Saat suamiku sedang memasak makan malam, aku menerima pesan dari salah satu rekan kerjanya.

Saat suamiku sedang memasak makan malam, aku menerima pesan dari salah satu rekan kerjanya.

“Aku kangen kamu!”

Aku membalasnya menggunakan ponselnya.

“Ke sini saja. Istriku sedang tidak di rumah.”

Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi.

Wajah suamiku langsung pucat. Tangannya membeku.

Namaku Reina Mahendra. Sampai malam itu, aku selalu percaya pernikahanku adalah jenis hubungan yang membuat orang lain iri. Nyaman, penuh kepercayaan, dan terasa begitu kokoh.

Suamiku, Arga Mahendra, bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta. Dia tipe pria yang bisa diandalkan. Memasak di akhir pekan, tidak pernah lupa hari jadi kami, dan selalu mencium keningku sebelum berangkat kerja setiap pagi.

Aku benar-benar yakin hubungan kami tak mungkin tergoyahkan.

Namun terkadang, pengkhianatan tidak datang mengetuk pintu.

Ia datang lewat sebuah pesan singkat.

Malam itu hujan turun deras. Arga sedang memotong sayuran di kitchen island, sementara aku duduk di dekatnya sambil melihat meme dan resep yang mungkin tak akan pernah kucoba.

Ponselnya tergeletak di sampingku, sedang diisi daya.

Tiba-tiba layarnya menyala.

Sebuah nama yang tidak kukenal muncul.

Dimas: “Aku kangen kamu!”

Dadaku langsung sesak.

Aku melirik Arga. Ia masih bersenandung pelan sambil memasak, sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah rahasia baru saja muncul di hadapanku.

Aku membuka foto profil kontak itu.

Seorang pria.

Wajahnya tampan, dengan rahang tegas, lesung pipi yang dalam, dan senyum penuh percaya diri.

Tanganku gemetar.

Aku mengetik balasan.

“Ke sini saja. Istriku sedang tidak di rumah.”

Lalu kutekan tombol kirim.

Jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya memenuhi seluruh ruangan.

Aku menunggu Arga menyadarinya.

Tapi tidak.

Ia hanya menaburkan garam ke dalam wajan, mencicipi saus, lalu melanjutkan memasak seperti tidak terjadi apa-apa.

Sepuluh menit berlalu.

Lalu pesan berikutnya masuk.

“Aku sampai sana sekitar dua puluh menit lagi.”

Aku menelan ludah dengan susah payah.

Aku memutuskan mendapatkan jawaban sebelum menjatuhkan tuduhan.

“Kerja bareng timmu menyenangkan?”

“Tentu. Mereka semua hebat. Dimas dari tim analytics itu lucu banget. Dia yang bikin meeting nggak terasa membosankan.”

“Dan… kalian dekat?”

Untuk sepersekian detik, tangannya berhenti mengaduk.

“Lumayan dekat. Cuma teman baik. Memangnya kenapa?”

Aku hanya mengangguk.

“Nggak apa-apa.”

Namun di dalam hatiku, semuanya sudah berteriak.

Bel pintu kembali berbunyi.

Suara itu terdengar begitu keras hingga membuatku refleks berdiri.

Arga menoleh ke arah pintu, lalu menatapku. Warna wajahnya perlahan memudar.

“Sayang… kamu nunggu siapa?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum tipis.

“Bukannya kamu yang lebih tahu?”

Dia tidak menjawab.

Bel berbunyi lagi, kali ini lebih lama.

Arga buru-buru melepas celemeknya.

“Aku… aku yang buka.”

“Tidak,” kataku sambil melangkah lebih dulu. “Biar aku saja.”

Aku membuka pintu.

Seorang pria berdiri di depan rumah sambil membawa payung yang sudah basah kuyup. Di tangannya ada sebuah paper bag berisi beberapa kotak makanan.

Pria itu tersenyum lebar.

“Akhirnya ketemu juga. Aku kira kamu bercanda.”

Namun senyumnya langsung menghilang saat melihatku.

“Oh… maaf.”

Ia memandang ke arah Arga yang berdiri beberapa meter di belakangku.

Suasana mendadak sunyi.

“Aku Dimas,” ucapnya canggung.

“Aku Reina. Istrinya Arga.”

Wajah Dimas berubah bingung.

“Istri?”

Aku menangkap perubahan ekspresi itu.

Bukan ekspresi pria yang ketahuan berselingkuh.

Melainkan ekspresi seseorang yang benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Aku mempersilahkannya masuk.

Arga tampak gelisah.

“Reina, kita bisa jelasin nanti.”

“Bagus. Berarti memang ada yang harus dijelaskan.”

Kami bertiga duduk di ruang tamu.

Tak ada satu pun yang menyentuh minuman.

Dimas memecah keheningan lebih dulu.

“Arga… sebenarnya ada apa?”

Aku mengambil ponsel Arga dan meletakkannya di atas meja.

“Aku yang membalas pesanmu.”

Dimas mengerutkan dahi.

“Pesan yang mana?”

“Aku kangen kamu.”

“Oh… itu.”

Ia tertawa kecil.

Tawa yang justru membuatku semakin bingung.

“Maaf kalau bikin salah paham.”

Aku menatapnya tajam.

“Menurutmu, pesan seperti itu wajar dikirim ke suami orang?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Ia malah memandang Arga.

“Lo belum cerita juga?”

Arga menutup mata beberapa detik.

“Aku belum sempat.”

“Cerita apa?”

Arga menarik napas panjang.

“Dimas memang sering bilang begitu.”

“Kenapa?”

“Karena dia…”

Belum sempat Arga menyelesaikan kalimatnya, Dimas mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka sebuah grup WhatsApp.

Nama grupnya membuatku mengernyit.

“Geng Cowok Terlantar.”

Di dalam grup itu ada delapan anggota.

Semuanya laki-laki.

Aku melihat puluhan pesan.

“Aku kangen kalian.”

“Bro, kapan nongkrong?”

“Kangen main futsal.”

“Kangen dimarahin bos bareng.”

Bahkan salah satu anggota mengirim stiker bertuliskan, “Peluk virtual buat semua.”

Dimas tertawa malu.

“Di kantor kami memang begini. Bercandaan antar cowok. Semua orang tahu.”

Aku masih belum sepenuhnya percaya.

“Kalau cuma begitu, kenapa kamu datang ke rumah?”

Dimas mengangkat paper bag.

“Karena Arga bilang kalau resep steak yang dia coba minggu lalu gagal total. Aku mau bawain saus buatan istriku. Dia juga nitip brownies buat kalian.”

Aku melirik isi tas.

Benar.

Ada wadah saus bertuliskan tulisan tangan.

Untuk Arga & Reina.

Dari Nisa.

Istriku.

Aku membeku.

Lalu Arga berkata pelan.

“Aku sebenarnya mau ngenalin kalian minggu depan. Istri Dimas baru pulang dari Surabaya.”

Aku mulai merasa malu.

Namun ada sesuatu yang masih menggangguku.

“Kalau memang tidak ada apa-apa… kenapa waktu aku tanya tadi, kamu kelihatan gugup?”

Arga menunduk.

“Aku gugup bukan karena Dimas.”

“Lalu?”

Ia berdiri, berjalan menuju kamar kerja, lalu kembali membawa sebuah map biru.

Tangannya bergetar saat menyerahkannya kepadaku.

“Aku sebenarnya menyimpan sesuatu darimu.”

Dadaku kembali berdebar.

Aku membuka map itu.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan medis.

Namaku tertulis jelas sebagai anggota keluarga yang dirujuk.

Aku semakin bingung.

“Apa ini?”

Arga duduk di depanku.

“Tiga bulan lalu, waktu kamu sering pusing, kamu bilang nggak usah diperiksa karena sibuk kerja.”

Aku mengangguk.

“Aku diam-diam minta dokter kenalanku mengecek riwayat pemeriksaanmu.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut.”

Aku membaca halaman berikutnya.

Bukan hasil penyakit.

Melainkan hasil pemeriksaan kesuburan.

Aku mengangkat kepala.

“Apa maksudnya ini?”

Arga menelan ludah.

“Masalahnya bukan kamu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dokter bilang… kemungkinan besar akulah yang sulit memiliki anak.”

Ruangan kembali sunyi.

Selama tiga tahun menikah, keluargaku selalu menyalahkanku karena belum hamil.

Ibuku sendiri berkali-kali menyuruhku menjalani pengobatan.

Mertuaku bahkan pernah berkata, “Perempuan yang baik pasti cepat memberi cucu.”

Dan selama ini…

Arga tidak pernah membantah.

Air mataku mulai jatuh.

“Kamu tahu semua ini… tapi diam?”

“Aku sengaja.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak sanggup melihat orang tuaku kehilangan rasa hormat kepadaku.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada dugaan perselingkuhan.

“Aku rela kamu yang disalahkan?”

Suara Arga pecah.

“Setiap kali mereka menyakitimu, aku ingin bicara. Tapi aku pengecut.”

Aku menangis tanpa suara.

Ternyata pengkhianatan yang kutakuti bukanlah hubungan gelap.

Melainkan membiarkanku memikul beban yang seharusnya menjadi miliknya.

Dimas perlahan berdiri.

“Aku pamit dulu.”

Sebelum keluar, ia berhenti di depan Arga.

“Kalau terus diam, lo bakal kehilangan istri yang jauh lebih berharga daripada harga diri palsu itu.”

Pintu tertutup.

Hanya tinggal kami berdua.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Arga berlutut di hadapanku.

“Aku minta maaf.”

“Aku nggak butuh permintaan maaf.”

“Lalu?”

“Aku butuh suami yang berani berdiri di sampingku.”

Keesokan harinya, Arga melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

Ia mengumpulkan kedua orang tuanya, kedua orang tuaku, serta kakaknya di rumah kami.

Semua mengira kami akan mengumumkan kehamilan.

Sebaliknya, Arga meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja.

“Ayah, Ibu. Selama ini kalian menyalahkan Reina karena kami belum punya anak.”

Ibunya tersenyum sinis.

“Memang kenyataannya begitu.”

Arga menggeleng.

“Bukan.”

Ia mendorong hasil pemeriksaan itu ke arah mereka.

“Yang bermasalah adalah saya.”

Ruangan langsung sunyi.

Ibunya membaca berulang kali seolah berharap isi kertas itu berubah.

Ayahnya menatap Arga dengan wajah tak percaya.

“Aku yang meminta Reina menanggung semua hinaan itu. Aku takut dianggap bukan laki-laki sempurna. Tapi mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyalahkannya lagi.”

Ibunya mulai menangis.

Ia berbalik menatapku.

“Reina… maafkan Ibu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Luka yang dipikul selama bertahun-tahun tidak sembuh hanya karena satu kalimat maaf.

Namun untuk pertama kalinya, seseorang berdiri membelaku.

Bukan orang lain.

Melainkan suamiku sendiri.

Enam bulan kemudian, kami memutuskan menjalani program bayi tabung sambil membuka diri terhadap kemungkinan mengadopsi anak jika memang takdir mengarah ke sana.

Hubungan kami tidak menjadi sempurna.

Justru menjadi lebih jujur.

Kadang kami masih bertengkar.

Kadang aku masih mengingat malam ketika pesan itu muncul.

Namun setiap kali rasa curiga datang, Arga selalu menyerahkan ponselnya tanpa diminta dan berkata, “Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kita hadapi bersama. Jangan pernah lagi ada rahasia di antara kita.”

Ironisnya, pesan yang hampir menghancurkan pernikahan kami ternyata bukanlah bukti perselingkuhan.

Pesan itu justru membuka kebohongan yang jauh lebih besar.

Aku akhirnya sadar bahwa sebuah hubungan tidak runtuh hanya karena orang ketiga.

Hubungan bisa hancur ketika seseorang memilih diam, membiarkan orang yang dicintainya memikul rasa sakit sendirian.

Dan malam ketika aku membalas pesan “Aku kangen kamu!”, aku memang tidak menemukan seorang selingkuhan.

Aku justru menemukan kebenaran yang selama bertahun-tahun disembunyikan oleh orang yang paling kucintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang