Ketika pintu terbuka, wanita itu berdiri dengan napas yang masih memburu. Rambutnya mulai dipenuhi uban, tetapi sorot matanya tetap hangat seperti yang selalu kuingat sejak kecil.
“Nak… sudah waktunya pulang ke rumah.”
Bianca memandang kami bergantian dengan wajah bingung.
“Siapa dia?”

Wanita itu tidak menjawab. Ia melangkah masuk, memelukku tanpa ragu, lalu mengusap perutku yang mulai membesar.
“Maafkan Ibu karena datang terlambat.”
Aku mematung.
Sejak usia lima belas tahun aku percaya bahwa kedua orang tuaku telah meninggal. Aku dibesarkan oleh bibiku yang selalu mengatakan bahwa keluargaku hanyalah orang biasa dari Surabaya.
Namun wanita di depanku berkata lirih,
“Ibu tidak pernah meninggalkanmu. Ibu hanya menjauh agar mereka tidak menemukanmu.”
Belum sempat aku bertanya, Bianca tertawa kecil.
“Drama keluarga? Menarik sekali.”
Wanita itu akhirnya menoleh kepadanya.
“Kau Bianca Santoso?”
“Tentu.”
“Kalau begitu sampaikan kepada ayahmu bahwa Ratih Mahendra sudah kembali.”
Wajah Bianca langsung berubah pucat.
Nama itu jelas tidak asing baginya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia buru-buru keluar dari apartemen sambil menelepon seseorang.
Aku menatap wanita itu.
“Ibu… siapa sebenarnya kita?”
Ratih menarik napas panjang.
“Dulu keluarga Mahendra adalah pemegang saham terbesar kedua di Nusantara Capital. Ayahmu dan keluarga Wijaya bekerja sama membangun banyak perusahaan.”
“Lalu?”
“Sampai seseorang mengkhianati kami.”
Nama Adrian tidak pernah disebut, tetapi aku sudah mulai mengerti.
“Ibu menyembunyikanmu setelah ayahmu meninggal karena kecelakaan yang tidak pernah benar-benar diselidiki.”
“Karena aku takut kau menjadi target berikutnya.”
Aku merasa seluruh hidupku berubah hanya dalam beberapa menit.
Selama ini aku mengira aku hanyalah perempuan biasa yang beruntung dinikahi Adrian.
Ternyata sejak awal, aku bahkan tidak pernah tahu siapa diriku sendiri.
Malam itu juga kami meninggalkan Jakarta.
Bukan menggunakan mobil pribadi.
Bukan pula melalui bandara utama.
Ratih telah menyiapkan semuanya.
Kami berangkat diam-diam menuju Bali.
“Ibu punya rumah di sana,” katanya.
“Tempat yang tidak diketahui siapa pun.”
Aku sempat menoleh ke belakang ketika pesawat lepas landas.
Aku tidak membawa apa pun selain beberapa pakaian, dokumen penting, hasil USG yang telah kususun kembali, dan keyakinan bahwa aku tidak akan pernah kembali kepada Adrian.
Dua hari kemudian, orang-orang Adrian datang ke apartemen.
Mereka hanya menemukan rumah kosong.
Ponselku sudah tidak aktif.
Rekening yang selama ini ia ketahui sudah kututup.
Bahkan rumah sakit tempat aku biasa memeriksakan kandungan juga tidak mengetahui ke mana aku pindah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Adrian kehilangan kendali.
Ia marah kepada semua orang.
“Kalian dibayar untuk mengawasinya!”
“Bagaimana mungkin wanita hamil tujuh bulan bisa menghilang begitu saja?”
Tidak ada yang berani menjawab.
Sementara itu, di Bali, aku memulai hidup baru.
Sebulan kemudian, putraku lahir.
Tangisnya memenuhi ruang bersalin.
Aku menangis bersamanya.
Ratih menggenggam tanganku.
“Namanya siapa?”
Aku menatap bayi kecil yang menggenggam jariku dengan begitu erat.
“Arka.”
“Kenapa Arka?”
“Karena aku ingin hidupnya menjadi arah baru untukku.”
Tahun-tahun berikutnya tidak mudah.
Aku belajar mengelola beberapa aset keluarga Mahendra yang ternyata masih tersisa.
Ratih tidak pernah mengajariku untuk membalas dendam.
Ia hanya berkata,
“Kalau ingin menang, jangan menjadi lebih kejam daripada orang yang menyakitimu.”
Aku belajar.
Siang mengurus perusahaan.
Malam menemani Arka tidur.
Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Suka membaca.
Tidak banyak bicara.
Tetapi selalu memperhatikan orang lain.
Setiap kali ia tersenyum, aku melihat Adrian.
Itulah satu-satunya bagian masa lalu yang tidak bisa kuhapus.
Di Jakarta, keadaan Adrian justru memburuk.
Merger dengan keluarga Santoso memang berhasil.
Namun hanya setahun.
Ketika kondisi ekonomi berubah, keluarga Santoso diam-diam menjual sebagian besar saham mereka.
