Aku dipaksa berlutut di hadapan selingkuhan suamiku.

Ketua Grup itu melangkah keluar dari lift dengan langkah tenang, tetapi setiap orang di lorong rumah sakit langsung menundukkan kepala. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan suara mesin monitor dari ruang ICU terasa lebih keras daripada napas mereka sendiri.

Pria itu berusia sekitar enam puluh lima tahun. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya tajam dan penuh wibawa. Jas hitam sederhana yang dikenakannya tidak memiliki logo apa pun, namun semua orang di dunia bisnis Indonesia mengenalnya.

Surya Wiranata.

Pendiri sekaligus Ketua Grup Arunika, konglomerasi terbesar yang memiliki jaringan perbankan, rumah sakit, energi, pelabuhan, dan puluhan perusahaan strategis di seluruh Indonesia.

Orang yang selama ini hanya muncul di televisi atau rapat kenegaraan.

Dan kini…

Dia berjalan lurus ke hadapanku.

Tanpa ragu, pria yang disegani para menteri dan pengusaha itu menundukkan kepala.

“Nona Maya.”

“Ayah Anda sudah menunggu terlalu lama agar Anda kembali.”

Seluruh lorong seperti kehilangan udara.

Bianca mundur satu langkah sambil menggeleng.

“Ini… ini pasti sandiwara.”

Adrian masih terpaku.

“Pak Surya…”

“Saya… saya pernah menghadiri acara Grup Arunika. Bagaimana mungkin…”

Pak Surya menoleh pelan.

Tatapannya dingin.

“Anda memang pernah menghadiri acara kami.”

“Tetapi hanya sebagai salah satu CEO perusahaan yang kami biayai.”

“Saya rasa Anda lupa dari mana semua fasilitas itu berasal.”

Ucapan itu seperti petir.

Adrian baru menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah dipikirkannya.

Empat tahun lalu, saat perusahaannya hampir bangkrut karena gagal memperoleh pendanaan, tiba-tiba sebuah konsorsium investasi misterius datang menyelamatkan bisnisnya.

Bunga pinjaman sangat rendah.

Kontrak kerja sama terus berdatangan.

Bank-bank besar membuka seluruh jalur kredit.

Semua orang menganggap Adrian sangat berbakat.

Bahkan Adrian sendiri mempercayainya.

Padahal…

Semua itu tidak pernah datang karena dirinya.

Pak Surya membuka map kedua.

“Dua ribu empat ratus lima puluh dua miliar rupiah.”

“Itulah total fasilitas yang Grup Arunika berikan kepada perusahaan Anda selama empat tahun terakhir.”

Adrian memucat.

“Itu… tidak mungkin.”

Pak Surya tetap tenang.

“Seluruh persetujuan itu ditandatangani atas permintaan Nona Maya.”

Aku memejamkan mata sejenak.

Empat tahun lalu…

Saat memutuskan menikahi Adrian, aku meninggalkan keluargaku.

Ayahku, Harun Santoso, pendiri Grup Arunika, tidak pernah menyetujui hubungan kami.

“Bila suatu hari dia benar-benar mencintaimu, dia akan menghargaimu tanpa mengetahui siapa dirimu.”

“Itulah ujian yang harus dia lewati.”

Aku bersikeras.

Aku yakin Adrian mencintaiku apa adanya.

Karena itu aku memilih hidup sederhana.

Aku tidak pernah memakai barang mewah.

Tidak pernah memperkenalkan keluargaku.

Tidak pernah menggunakan nama belakang Santoso.

Bahkan setelah ayah kandungku sakit keras dua tahun lalu, aku diam-diam menggunakan pengaruh keluarga hanya untuk membantu perusahaan Adrian berkembang.

Aku berharap…

Suatu hari nanti, ketika semuanya stabil, aku akan menceritakan kebenaran.

Tetapi ternyata…

Yang tumbuh bukan rasa syukur.

Melainkan kesombongan.

Adrian menggenggam kepalanya.

“Tidak…”

“Ini pasti salah.”

“Kalau memang benar, kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku memandangnya lama.

“Lalu apakah kau pernah bertanya?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Selama empat tahun kau tidak pernah ingin mengenal keluargaku.”

“Kau bahkan tidak pernah datang menjenguk ayahku.”

“Setiap kali aku mengajakmu pulang, kau selalu berkata sedang sibuk.”

Air muka Adrian mulai runtuh.

Memori demi memori bermunculan.

Semua undangan keluarga yang dia tolak.

Semua alasan yang dia buat.

Semua kesempatan yang dia abaikan.

Bianca tiba-tiba menarik lengan Adrian.

“Sayang, jangan percaya.”

“Mereka pasti sedang menipumu.”

Belum selesai dia berbicara, beberapa petugas keamanan rumah sakit datang menghampiri.

“Maaf, Nona Bianca.”

“Kami menerima permintaan resmi untuk mengosongkan lantai VIP.”

Bianca mengerutkan dahi.

“Aku tamu Adrian.”

Petugas itu menggeleng.

“Mulai malam ini seluruh biaya rumah sakit berada di bawah tanggung jawab Grup Arunika.”

“Dan nama Anda tidak termasuk daftar keluarga pasien.”

Wajah Bianca langsung merah.

“Berani sekali kalian mengusirku?”

