“Jangan sembarangan bicara. Mereka bukan anak Anda!”

Rangga meninggalkan hotel dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan. Selama bertahun-tahun bekerja untuk Ersya, baru kali itu ia melihat atasannya begitu gelisah sekaligus bersemangat. Biasanya Ersya selalu tenang dalam mengambil keputusan, tetapi kali ini sorot matanya dipenuhi harapan yang nyaris berubah menjadi obsesi.

Di sisi lain, Rania baru saja masuk ke kamar hotel. Begitu pintu tertutup, ia langsung memeluk Emmi dan Emma bergantian. Kedua putrinya tertawa kecil karena merasa ibunya terlalu berlebihan.

“Mama kenapa?” tanya Emma polos.

“Nggak kenapa-kenapa. Mama cuma takut kehilangan kalian.”

Emmi menatap ibunya dengan wajah serius. “Tadi Om itu baik. Dia yang nolong kami.”

Rania tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

“Iya. Tapi lain kali jangan pernah ikut orang asing lagi.”

“Dia bukan orang asing. Dia bilang namanya Ersya.”

Jantung Rania berdegup lebih cepat.

Ia mengusap kepala kedua anaknya, lalu meminta mereka menyalakan televisi. Setelah Naomi menemani mereka, Rania berjalan menuju balkon kamar. Udara malam Jakarta terasa pengap, sama seperti dadanya.

Tujuh tahun.

Ia menghabiskan tujuh tahun membangun hidup dari nol. Ia bekerja siang malam, menghadapi cibiran keluarga, membesarkan anak-anak tanpa bantuan siapa pun. Kini, ketika hidupnya mulai tenang, masa lalu yang paling ingin ia kubur justru datang mengetuk pintunya.

“Aku nggak akan biarin siapa pun mengambil mereka,” bisiknya.

Sementara itu, di sebuah laboratorium genetika swasta yang buka selama dua puluh empat jam, Rangga menyerahkan sampel rambut kepada petugas.

“Saya butuh hasil secepat mungkin.”

Petugas mengangguk.

“Kami bisa prioritaskan. Hasil awal keluar besok sore.”

Rangga menghela napas lega.

Keesokan paginya, Ersya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dalam rapat.

Beberapa kali ia salah menjawab pertanyaan direksi.

Tunangannya, Clarissa, yang duduk di sebelahnya mulai memperhatikan perubahan itu.

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Kamu bohong.”

Ersya hanya diam.

Sejak bertemu Rania, pikirannya tak pernah lepas dari wajah kedua anak perempuan itu. Bentuk mata mereka, senyum mereka, bahkan kebiasaan Emma menggigit bibir ketika gugup benar-benar mengingatkannya pada masa kecilnya sendiri.

Semakin dipikirkan, semakin ia yakin.

Usai rapat, Clarissa mengikuti Ersya sampai ke ruang kerja.

“Ada apa sebenarnya?”

“Nggak ada.”

“Kamu berubah sejak kemarin.”

Ersya mengusap wajahnya.

“Aku mungkin harus menunda pertunangan.”

Kalimat itu membuat Clarissa membeku.

“Maksudmu apa?”

“Ada sesuatu yang harus aku selesaikan.”

“Apa hubungannya dengan perempuan yang kemarin kamu lihat di hotel?”

Ersya langsung menoleh.

“Kamu mengikuti aku?”

Clarissa tertawa hambar.

“Aku cuma penasaran kenapa calon suamiku terus melihat seorang perempuan seolah dia adalah seluruh duniamu.”

Ersya tidak menjawab.

Keheningan itu sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Sore harinya, hasil DNA akhirnya keluar.

Rangga membacanya lebih dulu.

Tangannya gemetar.

Kemungkinan hubungan biologis sebagai ayah mencapai 99,9999 persen.

Rangga langsung menelepon Ersya.

“Tuan…”

“Gimana hasilnya?”

“Anda benar.”

Ersya memejamkan mata.

Air matanya hampir jatuh.

“Aku benar-benar punya anak…”

“Bukan satu, Tuan.”

Rangga tersenyum tipis.

“Anda punya dua putri.”

Selama beberapa detik, Ersya sama sekali tidak sanggup berbicara.

Seluruh penyesalan yang selama ini terkubur tiba-tiba menyeruak.

Ia teringat bagaimana tujuh tahun lalu ia memberikan uang kepada Rania tanpa mendengar penjelasan sedikit pun.

Ia bahkan mengusir perempuan itu setelah menghancurkan hidupnya.

Kalau saja malam itu ia sadar…

Kalau saja ia tidak mabuk…

Kalau saja ia mencarinya lebih keras…

Mungkin ia sudah menyaksikan kedua putrinya tumbuh sejak bayi.

Tanpa membuang waktu, Ersya mendatangi hotel tempat Rania menginap.

Namun kamar itu sudah kosong.

“Mereka check-out satu jam lalu, Pak.”

Kecewa, Ersya keluar dari hotel.

“Rangga.”

“Ya, Tuan.”

“Cari mereka.”

“Jakarta sebesar ini…”

“Berapa pun biayanya, cari.”

Sementara itu, Rania memang sengaja berpindah.

Ia tahu Ersya pasti akan datang lagi.

Naomi yang duduk di kursi penumpang sesekali melirik wajah Rania.

“Bu… apa benar Bapak itu ayah Emmi dan Emma?”

Rania menggenggam setir lebih erat.

“Iya.”

“Kenapa selama ini nggak pernah diberi tahu?”

“Karena dia nggak pernah menginginkan kami.”

Naomi terdiam.

Ia bisa melihat luka itu masih sangat dalam.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi permainan saling mencari.

Ersya menggunakan semua koneksi yang dimilikinya.

Rekaman CCTV.

Data hotel.

Bahkan relasi bisnis.

Namun Rania seolah menghilang.

Hingga suatu sore, Rangga mendapat informasi mengejutkan.

“Tuan, saya menemukan alamat sekolah anak-anak.”

Ersya langsung berdiri.

“Berangkat.”

Bel pulang berbunyi.

Anak-anak berhamburan keluar.

Ersya berdiri di seberang gerbang dengan jantung berdebar.

Lalu ia melihat mereka.

Emmi berlari sambil membawa tas bergambar kelinci.

Emma menggandeng tangan ibunya.

Tanpa sadar, Ersya tersenyum.

Rania juga melihatnya.

Senyumnya langsung menghilang.

“Ayo masuk mobil.”

Namun sebelum pintu tertutup, Emma melambai.

“Halo Om!”

Rania tidak sempat mencegah.

Ersya mendekat perlahan.

“Aku nggak datang buat merebut mereka.”

“Lalu?”

“Aku cuma ingin mengenal anak-anakku.”

“Mereka bukan milikmu.”

“Mereka darah dagingku.”

“Mereka anak yang kamu buang bahkan sebelum lahir.”

Kalimat itu membuat Ersya terpaku.

“Aku nggak pernah tahu.”

“Kamu memang nggak pernah mau tahu.”

Rania membuka pintu mobil.

Sebelum masuk, Ersya mengeluarkan map cokelat.

“Aku sudah melakukan tes DNA.”

Rania membeku.

“Aku tahu mereka anakku.”

Wajah Rania memucat.

Ia sama sekali tidak menyangka Ersya akan mengambil rambut Emmi.

“Kamu bahkan mengambil sampel anakku tanpa izin?”

“Aku cuma ingin memastikan.”

“Itu bukan hakmu.”

Rania menyalakan mesin mobil.

“Kalau kamu masih punya sedikit rasa bersalah, berhentilah mengganggu hidup kami.”

Mobil itu melaju meninggalkan Ersya.

Namun kali ini Ersya tidak mengejar.

Ia sadar.

Masalah terbesar bukan membuktikan bahwa ia ayah mereka.

Melainkan mendapatkan kembali kepercayaan perempuan yang pernah ia hancurkan.

Beberapa minggu berlalu.

Ersya tidak lagi mendatangi Rania.

Sebagai gantinya, setiap bulan ia diam-diam mentransfer biaya pendidikan anak-anak melalui rekening sekolah.

Semua dilakukan tanpa mencantumkan namanya.

Ia juga menyumbangkan fasilitas baru untuk taman bermain sekolah.

Ketika kepala sekolah mengumumkan bahwa ada donatur misterius, Rania sama sekali tidak menyangka siapa orangnya.

Hingga suatu hari ia melihat Rangga berdiri di parkiran.

“Saya nggak datang untuk memaksa, Bu.”

“Lalu?”

“Saya cuma ingin mengatakan satu hal.”

“Apa?”

“Selama tujuh tahun saya mengenal Tuan Ersya, belum pernah saya melihat beliau menangis.”

Rania tertawa sinis.

“Menangis bukan berarti berubah.”

“Tapi beliau memang berubah.”

Rangga menyerahkan sebuah amplop.

“Kalau Ibu mau membacanya.”

Rania menerimanya tanpa berkata apa-apa.

Malam itu, setelah Emmi dan Emma tertidur, ia membuka surat tersebut.

Isinya hanya satu halaman.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya permintaan maaf.

Ersya mengakui semua kesalahannya.

Ia tidak meminta kesempatan kedua.

Ia tidak meminta dicintai lagi.

Ia hanya berharap suatu hari nanti kedua putrinya mengetahui bahwa ayah mereka tidak pernah berhenti menyesali kebodohannya.

Air mata Rania menetes tanpa ia sadari.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kemarahannya mulai bercampur dengan kebingungan.

Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan pentas seni.

Semua orang tua hadir.

Emmi dan Emma tampil membawakan lagu anak-anak.

Di akhir pertunjukan, guru meminta seluruh murid turun menemui orang tua masing-masing.

Emma berlari ke arah Rania.

Namun Emmi berhenti.

Ia melihat Ersya berdiri beberapa meter dari sana.

“Om…”

Ersya tersenyum.

“Hai.”

Emmi mendekat perlahan.

“Om sedih?”

“Sedikit.”

Anak kecil itu mengeluarkan saputangan kecil dari sakunya.

“Kalau sedih harus dihapus.”

Ersya berlutut menerima saputangan itu.

Dadanya terasa sesak.

“Terima kasih.”

Emmi memandang wajahnya lama sekali.

Lalu berkata pelan,

“Om mirip sama aku.”

Ucapan polos itu membuat Rania yang berdiri tidak jauh dari sana ikut terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kedua putrinya berdiri berdampingan dengan ayah kandung mereka.

Bukan sebagai orang asing.

Melainkan sebagai sebuah kenyataan yang selama ini tidak bisa lagi disembunyikan.

Rania melangkah mendekat.

Ia menatap Ersya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku belum bisa memaafkanmu.”

Ersya mengangguk.

“Aku tahu.”

“Tapi… kalau memang yang kamu inginkan adalah menjadi ayah yang baik, buktikan dengan waktu. Bukan dengan uang.”

Mata Ersya memerah.

“Itu kesempatan terbesar yang pernah aku terima.”

Rania tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Emmi dan Emma.

Di bawah langit senja Jakarta, tidak ada luka yang langsung sembuh dalam sehari. Namun untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, masa depan tidak lagi dipenuhi kebencian, melainkan sebuah harapan bahwa penyesalan yang tulus, kesabaran, dan tanggung jawab mungkin masih mampu menyatukan kembali hati-hati yang pernah hancur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang