Selama tiga bulan, kami selalu makan siang di kantin perusahaan yang sama di Jakarta Selatan.
Bukan karena kami berteman.
Melainkan karena setiap hari, tanpa pernah benar-benar meminta izin, Rina Wijaya selalu berdiri di samping saya saat antrean selesai.
Saya menggesek kartu tunjangan makan perusahaan.
Mesin berbunyi.
Lalu nampannya ikut terbayar.

“HP-ku lowbat lagi. Nanti aku transfer ya.”
Kalimat itu terdengar begitu ringan, seolah sudah menjadi bagian dari rutinitas kantor.
Awalnya saya percaya.
Hari pertama, saya menunggu.
Hari ketujuh, saya lupa.
Bulan kedua, saya mulai sadar tidak pernah ada satu rupiah pun yang masuk.
Namun saya tetap diam.
Bukan karena takut.
Saya hanya ingin melihat sampai sejauh mana seseorang merasa berhak atas kebaikan orang lain.
Nama saya Mara Santoso.
Saya bekerja sebagai analis pengadaan.
Di perusahaan kami, semua orang mengenal saya sebagai orang yang tenang. Tidak suka bergosip, tidak suka mencari perhatian, dan selalu menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktu.
Sebaliknya, Rina sangat pandai berbicara.
Dia mudah akrab dengan siapa saja.
Di pantry, di lift, bahkan di ruang rapat, selalu ada orang yang tertawa mendengar ceritanya.
Orang-orang menyukainya.
Dan itu membuat saya semakin memilih diam.
Sampai suatu hari saya memutuskan berhenti.
Saya mulai membawa bekal sendiri.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada pertengkaran.
Saya hanya berhenti menjadi dompet berjalan.
Hari pertama dia terlihat bingung.
Hari kedua dia mulai bertanya kepada beberapa rekan apakah melihat saya.
Hari ketiga dia menghadang saya di depan kantin.
“Kamu sengaja menghindar?”
Saya hanya tersenyum.
“Lagi pengin bawa bekal.”
“Terus aku makan apa?”
Nada suaranya meninggi.
Beberapa kepala mulai menoleh.
Saya tetap tenang.
“Itu bukan tanggung jawab saya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Rina, kalimat itu seperti tamparan.
Sejak hari itu, suasana kantor berubah.
Bisik-bisik mulai terdengar setiap kali saya lewat.
“Masa segitunya?”
“Cuma bantu swipe makan aja.”
“Katanya orang baik.”
Saya tidak membela diri.
Orang yang terbiasa hidup dari cerita biasanya akan kalah oleh kenyataan.
Dua hari kemudian Bu Lorna, supervisor kantin, menghampiri meja saya.
“Mara, ikut saya sebentar.”
Kami masuk ke ruang kecil tempat monitor CCTV berada.
Bu Lorna memutar rekaman.
Terlihat Rina berdiri di dekat meja makan yang biasa kami gunakan.
Dia berbicara sendiri sambil menendang kursi.
“Sok suci.”
“Mentang-mentang rajin.”
“Kirain siapa.”
Lalu terdengar kalimat yang membuat saya terdiam.
“Kalau perlu kubikin dia nyesel kerja di sini.”
Bu Lorna memandang saya.
“Saya simpan rekamannya.”
Saya mengangguk.
“Terima kasih.”
Hanya itu.
Saya pulang seperti biasa.
Tidak melapor kepada HR.
Tidak mengirim rekaman kepada siapa pun.
Saya hanya menyimpannya.
Seminggu kemudian, proyek tender senilai hampir Rp2 miliar memasuki tahap akhir.
Seluruh divisi sibuk.
Semua dokumen harus selesai sebelum pukul tiga sore.
Saat saya sedang memeriksa berkas terakhir, Rina lewat membawa semangkuk mi kuah.
Saya bahkan tidak melihat ke arahnya.
Tiba-tiba…
Brak.
Mangkok itu terbalik.
Kuah panas membasahi seluruh dokumen di meja saya.
“Aduh! Maaf! Nggak sengaja!”
Suasana kantor langsung gaduh.
Saya melihat berkas yang basah.
Lalu membuka laci meja.
Saya mengeluarkan map biru.
Seluruh dokumen asli masih tersimpan rapi di dalamnya.
Yang terkena kuah hanyalah salinan kerja.
Rina menatap saya dengan wajah kosong.
“Kamu… punya cadangan?”
“Saya selalu punya.”
Kenapa?
Karena saya percaya kecelakaan bisa terjadi.
Dan saya juga percaya, tidak semua kecelakaan benar-benar tidak disengaja.
Saya meminta Bu Lorna mengirim seluruh rekaman CCTV hari itu.
Ternyata sebelum membawa mi ke meja saya, Rina sempat berhenti di pantry.
Dia berbicara dengan salah satu rekannya.
“Tunggu aja. Hari ini dia pasti panik.”
Kalimat itu terdengar jelas.
Lalu kamera berikutnya memperlihatkan dia berjalan sangat pelan ke arah meja saya.
Dia bahkan sempat melihat ke kanan dan kiri sebelum memiringkan mangkuknya.
Tidak ada yang tidak sengaja.
Semua dilakukan dengan sadar.
Saya masih belum melapor.
Sebaliknya, saya melanjutkan pekerjaan seperti biasa.
Justru sikap tenang saya membuat Rina semakin gelisah.
Dia mulai menyebarkan cerita.
Katanya saya ingin menjebaknya.
Katanya saya sengaja membawa dokumen palsu.
Katanya saya memasang kamera untuk mencari kesalahan orang.
Beberapa rekan mulai percaya.
Namun sebagian mulai ragu.
Karena cerita Rina berubah setiap hari.
Senin dia bilang mangkoknya tersenggol.
Selasa katanya lantai licin.
Rabu dia mengaku tangannya kram.
Versinya tidak pernah sama.
Seminggu kemudian HR mengadakan rapat.
Semua orang mengira rapat itu membahas evaluasi tender.
Ternyata bukan.
Di ruang rapat sudah hadir Direktur Operasional.
Kepala HR.
Tim Legal.
Dan perwakilan audit internal.
Saya duduk tanpa membawa apa pun selain sebuah flashdisk.
Rina tampak santai.
Bahkan masih sempat tersenyum kepada beberapa orang.
HR membuka rapat.
“Mara, silakan.”
Saya berdiri.
Tidak ada pidato.
Saya hanya memutar rekaman pertama.
CCTV kantin.
Rekaman kedua.
Suara ancaman Rina.
Rekaman ketiga.
Percakapannya di pantry sebelum membawa mi.
Rekaman keempat.
Video yang memperlihatkan dia berhenti, menoleh ke sekitar, lalu sengaja memiringkan mangkuk.
Ruangan sunyi.
Rina mencoba tertawa.
“Itu cuma kebetulan.”
Saya tidak menjawab.
Saya memutar rekaman kelima.
Semua orang terkejut.
Ternyata Bu Lorna tidak hanya menyimpan CCTV.
Dia juga menyimpan data transaksi kantin selama enam bulan.
Di layar muncul daftar pembayaran.
Tanggal demi tanggal.
Puluhan transaksi.
Semuanya menggunakan kartu makan saya.
Tidak pernah sekalipun ada transfer masuk dari rekening Rina.
Bahkan nominalnya mencapai lebih dari Rp4 juta.
HR menoleh.
“Rina, apakah ini benar?”
Dia masih mencoba membela diri.
“Saya lupa.”
Direktur bertanya pelan.
“Lupa selama tiga bulan?”
Tidak ada jawaban.
Lalu saya mengeluarkan satu map terakhir.
Bukan berisi bukti CCTV.
Melainkan hasil audit kecil yang saya buat sendiri.
Saya mencocokkan waktu pembayaran makan dengan absensi proyek.
Ternyata setiap kali makan gratis dari saya, Rina justru mengklaim uang makan perjalanan dinas kepada perusahaan.
Artinya…
Dia menerima tunjangan makan dua kali.
Sekali dari kantor.
Sekali lagi dari saya.
Dan itu berlangsung selama berbulan-bulan.
Ruangan benar-benar hening.
Tim audit langsung meminta data tambahan.
Dalam dua hari, penyelidikan diperluas.
Yang ditemukan jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan.
Rina ternyata bukan hanya memanfaatkan saya.
Dia beberapa kali mengajukan klaim transportasi fiktif.
Mengubah jam lembur.
Menggunakan kartu akses rekan kerja untuk mencatat kehadiran.
Jumlah kerugiannya jauh lebih besar daripada sekadar makan siang.
Sebulan kemudian keputusan resmi keluar.
Kontrak kerjanya diputus.
Seluruh tunjangan dihentikan.
Beberapa klaimnya diwajibkan dikembalikan kepada perusahaan.
Hari terakhir sebelum meninggalkan kantor, dia berdiri di depan meja saya.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi penuh percaya diri.
“Aku benci kamu.”
Saya menutup laptop.
“Lalu?”
“Kalau waktu itu kamu langsung marah, mungkin semuanya nggak akan sejauh ini.”
Saya memandangnya beberapa detik.
“Justru karena saya tidak marah, semua orang akhirnya melihat siapa diri kita masing-masing.”
Dia menggigit bibir.
“Kamu sengaja membiarkan aku.”
Saya menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Saya hanya berhenti menolong orang yang tidak pernah belajar menghargai.”
Dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Beberapa bulan kemudian suasana kantor berubah.
Orang-orang mulai lebih berhati-hati.
Tidak ada lagi yang merasa berhak meminta bantuan tanpa rasa sungkan.
Tidak ada lagi yang menganggap kebaikan seseorang sebagai kewajiban.
Suatu siang Bu Lorna menghampiri saya sambil tersenyum.
“Saya masih simpan semua rekaman itu.”
Saya ikut tersenyum.
“Sekarang tidak perlu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena yang paling penting bukan rekamannya.”
“Apa?”
“Sekarang semua orang sudah tahu bahwa diam bukan berarti lemah.”
Bu Lorna mengangguk.
Saya kembali membuka kotak bekal saya.
Makan siang hari itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Saya tidak merasa menang.
Saya juga tidak merasa membalas dendam.
Saya hanya belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di ruang rapat mana pun.
Kebaikan yang tidak memiliki batas akan berubah menjadi hak di mata orang yang salah.
Dan ketika seseorang terus mengambil tanpa pernah merasa berutang, suatu hari ia tidak akan jatuh karena didorong orang lain.
Ia akan jatuh karena terlalu lama percaya bahwa tidak akan pernah ada yang berhenti memberinya.
