Wanita itu masih meronta, tetapi cengkeramanku tetap tenang.
“Lepaskan aku!”
Suara Amparo Del Rosario menggema di seluruh ruangan.
Beberapa dosen yang mendengar keributan mulai berdatangan. Mereka berdiri di depan pintu kantor dengan wajah bingung.
Aku melepaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah mundur.

“Ada banyak saksi di sini,” kataku datar. “Silakan jelaskan kepada mereka mengapa istri pemilik Grup Del Rosario menerobos masuk ke kantor ketua dewan juri dan mencoba mengubah hasil ujian nasional.”
Amparo langsung menyadari puluhan mata sedang menatapnya.
Namun wanita itu tidak kehilangan akal.
Ia tiba-tiba mengubah ekspresinya. Air matanya mengalir, suaranya bergetar.
“Saya hanya seorang ibu.”
“Saya hanya ingin memohon agar putri saya diberi kesempatan.”
“Saya tidak menyangka Ibu akan memperlakukan saya seperti ini.”
Beberapa orang mulai saling berpandangan.
Aktingnya memang luar biasa.
Dua puluh tahun lalu, ia juga menggunakan wajah yang sama ketika meyakinkan ayahku bahwa aku terlalu keras kepala, terlalu egois, terlalu mencintai dunia tari hingga melupakan keluarga.
Sedikit demi sedikit, ia mengubahku menjadi anak durhaka di mata ayahku sendiri.
Namun kali ini aku tidak lagi gadis tujuh belas tahun yang hanya bisa menangis.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Saya rasa semua orang berhak melihat bagaimana sebenarnya Nyonya Del Rosario masuk ke ruangan ini.”
Aku memutar rekaman kamera pengawas kantor yang otomatis tersimpan di cloud.
Video itu memperlihatkan Amparo mendorong pintu, berteriak, lalu mengangkat tangan hendak menamparku.
Koridor mendadak sunyi.
Wajah Amparo memucat.
Ia tidak pernah menyangka seluruh ruangan telah dipasangi sistem keamanan baru sejak ujian nasional dimulai.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil tasnya lalu berjalan cepat keluar.
Namun sebelum menghilang di balik pintu, ia berhenti.
Tatapannya penuh kebencian.
“Kau akan menyesal.”
Aku hanya menjawab pelan.
“Aku sudah berhenti menyesal sejak dua puluh tahun yang lalu.”
Malam itu, berita tentang percobaan intervensi terhadap ujian nasional menyebar ke seluruh media sosial.
Video kepala pelayan yang mengancam juri.
Rekaman wakil rektor yang menawarkan suap.
Dan rekaman Amparo yang mencoba menyerangku.
Nama Grup Del Rosario menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.
Pagi berikutnya, kementerian langsung mengirim tim investigasi.
Seluruh dokumen ujian disegel.
Semua anggota dewan juri dipanggil untuk dimintai keterangan.
Aku menyerahkan seluruh rekaman tanpa mengubah satu detik pun.
Ketika keluar dari ruang pemeriksaan, seseorang sudah menungguku di parkiran.
Seorang pria tua berdiri di samping mobil hitam.
Rambutnya kini hampir seluruhnya putih.
Keriput memenuhi wajahnya.
Namun aku masih mengenali sorot mata itu.
Santiago Del Rosario.
Ayahku.
Selama beberapa detik kami hanya saling memandang.
Dua puluh tahun waktu ternyata mampu mengubah wajah seseorang, tetapi tidak mampu menghapus luka.
“Apa kabar, Serena?”
Aku tersenyum tipis.
“Nama saya Clara.”
Ia menarik napas panjang.
“Ayah tahu.”
“Nama itu memang pantas kau buang.”
Aku tidak menjawab.
Ia membuka pintu mobil.
“Bisakah kita bicara sebentar?”
“Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ayah hanya ingin meminta maaf.”
Kalimat itu membuatku tertawa pelan.
Lucu sekali.
Dua puluh tahun lalu aku memohon agar ia percaya kepadaku.
Hari ini justru ia yang memohon agar aku mau mendengarkannya.
Aku akhirnya duduk di bangku taman akademi, menjaga jarak beberapa meter darinya.
Ia tidak berusaha mendekat.
“Setelah kau pergi,” katanya pelan, “ayah mencarimu.”
“Tiga tahun.”
“Ke mana-mana.”
“Bahkan sampai ke luar negeri.”
Aku memandang langit.
“Lalu?”
“Ayah tidak menemukanmu.”
“Tentu saja.”
“Aku memang tidak ingin ditemukan.”
Ia mengangguk.
“Benar.”
“Baru bertahun-tahun kemudian ayah sadar… semua yang kau katakan dulu ternyata benar.”
Aku memandangnya.
“Benar tentang apa?”
Ia menutup mata.
“Hari ketika surat penerimaanmu ke Akademi Tari Nasional dirobek…”
“Amparo yang memprovokasiku.”
“Dia mengatakan kalau kau diterima, kau akan meninggalkan keluarga.”
“Dia mengatakan ibumu membuatmu membenci kami.”
“Dia bilang dunia tari akan menghancurkan hidupmu.”
Aku tertawa hambar.
“Lalu Ayah percaya.”
“Ayah percaya.”
“Ayah bodoh.”
Untuk pertama kalinya, pria yang dulu selalu terlihat kuat itu menundukkan kepala.
“Ayah kehilangan putri kandung ayah sendiri.”
“Ayah pantas menerima semua ini.”
Aku berdiri.
“Kalau hanya itu, saya pergi.”
“Serena.”
Aku berhenti.
“Selene tidak tahu apa-apa.”
Aku menoleh perlahan.
“Dia tumbuh tanpa pernah mengetahui kau ada.”
“Amparo mengatakan dia anak tunggal.”
“Ayah…”
“Santiago Del Rosario.”
“Tidak pernah berani membantah.”
Aku pergi tanpa menoleh lagi.
Tetapi kata-kata itu terus terngiang sepanjang perjalanan pulang.
Dua hari kemudian, sidang evaluasi nasional digelar.
Seluruh nilai peserta kembali diperiksa.
Tidak ditemukan kesalahan dalam penilaianku.
Nilai Selene memang berada di bawah standar kelulusan.
Keputusan tetap tidak berubah.
Ia gagal.
Sore harinya, seseorang mengetuk pintu apartemenku.
Ketika kubuka, Selene berdiri sendirian.
Tanpa sopir.
Tanpa pengawal.
Tanpa gaun mahal.
Ia hanya mengenakan kemeja putih sederhana.
“Apa saya boleh masuk?”
Aku mengangguk.
Ia duduk dengan gugup.
Beberapa menit tidak ada yang berbicara.
Akhirnya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
“Ini milik Ibu.”
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat liontin perak berbentuk sepasang sepatu balet.
Tanganku bergetar.
Liontin itu milik ibuku.
Aku yakin.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Waktu kecil saya menemukannya di loteng.”
“Ibu melarang saya menyentuhnya.”
“Tapi saya diam-diam menyimpannya.”
“Entah kenapa saya merasa benda ini sangat berharga.”
Air mataku hampir jatuh.
Aku menggenggam liontin itu erat-erat.
Selene memandangku.
“Saya datang bukan untuk meminta nilai.”
“Saya hanya ingin bertanya.”
“Kenapa… waktu melihat saya di ruang audisi… Ibu menangis?”
Aku membeku.
“Siapa bilang aku menangis?”
“Saya melihatnya.”
“Hanya sebentar.”
“Waktu semua juri sedang menulis nilai.”
Aku tersenyum pahit.
Anak ini ternyata sangat peka.
Aku menatap wajahnya.
Semakin lama semakin jelas.
Bentuk mata.
Cara tersenyum.
Semuanya sangat mirip denganku saat seusianya.
“Apa kau bahagia di rumah?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam lama.
“Ayah baik.”
“Tapi beliau selalu sibuk.”
“Ibu…”
Ia menggigit bibir.
“Ibu selalu bilang saya harus sempurna.”
“Kalau gagal sekali saja, saya bukan anak Del Rosario.”
Dadaku terasa sesak.
Kalimat itu terdengar begitu akrab.
Dulu aku juga hidup dengan ketakutan yang sama.
Bedanya, saat itu orang yang mengucapkannya adalah ayahku.
Selene perlahan berdiri.
“Saya akan mulai latihan lagi dari awal.”
“Kalau memang saya belum cukup baik, saya akan menjadi lebih baik.”
“Sampai suatu hari saya bisa lulus tanpa bantuan siapa pun.”
Ia membungkuk hormat.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu, aku benar-benar tersenyum.
“Kalimat itu baru pantas diucapkan seorang penari.”
Ia pergi.
Namun sebelum pintu tertutup, aku memanggilnya.
“Selene.”
Ia menoleh.
“Jangan pernah berhenti menari hanya karena orang lain.”
Matanya berkaca-kaca.
Ia mengangguk pelan.
Beberapa minggu kemudian, hasil investigasi resmi diumumkan.
Wakil rektor diberhentikan.
Lisensi kepala pelayan sebagai pengurus yayasan dicabut.
Grup Del Rosario dikenai sanksi karena terbukti melakukan intervensi terhadap proses pendidikan.
Nilai saham perusahaan mereka anjlok.
Untuk pertama kalinya, nama besar keluarga itu tidak mampu membeli kehormatan.
Di tengah kekacauan itu, aku menerima sebuah amplop tanpa nama.
Di dalamnya hanya ada selembar surat.
Tulisan tangan Santiago.
“Ayah sudah menandatangani seluruh dokumen perceraian.”
“Seluruh saham yang selama ini berada atas nama Amparo telah dibekukan.”
“Rumah lama juga akan dijadikan yayasan seni atas nama ibumu.”
“Ini bukan untuk meminta maaf.”
“Karena ayah tahu, tidak ada permintaan maaf yang cukup.”
“Ini hanya usaha terlambat seorang ayah yang akhirnya berani melakukan hal yang benar.”
Beberapa bulan kemudian, aku menghadiri pembukaan yayasan itu.
Aku datang bukan sebagai putri keluarga Del Rosario.
Melainkan sebagai tamu.
Di aula utama tergantung sebuah foto besar ibuku yang sedang menari.
Di bawahnya tertulis sebuah kalimat sederhana.
“Tidak ada mimpi yang pantas dihancurkan atas nama cinta.”
Saat semua tamu mulai pulang, aku mendengar suara musik dari studio latihan.
Seorang gadis sedang berlatih sendirian.
Gerakannya belum sempurna.
Namun matanya penuh tekad.
Selene.
Ia tidak melihatku berdiri di depan pintu.
Ia terus mengulang gerakan yang sama puluhan kali tanpa mengeluh.
Aku tersenyum.
Dua puluh tahun lalu, seseorang pernah merobek surat penerimaanku dan mengira ia telah mengakhiri hidupku.
Padahal, yang ia robek hanyalah selembar kertas.
Mimpi yang sesungguhnya tidak pernah bisa dihancurkan.
Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, aku merasa benar-benar telah pulang.
