Studio televisi itu mendadak sunyi, sepi mencekam hingga suara hela napas pun terdengar begitu jelas. Kursi tempat ahli forensik senior tadi duduk terguling ke belakang, menciptakan dentuman kecil di lantai panggung. Pria paruh baya itu berdiri kaku dengan mata terbelalak lebar, menatap pergelangan tangan mayat tiruan di hadapanku dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di pelipisnya. Di latar belakang, layar raksasa menampilkan tulisan SHADOW OF TRUTH dengan logo acara investigasi kriminal paling populer di negeri ini, menyala terang seolah mengejek kebodohan semua orang di ruangan itu beberapa detik lalu.
Marco Reyes, aktor yang selama ini diagung-agungkan sebagai detektif jenius di layar kaca, berdiri mematung. Senyum meremehkan yang tadi menghiasi wajah tampannya telah lenyap, berganti dengan ekspresi bingung bercampur panik. Kamera utama yang dikendalikan atas perintah sutradara kini menyorot wajahku secara close-up. Mereka yang tadinya bersiap menertawakanku, para penonton di studio, hingga jutaan pasang mata yang menyaksikan siaran langsung ini, terpaku tanpa suara.

“Bagaimana mungkin…” suara serak ahli forensik itu memecah keheningan. “Livor mortis… lebam mayat itu… tidak sesuai dengan posisi jatuhnya.”
Aku perlahan bangkit berdiri dari posisi berlututku. Mengibaskan ujung jas blazer biruku dengan tenang. Enam bulan terakhir, aku adalah wanita paling dibenci di media sosial. Ratu TikTok yang diinjak-injak, dihujat sebagai influencer tanpa otak yang hanya bisa pamer wajah. Tak ada yang tahu latar belakangku sebenarnya sebelum dunia maya merusak hidupku melalui sebuah video editan sepuluh detik yang keji. Mereka tidak tahu bahwa sebelum aku terjebak dalam dunia kecantikan demi bertahan hidup, masa laluku terkubur dalam-dalam di ruang autopsi dan laboratorium forensik tempat ayahku bekerja. Tempat di mana aku menghabiskan seluruh masa kecilku mempelajari kematian dan kebohongan manusia.
“Kalian semua tertipu oleh tata panggung,” kataku dengan suara tenang namun menggema ke seluruh sudut studio melalui mikrofon jepit di kerah bajuku. “Kalian melihat genangan darah dan posisi meja yang terbalik, lalu berasumsi korban diserang secara mendadak di ruangan ini. Tapi kalian mengabaikan hukum fisika paling dasar dari sebuah pembunuhan.”
Marco menelan ludahnya susah payah. “Jangan asal bicara! Sebagai mantan penyelidik di serial populer, aku sudah menganalisis ratusan TKP!”
“Serial televisi tidak membuatmu benar, Marco,” potongku tajam, menatap langsung ke dalam matanya. “Perhatikan baik-baik lebam mayat di lengan bawah dan punggung korban. Warnanya sudah menetap di sisi dorsal, yang berarti jasad ini dibiarkan telentang selama minimal enam jam di tempat lain sebelum dipindahkan ke sini. Ruangan ini bukan tempat kejadian perkara. Ini adalah panggung teater yang sengaja disiapkan untuk menjebak seseorang, atau mungkin… untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan yang sebenarnya.”
Bisik-bisik mulai terdengar riuh di antara penonton studio. Kolom komentar siaran langsung yang tadinya mencaci makian kini bergeser menjadi lautan tanda tanya dan keterkejutan luar biasa. Sutradara di ruang kontrol tampak panik, meneriakkan sesuatu melalui earphone kru, meminta kamera untuk memperlebar sudut pandang.
Namun, sebelum ada yang sempat mendebatanalisis ku, lampu studio tiba-tiba berkedip, lalu padam sepenuhnya.
Jeritan tertahan terdengar dari bangku penonton. Dalam kegelapan total itu, sebuah suara langkah kaki berat mendekat dari arah belakang panggung. Jantungku berdegup kencang. Naluri bertahan hidupku berteriak. Aroma parfum yang sangat familiar menguar di udara lembap studio, aroma yang sama persis seperti malam berdarah enam bulan lalu—malam di mana ayahku tewas dalam insiden yang dicap sebagai bunuh diri.
Lampu darurat berwarna merah mendadak menyala, memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding studio. Di tengah panggung, di dekat mayat tiruan tadi, sesosok bayangan berdiri tegak menghadapku. Itu bukan kru televisi. Pria itu mengenakan jas hitam rapi dengan sarung tangan kulit, memegang sebuah gawai yang layarnya menyala terang, menampilkan wajah Kak Marissa—manajerku—yang diikat dan disekap di suatu tempat asing.
“Permainan yang luar biasa, Livia,” suara berat dan dingin keluar dari balik masker tipis yang menutupi separuh wajah pria itu. “Kau memang selalu lebih cerdas dari yang mereka tulis di internet.”
Seluruh orang di studio terlonjak ketakutan. Marco, yang terkenal berani di layar kaca, justru mundur perlahan hingga hampir tersandung peralatan syuting. Tidak ada yang berani bergerak. Program investigasi kriminal yang tadinya hanya sebuah acara hiburan berkedok pencarian bakat kini berubah menjadi mimpi buruk dunia nyata yang disiarkan secara langsung ke seluruh Indonesia.
“Siapa kau?” suaraku bergetar, bukan karena takut, tapi karena gelombang amarah dan kenangan kelam yang mendadak menyeruak ke permukaan. Pria itu tersenyum tipis di balik maskernya.
“Kau tidak mengenaliku, Livia? Atau kau sengaja melupakan orang yang merancang video skandal sepuluh detik itu untuk membawamu tepat ke tempat ini?” Pria itu melangkah mendekat, membuka maskernya perlahan di bawah sorotan lampu darurat merah.
Napasku seketika tertahan. Dunia seolah berhenti berputar. Pria di hadapanku bukanlah orang asing. Dia adalah orang kepercayaan investor besar yang malam itu menjemputku di hotel, suami dari wanita yang duduk bersamaku untuk menandatangani kontrak sah, sekaligus dalang di balik kehancuran karier ayahku di kepolisian bertahun-tahun lalu.
“Selamat datang di episode terakhir hidupmu, Ratu TikTok,” bisiknya sinis tepat di depan mikrofonku, membuat jutaan pasang mata di rumah mendengarnya detik itu juga.
Tanpa panik, aku perlahan menyembunyikan tangan kananku ke dalam kantong blazer, meraba benda kecil yang selalu kubawa sejak hari pertama aku dihancurkan oleh media. Sebuah alat rekam independen yang terhubung langsung secara live-streaming ke server kepolisian pusat dan ribuan media independen di luar kendali stasiun TV ini.
Aku menatap tepat ke lensa kamera utama yang masih menyala merah di sudut ruangan, lalu tersenyum kecil. “Kalian semua tidak perlu menunggu akhir cerita ini dari orang lain,” ucapku lantang ke seluruh penjuru negeri. “Karena rekaman pengakuan pembunuhan ayahku dan konspirasi malam ini… sudah terkirim otomatis ke seluruh kantor polisi sejak tombol lampu studio tadi dimatikan.”
Wajah pria itu seketika memucat, senyumannya runtuh dalam seketika. Di saat yang bersamaan, suara sirine mobil polisi mulai meraung-raung mendekati gedung studio dari luar, memecah kesunyian malam di ibu kota, menandakan bahwa permainan mereka telah resmi berakhir.
