IBU TIRIKU MENCUKUR HABIS RAMBUTKU AGAR TAK ADA LAGI PRIA YANG MAU MELIHATKU. IA MENGIRA DENGAN MERAMPAS PENAMPILANKU, IA JUGA BISA MERAMPAS MASA DEPANKU. NAMUN IA TAK PERNAH MENYANGKA, JUSTRU DARI HARI ITULAH SEORANG PRIA PALING BERKUASA MELIHAT SIAPA DIRIKU YANG SEBENARNYA.

Di tengah aula megah Perkebunan Santa Aurora yang dipenuhi gaun-gaun mahal dan senyum yang dipoles sempurna, Augusto Montenegro menatap daftar tamu untuk ketiga kalinya. Musik orkestra terus mengalun, para tamu saling berbincang, sementara dua putri keluarga Almeida berusaha mencuri perhatiannya dengan segala cara.

Namun pria itu hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Di mana Isabela?”

Ruangan mendadak hening.

Nyonya Margarida tersenyum tipis, mencoba terdengar santai.

“Maaf, Tuan Augusto. Gadis itu hanyalah kerabat jauh yang membantu pekerjaan rumah. Ia tidak pantas menghadiri acara sebesar ini.”

Augusto tidak langsung menjawab.

Ia hanya menutup daftar tamu itu perlahan.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “pesta ini kehilangan tamu yang paling ingin saya temui.”

Kalimat itu membuat wajah Lorena membeku.

Beatriz menunduk.

Sementara Nyonya Margarida mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Takut.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Augusto meninggalkan aula.

Seluruh tamu saling berpandangan.

Tak seorang pun mengerti mengapa pria yang selama ini dikenal dingin dan sulit didekati rela meninggalkan pestanya sendiri hanya demi mencari seorang gadis yang bahkan tidak diundang.

Malam itu juga kereta Augusto berhenti di depan rumah keluarga Almeida.

Lampu rumah sudah hampir padam.

Isabela sedang menyiram tanaman di halaman belakang ketika mendengar suara langkah kaki.

Ia menoleh.

Dan melihat Augusto berdiri beberapa meter darinya.

Kepalanya masih ditutupi kain sederhana.

“Apa saya mengganggu?” tanya Augusto pelan.

Isabela menggeleng.

“Tuan tidak seharusnya berada di sini.”

“Mungkin.”

“Tapi saya ingin bertemu denganmu.”

Isabela terdiam.

Selama bertahun-tahun hidupnya, tidak pernah ada orang yang datang mencarinya.

Selalu hanya mencari orang lain.

“Kenapa?”

Augusto menatap matanya.

“Karena saat semua orang sibuk menunjukkan kecantikan mereka, hanya kamu yang menunjukkan harga dirimu.”

Belum sempat Isabela menjawab, pintu rumah terbuka keras.

Nyonya Margarida muncul bersama Lorena.

Wajah mereka berubah pucat melihat siapa tamu yang datang.

“Tuan Augusto…” kata Margarida dengan senyum dipaksakan. “Mengapa tidak memberi kabar lebih dulu?”

“Agar saya bisa melihat keadaan sebenarnya.”

Suasana langsung menegang.

Augusto memandang kepala Isabela yang tertutup kain.

“Apa yang terjadi?”

“Dia… dia sakit,” jawab Margarida cepat.

Isabela menutup mata.

Ia tahu kebohongan itu akan dipercaya seperti kebohongan-kebohongan sebelumnya.

Namun Augusto justru berkata pelan.

“Kalau begitu, bolehkah saya melihat lukanya?”

Tak ada jawaban.

Margarida menggenggam ujung gaunnya.

Augusto mendekati Isabela.

“Kalau kamu tidak keberatan.”

Perlahan Isabela membuka kain yang menutupi kepalanya.

Udara malam terasa membeku.

Kulit kepalanya masih dipenuhi bekas sayatan kecil akibat pisau cukur.

Augusto mengepalkan tangannya.

“Siapa yang melakukan ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Isabela sendiri tetap diam.

Ia tidak ingin siapa pun dihukum karena dirinya.

Namun keheningan itu justru menjadi jawaban.

Augusto memandang Margarida.

“Saya mengerti.”

Ia membungkuk sedikit kepada Isabela.

“Saya akan kembali.”

