Aku masih terduduk di lantai supermarket ketika suara perempuan dari telepon itu terus terngiang di kepalaku.
“Pak Rodel… bilang ke Mika… dia bukan satu-satunya yang dia hancurkan.”
Duniaku seakan berhenti berputar.
Aku menatap Carlo. Wajah yang selama lima tahun terakhir selalu kuanggap sebagai tempat pulang kini tampak asing. Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa takut yang sesungguhnya di matanya.
Bukan takut kehilangan aku.

Bukan takut kehilangan anak kami.
Melainkan takut semua kebohongannya terbongkar.
Beberapa menit kemudian suara sirene ambulans dan mobil polisi memenuhi halaman supermarket.
Carlo mencoba melangkah mundur.
“Ada salah paham,” katanya cepat sambil memaksa tersenyum. “Istri saya sedang emosional karena hamil.”
Seorang polisi menghampirinya.
“Saudara Carlo Villanueva?”
“Iya.”
“Kami memiliki surat perintah untuk membawa Anda ke kantor polisi terkait dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan beberapa laporan lain yang sedang kami selidiki.”
Carlo langsung menunjuk ke arahku.
“Dia bohong! Dia sengaja menjatuhkan dirinya sendiri!”
Aku ingin membantah, tetapi rasa sakit di perut membuat napasku sesak.
Mang Rodel menggenggam tanganku.
“Jangan bicara dulu. Selamatkan bayimu.”
Aku dibawa ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi ribuan pertanyaan.
Apa maksud perempuan tadi?
Berapa banyak korban selain aku?
Dan kenapa selama ini aku tidak pernah tahu?
Dokter langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Bayiku masih selamat.
Kalimat itu membuatku menangis sejadi-jadinya.
Aku memeluk perutku sambil berjanji dalam hati.
Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi anak ini.
Malam itu, ketika efek obat mulai berkurang, Mang Rodel datang membawa sebuah map.
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Seorang perempuan masuk perlahan.
Usianya mungkin tiga puluh lima tahun.
Di pipinya masih terlihat bekas luka lama.
“Aku Lorna.”
Jantungku berdegup kencang.
Nama itu.
Nama yang tadi disebut Carlo.
Dia duduk di samping tempat tidurku.
“Maaf.”
Hanya satu kata itu yang keluar sebelum air matanya jatuh.
“Aku pernah menjadi sekretaris pribadi Carlo.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Awalnya kami hanya rekan kerja. Lama-lama dia mulai mendekatiku. Dia bilang istrinya tidak mencintainya lagi.”
Dadaku terasa diremas.
Kalimat itu.
Kalimat yang sama persis pernah diucapkannya kepada perempuan lain.
“Aku bodoh,” lanjut Lorna lirih. “Aku percaya.”
Dia membuka map.
Isinya foto-foto.
Transfer uang.
Rekaman percakapan.
Dan beberapa hasil pemeriksaan medis.
“Setelah aku hamil, dia memaksaku menggugurkan kandungan.”
Tanganku gemetar.
“Aku menolak.”
“Lalu dia mendorongku dari tangga.”
Aku menutup mulutku.
“Bayiku meninggal.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Aku melapor. Tapi keluarganya punya koneksi. Kasusnya menghilang.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Lorna menatap perutku.
“Ketika aku tahu kamu hamil, aku mencoba menghubungimu berkali-kali. Tapi semua pesan tidak pernah dibalas.”
Aku langsung teringat.
Selama ini ponselku selalu berada di tangan Carlo.
Dia membaca semua pesan.
Menghapus semua yang tidak ingin kulihat.
Aku bahkan tidak pernah sadar.
Keesokan harinya polisi datang membawa kabar mengejutkan.
Mereka menemukan lebih dari lima belas rekening atas nama perusahaan fiktif.
Uang miliaran rupiah mengalir ke sana selama bertahun-tahun.
“Apa hubungannya dengan Carlo?” tanyaku.
“Semua rekening dikendalikan olehnya.”
Ternyata bukan hanya kekerasan.
Dia juga mencuci uang perusahaan farmasi tempatnya bekerja.
Aku mulai memahami mengapa ia begitu terobsesi mengontrol semua orang.
Karena hidupnya dibangun di atas kebohongan.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Dua hari kemudian seorang pria tua datang ke rumah sakit.
Rambutnya sudah memutih.
Langkahnya pelan.
Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.
“Mika…”
Aku tidak mengenalnya.
“Ayahmu.”
Aku membeku.
“Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun lalu.”
Pria itu menggeleng.
“Ibumu yang mengatakan begitu.”
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Ia mengeluarkan sebuah foto.
Aku.
Masih kecil.
Sedang digendong olehnya.
“Aku mencari kalian bertahun-tahun.”
Ternyata setelah perceraian orang tuaku, ibuku memutus semua hubungan.
Beliau mengatakan bahwa ayah tidak menginginkan kami lagi.
Padahal kenyataannya berbeda.
Ayahku terus mencari.
Bahkan setiap ulang tahunku, ia selalu menitipkan hadiah ke alamat lama yang ternyata sudah lama kami tinggalkan.
Aku menangis dalam pelukannya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa masih memiliki keluarga.
Seminggu kemudian keadaan membaik.
Aku diperbolehkan pulang.
Kasus Carlo mulai ramai diberitakan.
Media menampilkan wajahnya sebagai sosok religius yang ternyata menyimpan sisi kelam.
Beberapa perempuan lain mulai berani melapor.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang diperas.
Ada yang mengalami kekerasan fisik.
Satu per satu muncul.
Jumlah korban terus bertambah.
Pengacaranya berusaha membangun citra bahwa Carlo mengalami tekanan pekerjaan.
Namun rekaman CCTV supermarket menghancurkan semua pembelaannya.
Video itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana ia mendorongku hingga terjatuh.
Rekaman suara dari ponselnya juga berhasil dipulihkan.
Termasuk perintahnya kepada Lorna untuk menghapus rekam medis dan berbagai bukti.
Semua mulai berbalik.
Aku mengira semuanya akan segera selesai.
Aku salah.
Suatu malam, ketika usia kehamilanku memasuki delapan bulan, listrik di rumah tiba-tiba padam.
Aku tinggal sementara di rumah ayah.
Suasana menjadi gelap gulita.
Lalu terdengar suara kaca pecah.
Ayah langsung berdiri.
“Masuk kamar!”
Aku memegang perutku dan berlari.
Terdengar langkah kaki.
Cepat.
Berat.
Seseorang masuk melalui jendela belakang.
Ayah mengambil tongkat baseball.
“Aku sudah menelepon polisi!”
Orang itu tidak menjawab.
Hanya terus melangkah.
Ketika cahaya senter polisi akhirnya menyorot wajah penyusup itu, napasku terhenti.
Carlo.
Entah bagaimana ia berhasil keluar dengan jaminan sementara.
Matanya merah.
Rambutnya berantakan.
“Aku cuma mau bicara.”
Tidak ada lagi senyum palsu.
Tidak ada lagi wajah sopan.
Yang tersisa hanyalah kemarahan.
“Kalau aku hancur, kamu juga harus hancur.”
Dia mengeluarkan pisau kecil.
Sebelum sempat mendekat, ayah memukul tangannya hingga pisaunya terjatuh.
Polisi langsung menjatuhkannya ke tanah.
Saat diborgol, Carlo masih menatapku.
“Aku tidak pernah mencintaimu.”
Aku mengusap perutku.
Lalu menjawab dengan tenang.
“Aku juga akhirnya sadar, aku hanya mencintai bayangan tentang dirimu. Bukan dirimu yang sebenarnya.”
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar runtuh.
Beberapa minggu kemudian aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Tangis pertamanya memenuhi ruang bersalin.
Dokter meletakkannya di dadaku.
Aku menangis sambil tersenyum.
“Selamat datang, Nak.”
Ayah berdiri di sampingku sambil mengusap air mata.
Lorna juga datang membawa bunga.
Ia berkata pelan kepada bayiku.
“Kamu lahir untuk mengakhiri semua luka yang dulu tidak sempat kami sembuhkan.”
Enam bulan kemudian persidangan selesai.
Carlo divonis bersalah atas kekerasan dalam rumah tangga, penggelapan, pencucian uang, intimidasi saksi, dan beberapa tindak pidana lainnya.
Hukumannya sangat berat.
Semua aset hasil kejahatannya disita.
Perusahaan tempatnya bekerja meminta maaf secara terbuka kepada para korban karena gagal mendeteksi penyalahgunaan wewenang selama bertahun-tahun.
Aku memilih memulai hidup baru.
Bukan dengan kebencian.
Melainkan dengan keberanian.
Bersama Lorna, aku mendirikan sebuah komunitas pendamping bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Setiap minggu kami menerima perempuan-perempuan yang datang dengan mata sembab dan hati yang hancur.
Aku selalu mengatakan hal yang sama kepada mereka.
“Kalau hari ini kamu masih bisa bernapas, berarti hidupmu belum selesai. Masih ada masa depan yang menunggumu.”
Suatu sore, ketika putriku sudah mulai belajar berjalan, ia berlari kecil di taman sambil tertawa.
Aku memperhatikannya dari bangku kayu.
Mang Rodel yang sedang berkunjung tersenyum.
“Dia mirip kamu.”
Aku mengangguk.
“Syukurlah.”
Ia tertawa kecil.
“Kenapa bukan mirip ayahnya?”
Aku memandang putriku yang sedang memeluk seekor kupu-kupu mainan.
“Karena dia tidak membawa apa pun dari ayahnya.”
Mang Rodel menggeleng sambil tersenyum.
“Justru dia membawa sesuatu.”
“Apa?”
“Keberanian ibunya.”
Aku terdiam.
Angin sore berembus lembut.
Putriku menoleh ke arahku lalu berteriak riang.
“Ibu!”
Aku berlari memeluknya.
Saat itulah aku benar-benar mengerti.
Rumah bukanlah tempat di mana seseorang mengaku mencintaimu sambil melukaimu.
Rumah adalah tempat di mana rasa takut berhenti, air mata tidak lagi disembunyikan, dan seorang anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu layak dicintai.
