itu terhuyung sambil memegangi kepalanya. Motor Ellena nyaris terlepas dari tangannya, tetapi ia segera menahan stang agar tidak jatuh.
“Aduh! Sakit, tahu!” serunya sambil membalikkan badan.
Ellena yang sudah bersiap mengambil sandal satunya lagi mendadak membeku. Wajah pria itu terlihat jelas ketika tudung kepalanya tersingkap.
Ia bukan pencuri.
Pria itu masih muda, mungkin sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya tegas dengan rambut sedikit berantakan dan sepasang mata yang menatap Ellena dengan campuran kesal dan heran.

“Kamu siapa?” tanya Ellena dengan napas tersengal. “Kenapa dorong motor saya?”
“Sebelum tanya siapa saya, bisa nggak berhenti lempar sandal sembarangan?” pria itu membalas sambil mengusap sisi kepalanya. “Untung bukan batu.”
Ellena masih memasang wajah curiga. “Kalau bukan pencuri, kenapa berpakaian seperti itu dan keliling rumah orang sebelum subuh?”
Pria itu menatap pakaiannya sendiri, lalu mendengus. “Memangnya orang pakai hoodie otomatis maling?”
“Gerak-gerik kamu mencurigakan.”
“Dan kamu lebih mencurigakan. Tinggal di rumah orang, bawa bahan makanan dari rumah belakang, lalu teriak-teriak seperti pemilik kompleks.”
Ellena tercekat. “Kamu mengawasi saya?”
Pria itu belum sempat menjawab ketika suara langkah tergesa terdengar dari arah rumah utama. Bi Jamilah datang bersama seorang petugas keamanan.
“Ada apa, Neng?” tanya Bi Jamilah panik.
“Itu, Bi! Orang ini mau bawa motor saya.”
Petugas keamanan yang datang langsung berhenti. Bukannya menangkap pria tersebut, ia justru membungkuk sopan.
“Selamat pagi, Pak Arga. Maaf, saya tidak tahu Bapak sudah datang.”
Ellena menoleh cepat. “Pak Arga?”
Bi Jamilah memejamkan mata sesaat, seolah baru menyadari bencana kecil yang terjadi di hadapannya.
“Neng Ellena,” katanya perlahan, “beliau putra Bu Margaret.”
Wajah Ellena langsung memucat. Tangannya yang masih menggenggam sebelah sandal terasa kaku.
Arga menatap sandal itu, lalu menatap Ellena lagi. “Jadi, kamu tamu yang dibawa Ibu tadi malam?”
Ellena menelan ludah. “Saya benar-benar tidak tahu.”
“Kelihatan.”
“Saya lihat Anda mendorong motor saya.”
“Motor itu menghalangi pintu garasi. Saya mau memindahkannya beberapa meter supaya mobil bisa keluar.”
Ellena menundukkan wajah. “Maaf.”
Arga mengusap kepalanya sekali lagi. “Permintaan maaf kamu cukup unik.”
Bi Jamilah buru-buru mengambil sandal dari tangan Ellena. “Sudah, ayo masuk dulu. Udara dingin. Nanti masalahnya dibicarakan baik-baik.”
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, sebuah mobil hitam memasuki halaman. Bu Margaret turun dengan pakaian olahraga, ditemani seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun.
“Ada keributan apa?” tanyanya.
Bi Jamilah hendak menjelaskan, tetapi Arga mendahuluinya.
“Tamu Ibu mengira saya maling, lalu melempar kepala saya dengan sandal.”
Bu Margaret menatap Ellena yang berdiri tanpa alas kaki, lalu menatap Arga yang masih memegang kepala. Bukannya marah, ia justru tertawa.
“Bagus,” katanya santai. “Sekali-kali kamu harus tahu rasanya disambut orang dengan jujur.”
“Ibu serius?”
“Bukankah kamu memang sering datang diam-diam seperti pencuri?”
Arga menghela napas panjang. “Saya cuma ingin mengecek rumah tanpa membuat semua orang ribut.”
Ellena semakin merasa tidak enak. “Bu, saya sungguh minta maaf. Saya pikir dia benar-benar mau mencuri motor.”
Bu Margaret menghampiri Ellena dan menepuk bahunya. “Tidak apa-apa. Setidaknya kamu berani menjaga barangmu sendiri.”
Arga melirik ibunya. “Ibu membela orang yang baru saja melempar saya?”
“Karena kamu memang pantas dicurigai.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Ellena hampir tertawa. Namun ia cepat menahan diri ketika Arga menatapnya.
Sarapan pagi berlangsung canggung. Ellena membantu Bi Jamilah menyajikan makanan sambil berusaha menghindari tatapan Arga. Pria itu duduk di ujung meja, sesekali menyentuh sisi kepalanya seperti sengaja mengingatkan siapa penyebab sakitnya.
Bu Margaret membuka pembicaraan.
“Arga baru kembali dari Surabaya. Dia akan tinggal di sini beberapa minggu.”
“Karena proyek?” tanya perempuan yang datang bersama Bu Margaret.
“Bukan cuma proyek,” jawab Arga. “Ada urusan hukum yang harus saya selesaikan.”
Ellena tidak terlalu memperhatikan sampai Arga meletakkan sebuah map cokelat di atas meja. Di sudut map itu tertulis nama sebuah kantor notaris yang sangat dikenalnya.
Notaris Hendra Wijaya.
Nama itu adalah nama notaris yang dulu mengurus rumah peninggalan orang tua Ellena.
Sendok di tangan Ellena terlepas dan jatuh ke piring.
Semua mata menoleh kepadanya.
“Kamu kenal nama itu?” tanya Arga.
Ellena ragu sesaat. “Notaris itu yang mengurus surat rumah orang tua saya.”
Arga langsung menegakkan tubuh. “Rumah di Jalan Cempaka?”
Ellena menatapnya kaget. “Bagaimana Anda tahu?”
Bu Margaret dan Arga saling pandang.
“Ibu,” kata Arga pelan, “jadi dia Ellena?”
Bu Margaret mengangguk.
Ellena semakin bingung. “Ada apa sebenarnya?”
Arga membuka map tersebut. Ia mengeluarkan beberapa salinan dokumen, foto, dan lembar transaksi bank.
“Dua bulan lalu,” katanya, “kantor saya menerima laporan tentang pemalsuan akta kepemilikan rumah di Jalan Cempaka. Rumah itu awalnya tercatat atas nama pasangan Rendra dan Mila Pranoto.”
Ellena merasa tenggorokannya mengering. “Itu nama orang tua saya.”
“Dokumen asli menunjukkan bahwa setelah keduanya meninggal, rumah tersebut diwariskan sepenuhnya kepada anak tunggal mereka, Ellena Pranoto.”
“Tapi tante saya bilang rumah itu sudah dialihkan atas namanya sebelum Mama meninggal.”
“Itu tidak benar.”
Kata-kata itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi.
Arga menunjukkan lembar hasil pemeriksaan. “Tanda tangan ibumu dalam surat pengalihan dibuat tiga bulan setelah beliau meninggal.”
Ellena menatap dokumen itu dengan tangan gemetar.
“Tidak mungkin,” bisiknya. “Tante menunjukkan surat lengkap dengan cap notaris.”
“Capnya dipalsukan. Nomor akta juga milik transaksi lain.”
Air mata Ellena mulai menggenang. Selama ini ia menerima pengusiran itu karena percaya tidak memiliki bukti. Ia bahkan sempat mengira orang tuanya memang tidak menginginkannya memiliki rumah tersebut.
“Siapa yang membuat laporan?” tanyanya.
Arga tidak langsung menjawab.
Bu Margaret menatap Ellena dengan lembut. “Ayahmu.”
Ellena terdiam.
“Ayah saya sudah meninggal delapan tahun lalu.”
“Pria yang meninggal delapan tahun lalu bukan ayah kandungmu,” kata Bu Margaret perlahan.
Wajah Ellena kehilangan warna.
Arga mengeluarkan sebuah foto lama. Di dalamnya terlihat Bu Margaret bersama seorang pria muda yang menggendong bayi. Di belakang foto tertulis sebuah nama.
Surya Mahendra.
Ellena memegang meja agar tidak jatuh.
“Siapa dia?”
“Adik saya,” jawab Bu Margaret. “Ayah kandungmu.”
Udara seperti berhenti bergerak.
Bu Margaret kemudian menceritakan bahwa bertahun-tahun lalu, Surya menjalin hubungan dengan Mila, ibu Ellena. Namun keluarga besar mereka menolak karena perbedaan status sosial. Ketika Mila hamil, Surya dikirim ke luar negeri. Surat-suratnya tidak pernah sampai karena disembunyikan keluarga. Mila akhirnya menikah dengan Rendra, pria yang bersedia menerima dan membesarkan Ellena seperti anak sendiri.
“Surya baru mengetahui keberadaanmu beberapa tahun lalu,” lanjut Bu Margaret. “Namun saat dia mencoba mencarimu, dia mengalami kecelakaan. Sebelum meninggal, dia menyerahkan semua dokumen kepada saya.”
Air mata Ellena jatuh tanpa suara. Hidupnya yang ia kira sudah hancur ternyata masih menyimpan kebenaran lain yang lebih besar.
“Kenapa Ibu baru mencari saya sekarang?”
“Saya mencarimu,” kata Bu Margaret. “Tapi tante dan suamimu selalu mengatakan kamu tinggal di luar negeri. Beberapa bulan lalu, saya menemukan namamu dalam sengketa rumah itu.”
Arga menambahkan, “Kami juga menemukan aliran dana dari tante kamu kepada Notaris Hendra dan kepada Devin.”
Ellena menatapnya. “Devin?”
“Suamimu terlibat.”
Dada Ellena seperti ditusuk.
“Dia membantu meyakinkan kamu bahwa rumah itu bukan milikmu. Sebagai imbalan, tantenmu memberinya uang.”
Semua pengkhianatan itu tiba-tiba tersusun dengan jelas. Devin bukan hanya meninggalkannya untuk Luna. Ia juga ikut merebut rumah keluarganya.
Ellena menutup wajah dengan kedua tangan.
Bu Margaret duduk di sampingnya. “Kamu tidak perlu menghadapi mereka sendirian lagi.”
Siang itu, dengan pendampingan Arga, Ellena pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Mereka menyerahkan dokumen pemalsuan, rekaman transaksi, dan salinan komunikasi antara Devin, Luna, serta tante Ellena.
Namun kabar penyelidikan itu bocor lebih cepat dari perkiraan.
Sore harinya, Luna datang ke rumah Bu Margaret bersama Devin. Mereka berteriak di depan gerbang hingga petugas keamanan mempersilakan mereka masuk.
Begitu melihat Ellena, Luna langsung menunjuk wajahnya.
“Jadi ini rumah orang yang kamu tipu?” katanya sinis. “Aku tahu kamu cuma numpang.”
Ellena berdiri tenang. “Saya memang tinggal sementara di sini.”
Luna tertawa. “Tuh, kan! Kamu tetap saja tidak punya apa-apa.”
“Rumah ini milik keluarga ayah kandung saya.”
Senyum Luna perlahan menghilang.
Devin menatap Bu Margaret, lalu Arga. Wajahnya berubah tegang ketika melihat map dokumen di atas meja.
“Apa maksud semua ini?” tanyanya.
Arga maju selangkah. “Maksudnya, polisi sudah menerima bukti keterlibatan kalian dalam pemalsuan akta rumah.”
Luna menoleh pada Devin. “Mas, dia ngomong apa?”
Devin tidak menjawab.
Ellena menatap mantan suaminya dengan mata yang tidak lagi dipenuhi rasa takut. “Kamu menjual kepercayaan saya demi uang, ya?”
“Dengar, Ellena. Aku bisa jelaskan.”
“Berapa harga saya di mata kamu?”
Devin mendekat. “Aku terpaksa. Tante kamu mengancam akan membongkar rahasia keluarga.”
“Rahasia bahwa kamu berselingkuh dengan Luna?”
Luna menyela. “Jangan salahkan Mas Devin. Dia memilih aku karena aku lebih pantas.”
Arga menyerahkan satu lembar dokumen kepada Luna. “Kamu sebaiknya membaca ini.”
Luna merampasnya. Setelah beberapa detik, wajahnya langsung pucat.
Itu adalah hasil pemeriksaan rekening. Uang yang dijanjikan tante Ellena kepada Devin ternyata sudah dipindahkan seluruhnya ke rekening lain atas nama seorang perempuan yang tidak mereka kenal.
“Mas,” suara Luna gemetar, “uangnya ke mana?”
Devin tidak mampu menjawab.
Arga tersenyum tipis. “Sepertinya Devin juga menipu kamu. Dia sudah menyiapkan tempat tinggal bersama perempuan lain di Bandung.”
Luna menatap suaminya dengan mata membelalak. “Perempuan lain?”
“Luna, dengarkan dulu.”
Tanpa peringatan, Luna menampar Devin keras. “Kamu bilang cuma aku!”
Devin memegang pipinya. “Kamu juga merebut aku dari Ellena. Jangan bertingkah seperti korban.”
Ucapan itu menghancurkan sisa kebanggaan Luna. Ia menangis histeris, sementara Devin berusaha keluar dari rumah.
Namun dua petugas polisi sudah menunggu di depan pintu.
Devin berhenti.
Tak lama kemudian, tante Ellena juga ditangkap di rumah warisan yang selama ini diakuinya. Notaris Hendra diamankan pada hari yang sama.
Beberapa minggu berikutnya terasa seperti perjalanan panjang bagi Ellena. Rumah itu akhirnya dikembalikan secara sah kepadanya. Namun ketika ia berdiri di ruang tamu tempat semua kenangan masa kecil tersimpan, ia tidak merasakan kemenangan seperti yang dibayangkannya.
Ia hanya merasa lelah.
Bu Margaret berdiri di sampingnya. “Kamu mau tinggal di sini lagi?”
Ellena menggeleng pelan. “Rumah ini terlalu penuh luka.”
“Lalu akan kamu jual?”
“Tidak.”
Beberapa bulan kemudian, rumah itu berubah menjadi tempat singgah bagi perempuan yang kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan, perceraian, atau konflik keluarga. Ellena menamainya Rumah Mila, menggunakan nama ibunya.
Di hari peresmian, Bi Jamilah berdiri di dapur sambil menangis bahagia. Bu Margaret menyambut para tamu. Arga sibuk memeriksa kabel pengeras suara.
Ketika Ellena berjalan melewati taman, Arga menghampirinya sambil membawa sebuah sandal baru.
“Apa ini?” tanya Ellena.
“Perlindungan diri.”
Ellena tertawa. “Masih sakit hati karena kejadian waktu itu?”
“Saya cuma ingin memastikan kalau nanti kamu salah mengira orang lagi, setidaknya pakai sandal yang lebih ringan.”
Ellena menerima sandal itu sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak dipakai untuk membuktikan apa pun kepada Luna, Devin, atau siapa pun.
Ia tersenyum karena akhirnya menyadari satu hal.
Rumah bukan sekadar bangunan yang diwariskan. Rumah adalah tempat seseorang kembali merasa berharga. Dan ketika semua yang ia miliki pernah direnggut, Ellena memilih membangun tempat pulang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mereka yang pernah dibuat merasa tidak memiliki siapa-siapa.