Lalu pergi.

Lorena tertawa sinis setelah kereta itu menghilang.

“Aku sudah bilang. Dia pasti jijik melihatmu.”

Isabela hanya kembali masuk ke rumah.

Ia tidak berharap apa pun.

Namun tiga hari kemudian seluruh kota gempar.

Augusto Montenegro mengirim surat resmi kepada keluarga Almeida.

Bukan lamaran.

Melainkan undangan rapat mengenai kerja sama pengelolaan perkebunan.

Nyonya Margarida begitu gembira.

Ia yakin inilah awal hubungan antara Augusto dan Lorena.

Dengan pakaian terbaik, mereka bertiga datang ke Santa Aurora.

Begitu memasuki ruang pertemuan, Augusto sudah duduk bersama beberapa notaris dan pengacara.

“Akhirnya kita bisa mulai,” katanya.

Margarida tersenyum.

“Tentu, Tuan.”

“Silakan duduk.”

Semua duduk.

Kemudian Augusto membuka sebuah map.

“Sebelum membahas kerja sama, saya ingin menyampaikan sesuatu.”

Semua memperhatikannya.

“Saya telah menyelidiki pengelolaan perkebunan Almeida selama enam bulan terakhir.”

Wajah Margarida berubah.

“Dan saya menemukan bahwa hampir seluruh keuntungan perkebunan berasal dari sistem pencatatan yang dibuat oleh seseorang bernama Isabela.”

Lorena langsung menoleh kepada ibunya.

“Mustahil.”

Augusto mengeluarkan beberapa buku laporan.

“Ini tulisan tangannya.”

“Ini rancangan irigasinya.”

“Ini perhitungan biaya panennya.”

“Dan ini strategi distribusi hasil kebun yang meningkatkan keuntungan hampir empat puluh persen.”

Ruangan sunyi.

Margarida mulai berkeringat.

“Semua itu… hanya membantu sedikit.”

“Benarkah?”

Augusto memberikan dokumen lain.

“Kalau begitu mengapa setiap keputusan yang tidak mengikuti sarannya justru menyebabkan kerugian?”

Tak ada jawaban.

Para notaris saling memandang.

Augusto melanjutkan.

“Saya juga menemukan dua surat lamaran yang tidak pernah sampai kepada Isabela.”

Mata Isabela membesar.

“Apa?”

Augusto menggeser dua amplop tua ke hadapannya.

“Surat-surat ini disembunyikan.”

Tangan Isabela gemetar ketika membacanya.

Air matanya jatuh.

Selama ini ia mengira tidak ada seorang pun yang pernah memilihnya.

Ternyata kesempatan itu memang sengaja dirampas.

Margarida berdiri.

“Itu urusan keluarga kami.”

“Tidak lagi.”

Suara Augusto tetap tenang.

“Sebab mulai hari ini saya membeli seluruh utang keluarga Almeida.”

Ruangan mendadak riuh.

“Utang?” Lorena berbisik.

Augusto mengangguk.

“Ya.”

Ia mengeluarkan dokumen terakhir.

“Keluarga ini sebenarnya hampir bangkrut sejak dua tahun lalu.”

Margarida memucat.

Rahasia itu akhirnya terbongkar.

Selama ini semua kemewahan hanyalah sandiwara.

Perhiasan dipinjam.

Gaun dibeli dengan utang.

Bahkan pesta-pesta kecil mereka dibiayai pinjaman berbunga tinggi.

Augusto melanjutkan.

“Bank menerima tawaran saya pagi tadi.”

“Mulai hari ini seluruh aset perkebunan berada dalam pengawasan perusahaan saya sampai seluruh kewajiban diselesaikan.”

Lorena hampir jatuh dari kursinya.

“Tidak… ini tidak mungkin.”

Augusto menatap Margarida.

“Saya memiliki satu pilihan untuk Anda.”

Perempuan itu mengangkat wajah dengan penuh harapan.

“Apa pun akan saya lakukan.”

“Serahkan seluruh pengelolaan kepada orang yang memang selama ini menjalankannya.”

Ia memandang Isabela.

“Kalau dia bersedia.”

Semua mata tertuju kepada gadis itu.

Isabela terdiam lama.

Kemudian berkata lirih.

“Saya hanya punya satu syarat.”

“Apa?”

“Saya tidak ingin membalas dendam.”

Semua terkejut.

“Saya hanya ingin diperlakukan sebagai manusia.”

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Margarida tidak mampu menatap mata Isabela.

Hari-hari berikutnya berubah sangat cepat.

Augusto menunjuk Isabela sebagai manajer operasional gabungan kedua perkebunan.

Keputusan itu ditentang banyak orang.

Mereka meragukan perempuan muda tanpa pendidikan tinggi.

Namun dalam waktu tiga bulan semuanya berubah.

Isabela memperbaiki sistem distribusi.

Menghapus pemborosan.

Memberikan upah yang lebih layak bagi para pekerja.

Membangun klinik kecil untuk keluarga buruh.

Dan keuntungan perusahaan justru meningkat drastis.

Orang-orang yang dulu memandang rendah mulai menghormatinya.

Bukan karena rasa kasihan.

Melainkan karena kemampuannya.

Suatu sore Augusto berdiri di tepi kebun teh.

“Kenapa kamu tidak pernah marah pada mereka?”

Isabela tersenyum kecil.

“Karena kalau saya terus membawa kebencian, berarti mereka masih menguasai hidup saya.”

“Itu tidak mudah.”

“Memang.”

Ia menatap matahari yang mulai tenggelam.

“Tapi saya sudah kehilangan terlalu banyak waktu.”

Perlahan rambut Isabela mulai tumbuh kembali.

Pendek.

Lurus.

Sangat berbeda dari sebelumnya.

Suatu hari seorang pekerja berkata, “Nona lebih cantik dulu saat rambutnya panjang.”

Isabela hanya tertawa.

“Dulu saya hanya punya rambut.”

“Sekarang saya punya hidup.”

Beberapa bulan kemudian Augusto mengundangnya makan malam.

Bukan sebagai atasan dan bawahan.

Melainkan sebagai dua orang yang saling menghormati.

“Ada sesuatu yang ingin saya katakan,” ujar Augusto.

“Saya mendengarkan.”

“Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu.”

Isabela tersenyum heran.

“Padahal saat itu kepala saya dicukur habis.”

“Justru karena itu.”

Ia menarik napas panjang.

“Kalau seseorang masih mampu menjaga martabatnya ketika semua yang membuatnya tampak indah telah dirampas, berarti kecantikannya memang berasal dari dalam dirinya.”

Air mata Isabela kembali mengalir.

Namun kali ini bukan karena penghinaan.

Melainkan karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar melihat dirinya.

Enam bulan kemudian mereka menikah dalam sebuah upacara sederhana.

Tidak ada kemewahan berlebihan.

Tidak ada pesta besar.

Yang hadir hanyalah keluarga, pekerja perkebunan, dan anak-anak desa yang kini bisa bersekolah berkat beasiswa yang didirikan Isabela.

Nyonya Margarida datang tanpa undangan.

Rambutnya mulai memutih.

Wajahnya jauh lebih tua daripada usianya.

Ia berdiri di depan Isabela dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tidak berharap kau memaafkanku.”

Isabela memandang perempuan yang dulu menghancurkan hidupnya.

Kemudian tersenyum lembut.

“Saya sudah memaafkan sejak lama.”

“Kenapa?”

“Karena kalau bukan karena semua yang Ibu lakukan, saya mungkin tidak pernah mengetahui seberapa kuat diri saya sebenarnya.”

Margarida menangis untuk pertama kalinya.

Bukan karena kehilangan harta.

Bukan karena kehilangan kehormatan.

Melainkan karena menyadari bahwa ia telah menghabiskan hidupnya berusaha menghancurkan seorang gadis yang justru memiliki hati jauh lebih mulia daripada dirinya.

Beberapa tahun kemudian, di kantor utama Perkebunan Santa Aurora, sebuah foto lama dipajang dalam bingkai sederhana.

Bukan foto pernikahan.

Bukan foto penghargaan.

Melainkan sehelai kain penutup kepala milik Isabela yang disimpan di balik kaca, disertai sebuah kalimat yang ditulis dengan tangannya sendiri.

“Orang bisa merampas rambutmu, hartamu, bahkan kesempatanmu. Tetapi selama mereka tidak berhasil merampas harga dirimu, masa depanmu tetap menjadi milikmu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang