Saat Menggendong Bayi Baru Lahirku, Aku Menjual Rumah yang Dikira Milik Suamiku—Dia Tidak Tahu bahwa Bersamaan dengan Tanda Tanganku, Semua Dokumen Palsu dan Wanita yang Dia Banggakan Akan Terbongkar.
Aku hanya menggunakan satu tangan untuk menandatangani dokumen rumah.
Tangan kiriku memeluk Luna yang masih terlelap, sementara tangan kananku gemetar karena rasa nyeri yang belum juga hilang sejak melahirkan.
Ketika broker bertanya apakah suamiku menyetujui penjualan rumah itu, aku hanya tersenyum tipis.
“Secara hukum… saya sudah janda.”

Bukan karena Adrian Salazar sudah meninggal.
Tetapi karena laki-laki yang dulu kupercaya sepenuh hati sudah lama mati di dalam diriku.
Yang tersisa hanyalah seseorang yang mengenakan wajah Adrian.
Dalam perjalanan pulang, teleponnya langsung berdering begitu aku memintanya pulang.
“Mara! Apa maksudmu broker itu? Jangan main-main dengan rumahku!”
Aku menarik napas panjang.
“Datang saja. Kita bicara di rumah.”
Suara Adrian terdengar semakin tinggi.
“Aku sedang bersama Bianca.”
“Aku tahu.”
Aku memutus sambungan.
Sore itu aku duduk di ruang tamu sambil menggendong Luna. Dua koper kecil sudah berada di dekat pintu. Semua barang penting milikku telah dipindahkan ke apartemen sewaan yang disiapkan Lea.
Tak sampai tiga puluh menit, suara mobil berhenti di halaman.
Adrian masuk lebih dulu.
Di belakangnya Bianca berjalan dengan wajah cemas, sementara ibu mertuaku langsung berteriak begitu melihat koper.
“Kamu mau kabur?”
Aku menggeleng.
“Aku hanya pindah.”
Adrian melempar map ke atas meja.
“Broker bilang rumah ini sudah dijual. Siapa yang memberimu hak?”
Aku menatapnya tenang.
“Pemilik rumah.”
Dia tertawa sinis.
“Rumah ini milik kita.”
Aku mengeluarkan sertifikat asli dari dalam map.
“Atas nama siapa?”
Adrian terdiam.
Bianca ikut mendekat.
Di sana tertulis jelas.
MARA VILLANUEVA.
Bukan Adrian Salazar.
Bukan nama bersama.
Bukan harta bersama.
Rumah itu diwariskan nenekku jauh sebelum kami tinggal bersama.
Aku membayar seluruh renovasinya menggunakan tabungan dan hasil menjual apartemen kecil peninggalan ayahku di Filipina.
Adrian tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun.
“Tapi semua orang tahu rumah ini rumahku!” bentaknya.
“Karena aku membiarkanmu berpikir begitu.”
Ibu mertuaku langsung menunjuk wajahku.
“Kamu mempermalukan keluarga kami!”
Aku tersenyum pahit.
“Sejak kapan Ibu menganggapku keluarga?”
Ruangan menjadi sunyi.
Lalu Lea masuk bersama dua pria berpakaian formal.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Adrian.
Lea memperlihatkan kartu identitasnya.
“Saya kuasa hukum Bu Mara.”
Wajah Adrian mulai berubah.
Lea membuka beberapa berkas.
“Pak Adrian, sebelum marah, sebaiknya Anda membaca ini.”
Itu adalah hasil pemeriksaan Badan Pertanahan.
Seminggu sebelumnya ternyata telah diajukan proses balik nama rumah menggunakan akta jual beli.
Penjualnya…
Mara Villanueva.
Pembelinya…
PT Senandika Kreasi.
Direkturnya…
Bianca Reyes.
Bianca langsung pucat.
“Itu… pasti salah.”
Lea menggeleng.
“Tidak.”
Ia mengeluarkan salinan tanda tangan.
“Ada yang memalsukan tanda tangan klien saya.”
Aku melihat wajah Adrian yang mulai kehilangan warna.
Lea melanjutkan.
“Kami juga sudah menyerahkan dokumen ini ke laboratorium forensik tulisan tangan.”
Adrian mencoba tenang.
“Banyak orang bisa memalsukan tanda tangan.”
“Benar,” jawab Lea. “Masalahnya, file digital tanda tangan itu ditemukan di laptop studio seni milik Anda.”
Bianca langsung menoleh ke Adrian.
“Mas…”
Adrian memotong.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
Aku hanya memandang mereka berdua.
Lucu sekali.
Selama berbulan-bulan mereka membuatku merasa bodoh.
Kini mereka saling menyalahkan.
Belum selesai.
Lea mengeluarkan bukti transfer.
“Dana muka pembelian rumah ini berasal dari rekening pribadi Pak Adrian.”
Ruangan kembali sunyi.
Ibu mertuaku mulai gemetar.
“Apa maksud semua ini?”
Aku menatap perempuan yang selama ini selalu membelanya.
“Mereka berencana menjual rumahku diam-diam. Setelah akta palsu selesai, aku dan Luna akan dipindahkan ke apartemen kecil. Rumah ini akan dijadikan galeri baru atas nama Bianca.”
Bianca menangis.
“Aku cuma ikut apa kata Pak Adrian…”
“Diam!” bentak Adrian.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Lea menyerahkan satu map lagi.
“Masih ada satu hal.”
Isi map itu adalah laporan keuangan studio.
Selama dua tahun terakhir, Adrian memindahkan sebagian keuntungan studio ke perusahaan milik Bianca.
Nilainya hampir delapan miliar rupiah.
Dana itu tidak pernah dilaporkan kepada investor maupun rekan bisnisnya.
“Aku bisa jelaskan…” kata Adrian.
“Tentu,” jawab Lea.
“Silakan jelaskan nanti kepada penyidik.”
Bel berbunyi.
Dua penyidik dari kepolisian datang bersama petugas.
Mereka memperlihatkan surat penyelidikan atas dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan aset.
Bianca langsung terduduk.
Adrian memandangku seolah baru sadar siapa perempuan yang selama ini dianggap lemah.
“Mara… kamu melaporkanku?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Aku menatap matanya.
“Kamu sendiri.”
Dia mengernyit.
“Setiap dokumen palsu menggunakan email kantor. Setiap transfer memakai rekeningmu. Setiap percakapan terekam CCTV studio.”
Aku berhenti sebentar.
“Aku hanya membiarkanmu merasa tidak akan pernah ketahuan.”
Hari itu polisi tidak langsung menangkap mereka.
Tetapi seluruh dokumen disita.
Paspor Adrian dicegah.
Rekening perusahaan diblokir sementara.
Berita itu menyebar sangat cepat.
Mahasiswa yang dulu mengaguminya mulai mempertanyakan integritas dosen mereka.
Beberapa kolektor membatalkan pembelian lukisan.
Sponsor pameran menarik diri.
Dalam waktu seminggu, nama Adrian yang selama bertahun-tahun dibangun perlahan mulai runtuh.
Yang paling mengejutkan justru datang dari Bianca.
Ia mendatangiku tanpa riasan.
“Maaf.”
Aku diam.
“Aku memang mencintai Adrian.”
Ia menunduk.
“Tapi aku tidak tahu dia benar-benar memalsukan dokumen.”
Aku memandang perempuan itu lama.
“Kalau rumah itu berhasil kalian ambil, apa yang akan terjadi padaku dan Luna?”
Air matanya jatuh.
“Aku… tidak pernah memikirkannya.”
“Itulah masalahnya.”
Aku berdiri.
“Kalian hanya memikirkan diri sendiri.”
Sebulan kemudian sidang perdata dimulai.
Hakim menyatakan seluruh akta jual beli palsu batal demi hukum.
Rumah tetap menjadi milikku.
Perusahaan Bianca diwajibkan mengembalikan seluruh dana yang telah digunakan dalam transaksi fiktif.
Kasus pidana mengenai pemalsuan dokumen masih berjalan.
Di luar pengadilan, Adrian menghampiriku.
Tubuhnya tampak jauh lebih kurus.
“Mara.”
Aku berhenti.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Aku benar-benar menyesal.”
“Menyesal karena kehilangan aku?”
Dia diam.
“Atau karena kehilangan semuanya?”
Pertanyaan itu membuatnya tak mampu berkata-kata.
Aku menggendong Luna lebih erat.
“Kalau rumah itu berhasil kauambil, apakah kau akan tetap meminta maaf?”
Adrian menunduk.
Aku sudah mendapatkan jawabannya.
Dua minggu kemudian aku resmi terbang ke Iloilo bersama Luna.
Sebelum berangkat, petugas catatan sipil menyerahkan akta kelahiran baru.
Nama lengkap putriku tertulis jelas.
Luna Villanueva.
Bukan Salazar.
Aku tersenyum sambil mencium dahinya.
Ibuku menyambut kami di bandara dengan pelukan yang tak pernah berubah sejak aku kecil.
“Selamat pulang.”
Aku baru sadar betapa lama aku tidak benar-benar merasa pulang.
Beberapa bulan berlalu.
Aku membuka galeri seni kecil di Iloilo.
Bukan galeri mewah.
Hanya ruang sederhana tempat anak-anak belajar melukis secara gratis setiap akhir pekan.
Lukisan pertamaku setelah bertahun-tahun berhenti berkarya justru terjual habis.
Judulnya hanya satu kata.
“Pulang.”
Media lokal mulai meliput kisahku.
Banyak perempuan mengirim pesan.
Mereka bukan memuji keberanianku.
Mereka hanya berkata bahwa kisahku membuat mereka berani mengambil keputusan yang selama ini mereka takutkan.
Suatu sore, sebuah amplop datang tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Foto ketika Adrian dan aku masih menjadi mahasiswa.
Di belakang foto itu ada tulisan tangan yang sangat kukenal.
“Aku menghancurkan hidupku sendiri. Terima kasih karena akhirnya menghentikanku sebelum aku menjadi orang yang lebih buruk lagi.”
Tidak ada tanda tangan.
Aku melipat kembali foto itu.
Lalu memasukkannya ke dalam laci yang tidak pernah lagi kubuka.
Luna yang sudah mulai belajar berjalan berlari kecil ke arahku sambil tertawa.
Aku mengangkatnya tinggi-tinggi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa kehilangan.
Karena ternyata yang benar-benar hilang bukanlah suami.
Melainkan rasa takut untuk memulai hidup baru.
Dan saat rasa takut itu pergi, aku akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rumah, harta, atau nama besar siapa pun.
Aku menemukan kembali diriku sendiri.
