DIA DITENGGELAMKAN OLEH KAKAK KANDUNGNYA SENDIRI AGAR BISA MENJADI ISTRI ADIPATI… NAMUN IA KEMBALI TEPAT PADA HARI PERJANJIAN ITU.
“Ayah selalu memilihmu. Aku muak padamu. Akulah yang pantas menjadi istri Sang Adipati, bukan kamu.”
“Tolong aku… kumohon…”
“Tidak. Sudah cukup.”
Di Hindia Belanda pada abad ke-19, ketika tanah lebih berharga daripada nyawa dan gelar lebih mahal daripada cinta, setiap keluarga bangsawan hidup dengan satu aturan yang tak pernah diucapkan keras-keras. Siapa yang menguasai warisan, dialah yang menentukan masa depan. Dan bagi sebagian orang, darah keluarga hanyalah harga kecil yang harus dibayar.
Ratna Wijayakusuma tenggelam tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

Air danau yang dingin memenuhi paru-parunya. Gaun sutra biru yang dikenakannya berubah menjadi beban yang menyeret tubuhnya semakin dalam. Cahaya bulan memudar sedikit demi sedikit, digantikan kegelapan yang menyesakkan.
Di atas permukaan air, Larasati berdiri diam.
Tidak ada air mata.
Tidak ada penyesalan.
Ia hanya memandang riak air yang perlahan kembali tenang, seolah adiknya tak pernah ada.
Lalu ia berbalik dan berjalan pulang.
Malam itu, seluruh Perkebunan Taman Angkasa gempar. Ratna dinyatakan hilang. Para pelayan membawa obor menyusuri tepi danau. Para petani ikut membantu mencari hingga menjelang fajar.
Namun tubuh Ratna tak pernah ditemukan.
Larasati menangis di depan semua orang.
“Aku sudah mencarinya! Kami hanya berjalan-jalan, lalu dia terpeleset! Aku berusaha menolong, tapi aku tidak bisa berenang!”
Tangisnya begitu meyakinkan hingga bahkan ibunya ikut memeluknya sambil berpura-pura berduka.
Raden Surya kehilangan putri kesayangannya.
Sejak hari itu, lelaki yang dahulu disegani itu berubah. Rambutnya memutih lebih cepat. Ia jarang berbicara. Setiap sore ia duduk di tepi danau sambil memandang air yang tenang, berharap putrinya entah bagaimana kembali.
Adipati Arya Wiranegara tidak pernah mempercayai cerita Larasati.
Ia datang hampir setiap minggu membawa orang-orang untuk menyelam ke dasar danau.
Tetap tidak ada hasil.
Yang ditemukan hanya pita biru milik Ratna, tersangkut di akar pohon yang menjulur ke air.
Arya menyimpan pita itu.
Ia tidak pernah menerima lamaran perempuan lain.
Sebulan kemudian, Larasati mulai mendekati Arya.
“Aku tahu kau masih berduka,” katanya lembut.
Arya menatapnya datar.
“Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan Ratna.”
Larasati tersenyum tipis.
“Orang mati tidak akan kembali.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arya.
Sementara itu, jauh di hilir sungai yang terhubung dengan danau tersebut, seorang nelayan tua menemukan tubuh seorang gadis tersangkut di antara akar bakau.
Tubuh itu masih bernapas.
Sangat lemah.
Perempuan tua bernama Mbok Sri segera memanggil tabib desa.
Selama berminggu-minggu Ratna terbaring di rumah kayu sederhana.
Ketika akhirnya membuka mata, ia bahkan tidak tahu di mana dirinya berada.
“Kau sudah selamat,” kata Mbok Sri sambil menggenggam tangannya.
Ratna mencoba mengingat.
Danau.
Larasati.
Dorongan itu.
Semua kembali seperti petir yang menyambar.
Air mata mengalir tanpa suara.
“Aku… dibunuh oleh kakakku sendiri.”
Mbok Sri tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya berkata pelan, “Kalau Tuhan masih membiarkanmu hidup, berarti masih ada sesuatu yang harus kau selesaikan.”
Berbulan-bulan Ratna tinggal di desa kecil itu.
Tubuhnya pulih perlahan.
Namun hatinya berubah.
Perempuan yang dulu begitu mudah percaya kini belajar membaca kebohongan dari tatapan mata.
Ia belajar berkuda.
Belajar mengurus pembukuan hasil panen.
Belajar berbicara tegas kepada para pedagang yang mencoba menipu petani.
Mbok Sri sering berkata, “Kebaikan tetap penting. Tapi orang baik juga harus tahu kapan berhenti menjadi mangsa.”
Sementara itu, di Taman Angkasa, Larasati mulai mempersiapkan pertunangannya dengan Arya.
Ibunya terus membujuk sang Adipati.
“Ratna sudah tiada. Larasati adalah pilihan terbaik.”
Arya selalu menolak.
“Aku sudah berjanji.”
“Tapi kepada orang yang sudah meninggal.”
Arya menatap danau dari kejauhan.
“Aku berjanji akan menunggu sampai hari yang kami sepakati.”
Hari perjanjian itu adalah tepat satu tahun sejak lamaran pertama.
Semua orang menganggap janji itu hanya bentuk kesetiaan yang sia-sia.
Larasati justru senang.
Baginya, satu tahun bukan waktu yang lama.
Ratna sudah mati.
Tidak mungkin kembali.
Hari demi hari berlalu.
Sementara Ratna mulai menyusun rencananya.
Ia tidak ingin pulang sebagai korban.
Ia ingin kembali sebagai kebenaran.
Mbok Sri mengenalkannya kepada seorang pengacara Belanda yang pernah menjadi sahabat ayahnya.
Setelah mendengar seluruh kisah Ratna, pria tua itu berkata,
“Kalau kau pulang sekarang tanpa bukti, mereka akan mengatakan kau gila.”
“Aku tahu.”
“Kau butuh saksi.”
Ratna mengangguk.
Mereka mulai mengumpulkan semuanya.
Nelayan yang menemukannya.
Tabib yang merawatnya.
Pita biru yang ternyata terbawa arus hingga ke hilir.
Seorang pelayan tua yang malam itu diam-diam melihat Larasati kembali seorang diri dengan gaun yang basah.
Selama ini ia takut bicara.
Kini ia bersedia bersaksi.
Semakin dekat hari perjanjian, Larasati semakin gelisah tanpa tahu alasannya.
Beberapa malam berturut-turut ia bermimpi Ratna berdiri di tepi danau dengan gaun biru yang sama.
Tanpa berkata apa-apa.
Hanya menatapnya.
Hari yang dijanjikan akhirnya tiba.
Seluruh bangsawan Yogyakarta berkumpul di aula besar Taman Angkasa.
Musik dimainkan.
Lilin-lilin menyala.
Raden Surya tampak jauh lebih tua daripada usianya.
Arya berdiri dengan wajah tenang.
Semua mengira hari itu ia akhirnya akan menerima Larasati.
Ibunya bahkan sudah tersenyum puas.
“Sudah waktunya membuka lembaran baru,” katanya.
Arya mengangkat gelas.
“Aku memang datang untuk memenuhi janjiku.”
Larasati melangkah maju.
Tepat ketika ia hendak berbicara, pintu aula perlahan terbuka.
Semua kepala menoleh.
Seorang perempuan memasuki ruangan.
Gaun biru sederhana.
Rambut panjang terurai.
Wajah pucat, tetapi tatapannya begitu tegas.
Gelas-gelas jatuh dari tangan para tamu.
Beberapa perempuan menjerit.
“Ratna…”
Raden Surya berdiri dengan tubuh gemetar.
“Ratna?”
Air mata langsung mengalir di wajahnya.
Ratna berjalan perlahan mendekati ayahnya.
“Ayah… aku pulang.”
Pria tua itu memeluk putrinya sambil menangis tanpa mampu berkata apa pun.
Larasati mundur selangkah.
Wajahnya kehilangan warna.
“Ini… tidak mungkin…”
Ratna menatap kakaknya.
“Kau kecewa melihatku masih hidup?”
Seluruh aula menjadi sunyi.
Ibunya mencoba maju.
“Ratna, jangan membuat kekacauan. Semua orang tahu kau terpeleset.”
Ratna menggeleng pelan.
“Aku memang jatuh.”
Tatapannya berpindah kepada Larasati.
“Tapi bukan karena aku terpeleset.”
Suara napas para tamu terdengar jelas.
Ratna mengangkat tangan.
Pelayan tua yang selama ini diam melangkah masuk.
“Ampun, Gusti. Malam itu saya melihat Nona Larasati kembali sendirian. Gaunnya basah sampai lutut.”
Kemudian nelayan masuk.
Lalu tabib.
Satu demi satu saksi memberikan kesaksian.
Larasati mulai panik.
“Mereka berbohong!”
Ratna mengeluarkan pita biru yang dulu diberikan kakaknya.
“Kau bilang ini hadiah perdamaian.”
Larasati mulai gemetar.
Arya akhirnya berbicara.
“Aku sudah menyelidiki semuanya sejak lama. Aku hanya menunggu seseorang yang paling berhak mengatakan kebenaran.”
Semua mata kini tertuju pada Larasati.
Untuk pertama kalinya, topeng kesempurnaannya retak.
Ia tertawa pelan.
Lalu semakin keras.
“Ya! Aku yang mendorongnya!”
Ruangan langsung gaduh.
“Kenapa semua orang selalu memilih dia? Ayah memilih dia! Kau memilih dia! Bahkan para pelayan lebih menyayanginya daripada aku!”
Air matanya jatuh, tetapi bukan karena menyesal.
“Aku hanya ingin hidup yang seharusnya menjadi milikku!”
Raden Surya menutup mata.
“Apa yang kau inginkan bukan hakmu jika harus dibayar dengan nyawa saudaramu.”
Ibunya mencoba membela.
“Dia hanya khilaf!”
Ratna menoleh kepadanya.
“Dan Ibu adalah orang yang mengajarkan bahwa iri hati lebih penting daripada kasih sayang.”
Seketika aula kembali sunyi.
Raden Surya berdiri tegak untuk pertama kalinya setelah setahun.
“Mulai hari ini Larasati bukan lagi ahli waris keluarga Wijayakusuma.”
Wajah Larasati hancur.
“Ibu!”
Namun Raden Ayu Sekar sendiri tak mampu berkata apa-apa.
Rahasia yang selama ini ia sembunyikan ikut terbongkar ketika seorang pelayan mengaku pernah mendengar bisikannya beberapa hari sebelum Ratna menghilang.
“Ada cara untuk mengubah takdir.”
Kalimat itu menjadi akhir dari segala sandiwara.
Beberapa bulan kemudian, Larasati dan ibunya meninggalkan Taman Angkasa tanpa membawa nama maupun kehormatan.
Tidak ada pesta perpisahan.
Tidak ada seorang pun yang mengantar.
Ratna menolak mengambil balas dendam lebih jauh.
“Aku kehilangan satu tahun hidupku. Aku tidak ingin kehilangan sisa hidupku hanya untuk membenci.”
Arya menatap perempuan yang dicintainya.
“Bahkan setelah semua yang terjadi, hatimu tetap sama.”
Ratna tersenyum tipis.
“Bukan sama.”
Ia memandang danau tempat hidupnya hampir berakhir.
“Aku hanya belajar bahwa memaafkan tidak berarti melupakan, dan menjadi baik tidak berarti membiarkan kejahatan menang.”
Beberapa minggu kemudian, di bawah pohon trembesi tua yang menjadi saksi begitu banyak luka, Arya kembali melamar Ratna.
Kali ini Ratna menjawab tanpa ragu.
“Aku bersedia.”
Mereka menikah bukan karena gelar, bukan karena harta, melainkan karena keduanya telah melihat wajah asli kehidupan dan tetap memilih berjalan bersama.
Dan setiap kali orang-orang bertanya mengapa Danau Taman Angkasa selalu tampak begitu tenang setelah musim hujan, para tetua desa hanya tersenyum.
Mereka percaya air memang bisa menenggelamkan tubuh seseorang.
Namun kebenaran, seberapa dalam pun dikubur, selalu menemukan jalan untuk kembali ke permukaan.
