Namaku Nanda Oren. Sejak kecil orang-orang memanggilku Oren karena rambutku yang berwarna pirang keemasan alami, sesuatu yang membuatku sering menjadi pusat perhatian, meski sebenarnya aku lebih suka hidup tenang bersama hewan-hewan daripada manusia. Setelah lulus sebagai dokter hewan, aku membayangkan akan membuka klinik kecil yang dipenuhi suara kucing dan anjing. Kenyataannya jauh berbeda. Lamaran kerjaku ditolak berkali-kali sampai tabunganku hampir habis.
Kesempatan aneh datang ketika sebuah keluarga konglomerat mencari pendamping pribadi untuk putra mereka yang kehilangan penglihatan akibat kecelakaan. Syaratnya terdengar tidak masuk akal: penyayang hewan, sabar, dan mampu menghadapi pasien yang sulit. Aku diterima tanpa banyak pertanyaan.
Putra itu bernama Baskara Mahendra.

Selama tiga bulan aku tinggal di rumah megah keluarganya di Jakarta Selatan. Awalnya kupikir pekerjaanku hanya membantu aktivitas sehari-harinya. Namun perlahan aku menyadari bahwa pria itu jauh lebih rapuh daripada yang terlihat. Di balik sifat dinginnya, dia menyimpan rasa takut yang tidak pernah diucapkan.
Dia sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk.
Kadang dia memanggil satu nama.
“Oren…”
Kupikir itu kebetulan karena namaku memang Oren.
Setiap kali dia panik, aku akan menenangkan napasnya, membimbingnya berjalan di taman belakang, atau sekadar duduk diam mendengarkan suara air mancur. Tanpa kusadari, dia mulai bergantung padaku.
Namun semua berubah pada hari operasi matanya berhasil.
Begitu bisa melihat lagi, dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu sudah bekerja keras. Terima kasih.”
Aku mengangguk.
“Tapi mulai hari ini, lebih baik kita menjaga jarak.”
Aku mengernyit.
“Maksud Anda?”
“Kamu orang baik. Tapi keluargaku tidak akan menerima hubungan apa pun di luar batas antara majikan dan karyawan.”
Aku hampir tertawa.
Hubungan?
Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu.
Aku menerima cek gaji, mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya, lalu pergi dengan hati yang ringan. Bagiku, uang itu jauh lebih penting daripada drama keluarga konglomerat.
Malam itu, sambil makan mi instan di kamar kos, aku membuka sebuah forum anonim yang sering membahas kehidupan orang kaya.
Satu unggahan membuatku membeku.
“Apa mungkin seekor kucing berubah menjadi manusia?”
Penulisnya mengaku kehilangan kucing oren tepat pada hari dirinya mengalami kebutaan. Setelah itu muncul seorang perempuan berambut pirang bernama Oren yang selalu menemaninya. Aroma rambut perempuan itu sama persis dengan sampo kucing kesayangannya.
Di akhir tulisan terdapat kalimat yang membuatku memegangi kepala.
“Aku mengusirnya karena takut keluarga salah paham. Tapi sekarang aku yakin dia pasti datang untuk menyelamatkanku.”
Aku langsung tahu siapa penulisnya.
Baskara.
Aku menutup laptop sambil tertawa sampai hampir menangis.
Pria itu benar-benar mengira aku adalah kucingnya yang berubah menjadi manusia.
Keesokan paginya teleponku berdering.
Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
“Nona Oren?”
Suara perempuan itu milik Ibu Wulan.
“Bisa datang sebentar? Baskara membuat kekacauan.”
Aku sebenarnya ingin menolak.
Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Sesampainya di rumah mereka, suasananya jauh berbeda.
Para pelayan terlihat gelisah.
Baskara duduk di ruang tamu sambil memangku seekor kucing oren yang baru saja dibeli asistennya.
Kucing itu mencakar wajahnya tanpa ampun.
“Ini bukan dia,” gumam Baskara kecewa.
Begitu melihatku masuk, matanya langsung berbinar.
“Oren…”
Aku menghela napas.
“Saya manusia, Pak.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa memanggilku seperti itu?”
Dia terdiam cukup lama.
“Aku mulai sadar mungkin kamu memang bukan kucingku.”
“Syukurlah.”
“Tapi anehnya… aku lebih sedih kalau ternyata benar begitu.”
Aku tidak mengerti maksudnya.
Hari-hari berikutnya aku beberapa kali dipanggil kembali sebagai konsultan karena Baskara menolak semua pendamping baru.
Aku hanya datang seminggu dua kali.
Hubungan kami perlahan berubah menjadi persahabatan.
Dia mulai belajar menjalankan perusahaan lagi.
Aku mulai membangun klinik hewan impianku.
Semuanya berjalan baik sampai suatu sore aku melihat seorang pria asing memasuki rumah Baskara secara diam-diam.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai sepupu jauh.
Namun instingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Aku pernah melihat wajah itu.
Di mana?
Beberapa hari kemudian jawabannya datang.
Seorang pelanggan membawa anjing Golden Retriever yang mengalami keracunan.
Saat memeriksa rekaman CCTV klinik, tanpa sengaja aku melihat pria yang sama sedang membuang sesuatu ke tempat makan anjing tersebut sebelum kabur.
Dia tersenyum ke kamera seolah sengaja ingin dilihat.
Aku langsung melapor kepada polisi.
Penyelidikan berkembang sangat cepat.
Ternyata pria itu adalah bagian dari kelompok yang selama ini menyabotase berbagai perusahaan milik keluarga kaya demi mengambil alih saham ketika pemiliknya sedang mengalami krisis.
Kecelakaan Baskara enam bulan lalu bukanlah kecelakaan biasa.
Rem mobilnya sengaja dirusak.
Tujuannya agar dia kehilangan kendali dan tidak lagi mampu memimpin perusahaan.
Pelaku utama ternyata adalah pamannya sendiri yang diam-diam bekerja sama dengan investor asing.
Ketika polisi menangkap seluruh komplotan itu, Baskara hanya duduk diam di ruang kerja.
“Aku hampir kehilangan semuanya.”
“Bukan hampir,” jawabku.
“Kamu memang sempat kehilangan.”
“Apa?”
“Kepercayaan.”
Dia menatapku lama.
“Kamu benar.”
Beberapa minggu kemudian, Baskara datang ke klinikku membawa sebuah kandang besar.
“Aku punya hadiah.”
Seekor anak kucing oren keluar perlahan.
Bulunya sangat mirip dengan kucing yang pernah hilang.
Aku langsung tersenyum.
“Lucu sekali.”
“Aku menemukannya di tempat penampungan.”
Anak kucing itu mendekat kepadaku tanpa takut sedikit pun.
Baskara tertawa kecil.
“Lihat. Dia memilihmu.”
“Karena aku dokter hewan.”
“Atau mungkin…”
“Jangan mulai lagi.”
Dia mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Aku cuma bercanda.”
Namun saat hendak pulang, dia berkata pelan.
“Dulu aku mengira aku kehilangan seekor kucing.”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku sadar… yang sebenarnya datang ke hidupku bukan keajaiban.”
“Melainkan?”
“Seseorang yang mengajariku membedakan rasa memiliki dengan rasa menghargai.”
Aku tidak langsung menjawab.
Beberapa bulan kemudian klinikku berkembang pesat. Banyak pelanggan datang karena percaya pada pelayananku.
Suatu pagi, seorang anak kecil masuk sambil memeluk seekor kucing tua.
“Kak, ini kucing jalanan. Tolong sembuhkan.”
Aku tersenyum.
“Tentu.”
Saat sedang memeriksa kucing itu, Baskara datang membawa kopi seperti biasanya.
Kini dia bukan lagi pria arogan yang memandang orang dari status sosial.
Dia sering menjadi relawan dalam kegiatan penyelamatan hewan.
Saat melihat anak kecil itu, dia ikut berjongkok.
“Kucingmu hebat.”
“Kenapa, Om?”
“Karena dia menemukan manusia yang tepat.”
Aku melirik Baskara sambil tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku benar-benar percaya bahwa seseorang bisa berubah.
Bukan karena kehilangan penglihatan.
Melainkan karena akhirnya mampu melihat dengan hati.
Beberapa hari kemudian, unggahan anonim di forum yang dulu sempat viral muncul lagi.
Pemilik akun menulis satu kalimat singkat.
“Dulu aku percaya kucingku berubah menjadi manusia. Sekarang aku tahu, manusialah yang mengajarkanku bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.”
Unggahan itu memperoleh ratusan ribu tanda suka.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui identitas penulisnya.
Kecuali aku.
Aku menutup layar ponsel sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah seekor kucing oren yang sedang tidur di meja resepsionis klinik.
Kucing itu membuka satu mata, mengeong pelan, lalu kembali tertidur seolah ikut menyimpan rahasia yang hanya kami berdua pahami.