Pak Surya hanya mengangkat tangan sedikit.

“Dampingi Nona Bianca keluar.”

Dua petugas mendekat.

Bianca berusaha meronta.

“Aku artis!”

“Kalian tahu siapa aku?”

Namun tak seorang pun memedulikannya.

Saat dia melewati lorong, beberapa wartawan yang entah sejak kapan sudah berdatangan langsung mengenalinya.

Kamera mulai menyala.

Kilatan lampu memenuhi koridor.

Bianca menutupi wajahnya panik.

“Jangan foto!”

Terlambat.

Keesokan paginya, seluruh Indonesia akan mengetahui semuanya.

Adrian masih berdiri seperti kehilangan jiwa.

Dia tiba-tiba berlutut.

“Maya…”

“Aku salah.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku menatap pria itu tanpa emosi.

“Benarkah?”

“Kalau malam ini aku bukan putri Grup Arunika…”

“Apakah kau tetap akan meminta maaf?”

Pertanyaan itu menghancurkannya.

Karena dia tahu jawabannya.

Tidak.

Kalau aku tetap menjadi ibu rumah tangga biasa…

Dia pasti tetap memaksaku berlutut.

Saat itulah pintu ICU terbuka.

Seorang dokter senior keluar.

“Nona Maya.”

“Kami sudah menyiapkan ruang operasi.”

“Namun ada kabar baik.”

“Kondisi ayah Anda stabil.”

Aku langsung berlari menghampiri.

“Benarkah?”

Dokter tersenyum.

“Beliau baru saja sadar.”

Air mataku langsung jatuh.

Aku masuk ke ruang ICU.

Ayahku terbaring lemah.

Namun ketika melihatku, beliau tetap tersenyum seperti dulu.

“Akhirnya…”

“Kamu pulang juga.”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Maafkan Maya.”

“Ayah menunggu terlalu lama.”

Beliau menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Ayah hanya sedih.”

“Kamu terlalu lama memikul semuanya sendirian.”

Aku menangis seperti anak kecil.

Empat tahun.

Empat tahun aku berusaha mempertahankan pernikahan yang ternyata hanya dibangun di atas pengorbananku sendiri.

Ayah mengusap tanganku pelan.

“Mulai sekarang…”

“Hiduplah untuk dirimu sendiri.”

Di luar ruangan, Adrian masih duduk di lantai.

Dia mendengar semuanya.

Dan baru kali itu dia menyadari…

Wanita yang selama ini dianggap bergantung padanya ternyata telah diam-diam melindunginya dari seluruh badai.

Sementara dirinya…

Justru menjadi badai terbesar dalam hidup wanita itu.

Dua minggu kemudian, berita perceraian kami mengguncang media nasional.

Harga saham perusahaan Adrian anjlok.

Seluruh investor yang sebelumnya bertahan memilih keluar.

Bianca kehilangan hampir semua kontrak iklan setelah rekaman CCTV rumah sakit bocor ke publik.

Tidak ada yang lagi percaya pada air matanya.

Sebaliknya, masyarakat mengetahui bagaimana seorang anak perempuan mempertaruhkan segalanya demi cinta, lalu dipermalukan oleh orang yang paling dipercayainya.

Sebulan kemudian, sidang perceraian selesai.

Aku tidak meminta satu rupiah pun.

Aku hanya meminta kebebasan.

Saat keluar dari pengadilan, Adrian mengejarku.

“Maya.”

Aku berhenti.

Dia tampak jauh lebih kurus.

“Aku tidak berharap kamu kembali.”

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Dan maaf.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Tetapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Dia mengangguk pelan.

Matanya memerah.

Aku masuk ke mobil.

Saat kendaraan mulai bergerak, aku melihat Adrian berdiri sendirian di halaman pengadilan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Dia benar-benar tidak memiliki siapa pun untuk bersandar.

Beberapa bulan kemudian, kondisi ayahku pulih sepenuhnya.

Beliau menyerahkan sebagian besar kepemimpinan Grup Arunika kepadaku.

Namun aku tidak memilih membalas dendam kepada siapa pun.

Aku menggunakan dana yang selama ini disiapkan untuk memperluas rumah sakit gratis bagi keluarga kurang mampu.

Ayah tersenyum bangga melihat keputusan itu.

“Kekuasaan bukan untuk menghancurkan orang.”

“Tetapi untuk melindungi mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.”

Aku mengangguk.

Malam Tahun Baru berikutnya, aku kembali berdiri di lorong rumah sakit yang sama.

Namun kali ini bukan sebagai wanita yang dipaksa berlutut.

Melainkan sebagai orang yang meresmikan pusat perawatan jantung baru atas nama ibuku yang telah lama meninggal.

Saat acara selesai, seorang perawat muda menghampiriku.

“Nona Maya.”

“Terima kasih.”

“Kalau bukan karena pusat bantuan ini, ayah saya mungkin sudah tidak tertolong.”

Aku tersenyum.

Di luar, hujan gerimis kembali turun seperti setahun sebelumnya.

Namun kali ini, tidak ada lagi rasa takut.

Aku akhirnya mengerti bahwa cinta sejati tidak pernah meminta seseorang merendahkan dirinya.

Dan seseorang yang benar-benar mencintai kita tidak akan pernah membiarkan kita berlutut demi mempertahankan harga dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang