Aku baru saja lulus dari universitas jurusan Ekonomi, tapi dompetku hampir kosong. Jadi, aku tidak punya pilihan selain menyewa sebuah kamar kecil dan tua dengan harga hanya Rp500.000 per bulan.

Aku baru saja lulus dari jurusan Ekonomi, tetapi isi dompetku nyaris kosong. Setelah berbulan-bulan mengirim lamaran kerja tanpa hasil, aku akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta dengan sisa tabungan yang bahkan mungkin tidak cukup untuk bertahan lebih dari sebulan. Satu-satunya tempat yang sanggup kubayar adalah sebuah kamar tua di gang sempit Jakarta Timur. Sewanya hanya Rp500.000 per bulan. Murah sekali, terlalu murah untuk ukuran Jakarta.

Semua orang pasti akan curiga.

Sayangnya, aku tidak punya kemewahan untuk memilih.

Namaku Dimas.

Aku selalu percaya bahwa semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Hantu, kutukan, atau cerita mistis hanyalah cara orang menutupi sesuatu yang belum mereka pahami.

Keyakinan itu mulai runtuh pada malam pertamaku tinggal di rumah itu.

Rumah kayu tua itu dipenuhi bau lembap. Dindingnya kusam, langit-langitnya mengeluarkan bunyi berderit setiap kali angin bertiup. Pemiliknya, Bu Sari, seorang janda berusia sekitar enam puluh tahun, menyambutku dengan ramah.

“Sudah lama kamar itu kosong,” katanya sambil tersenyum tipis. “Kalau malam terdengar suara aneh, jangan terlalu dipikirkan. Rumah tua memang suka begitu.”

Aku hanya mengangguk.

Malam itu, sekitar pukul satu dini hari, terdengar suara dari halaman belakang.

Clac…

Clac…

Seperti sesuatu mengetuk pelan pintu kayu.

Aku mencoba mengabaikannya.

Namun menjelang pukul tiga pagi, suara itu berubah.

Kini terdengar embusan napas panjang, berat, seolah seseorang berdiri tepat di balik pintu.

Aku tidak berani membuka.

Pagi harinya, aku memeriksa halaman belakang.

Tidak ada siapa pun.

Hanya sebuah pot kamboja tua yang tampak bergeser beberapa sentimeter dari tempat semula.

Aku mengira mungkin tersenggol kucing.

Aku mendekatinya.

Saat hendak membersihkan rumput liar di sekitarnya, kakiku tanpa sengaja mengenai pot itu.

Brak!

Pot tersebut jatuh dan pecah berkeping-keping.

Tanah kering berhamburan ke segala arah.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.

Di bawah lapisan tanah terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.

Kotak itu terkubur tepat di bawah akar pohon kamboja.

Tanganku gemetar saat mengangkatnya.

Kotaknya terkunci, tetapi karena besinya sudah rapuh, aku berhasil membukanya menggunakan obeng.

Di dalamnya hanya ada tiga benda.

Sebuah amplop cokelat.

Sebuah kunci kuningan tua.

Dan sebuah buku tabungan bank yang sudah menguning dimakan usia.

Nama pemilik rekening tertulis jelas.

“R. Santoso.”

Saldo terakhir yang tercetak membuatku terdiam.

Rp4.850.000.000.

Aku berkedip berkali-kali.

Buku itu berasal dari lebih dari dua puluh tahun lalu.

Aku membuka amplop.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

“Demi siapa pun yang menemukan kotak ini, jangan percaya siapa pun sebelum mengetahui siapa yang mengkhianatiku.”

Aku membaca sampai akhir.

Isi surat itu menceritakan tentang seorang pengusaha bernama Rahmat Santoso yang yakin dirinya akan dibunuh oleh rekan bisnisnya sendiri. Ia menuliskan bahwa seluruh bukti, termasuk akses menuju hartanya, disembunyikan menggunakan kunci kuningan tersebut.

Aku menghela napas panjang.

Ini pasti lelucon.

Atau mungkin cerita buatan seseorang.

Namun sejak hari itu, semuanya berubah.

Saat aku pulang dari wawancara kerja keesokan sore, kulihat pintu kamarku sedikit terbuka.

Padahal aku yakin sudah menguncinya.

Tidak ada barang yang hilang.

Tetapi isi tas dan lemariku berantakan.

Seseorang jelas sedang mencari sesuatu.

Malamnya, aku bertanya kepada Bu Sari.

Beliau terlihat pucat ketika melihat buku tabungan itu.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Dari bawah pot kamboja.”

Wajahnya langsung berubah.

“Masukkan lagi semuanya ke tempat semula.”

“Kenapa?”

“Karena sejak dulu, siapa pun yang mencoba mengambil benda itu tidak pernah tinggal lama di sini.”

Aku tertawa kecil.

“Bu, ini bukan film.”

Namun Bu Sari tidak ikut tertawa.

Beliau hanya berkata lirih.

“Dua puluh tiga tahun lalu, polisi datang ke rumah ini. Mereka mencari seorang pria bernama Rahmat Santoso. Katanya dia menghilang bersama uang miliaran rupiah. Tapi mereka tidak pernah menemukannya.”

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Beberapa hari berikutnya, kejadian aneh terus bermunculan.

Ada pria asing yang berdiri lama di ujung gang sambil memandangi rumah.

Nomor tak dikenal terus meneleponku tanpa suara.

Setiap kali aku pulang, selalu ada kesan seseorang baru saja masuk ke kamarku.

Aku mulai berpikir ada yang lebih besar daripada sekadar cerita mistis.

Suatu malam, aku memutuskan mengikuti petunjuk di surat.

Kunci kuningan itu ternyata cocok dengan sebuah loker tua di stasiun kereta yang sudah lama tidak digunakan.

Dengan jantung berdegup kencang, aku membuka pintunya.

Di dalam hanya ada sebuah flashdisk.

Aku segera pulang dan membuka isinya menggunakan laptop.

Video pertama memperlihatkan Rahmat Santoso sedang berbicara di depan kamera.

“Kalau kamu menonton ini, berarti aku mungkin sudah mati.”

Aku terpaku.

Rahmat menjelaskan bahwa dirinya dijebak oleh tiga orang rekan bisnis yang ingin menguasai seluruh aset perusahaan.

Ia telah mengumpulkan bukti berupa rekaman transaksi ilegal, dokumen pencucian uang, dan daftar rekening luar negeri.

Semua data berada di flashdisk itu.

“Aku tidak berharap bisa selamat. Tapi aku berharap suatu hari nanti seseorang akan menemukan kebenaran.”

Aku mengusap wajah.

Kalau semua ini asli, berarti orang-orang yang terlibat mungkin masih hidup.

Dan mereka pasti tidak ingin rahasia ini terbongkar.

Dugaanku benar.

Keesokan malam, listrik rumah tiba-tiba padam.

Aku mendengar langkah kaki memasuki halaman belakang.

Seseorang mencoba membuka pintu.

Aku segera menghubungi polisi.

Namun sebelum mereka datang, jendela kamarku dipecahkan.

Dua pria bertopeng masuk.

“Mana flashdisknya?”

Aku pura-pura bingung.

“Apa maksud kalian?”

Salah satu dari mereka meninju perutku hingga aku terjatuh.

Saat mereka sibuk menggeledah kamar, sirene polisi terdengar dari luar.

Kedua pria itu kabur melompati pagar belakang.

Polisi hanya menemukan bekas jejak sepatu.

Tidak ada pelaku.

Seorang penyidik muda bernama Inspektur Reza kemudian meminta melihat isi flashdisk.

Setelah memeriksanya, ekspresinya berubah serius.

“Kalau ini asli, kasus ini bisa membuka kembali penyelidikan yang ditutup puluhan tahun.”

Penyelidikan resmi dimulai.

Nama-nama yang ada di video ternyata kini telah menjadi tokoh berpengaruh.

Ada yang menjadi pengusaha sukses.

Ada pula yang duduk di jabatan penting.

Berita itu langsung menghebohkan media.

Dalam hitungan minggu, satu per satu mereka ditangkap.

Aset mereka disita.

Kasus pembunuhan Rahmat Santoso akhirnya terungkap.

Tubuh Rahmat ternyata telah lama dikuburkan secara diam-diam di sebuah gudang tua yang dulu dimiliki perusahaan mereka.

Selama lebih dari dua puluh tahun, keluarganya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Semua orang menganggap Rahmat melarikan diri membawa uang perusahaan.

Padahal ia adalah korban.

Beberapa bulan kemudian, aku dipanggil ke kantor kejaksaan.

Ternyata dalam surat wasiat yang dibuat sebelum kematiannya, Rahmat menuliskan satu kalimat yang belum pernah diketahui siapa pun.

“Apabila seseorang menemukan bukti ini dan menyerahkannya kepada pihak berwenang tanpa menyalahgunakannya, berikan kepadanya seluruh aset pribadi yang masih sah secara hukum sebagai tanda terima kasih.”

Aset itu memang tidak sebesar angka di buku tabungan lama.

Sebagian besar telah disita atau hilang selama puluhan tahun.

Namun nilai yang masih tersisa mencapai hampir Rp7 miliar.

Aku terdiam ketika mendengarnya.

Orang yang beberapa bulan lalu hanya memiliki uang cukup untuk membeli mi instan kini mendadak menjadi miliarder.

Aku membeli rumah kecil untuk kedua orang tuaku di Yogyakarta.

Aku melunasi seluruh utang keluarga.

Aku juga mendirikan sebuah yayasan beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang baru lulus dan sedang mencari pekerjaan, karena aku tahu persis bagaimana rasanya dihimpit keadaan hingga harus menerima kamar termurah yang bahkan tidak berani dilirik orang lain.

Beberapa waktu kemudian, aku kembali mengunjungi rumah tua Bu Sari.

Halaman belakangnya kini jauh lebih rapi.

Pohon kamboja yang dulu hampir mati ternyata mulai berbunga.

Bu Sari tersenyum sambil menyiramnya.

“Sepertinya akhirnya dia bisa beristirahat dengan tenang.”

Aku menatap bunga-bunga putih yang berguguran perlahan tertiup angin.

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, suasananya benar-benar sunyi.

Tidak ada lagi suara ketukan.

Tidak ada lagi napas berat di balik pintu.

Yang tersisa hanyalah angin sore dan aroma harum bunga kamboja.

Saat hendak pulang, Bu Sari memanggilku.

“Dimas.”

“Iya, Bu?”

Beliau menyerahkan sebuah foto tua yang baru ditemukan ketika merenovasi rumah.

Di foto itu terlihat Rahmat Santoso berdiri di halaman belakang.

Di sampingnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Wajah anak itu membuatku membeku.

Raut wajahnya sangat mirip denganku.

Di balik foto tertulis satu kalimat pendek.

“Untuk cucuku, kalau suatu hari nanti takdir membawamu pulang ke rumah ini, semoga kamu menemukan kebenaran yang selama ini kusimpan.”

Aku berdiri lama tanpa mampu berkata apa-apa.

Selama ini aku mengira semua yang terjadi hanyalah kebetulan.

Ternyata bukan.

Rumah tua itu tidak sedang menungguku karena kutukan.

Rumah itu menungguku karena keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang