MAHASISWA BARU BONGKAR KELAKUAN MANJA ANGGOTA ASRAMA YANG SUKA PURA-PURA SAKIT! DRAMA MANIPULATIF DI KAMAR KOST AKHIRNYA TERBONGKAR DI DEPAN DOSEN! 💥

Hari saat Laras pindah ke kamar asrama, Tiara sedang memegang dadanya sambil menangis terisak.

Saya baru saja menyeduh satu mangkuk mi instan kuah panas.

Tiara duduk di tepi ranjang dengan wajah dipucatkan.

“Nabila… dari kecil fisiku tidak kuat, aku tidak bisa mencium aroma mi seperti ini.”

“Bisa tolong kamu buang mi itu sekarang?”

Tangan saya terhenti di udara.

Tepat saat itu, Tari datang membawa berkas tugas kuliah dengan dahi berkerut.

“Nabila, kamu lihat sendiri Tiara sudah sesak napas begitu.”

“Cuma semangkuk mi instan saja, mengalah sedikit kenapa sih?”

Saya memegang mangkuk mi tersebut dan bersiap membawanya ke kamar mandi untuk dibuang.

Tiba-tiba dari arah pintu, sebuah suara tegas menghentikan langkah saya.

“Tunggu sebentar.”

Laras berdiri di ambang pintu sambil memegang gagang koper besarnya.

Dia mengenakan kaos hitam, rambut dikuncir ekor kuda tinggi, dan tatapan matanya sangat tajam.

Laras menatap saya, lalu beralih menatap Tiara.

“Tidak bisa mencium aroma mi?”

Tiara mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.

Laras langsung mengeluarkan ponsel pintar dari saku celananya.

“Kalau begitu cepat panggil ambulans atau ke IGD sekarang.”

“Cuma cium bau mi saja bisa bikin penyakit kronis kumat, ini masalah serius.”

Tubuh Tiara seketika kaku.

“A-aku… aku tidak bermaksud begitu…”

Laras menaikkan alisnya dengan nada makin mendesak.

“Lalu maksudmu apa?”

“Bicara yang jelas, jangan pakai kode-kodean.”

Air mata masih menggenang di sudut mata Tiara.

Sementara itu jari Laras sudah bersiap menekan nomor darurat di layar ponselnya.

Wajah Tari berubah keruh dan mencoba menghalangi Laras.

“Anak baru, tidak usah membesar-besarkan masalah!”

Laras menatap Tari tanpa rasa takut.

“Bukannya dia sendiri yang bilang kalau cium bau mi bikin penyakitnya kumat?”

“Orang sakit parah kok malah didiamkan, bukannya dibawa ke rumah sakit?”

Tari makin berkerut dahi.

“Tiara itu memang fisiknya sangat sensitif dari dulu.”

“Kamu anak baru jadi belum paham situasi di sini.”

Laras mengangguk-angguk paham.

“Oke, berarti kamu yang paling paham.”

“Jadi sebenarnya dia ini alergi sama mi instan…”

“…atau cuma alergi melihat Nabila makan?”

Seluruh ruangan kamar asrama mendadak hening total.

Saya masih berdiri memegang mangkuk mi instan kuah panas.

Uap hangat membumbung tinggi, membuat mata saya terasa agak perih.

Tiara memegang dadanya erat-erat, suaranya makin kecil.

“Aku tidak ada niat melarang Nabila makan.”

“Tapi dada aku benar-benar terasa sesak.”

Tari langsung menatap saya dengan nada menyalahkan.

“Nabila! Buang mi itu sekarang!”

“Kamu tidak kasihan lihat kondisi Tiara?!”

Saya menunduk menatap mangkuk mi di tangan.

Hari ini kelompok tugas kuliah saya berdiskusi sampai jam sepuluh malam.

Saat saya kembali ke asrama, kantin kampus sudah tutup.

Ini adalah satu-satunya makanan untuk makan malam saya.

Sebelumnya pun selalu seperti ini.

Saat Tiara bilang tidak kuat mencium bau durian, saya membuang kue durian yang baru saya beli.

Saat Tiara bilang mual melihat seblak pedas, saya menyimpan kembali makanan saya.

Saat Tiara bilang gula darahnya turun, saya memberikan susu milik saya.

Saya sudah terlalu sering mengalah.

Begitu seringnya hingga setiap kali Tiara membuka mulut, tubuh saya refleks menurut.

Saat saya hendak melangkah menuju kamar mandi, Laras menahan pergelangan tangan saya.

“Makan saja mi kamu.”

Laras lalu menatap Tiara dengan dingin.

“Kalau tidak tahan baunya, silakan keluar cari udara segar.”

“Kamar asrama ini bukan milik keluargamu.”

Mata Tiara makin memerah.

“Aku tidak berniat mengusir Nabila.”

“Tapi aku benar-benar tidak enak badan.”

Laras melangkah cepat membuka jendela.

Angin malam masuk memenuhi ruangan.

“Nah, ventilasinya sudah terbuka.”

“Kalau masih sesak, pergi ke klinik kampus.”

“Jangan berakting seolah semangkuk mi bisa merenggut nyawamu.”

Wajah Tari memerah.

“Bisa tidak bicara yang sopan?”

Laras berbalik.

“Bisa tidak temanmu berhenti membuat drama?”

Tangisan Tiara pecah.

Tari memeluknya sambil terus menyalahkan saya.

Namun Laras tetap tenang.

“Kalau dia menangis, memangnya Nabila yang memutar keran air matanya?”

Tari terdiam.

Laras memperkenalkan diri sebagai mahasiswa pindahan dan meminta saya menghabiskan mi saya.

Saya menurut.

Beberapa menit kemudian Tari keluar kamar sambil berkata besok akan melapor kepada dosen pembimbing asrama.

Malam itu grup WhatsApp angkatan langsung ramai.

Tiara menulis bahwa dirinya ketakutan karena penghuni baru bersikap kasar.

Tari menandai nama saya dan meminta saya lebih peduli terhadap kondisi emosional Tiara.

Saya hanya menatap layar tanpa tahu harus berkata apa.

Laras yang sedang berbaring di ranjang atas berkata pelan.

“Balas.”

“Balas apa?”

“Ketik saja. Semangkuk mi tidak bisa membunuh orang. Berhentilah mengarang cerita.”

Saya menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya selama tinggal di asrama, saya tidak memilih diam.

Saya membalas di grup.

“Aku tidak bermaksud menyudutkan siapa pun. Tapi benar, aku hanya ingin makan malam setelah kantin tutup. Laras tidak pernah mengatakan Tiara berpura-pura mau mati. Dia hanya menyarankan kalau memang sesak harus segera ke rumah sakit.”

Grup mendadak sepi.

Beberapa menit kemudian, Ketua Angkatan mengirim pesan.

“Besok pagi semua penghuni kamar 502 diminta datang ke ruang dosen pembimbing asrama.”

Saya hampir tidak bisa tidur malam itu.

Sebaliknya, Laras tidur sangat nyenyak.

Keesokan paginya kami duduk berhadapan dengan Bu Ratih, dosen pembimbing asrama.

Tiara datang dengan wajah pucat, bahkan memakai syal meski cuaca panas.

“Bu…” katanya lirih. “Saya merasa tidak aman tinggal satu kamar dengan Laras.”

Bu Ratih menoleh kepada Laras.

“Kamu ingin menjelaskan?”

Laras hanya mengeluarkan ponselnya.

“Sebelum menjelaskan, saya ingin bertanya.”

“Kepada siapa?”

“Kepada Tiara.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Katamu aroma mi instan membuatmu sesak napas.”

“Iya.”

“Apakah dokter pernah mendiagnosis alergi terhadap aroma mi instan?”

Tiara terdiam.

“Jawab saja.”

“Tidak… tapi tubuhku memang sensitif.”

Laras mengangguk.

“Lalu kenapa tiga hari lalu kamu mengunggah foto makan mi pedas Korea di Instagram Story?”

Tiara langsung membeku.

Saya ikut terkejut.

Laras membuka tangkapan layar.

Di foto itu Tiara sedang tersenyum lebar sambil memegang semangkuk mi instan lengkap dengan tulisan, “Midnight craving.”

Bu Ratih mengernyit.

“Itu benar akunmu?”

Tiara gugup.

“Itu… itu waktu aku sedang sehat.”

Laras kembali membuka layar.

“Bukankah tadi kamu bilang sejak kecil tidak kuat mencium aromanya?”

Wajah Tiara mulai pucat.

Belum selesai.

Laras menunjukkan foto lain.

Foto itu diambil saat acara orientasi mahasiswa.

Tiara sedang makan mi instan bersama teman-teman.

Tanggalnya baru dua minggu lalu.

Ruangan hening.

Tari mencoba menyela.

“Mungkin waktu itu kondisinya berbeda.”

Laras tersenyum tipis.

“Oke.”

“Kalau begitu saya punya bukti lain.”

Dia memutar rekaman suara.

Suara Tiara terdengar sangat jelas.

“Kalau Nabila terus mengalah, kita gampang ngatur dia.”

“Itu anak terlalu baik.”

Suara kedua milik Tari.

“Makanya jangan kasih dia kesempatan berani.”

Jantung saya seperti berhenti berdetak.

Saya mengenali suara mereka.

Rekaman itu ternyata terekam tanpa sengaja ketika Laras sedang mengatur lemari malam sebelumnya.

Semua orang di ruangan membisu.

Bu Ratih menatap Tiara dan Tari bergantian.

“Apa ini benar?”

Tari buru-buru berdiri.

“Itu hanya bercanda.”

Laras langsung menyahut.

“Kalau bercanda, kenapa korbannya selalu orang yang sama?”

Saya menunduk.

Tiba-tiba Bu Ratih bertanya kepada saya.

“Nabila, selama ini memang sering seperti itu?”

Saya menggigit bibir.

Selama bertahun-tahun saya selalu takut dianggap pembuat masalah.

Namun kali ini saya melihat Laras mengangguk pelan seolah berkata saya tidak sendirian.

Saya akhirnya menceritakan semuanya.

Tentang makanan yang selalu saya buang.

Tentang susu yang saya berikan.

Tentang tugas kelompok yang sering saya kerjakan sendiri karena Tiara mengaku sakit.

Tentang uang yang beberapa kali saya pinjamkan tetapi tidak pernah kembali.

Tentang bagaimana setiap kali saya menolak, Tiara langsung menangis dan Tari membuat saya merasa bersalah.

Bu Ratih menarik napas panjang.

“Saya akan memeriksa semua ini.”

Namun kejutan belum selesai.

Bu Ratih memanggil pengurus asrama.

Pengurus membawa buku laporan kesehatan.

Ternyata selama satu semester terakhir, Tiara hampir setiap minggu meminta surat izin sakit.

Anehnya, pada jam yang sama ia beberapa kali tertangkap kamera CCTV keluar asrama untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama teman-temannya.

Semua data itu tersimpan rapi.

Tiara akhirnya menangis.

Kali ini bukan tangisan yang dibuat-buat.

“Aku cuma… takut tidak diperhatikan.”

“Ayah dan ibuku selalu sibuk.”

“Kalau aku sakit, baru mereka menelepon.”

Ruangan mendadak sunyi.

Untuk pertama kalinya saya melihat sisi lain dirinya.

Ia memang manipulatif.

Namun di balik semua itu ada seseorang yang tumbuh dengan cara yang salah untuk mencari perhatian.

Bu Ratih berkata lembut.

“Trauma bukan alasan menyakiti orang lain.”

“Kalau kamu butuh bantuan, kampus punya layanan konseling.”

“Tapi memanfaatkan rasa iba temanmu adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.”

Hari itu keputusan akhirnya keluar.

Tiara diwajibkan mengikuti konseling rutin.

Tari mendapat surat peringatan karena terbukti ikut melakukan intimidasi psikologis terhadap teman sekamar.

Keduanya dipindahkan ke kamar berbeda.

Saya tetap tinggal bersama Laras.

Malam pertama setelah semuanya selesai terasa sangat berbeda.

Saya kembali menyeduh mi instan.

Aromanya memenuhi kamar.

Saya refleks menoleh ke arah pintu, seolah masih takut ada yang melarang.

Laras tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Aku masih terbiasa minta izin.”

Laras menggeleng.

“Mulai sekarang, jangan minta izin untuk sekadar hidup normal.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi entah kenapa membuat mata saya panas.

Beberapa bulan kemudian, Tiara datang menemui saya di perpustakaan.

Wajahnya jauh lebih tenang.

“Aku mau minta maaf.”

“Aku sudah mulai konseling.”

“Aku baru sadar selama ini aku selalu memaksa orang lain mengorbankan dirinya demi membuatku merasa penting.”

Saya tersenyum.

“Mudah-mudahan kita sama-sama belajar.”

Ia mengangguk sebelum pergi.

Saya melihat langkahnya perlahan menghilang di balik rak-rak buku.

Laras yang sejak tadi membaca novel menutup bukunya.

“Maaf itu penting.”

“Tapi yang lebih penting adalah kamu belajar menghargai dirimu sendiri.”

Saya tersenyum sambil mengangguk.

Dulu saya mengira menjadi orang baik berarti selalu mengalah.

Namun ternyata, menjadi orang baik bukan berarti membiarkan diri sendiri terus dimanfaatkan.

Kadang-kadang, satu orang yang berani berkata, “Tidak,” mampu membebaskan orang lain dari kebiasaan yang selama ini mereka anggap wajar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang