“Aku tidak ingin Ayah khawatir.”
“Sekarang kamu bekerja di mana?”
“Aku sedang mencari pekerjaan.”
Pak Harun tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa. Pulang saja.”
Andi menggeleng cepat.

“Aku belum bisa.”
“Kenapa?”
Ia terdiam terlalu lama.
Raka melihat bayangan seseorang bergerak di belakang Andi.
Lalu gambar pada layar bergoyang.
Seolah ponsel direbut.
Panggilan terputus.
Pak Harun langsung panik.
“Kenapa mati?”
Raka mencoba menelepon kembali.
Nomor tidak aktif.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk dari nomor yang sama.
“Jangan hubungi lagi. Saya baik-baik saja.”
Raka membaca kalimat itu.
Ada sesuatu yang aneh.
Dalam video tadi, Andi memanggil Pak Harun dengan sebutan “Ayah”.
Namun dalam pesan, ia menggunakan bahasa yang terlalu formal.
Raka bertanya,
“Pak Harun, apakah Andi biasanya menulis seperti ini?”
“Tidak.”
“Apakah dia pernah meminta uang?”
Pak Harun terlihat ragu.
“Kadang.”
“Berapa banyak?”
“Tidak terlalu banyak.”
“Berapa?”
Pak Harun menyebut jumlahnya.
Selama dua tahun terakhir, ia mengirim hampir seluruh tabungan melalui seorang perantara.
“Siapa yang membantu transfer?”
“Seorang pria bernama Deni. Katanya teman Andi.”
Raka mulai curiga.
Ia meminta melihat riwayat pesan.
Hampir semua pesan dari nomor Andi berisi permintaan uang.
Biaya izin kerja.
Biaya tempat tinggal.
Biaya perpanjangan visa.
Namun tidak pernah ada panggilan video.
Hanya panggilan suara singkat.
“Mungkin selama ini bukan Andi yang menghubungi Bapak,” kata Raka.
Pak Harun langsung menggeleng.
“Saya mengenal suara anak saya.”
“Suara bisa direkam.”
Wajah lelaki tua itu kehilangan warna.
Keesokan harinya, Raka membawa kasus tersebut kepada temannya di unit kejahatan siber.
Mereka memeriksa nomor, rekening, dan perusahaan yang memasang iklan.
Hasil awalnya mengejutkan.
Nomor luar negeri yang menghubungi Pak Harun sebenarnya menggunakan layanan pengalihan panggilan dari Jakarta.
Rekening penerima uang juga bukan milik Andi.
Pemiliknya adalah Deni Prasetyo.
Pria yang tinggal hanya tiga kilometer dari rumah Pak Harun.
Namun temuan paling aneh berasal dari perusahaan reklame.
Iklan kopi itu tidak pernah dibayar oleh perusahaan luar negeri.
Slotnya dibeli secara pribadi oleh Deni.
“Kenapa seseorang membayar iklan wajah Andi hanya agar Pak Harun melihatnya?” tanya Raka.
Petugas siber membuka dokumen pembayaran.
“Karena iklan itu sengaja dibuat untuk meyakinkan korban bahwa anaknya masih bekerja dan sukses.”
Pak Harun menatap layar dengan tubuh gemetar.
“Jadi selama ini mereka menipuku?”
“Kemungkinan besar.”
“Tapi Andi tadi benar-benar muncul di video.”
Raka mengangguk.
“Itu berarti dia masih hidup. Tapi mungkin sedang berada dalam masalah.”
Polisi mendatangi alamat Deni malam itu.
Rumah tersebut kosong.
Di dalamnya ditemukan belasan kartu SIM, rekaman suara Andi, dan salinan dokumen pribadi Pak Harun.
Ada juga daftar jadwal iklan papan reklame.
Di salah satu meja, mereka menemukan foto Pak Harun yang sedang berdiri di bawah layar besar.
Foto itu diambil dari jarak jauh.
Seseorang selama ini mengawasinya.
Di lemari terkunci terdapat paspor Andi.
Paspor itu tidak pernah meninggalkan Indonesia selama tiga tahun terakhir.
Pak Harun hampir jatuh ketika melihatnya.
“Kalau begitu, anakku tidak berada di luar negeri?”
Petugas membuka data imigrasi.
“Andi memang pergi lima tahun lalu. Tetapi ia kembali dua tahun setelahnya.”
“Kenapa tidak pulang?”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sampai mereka menemukan sebuah kartu identitas pegawai rumah sakit swasta.
Foto Andi tercetak di sana.
Namun namanya berbeda.
Arif Nugraha.
Raka mencari nama tersebut dalam sistem rumah sakit.
Ia terdaftar sebagai pasien rehabilitasi, bukan pegawai.
Catatan terakhirnya dibuat enam bulan lalu.
Statusnya:
“Gangguan ingatan akibat kecelakaan.”
Pak Harun menatap dokumen itu sambil menangis.
“Anakku kehilangan ingatan?”
Namun petugas menemukan hal yang lebih aneh.
Nama penanggung jawab pasien adalah Deni Prasetyo.
Hubungan keluarga:
Kakak kandung.
“Andi tidak punya kakak,” kata Pak Harun.
Raka menatap foto Deni.
Wajah pria itu samar-samar mirip Pak Harun saat muda.
“Pak, apakah Bapak mengenal orang ini?”
Pak Harun menatap foto cukup lama.
Tangannya mulai gemetar.
“Itu bukan Deni.”
“Lalu siapa?”
“Itu adik saya, Darma.”
Raka membeku.
“Bukankah Bapak mengatakan tidak punya keluarga lain?”
Pak Harun menutup mata.
“Darma menghilang tiga puluh tahun lalu setelah mengambil tabungan keluarga.”
“Kenapa ia mengaku sebagai kakak Andi?”
Sebelum Pak Harun menjawab, petugas rumah sakit menelepon.
Mereka mengatakan pasien bernama Arif baru saja dibawa pergi oleh seorang lelaki yang mengaku keluarganya.
Kamera menunjukkan Deni atau Darma mendorong kursi roda Andi menuju mobil.
Namun sebelum meninggalkan rumah sakit, Andi menyelipkan sebuah amplop kepada perawat.
Amplop itu ditujukan kepada Pak Harun.
Di dalamnya terdapat foto lama.
Foto Pak Harun, istrinya, Darma, dan dua bayi laki-laki.
Pak Harun menatapnya dengan wajah pucat.
“Aku hanya punya satu anak.”
Di belakang foto tertulis:
“Harun, selama ini kamu mengira Andi anakmu satu-satunya. Malam saat ia lahir, ada dua bayi. Salah satunya dibawa Darma.”
Raka membuka lembar berikutnya.
Itu hasil pemeriksaan DNA terbaru.
Andi bukan anak biologis Pak Harun.
Namun ia memiliki hubungan darah sebagai keponakan.
Pak Harun menatapnya tidak percaya.
“Kalau Andi anak Darma, lalu anak kandungku di mana?”
Ponsel Raka tiba-tiba berbunyi.
Nomor tak dikenal mengirim video siaran langsung.
Di dalamnya terlihat Andi duduk di sebuah ruangan gelap.
Di sampingnya berdiri seorang pria muda lain yang wajahnya hampir sama.
Lelaki itu memakai seragam petugas lalu lintas.
Raka mengenali seragam tersebut.
Lalu kamera bergerak naik dan memperlihatkan wajahnya.
Wajah pria itu sangat mirip dengan Raka sendiri.
Suara Darma terdengar dari balik kamera.
“Harun, anak kandungmu tidak pernah pergi ke luar negeri. Selama bertahun-tahun, ia berdiri di sampingmu setiap kali taksimu mogok. Kalian hanya tidak pernah tahu bahwa petugas bernama Raka adalah bayi yang ditukar pada malam kelahiran Andi…”
