LIMA TAHUN AKU BEKERJA DI LUAR NEGERI DEMI MEMBERIKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK UNTUK ISTRIKU DAN AYAHKU.

Setelah lima tahun bekerja di luar negeri demi memberikan kehidupan yang lebih baik untuk istriku dan ayahku, aku pulang tanpa memberi kabar karena ingin memberikan kejutan. Namun saat pintu rumah kubuka, aku melihat ayahku berlutut mengepel lantai, sementara istriku dan ibunya duduk santai di sofa bak seorang ratu. Pada detik itu, cintaku mati. Dan sesuatu yang lain mulai bangkit.

Namaku Aditya Pratama, tiga puluh lima tahun. Selama lima tahun terakhir aku bekerja sebagai Senior Engineer di ladang minyak lepas pantai di Qatar. Panas yang menyengat, ombak besar, dan jadwal kerja dua belas jam setiap hari sudah menjadi bagian dari hidupku. Setiap tetes keringat kuanggap sebagai harga yang harus kubayar agar orang-orang yang kucintai hidup nyaman.

Sebelum berangkat, aku hanya memiliki satu permintaan kepada istriku, Nadira.

“Tolong jaga Ayah. Beliau hanya punya aku.”

Nadira menggenggam tanganku sambil tersenyum manis.

“Aku janji.”

Janji itu kini terasa seperti pisau yang menancap di dadaku.

Aku melangkah masuk perlahan.

Nadira baru menyadari kehadiranku beberapa detik kemudian.

Cangkir kopinya jatuh.

“Mas…?”

Bu Ratna ikut menoleh. Wajahnya langsung pucat.

Ayahku justru buru-buru mengambil kain pel yang jatuh.

“Aditya… jangan marah…”

Kalimat pertama yang keluar dari mulut beliau bukanlah keluhan, melainkan permohonan agar aku tidak marah.

Dadaku semakin sesak.

Aku menghampiri ayah dan membantunya berdiri.

Tangannya sangat ringan.

Terlalu ringan.

Beliau kehilangan banyak berat badan.

“Kenapa Ayah melakukan semua ini?”

Ayah menunduk.

“Sudahlah…”

Beliau bahkan masih berusaha melindungi mereka.

Aku menoleh ke arah Nadira.

“Aku tanya sekali lagi. Kenapa ayahku mengepel rumah ini?”

Nadira mencoba tersenyum.

“Mas salah paham.”

“Salah paham?”

“Iya. Bapak sendiri yang mau membantu.”

Bu Ratna buru-buru menimpali.

“Orang tua harus tetap aktif supaya sehat.”

Aku mengangguk pelan.

Lalu aku melihat telapak tangan ayah.

Penuh luka.

Kulitnya pecah-pecah.

Bekas deterjen.

Bekas pekerjaan kasar.

Tanganku mulai gemetar.

Aku mengajak ayah duduk.

Beliau tampak ketakutan.

Takut aku bertengkar.

Takut rumah itu menjadi gaduh.

Aku justru semakin sakit melihatnya.

Seseorang yang selama hidupnya membesarkanku sendirian kini takut karena keberadaanku sendiri.

Aku menarik napas panjang.

“Pak Budi.”

Tak ada jawaban.

Aku memanggil lagi lebih keras.

Lima detik kemudian seorang pria berusia lima puluhan masuk dari pintu samping.

Dia adalah sopir lamaku.

Matanya langsung berkaca-kaca melihatku.

“Pak…”

“Sejak kapan semua ini terjadi?”

Pak Budi menoleh ke arah Nadira.

Nadira memberi isyarat agar dia diam.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Katakan yang sebenarnya.”

Pak Budi akhirnya menunduk.

“Empat tahun, Pak.”

Aku merasa dunia kembali runtuh.

“Empat tahun?”

“Iya.”

Pak Budi menceritakan semuanya.

Awalnya ayah memang hanya membantu menyapu halaman.

Lama-kelamaan Bu Ratna mulai menyuruh beliau mencuci mobil.

Lalu mencuci kamar mandi.

Mengepel seluruh rumah.

Bahkan mencuci pakaian mereka.

Kalau lambat sedikit, mereka dimarahi.

Kalau makanan kurang enak, mereka menyalahkan ayah.

Beberapa pembantu yang mencoba membela ayah langsung dipecat.

Karena itu tidak ada lagi yang berani bicara.

Aku memandang Nadira.

Dia masih mencoba bertahan.

“Mas, itu bohong.”

Aku tidak menjawab.

Aku membuka aplikasi perbankan.

Selama lima tahun aku selalu mentransfer uang.

Tidak pernah kurang.

Aku lalu membuka rekening perusahaan yang kupakai untuk membayar cicilan rumah.

Seketika aku menyadari sesuatu.

Rumah itu ternyata belum pernah dibalik nama.

Sertifikatnya masih atas namaku.

Aku tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah.

Nadira melihat senyum itu dan wajahnya justru semakin panik.

“Maksud Mas apa?”

Aku menghubungi pengacaraku.

“Pak Daniel, saya sudah pulang.”

“Syukurlah, Pak.”

“Saya ingin semua akses rekening bersama dibekukan malam ini.”

“Baik.”

“Semua kartu tambahan dinonaktifkan.”

“Siap.”

“Mobil atas nama perusahaan ditarik.”

“Siap.”

“Dan mulai besok pagi, proses gugatan cerai disiapkan.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Nadira berdiri.

“Mas! Jangan bercanda!”

Aku menatapnya datar.

“Aku tidak sedang bercanda.”

Bu Ratna mulai berteriak.

“Ini rumah anak saya!”

Aku menoleh.

“Rumah ini atas nama saya.”

Beliau langsung terdiam.

Aku melanjutkan.

“Mobil juga.”

“Rekening investasi juga.”

“Perusahaan keluarga yang kalian pakai untuk belanja juga.”

“Semuanya.”

Nadira mulai menangis.

“Mas… aku bisa jelaskan.”

“Tidak.”

“Aku khilaf.”

“Tidak.”

“Aku berubah.”

“Tidak.”

Semua kata itu terlambat.

Malam itu aku mengantar ayah ke rumah sakit.

Dokter melakukan pemeriksaan lengkap.

Saat hasil keluar, aku hampir kehilangan keseimbangan.

Ayah mengalami kurang gizi ringan.

Tekanan darah tinggi.

Asam lambung kronis.

Dan lututnya mengalami kerusakan karena terlalu sering berlutut membersihkan lantai.

Aku memegang tangan beliau.

“Maafkan Aditya.”

Beliau tersenyum.

“Bukan salahmu.”

“Tapi aku yang meninggalkan Ayah.”

“Kamu pergi untuk masa depan kita.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Seumur hidup, ayah selalu memaafkanku bahkan ketika aku merasa paling bersalah.

Keesokan harinya aku kembali ke rumah bersama pengacara, notaris, dan beberapa petugas keamanan.

Nadira masih berada di sana.

Ia tampak tidak tidur semalaman.

Begitu melihatku, ia langsung memeluk kakiku.

“Mas… jangan usir kami.”

Aku melepaskan pelukannya.

“Aku tidak mengusirmu.”

“Lalu?”

“Aku hanya mengambil kembali rumahku.”

Petugas mulai mendata seluruh barang pribadi mereka.

Bu Ratna terus memaki.

Tetangga mulai berkumpul.

Selama ini mereka mengira ayahku hanyalah pembantu yang tinggal di rumah itu.

Baru hari itu mereka mengetahui kenyataan sebenarnya.

Beberapa orang bahkan menangis melihat kondisi ayah.

Salah seorang tetangga berkata lirih,

“Pak Surya selalu bilang beliau bahagia.”

Aku tersenyum pahit.

Ayah memang seperti itu.

Beliau rela menyimpan semua rasa sakit agar anaknya tidak khawatir.

Tiga minggu kemudian sidang perceraian dimulai.

Aku tidak menuntut harta.

Aku hanya ingin keadilan.

Namun kejutan datang dari Pak Daniel.

Ia menyerahkan sebuah map.

“Ini rekaman CCTV lama.”

“CCTV?”

“Sistem cloud rumah ternyata masih aktif.”

Aku membukanya.

Puluhan video muncul.

Semuanya memperlihatkan perlakuan Nadira dan Bu Ratna terhadap ayah.

Ada rekaman saat mereka melempar sapu.

Ada saat mereka memaksa ayah membersihkan kolam di tengah hujan.

Ada saat Bu Ratna menumpahkan makanan ke lantai lalu menyuruh ayah membersihkannya sambil berlutut.

Yang paling menghancurkan adalah sebuah rekaman berdurasi dua menit.

Ayah sedang duduk sendirian di dapur sambil memandangi fotoku di ponsel.

Beliau berbisik pelan.

“Jangan pulang dulu, Nak. Ayah masih kuat.”

Aku tidak sanggup melanjutkan menonton.

Video-video itu kemudian menjadi bukti di persidangan.

Hakim memandang Nadira dengan tatapan kecewa.

Perceraian dikabulkan.

Permohonan pembagian aset ditolak karena hampir seluruh harta merupakan milikku sebelum dan selama pernikahan dengan bukti yang jelas.

Kasus tidak berhenti di sana.

Beberapa minggu setelah sidang selesai, seorang mantan pembantu datang menemuiku.

Namanya Rini.

Ia membawa sebuah flashdisk.

“Saya sudah lama ingin memberikan ini.”

Di dalamnya terdapat rekaman suara.

Suara Nadira.

“Kalau orang tua itu cepat meninggal, semua harta Mas Aditya pasti lebih mudah kita kuasai.”

Aku membeku.

Ternyata semua perlakuan itu bukan sekadar kebencian.

Mereka memang ingin membuat ayahku menyerah.

Polisi kemudian membuka penyelidikan atas dugaan penganiayaan terhadap lansia dan beberapa pelanggaran lain yang ditemukan selama proses pemeriksaan.

Aku tidak pernah mengikuti perkembangan kasus itu lagi.

Bagiku, hukuman terbesar bagi mereka bukanlah penjara.

Melainkan kehilangan semua yang selama ini mereka nikmati.

Enam bulan kemudian aku menjual rumah besar itu.

Ayah sempat bertanya,

“Kenapa dijual? Itu hasil kerja kerasmu.”

Aku tersenyum.

“Rumah itu terlalu banyak kenangan buruk.”

Kami pindah ke rumah yang jauh lebih sederhana di Bandung.

Setiap pagi aku mengantar ayah berjalan kaki ke taman.

Beliau mulai tersenyum lebih sering.

Suatu sore, saat kami duduk menikmati teh hangat di teras, ayah berkata pelan,

“Dulu Ayah pikir menjadi orang kaya berarti punya rumah besar.”

“Lalu sekarang?”

“Sekarang Ayah tahu, rumah bukan tempat yang lantainya paling mengilap.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu berlutut untuk mendapatkan kasih sayang.”

Aku memandang wajah beliau yang kini jauh lebih tenang.

Lima tahun aku bekerja demi membangun sebuah rumah megah.

Namun baru setelah kehilangan semuanya, aku mengerti bahwa kekayaan terbesar bukanlah uang, mobil, atau bangunan yang menjulang tinggi.

Kekayaan terbesar adalah memiliki seseorang yang tetap memilih melindungimu, bahkan ketika dirinya sendiri sedang disakiti.

Dan sejak hari itu, aku bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan ayahku berlutut demi siapa pun, selain saat beliau menundukkan kepala kepada Tuhan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang