Malam itu menjadi awal dari kenyataan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Malam itu menjadi awal dari kenyataan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Dokter menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, seolah ia sedang memilih kata-kata yang tidak akan menghancurkan seseorang.

“Bu Lourdes… di dalam sampel air yang Ibu bawa, kami menemukan kandungan zat penenang dengan dosis rendah. Jika diminum sesekali memang tidak berbahaya. Tapi jika dikonsumsi setiap malam selama bertahun-tahun, zat ini bisa menyebabkan ketergantungan ringan, menurunkan daya ingat, memperlambat kemampuan mengambil keputusan, dan membuat tubuh semakin lemah.”

Aku memandang gelas kecil di atas meja laboratorium itu.

Enam tahun.

Selama enam tahun aku meminum air hangat dengan madu dan chamomile yang selalu disiapkan oleh suamiku sebelum tidur.

Tanganku mulai gemetar.

“Apakah… ini bisa membunuh saya?”

Dokter menggeleng pelan.

“Bukan racun yang mematikan. Tapi orang yang mengonsumsinya dalam jangka panjang akan jauh lebih mudah dipengaruhi. Mereka akan merasa selalu lelah, sulit berkonsentrasi, dan perlahan kehilangan kepercayaan pada penilaian mereka sendiri.”

Kalimat terakhir itu menghantamku jauh lebih keras daripada kata “racun”.

Mudah dipengaruhi.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah di kawasan Menteng, Jakarta, pikiranku dipenuhi potongan-potongan kenangan yang selama ini terasa biasa.

Victor selalu bersikeras agar semua urusan keuangan diserahkan kepadanya.

Ia selalu berkata aku terlalu lelah untuk membaca dokumen.

Ia yang berbicara dengan notaris.

Ia yang menemui pengacara.

Ia bahkan perlahan menjauhkan aku dari sahabat-sahabat lamaku dengan alasan mereka hanya ingin memanfaatkan hartaku.

Saat itu semua terdengar seperti perhatian.

Kini semuanya terasa seperti strategi.

Yang paling menyakitkan justru bukan obat itu.

Melainkan kenyataan bahwa setiap malam sebelum aku tidur, ia selalu mengecup keningku sambil berkata,

“Selamat malam, Baby-ku yang paling cantik.”

Aku mempercayai kalimat itu selama enam tahun.

Aku tidak pulang dengan kemarahan.

Aku pulang dengan ketenangan yang bahkan membuat diriku sendiri takut.

Malam itu aku menghubungi Pak Arman, pengacara keluarga yang sudah bekerja bersama almarhum suamiku selama hampir tiga puluh tahun.

Beliau datang tanpa banyak bertanya.

Setelah mendengar semuanya, ia hanya berkata,

“Saya selalu menunggu hari ketika Ibu akhirnya merasa ada yang tidak beres.”

Aku menatapnya.

“Maksud Bapak?”

Beliau menarik napas panjang.

“Victor terlalu sering meminta saya membuat dokumen yang menguntungkan dirinya. Saya selalu menolak kalau Ibu tidak hadir langsung. Setelah itu dia berhenti menggunakan jasa saya.”

Dadaku sesak.

Berarti semua kecurigaanku benar.

Malam itu juga seluruh asetku mulai diamankan.

Rumah lima lantai yang kutempati dialihkan sementara ke yayasan pendidikan yang didirikan mendiang suamiku.

Rekening deposito diubah menjadi sistem persetujuan ganda.

Seluruh surat berharga dipindahkan ke safe deposit box baru yang hanya bisa kubuka sendiri.

Lalu Pak Arman mengirim teknisi untuk memasang kamera tersembunyi di dapur.

Tiga malam kemudian, semuanya terjadi persis seperti dugaan kami.

Pukul sebelas lewat empat belas menit.

Victor turun perlahan.

Ia membuka lemari kecil.

Mengambil botol bening tanpa label.

Meneteskan tiga tetes ke dalam cangkirku.

Mengaduknya.

Lalu tersenyum sendiri sebelum membawa cangkir itu ke kamar.

Semua terekam dengan jelas.

Keesokan paginya aku sudah duduk di ruang makan.

Victor datang sambil membawa senyum yang selama ini selalu membuatku merasa aman.

“Selamat pagi, Baby.”

Aku membalas senyum itu.

“Sayang, hari ini kamu yang minum air hangat ini.”

Ia tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Aku ingin memastikan rasanya enak.”

Tangannya berhenti bergerak.

Aku mendorong tablet ke arahnya.

Video mulai diputar.

Wajahnya kehilangan warna.

Untuk pertama kalinya selama enam tahun aku melihat ekspresi yang benar-benar asing.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kepura-puraan.

Hanya kepanikan.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Ia menunduk.

“Aku tidak pernah ingin membunuhmu.”

“Lalu?”

“Aku cuma ingin kamu lebih bergantung padaku.”

Aku tertawa pelan.

Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

“Bergantung?”

“Aku takut kehilangan semuanya.”

“Yang mana? Aku atau hartaku?”

Victor diam.

Diamnya sudah menjadi jawaban.

Setelah hampir lima menit, ia akhirnya berkata pelan,

“Aku memang mencintaimu pada awalnya.”

“Pada awalnya?”

“Tapi setelah melihat semua yang kamu miliki… aku mulai takut kalau suatu hari kamu berubah pikiran.”

Aku menggeleng.

“Bukan aku yang berubah.”

“Victor, kamulah yang berubah.”

Hari itu ia meninggalkan rumah.

Tanpa teriakan.

Tanpa keributan.

Tanpa drama.

Aku mengajukan gugatan cerai seminggu kemudian.

Kasusnya sebenarnya bisa saja kubawa ke ranah pidana.

Namun pengacaraku menyarankan agar kami mengumpulkan bukti lebih banyak.

Saat proses perceraian berlangsung, sesuatu yang jauh lebih mengejutkan terungkap.

Tim audit menemukan Victor diam-diam telah membuat beberapa perusahaan cangkang atas nama orang lain.

Perusahaan-perusahaan itu menerima transfer “biaya konsultasi” dari salah satu perusahaan investasiku.

Jumlahnya memang kecil setiap bulan.

Namun selama enam tahun totalnya mencapai miliaran rupiah.

Yang membuatku merinding bukan jumlah uangnya.

Melainkan cara ia melakukannya.

Sedikit demi sedikit.

Tidak pernah cukup besar untuk menarik perhatian.

Ia ternyata bukan pria yang emosional.

Ia sangat sabar.

Dan justru kesabaran itulah yang membuatnya berbahaya.

Penyelidikan terus berlanjut.

Beberapa mantan karyawanku mulai memberikan kesaksian.

Mereka mengaku Victor sering meminta mereka menyembunyikan informasi dariku.

Ada yang dipindahkan.

Ada yang dipecat.

Ada pula yang memilih mengundurkan diri karena merasa ada sesuatu yang tidak benar.

Selama ini aku mengira mereka tidak kompeten.

Padahal mereka hanya sedang disingkirkan.

Suatu sore aku menerima telepon dari seorang perempuan yang belum pernah kukenal.

Namanya Maya.

Suaranya bergetar.

“Bu Lourdes… saya minta maaf mengganggu.”

“Ada apa?”

“Saya mantan tunangan Victor.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Kami bertemu keesokan harinya di sebuah kafe sederhana.

Perempuan itu membawa sebuah kotak kecil berisi foto-foto lama.

Di salah satu foto, Victor tampak jauh lebih muda.

Di sampingnya berdiri Maya.

“Apa yang ingin Anda sampaikan?”

Maya menarik napas panjang.

“Dulu dia juga melakukan hal yang sama kepada ibu saya.”

Aku membeku.

“Ibu saya seorang janda yang memiliki usaha keluarga.”

“Tapi waktu itu kami tidak punya bukti.”

“Ibu saya terus diberi obat penenang dengan alasan agar bisa tidur.”

“Setelah kesehatannya memburuk, semua keputusan bisnis diambil alih Victor.”

“Tiga tahun kemudian ibu saya meninggal karena komplikasi penyakit.”

Air mataku mulai mengalir.

“Tidak ada yang percaya kepada kami waktu itu.”

Aku menggenggam tangan Maya.

Untuk pertama kalinya aku sadar.

Aku bukan korban pertama.

Mungkin juga bukan korban terakhir.

Kesaksian Maya membuka jalan bagi penyelidikan yang lebih besar.

Polisi mulai memeriksa transaksi lama.

Mantan pasangan Victor satu per satu ditemukan.

Beberapa ternyata mengalami pola yang hampir sama.

Mereka semua perempuan yang lebih tua.

Mandiri.

Memiliki aset.

Dan perlahan dibuat bergantung.

Victor akhirnya ditahan.

Bukan hanya karena apa yang ia lakukan kepadaku.

Tetapi karena rangkaian penipuan finansial yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Hari persidangan tiba.

Ia berdiri di ruang sidang tanpa lagi mengenakan jas mahal.

Tanpa jam tangan mewah yang dulu kubelikan.

Tatapannya bertemu denganku.

Untuk sesaat aku melihat laki-laki yang pernah kupanggil suami.

Ia tersenyum tipis.

“Aku benar-benar pernah mencintaimu.”

Aku membalas dengan tenang.

“Mungkin.”

“Tapi cinta yang membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri bukanlah cinta.”

Hakim menjatuhkan hukuman setelah seluruh bukti dipertimbangkan.

Saat semua orang meninggalkan ruang sidang, aku memilih berjalan sendirian keluar gedung.

Udara Jakarta sore itu terasa berbeda.

Ringan.

Beberapa bulan kemudian aku menjual rumah besar yang penuh kenangan itu.

Bukan karena aku ingin melupakan masa lalu.

Melainkan karena aku tidak ingin terus hidup di tempat yang setiap sudutnya mengingatkanku pada kebohongan.

Sebagian besar hasil penjualan rumah kugunakan untuk memperluas yayasan pendidikan milik almarhum suamiku.

Kami membuka program beasiswa bagi perempuan yang kehilangan kesempatan belajar karena keadaan ekonomi.

Di setiap pertemuan dengan para penerima beasiswa, aku selalu mengatakan hal yang sama.

“Jangan pernah menyerahkan seluruh hidupmu kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang paling kamu cintai.”

Suatu malam, hampir setahun setelah perceraian itu selesai, aku kembali membuat secangkir air hangat dengan madu dan chamomile.

Aku duduk sendirian di teras.

Tidak ada lagi seseorang yang memanggilku “Baby.”

Tidak ada lagi langkah kaki yang turun ke dapur saat aku terlelap.

Yang ada hanya suara hujan dan ketenangan yang sudah lama hilang.

Teleponku berbunyi.

Pesan singkat dari Maya.

“Bu Lourdes, hari ini saya resmi diterima bekerja lagi. Terima kasih karena Ibu berani melawan.”

Aku tersenyum.

Baru saat itulah aku menyadari sesuatu.

Selama enam tahun aku mengira yang sedang diracuni hanyalah tubuhku.

Padahal yang paling berbahaya adalah racun yang membuat seseorang meragukan nalurinya sendiri.

Dan begitu aku kembali percaya pada diriku, bukan hanya hidupku yang terselamatkan.

Ada banyak perempuan lain yang akhirnya terbebas dari orang yang sama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang