“Kamu harus segera menceraikan istri kamu, Mas. Setelah itu, kamu harus menikahi aku.”
Kalimat Mira menggantung di ruang kerja Juna yang sunyi. Di luar jendela, hujan mengguyur Jakarta sejak sore, membuat lampu-lampu gedung tampak kabur di balik kaca. Namun kepala Juna jauh lebih berkabut daripada langit malam itu.
Ia menatap Mira yang masih duduk di pangkuannya. Wanita itu tersenyum seolah perceraian hanyalah urusan sederhana, seperti membatalkan rapat atau mengganti jadwal makan malam.
“Menikah?” ulang Juna pelan.

Senyum Mira sedikit kaku. “Iya. Bukannya selama ini kamu bilang kamu nyaman sama aku?”
“Aku memang nyaman.”
“Terus apa lagi yang kamu tunggu?”
Juna tak segera menjawab. Bayangan Nindy muncul di benaknya. Bukan Nindy yang belakangan sering pulang terlambat atau Nindy yang tertangkap kamera sedang tertawa bersama Davin, melainkan Nindy lima tahun lalu, berdiri di pelaminan dengan mata berkaca-kaca dan tangan gemetar saat mengucapkan janji pernikahan.
Aneh, di tengah kemarahan dan kecemburuan yang terus menggerogotinya, kenangan itu masih terasa hangat.
Mira turun dari pangkuannya, lalu merapikan rok. “Jangan bilang kamu masih ragu, Mas.”
“Aku cuma butuh waktu.”
“Waktu?” Mira tertawa kecil. “Nindy udah mempermalukan kamu berbulan-bulan. Mau sampai kapan kamu membiarkan dia main belakang?”
Juna bangkit dari kursi. “Aku akan bicara sama dia malam ini.”
Mira mendekat, menggenggam lengannya. “Jangan sampai dia memutarbalikkan keadaan lagi.”
Juna menatap tangan Mira yang mencengkeramnya. Untuk pertama kalinya, sentuhan itu tidak terasa menenangkan. Justru terasa seperti ikatan yang terlalu kuat.
“Aku tahu apa yang harus kulakukan,” katanya.
Ia mengambil jas, lalu meninggalkan kantor tanpa menoleh lagi.
Malam sudah hampir pukul sepuluh saat Juna tiba di rumah. Lampu ruang tamu masih menyala. Nindy duduk di sofa dengan laptop terbuka, tetapi wajahnya terlihat lelah. Ada dua cangkir teh di meja. Satu sudah dingin.
“Kamu baru pulang?” tanya Nindy.
Juna menutup pintu lebih keras dari biasanya. “Kamu menungguku?”
“Aku memang mau bicara.”
“Kebetulan. Aku juga.”
Nindy menutup laptop. “Duduk dulu.”
“Aku nggak mau duduk.”
Nada suara Juna membuat Nindy terdiam. Pria itu mengeluarkan ponselnya, membuka foto yang tadi dikirim Mira, lalu meletakkannya di atas meja.
“Apa ini?”
Nindy menatap foto tersebut. Dalam gambar itu, ia dan Davin terlihat berdiri berdekatan di sebuah restoran. Davin sedang membungkuk ke arahnya, sementara Nindy tertawa. Sudut pengambilan gambar membuat jarak mereka tampak sangat intim.
“Ini waktu makan malam dengan klien dari Surabaya,” jawab Nindy. “Ada lima orang di meja itu.”
“Tapi yang kelihatan cuma kamu dan Davin.”
“Karena fotonya dipotong.”
Juna tertawa hambar. “Kamu selalu punya alasan.”
“Aku bukan mencari alasan. Aku menjelaskan.”
“Kamu kira aku bodoh?”
Nindy menatapnya lama. Wajahnya perlahan berubah, dari lelah menjadi kecewa. “Kalau kamu sudah memutuskan aku bersalah, kenapa masih bertanya?”
“Karena aku ingin dengar kamu jujur sekali saja!”
“Aku selalu jujur!”
Suara Nindy pecah. Ia berdiri, lalu mengambil napas panjang seolah sedang berusaha mengendalikan diri.
“Aku dan Davin memang pernah punya masa lalu. Aku nggak pernah menyembunyikan itu. Tapi hubungan itu selesai jauh sebelum aku menikah sama kamu. Sekarang dia partner kerja. Itu saja.”
“Partner kerja yang selalu mengantarmu pulang?”
“Karena mobilku pernah mogok dan kamu tidak menjawab telepon.”
“Partner kerja yang memegang tanganmu di lobi hotel?”
Nindy memejamkan mata sebentar. “Aku hampir jatuh karena sepatu hakku patah.”
“Partner kerja yang makan malam berdua sama kamu?”
“Kami tidak berdua!”
Juna mengambil ponselnya lagi. “Aku capek.”
Nindy memandangnya, seolah sudah tahu kalimat apa yang akan keluar selanjutnya.
“Aku mau kita pisah.”
Hening menyelimuti ruangan.
Suara hujan di luar mendadak terdengar jauh lebih keras.
Nindy tidak menangis. Ia hanya menatap Juna dengan wajah pucat, lalu bertanya pelan, “Karena Davin?”
“Karena aku nggak bisa percaya lagi sama kamu.”
“Benarkah?” Nindy tersenyum tipis, pahit. “Atau karena sekarang kamu sudah punya Mira?”
Jantung Juna berdegup keras. “Jangan bawa-bawa dia.”
“Kenapa? Kamu pikir aku nggak tahu?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu kalian sering makan malam berdua. Aku tahu dia beberapa kali masuk ke apartemen yang disewa perusahaan untuk tamu bisnis. Aku tahu kamu memberinya gelang saat ulang tahunnya.”
Juna tercekat. “Kamu mengikutiku?”
“Aku nggak perlu mengikuti. Beberapa orang di kantor masih punya hati nurani.”
Juna merasakan panas menjalar ke wajahnya. “Jadi kamu juga memata-mataiku?”
Nindy menggeleng perlahan. “Tidak. Aku hanya berusaha memahami kenapa suamiku tiba-tiba berubah, kenapa setiap pulang dia selalu mencari kesalahanku, dan kenapa semua hal tentang Davin selalu sampai ke telingamu dalam versi yang paling buruk.”
Juna menelan ludah. “Apa maksudmu?”
Nindy berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja.
“Aku awalnya juga tidak yakin. Tapi tiga minggu lalu, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.”
Juna membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa lembar hasil cetak percakapan. Sebagian besar adalah pesan antara Mira dan seorang fotografer lepas bernama Riko.
Ambil foto dari sudut yang bikin mereka kelihatan dekat.
Jangan masukkan orang lain di meja.
Edit yang bagian tangan. Bikin seolah Davin sedang memegang tangannya.
Bayarannya aku transfer setelah Mas Juna lihat fotonya.
Juna membaca berulang kali. Jemarinya mulai dingin.
“Ini bisa dipalsukan,” katanya, tetapi suaranya kehilangan keyakinan.
“Aku juga berpikir begitu,” jawab Nindy. “Makanya aku nggak langsung menuduh siapa pun.”
Ia membuka laptop, lalu memutar sebuah rekaman suara.
Suara Mira terdengar jelas.
Aku cuma butuh satu atau dua foto lagi. Juna sudah hampir yakin buat menceraikan Nindy. Setelah itu semuanya akan lebih mudah.
Suara laki-laki menjawab, “Kalau ketahuan gimana?”
“Dia nggak akan tahu. Juna percaya sama aku. Yang penting, Nindy kelihatan seperti perempuan murahan.”
Rekaman berhenti.
Juna berdiri kaku. Wajahnya terasa mati rasa.
“Dari mana kamu dapat ini?” tanyanya.
“Riko yang mengirim. Dia takut karena Mira mulai mengancam tidak akan membayar. Dia juga tahu tindakannya bisa membahayakan orang lain.”
Juna menggeleng. “Tidak mungkin.”
Nindy tertawa lirih, kali ini dengan mata yang mulai basah. “Kamu lebih mudah percaya bahwa aku berselingkuh daripada percaya kalau kamu telah dimanipulasi.”
“Itu bukan maksudku.”
“Lalu apa?”
Juna tidak punya jawaban.
Nindy menutup laptop. “Aku mau bicara denganmu sejak minggu lalu. Tapi setiap kali aku mencoba, kamu selalu bilang sibuk. Atau mungkin kamu memang lebih nyaman mendengarkan Mira.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Menjelaskan apa? Bahwa kamu tidur dengan sekretarismu karena mengira aku berselingkuh?”
Juna membeku.
Nindy mengangguk pelan. “Jadi benar.”
“Nindy…”
“Jangan.”
Satu kata itu cukup menghentikan langkah Juna.
“Aku nggak pernah berselingkuh,” kata Nindy. “Tapi kamu menghukumku untuk sesuatu yang tidak kulakukan. Kamu membalas pengkhianatan yang hanya ada di kepalamu dengan pengkhianatan yang nyata.”
Juna merasakan dadanya sesak.
“Aku salah,” bisiknya.
“Kamu bukan hanya salah karena percaya pada Mira. Kamu salah karena tidak percaya padaku.”
Nindy mengambil sebuah koper kecil yang ternyata sudah diletakkan di dekat tangga. Juna baru menyadarinya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah Mama.”
“Jangan pergi.”
Nindy menatapnya lama. “Tadi kamu bilang mau berpisah.”
“Aku bilang karena aku marah.”
“Dan aku pergi karena aku akhirnya sadar, cinta saja nggak cukup kalau tidak ada rasa percaya.”
Nindy membawa kopernya menuju pintu. Juna mengejarnya dan memegang pergelangan tangannya, tetapi segera melepaskannya ketika melihat tatapan Nindy.
“Aku akan memperbaiki semuanya,” kata Juna.
“Mulai dengan memperbaiki dirimu sendiri.”
Pintu tertutup.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah mereka benar-benar terasa kosong.
Keesokan paginya, Juna tiba di kantor lebih awal. Mira belum datang. Ia memanggil kepala bagian teknologi informasi dan meminta salinan rekaman CCTV serta arsip surel perusahaan selama enam bulan terakhir. Posisi Juna sebagai direktur utama memberinya akses terhadap banyak hal, tetapi apa yang ditemukan justru membuatnya semakin mual.
Mira tidak hanya memanipulasi foto-foto Nindy. Ia juga beberapa kali menghapus undangan rapat yang dikirim Nindy ke alamat surel Juna, mengganti jadwal pertemuan, bahkan mengirim pesan dari nomor palsu yang seolah-olah berasal dari Davin.
Lebih buruk lagi, Mira ternyata telah mengakses dokumen keuangan perusahaan tanpa izin. Ada beberapa transfer mencurigakan ke rekening vendor fiktif.
Menjelang siang, Mira datang dengan senyum cerah.
“Mas, gimana? Kamu sudah bicara sama Nindy?”
Juna duduk di balik meja, menatapnya tanpa ekspresi.
“Sudah.”
Mira mendekat. “Terus?”
“Aku minta cerai.”
Mata Mira berbinar. “Serius?”
Juna mengangguk.
Mira tersenyum lebar, lalu memeluknya. “Aku tahu kamu akhirnya memilih aku.”
Juna tidak membalas pelukannya.
“Duduk,” katanya.
Mira mundur, sedikit bingung. “Kenapa?”
“Aku mau menunjukkan sesuatu.”
Juna memutar rekaman suara yang diberikan Nindy.
Wajah Mira seketika pucat.
“Itu bukan aku.”
Juna memutar rekaman kedua, lalu memperlihatkan salinan transfer kepada Riko dan bukti akses ilegal ke sistem perusahaan.
Mira mundur selangkah. “Mas, dengar dulu. Aku melakukan semua ini karena aku cinta sama kamu.”
“Cinta?”
“Aku tahu Nindy nggak pantas buat kamu.”
“Jadi kamu menghancurkan rumah tanggaku?”
“Aku cuma menunjukkan siapa yang lebih baik untukmu.”
Juna berdiri. “Kamu memfitnah istriku. Kamu membuatku menyakitinya. Kamu mencuri uang perusahaan. Dan kamu menyebutnya cinta?”
Mira mulai menangis. “Aku bisa jelaskan.”
“Polisi yang akan mendengarkan penjelasanmu.”
Mira menatap ke arah pintu. Dua petugas keamanan sudah berdiri di sana.
“Mas, jangan lakukan ini.”
“Kamu sudah dipecat. Bagian hukum juga sudah melaporkan penyalahgunaan dana dan akses ilegal yang kamu lakukan.”
Mira panik. Ia berlari mendekati Juna dan mencengkeram lengannya.
“Kamu juga salah! Kamu yang datang kepadaku. Kamu yang bilang kamu mau Nindy merasakan sakit yang sama!”
Juna menatapnya dengan wajah kelam. “Aku tahu.”
“Kalau begitu, kenapa cuma aku yang dihukum?”
Kalimat itu menghantam Juna tepat di dada.
Mira benar dalam satu hal. Ia memang bukan satu-satunya orang yang bersalah.
Setelah Mira dibawa keluar, Juna duduk sendirian selama berjam-jam. Ia bisa mengungkap semua kebohongan Mira, membersihkan nama Nindy, dan memperbaiki kekacauan perusahaan. Namun tidak ada bukti yang bisa menghapus apa yang sudah ia lakukan.
Selama dua minggu berikutnya, Juna berkali-kali menghubungi Nindy. Tidak ada balasan. Ia datang ke rumah ibu mertuanya, tetapi Nindy menolak bertemu.
Akhirnya, suatu sore, Davin datang ke kantor Juna.
Juna menatap mantan kekasih istrinya itu dengan dingin. “Mau apa?”
“Ngasih ini.”
Davin meletakkan sebuah map di meja.
“Apa?”
“Dokumen proyek yang dikerjakan Nindy. Proyek ini alasan kami sering bertemu.”
Juna membuka map tersebut. Di dalamnya ada rencana pembangunan pusat pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di Bekasi. Nama yayasan itu membuat Juna terdiam.
Yayasan Aruna.
Itu adalah nama anak yang pernah mereka rencanakan, sebelum Nindy mengalami keguguran tiga tahun lalu.
“Nindy mengerjakan ini diam-diam?” tanya Juna.
Davin mengangguk. “Dia mau memberikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kalian.”
Juna menutup mata. Napasnya terasa berat.
“Kenapa kamu membantunya?”
“Karena aku arsiteknya. Bukan karena kami punya hubungan.”
Davin berdiri. “Satu hal lagi. Nindy sebenarnya sudah tahu soal Mira sejak lama.”
Juna menatapnya cepat. “Apa?”
“Dia tahu sebelum semua foto itu muncul. Tapi dia tidak langsung meninggalkanmu karena dia berharap kamu akan berhenti sendiri dan jujur kepadanya.”
Juna merasa dunia di sekelilingnya runtuh.
“Kenapa dia tidak bilang?”
“Karena dia masih ingin percaya pada suaminya.”
Davin pergi, meninggalkan Juna dalam kesunyian.
Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Juna datang ke pusat pendidikan yang hampir selesai dibangun. Nindy berdiri di halaman, mengenakan kemeja putih sederhana, sedang berbicara dengan beberapa pekerja.
Ketika melihat Juna, ekspresinya berubah.
“Aku cuma mau bicara lima menit,” kata Juna.
Nindy memberi isyarat agar para pekerja melanjutkan pekerjaan.
“Apa lagi yang mau kamu jelaskan?”
“Nggak ada.”
Juna menyerahkan sebuah map.
Nindy membukanya. Di dalamnya terdapat dokumen pengalihan seluruh saham pribadi Juna di yayasan, juga surat pernyataan bahwa ia akan membiayai proyek itu tanpa mencampuri pengelolaannya.
“Aku nggak butuh ini,” kata Nindy.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena ini bukan cara untuk membelimu kembali. Ini tanggung jawabku atas sesuatu yang seharusnya menjadi impian kita.”
Nindy menatapnya tanpa bicara.
Juna mengambil napas panjang. “Aku sudah melaporkan semua tindakan Mira. Aku juga mengaku kepada dewan perusahaan tentang hubunganku dengannya. Aku mengundurkan diri sementara dari jabatan direktur.”
Mata Nindy sedikit membesar.
“Aku sedang menjalani konseling,” lanjut Juna. “Bukan supaya kamu mau kembali. Tapi karena aku akhirnya sadar, masalah terbesar bukan Mira. Masalah terbesarnya adalah aku yang memilih percaya pada ketakutanku sendiri.”
Nindy menunduk menatap map.
“Aku tidak berharap kamu memaafkan aku sekarang,” kata Juna. “Mungkin kamu tidak akan pernah memaafkan aku. Aku cuma ingin kamu tahu, kali ini aku berhenti mencari alasan.”
Untuk beberapa detik, hanya suara palu dan mesin pemotong kayu terdengar di kejauhan.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai,” kata Nindy akhirnya.
Juna memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk. “Aku akan menandatanganinya.”
Nindy tampak terkejut. “Kamu nggak akan menolak?”
“Aku pernah bilang cinta berarti memiliki. Sekarang aku tahu, kadang cinta berarti menerima akibat dari kesalahan sendiri.”
Nindy menatapnya lama. Ada kesedihan dalam matanya, tetapi juga ketenangan yang tidak pernah Juna lihat selama berbulan-bulan terakhir.
Juna berbalik hendak pergi.
“Jun.”
Ia berhenti.
Nindy berjalan mendekat, lalu menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
Malamnya, Juna membuka amplop itu di rumah yang masih sepi. Di dalamnya bukan surat gugatan cerai, melainkan sebuah foto lama mereka berdua di hari pernikahan. Di belakang foto itu, ada tulisan tangan Nindy.
Aku tidak tahu apakah kita masih punya masa depan. Tapi untuk pertama kalinya, kamu memilih jujur tanpa meminta imbalan. Mungkin itu belum cukup untuk menyelamatkan pernikahan kita, tapi cukup untuk menyelamatkan dirimu.
Di bawahnya, tertulis sebuah alamat dan waktu pertemuan konseling pasangan.
Juna membaca tulisan itu berulang kali. Air matanya jatuh tanpa suara.
Itu bukan janji bahwa Nindy akan kembali. Bukan pula tanda bahwa semua luka telah sembuh. Namun untuk pertama kalinya setelah begitu banyak kebohongan, mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kepastian.
Sebuah kesempatan untuk memulai dari kebenaran.