Bianca juga mulai menuntut lebih banyak.
Hubungan mereka dipenuhi pertengkaran.
Suatu malam Bianca berkata,
“Dulu kau mengorbankan istrimu demi aku.”
“Jangan salahkan aku kalau sekarang aku juga mengorbankanmu demi diriku.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Adrian.
Untuk pertama kalinya, ia teringat kata-kata Marissa.
“Hari ini aku yang menjadi penghalang. Besok giliranmu.”
Ia mulai mencari keberadaanku lagi.
Namun hasilnya nihil.
Seolah aku benar-benar menghilang dari dunia.
Tiga tahun berlalu.
Suatu pagi yang cerah di Bali, aku mengantar Arka ke preschool.
Ia berlari kecil sambil membawa tas bergambar dinosaurus.
“Ma, nanti jemput cepat ya.”
“Iya.”
“Aku mau tunjukkan gambar yang kubuat.”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Tanpa kusadari, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.
Seorang pria turun.
Wajahnya tampak lebih tua.
Lebih lelah.
Garis-garis halus memenuhi sudut matanya.
Itu Adrian.
Ia datang ke Bali untuk menghadiri konferensi bisnis.
Semua terjadi begitu cepat.
Arka berlari karena melihat kupu-kupu.
Topinya terbang tertiup angin hingga ke jalan.
Adrian refleks mengambilkannya.
“Ini punyamu.”
Arka mengangkat kepala.
Mereka saling menatap.
Adrian membeku.
Alis itu.
Mata itu.
Cara anak itu mengerutkan dahi.
Semuanya seperti melihat dirinya sendiri saat kecil.
“Siapa namamu?”
“Arka.”
“Nama lengkap?”
“Arka Mahendra.”
Nama belakang itu membuat jantung Adrian berdegup kencang.
Saat itulah aku keluar dari gerbang sekolah.
Tatapan kami bertemu untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.
Ia hampir tidak percaya.
“Marissa…”
Aku berjalan menghampiri Arka.
“Terima kasih sudah mengambilkan topinya.”
Aku menggandeng tangan putraku.
Adrian masih menatap kami.
“Dia…”
Aku memotongnya.
“Kami harus masuk.”
“Marissa, tunggu.”
Aku berhenti.
Namun aku tidak menoleh.
“Ada yang ingin kau katakan?”
Suaranya bergetar.
“Apakah… dia anakku?”
Aku menatap langit beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.
“Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan tiga tahun yang lalu.”
“Aku…”
“Kau masih ingat saat menyuruhku menggugurkan bayi berusia tujuh bulan?”
Wajah Adrian memucat.
“Aku salah.”
“Bukan salah.”
“Kau membuat pilihan.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku mohon… beri aku kesempatan.”
Arka menarik ujung bajuku.
“Ma, Om itu kenapa menangis?”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin karena akhirnya dia mengerti bahwa setiap pilihan selalu punya harga.”
Kami berjalan pergi.
Namun Adrian tidak menyerah.
Beberapa hari kemudian ia datang ke rumahku.
Bukan membawa pengacara.
Bukan membawa ancaman.
Ia hanya membawa sebuah kotak.
Di dalamnya terdapat potongan-potongan hasil USG yang dulu pernah ia sobek.
Semua serpihan telah direkatkan satu per satu.
“Aku menemukannya di gudang apartemen.”
“Aku menyimpannya.”
“Aku tidak tahu kenapa.”
Aku memandang kertas itu lama.
Bekas sobekannya masih terlihat jelas.
Sama seperti luka di dalam hatiku.
“Aku tidak datang untuk meminta kita kembali.”
“Aku hanya ingin menjadi ayah.”
Aku diam cukup lama.
Lalu bertanya,
“Kalau waktu bisa diputar, apakah kau tetap akan memilih perusahaan?”
Adrian menunduk.
“Tidak.”
“Tapi waktu memang tidak bisa diputar.”
Aku mengangguk.
“Itulah jawaban yang paling jujur.”
Aku tidak membuka pintu lebih lebar.
Aku juga tidak mengusirnya.
Aku hanya berkata,
“Kalau suatu hari Arka ingin mengenalmu, keputusan itu akan menjadi haknya.”
“Tapi bukan hakmu.”
Adrian mengangguk pelan.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Aku kehilangan keluarga bukan karena takdir.”
“Aku kehilangannya karena keserakahanku sendiri.”
Aku memandang Arka yang sedang tertawa bersama Ratih di taman.
Saat itu aku benar-benar mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memenangkan seseorang yang pernah menyakitimu.
Kebahagiaan adalah mampu membangun kehidupan baru tanpa membiarkan luka masa lalu menentukan masa depanmu.
Dan bagi Adrian, hukuman terbesar bukanlah kehilangan perusahaan, kekayaan, atau kekuasaan.
Melainkan harus menyaksikan putranya tumbuh menjadi anak yang luar biasa, sambil menyadari bahwa kesempatan untuk menjadi seorang ayah telah ia buang dengan tangannya sendiri.
