Pernikahan yang Berakhir dengan “Dibatalkan”“Tunggu… kita tidak jadi melanjutkan pernikahan ini.”

Aku menatap Gio dari balik kaca mobil, tetapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku merasa sedang melihat orang asing.

Dia masih mengenakan kemeja putih yang kupilihkan seminggu lalu. Rambutnya ditata rapi oleh penata rambut yang kubayar. Bahkan jam tangan di pergelangan tangannya adalah hadiah dariku saat dia diterima bekerja di perusahaan konsultan itu.

Namun laki-laki yang berdiri di depan gedung perkantoran Sudirman itu bukan lagi Gio yang kukenal.

Atau mungkin, sebenarnya aku memang tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Kamu bilang aku membuatmu seperti mesin ATM?” tanyaku pelan.

Gio menoleh. Wajahnya berubah tegang ketika menyadari aku sudah keluar dari mobil.

“Rina, aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Tapi itu yang kamu katakan.”

Aku berjalan mendekatinya. Setiap langkah terasa berat, tetapi anehnya air mataku sudah berhenti mengalir.

“Cicilan rumah itu rumah siapa, Gio?”

Dia diam.

“Mobil yang kamu keluhkan itu mobil siapa?”

“Rina, jangan mulai lagi.”

“Dan tagihan yang selalu kuingatkan setiap bulan itu tagihan siapa?”

Orang-orang di sekitar kami mulai memperlambat langkah. Beberapa rekan kerja Gio berdiri tidak jauh dari pintu gedung, berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka.

Gio menatapku dengan rahang mengeras.

“Kita berdua menikmatinya.”

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena akhirnya aku mengerti betapa mudahnya dia mengubah kenyataan agar sesuai dengan keinginannya.

“Kita berdua?”

Aku mengeluarkan ponsel dari tas.

“Rumah itu atas namaku karena kamu tidak lolos pemeriksaan kredit. DP-nya dari tabunganku. Mobil itu kamu pakai setiap hari, tapi cicilannya dibayar dari rekeningku. Bahkan kartu kreditmu yang menunggak selama enam bulan, aku yang lunasi.”

“Tidak usah mempermalukanku di depan orang-orang.”

“Mempermalukanmu?” Suaraku mulai bergetar. “Kamu membatalkan pernikahan kita satu detik sebelum disahkan, lalu datang ke kantor membawa bunga untuk perempuan yang bahkan tidak menyukaimu. Dan sekarang kamu bilang aku yang mempermalukanmu?”

Siska berdiri di sampingku dengan tangan mengepal. Aku tahu dia ingin kembali menampar Gio, tetapi kali ini aku tidak membutuhkannya.

Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulut laki-laki itu.

Gio mengusap wajahnya dengan kasar.

“Aku hanya lelah, Rina. Selama bertahun-tahun hidup kita selalu tentang target. Bayar ini. Nabung itu. Beli rumah. Naik jabatan. Menikah. Punya anak. Kamu sudah mengatur seluruh hidupku sebelum aku sempat memilih.”

Aku menatapnya lama.

“Delapan tahun lalu, siapa yang memintaku jangan pergi ketika kamu tidak punya uang untuk membayar kuliah?”

Gio tidak menjawab.

“Siapa yang menangis di kamar kontrakan dan bilang hidupnya akan hancur kalau aku meninggalkannya?”

“Jangan bawa-bawa masa lalu.”

“Karena masa lalu itu memalukan bagimu?”

“Karena aku sudah berubah!”

Kalimat itu meluncur begitu keras hingga semua orang terdiam.

Gio menarik napas panjang, kemudian menatapku dengan mata yang selama ini selalu berhasil membuatku memaafkannya.

“Aku bukan Gio yang dulu. Aku tidak mau lagi hidup dengan rasa berutang kepadamu.”

Akhirnya aku mengerti.

Bukan karena dia tidak mencintaiku.

Bukan pula karena Maya.

Dia membenciku karena aku mengenal versi dirinya yang paling lemah.

Aku adalah pengingat hidup tentang hari-hari ketika dia tidak punya apa-apa. Setiap kali melihatku, dia tidak melihat perempuan yang membantunya berdiri. Dia melihat utang yang tidak pernah bisa dia lunasi.

“Aku tidak pernah meminta kamu membayar kembali apa pun,” kataku.

“Tapi tatapanmu selalu membuatku merasa harus membayar.”

“Tatapan yang mana?”

“Tatapan saat aku pulang terlambat. Saat aku membeli sesuatu. Saat aku lupa transfer cicilan. Saat aku ingin menikmati hasil kerjaku sendiri.”

Aku hampir ingin berteriak bahwa aku pulang lebih malam darinya. Bahwa selama dua tahun terakhir, sebagian besar penghasilanku habis untuk menutup kebiasaan belanjanya. Bahwa apartemen, mobil, rencana pernikahan, bahkan liburan ke Bali yang dia pamerkan di media sosial dibayar lebih banyak olehku.

Namun tiba-tiba aku merasa sangat lelah.

Aku tidak lagi ingin meyakinkan orang yang sudah memutuskan untuk menjadikanku penjahat dalam hidupnya.

“Baik,” kataku.

Gio mengerutkan kening. “Apa?”

“Kamu bebas.”

Aku membuka aplikasi perbankan di ponsel.

“Mulai hari ini, cicilan mobilmu urus sendiri. Kartu kreditmu juga. Aku akan menghubungi bank dan mencabut kuasa pembayaran otomatis dari rekeningku.”

Wajah Gio berubah.

“Rina, jangan bersikap kekanak-kanakan.”

“Apartemen itu akan kutinggali sendiri. Semua barang milikmu akan kukemas dan kukirim ke rumah ibumu.”

“Kita bisa membicarakannya nanti.”

“Tidak ada nanti.”

Gio melangkah mendekat dan merendahkan suaranya.

“Kamu tidak bisa melakukan ini hanya karena aku membatalkan pernikahan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Hanya karena?”

Dia menyadari kesalahannya, tetapi sudah terlambat.

“Bukan begitu maksudku.”

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Kamu benar tentang satu hal, Gio. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Jadi mulai sekarang, jangan paksa aku terus menjadi orang yang menyelamatkan hidupmu.”

Aku berbalik.

Untuk pertama kalinya, Gio mengejarku.

“Rina, tunggu!”

Namun Siska berdiri menghalangi jalannya.

“Cukup,” katanya. “Hari ini kamu sudah membuat satu keputusan besar. Sekarang hadapi akibatnya.”

Malam itu, aku tidak menangis di apartemen.

Aku duduk di lantai ruang tamu, masih mengenakan gaun putih sederhana yang seharusnya kupakai untuk makan malam keluarga setelah pencatatan sipil. Di hadapanku ada delapan kotak besar berisi barang-barang Gio.

Kemeja, sepatu, dokumen, buku kuliah, foto-foto lama, dan sebuah laptop hitam yang sudah lama tidak kulihat.

Aku berniat memasukkan laptop itu ke dalam kotak terakhir ketika layarnya tiba-tiba menyala. Gio pasti lupa mematikannya. Sebuah notifikasi email muncul di sudut layar.

Subjeknya membuat tanganku berhenti.

Konfirmasi Pengajuan Pinjaman Pribadi.

Awalnya aku tidak ingin membukanya. Aku tahu mengakses akun orang lain salah. Namun nama pemohon di notifikasi itu bukan nama Gio.

Itu namaku.

Jantungku berdegup cepat.

Laptop tersebut tidak terkunci karena Gio masih menggunakan tanggal lahirku sebagai kata sandi. Begitu email terbuka, seluruh tubuhku terasa dingin.

Pinjaman sebesar delapan ratus juta rupiah diajukan menggunakan identitasku tiga minggu lalu.

Alamatnya apartemen kami.

Nomor teleponnya nomor Gio.

Dana pencairan diarahkan ke rekening sebuah perusahaan bernama PT Arunika Kreasi Mandiri.

Aku mengenal nama itu.

Perusahaan tersebut adalah proyek investasi yang sering dibicarakan Gio beberapa bulan terakhir. Katanya, teman kantornya mengajak masuk ke bisnis properti digital dengan keuntungan tinggi. Ketika aku bertanya lebih jauh, dia selalu bilang aku terlalu curiga dan tidak mendukung ambisinya.

Tanganku gemetar ketika membuka folder unduhan.

Di sana ada salinan KTP-ku, slip gajiku, laporan rekening, bahkan tanda tangan digitalku.

Semuanya dipalsukan.

“Siska,” panggilku.

Dia keluar dari dapur membawa dua cangkir teh.

Begitu melihat wajahku, dia langsung meletakkan cangkir.

“Ada apa?”

Aku memutar layar laptop ke arahnya.

Siska membaca beberapa baris, lalu wajahnya pucat.

“Ini bukan cuma perselingkuhan emosional,” katanya. “Ini penipuan.”

Aku terus membuka dokumen lain. Semakin banyak yang kutemukan, semakin sulit bernapas.

Gio sudah mengajukan pinjaman ke tiga lembaga keuangan. Dua ditolak, satu masih dalam proses verifikasi. Dia juga menggunakan sertifikat apartemen sebagai dokumen pendukung, meski apartemen itu sepenuhnya atas namaku.

Di antara folder-folder itu, ada percakapan antara Gio dan seseorang bernama Bastian.

Bastian adalah atasannya.

Percakapan mereka membahas investasi, komisi, dan cara meyakinkanku untuk menandatangani surat setelah pernikahan resmi.

Aku membaca salah satu pesan Gio.

Setelah menikah, lebih gampang. Kalau dia tanya, bilang saja untuk penggabungan aset.

Pesan Bastian muncul beberapa menit kemudian.

Pastikan nikahnya jadi. Tanpa status suami, akses ke dokumen dia terbatas.

Aku menutup mulut.

Siska duduk di sampingku.

“Jadi kenapa dia membatalkan pernikahan kalau ini rencananya?”

Aku menggulir percakapan lebih jauh.

Jawabannya muncul dari pesan yang dikirim pagi itu.

Bastian menulis bahwa Maya mengetahui pengajuan pinjaman palsu tersebut. Maya ternyata bekerja di divisi kepatuhan perusahaan dan menemukan kejanggalan dokumen saat melakukan pemeriksaan internal.

Dia mengancam akan melaporkan Gio jika pernikahan tetap dilanjutkan.

Gio membalas bahwa dia akan berbicara langsung dengan Maya dan “menyelesaikannya secara pribadi.”

Aku akhirnya memahami adegan di taman kantor.

Gio bukan datang untuk menyatakan cinta.

Dia sedang mencoba membungkam Maya dengan berpura-pura meninggalkan calon istrinya demi perempuan itu. Dia mengira Maya memiliki perasaan kepadanya karena beberapa kali bersikap ramah dan memperingatkannya secara pribadi.

Gio mempertaruhkan delapan tahun hubungan kami bukan karena cinta baru, tetapi karena panik.

Lebih buruk lagi, dia menggunakan kata cinta untuk menutupi kejahatan.

Keesokan paginya, aku datang ke kantor polisi bersama Siska dan seorang pengacara. Kami membawa laptop, salinan dokumen, riwayat percakapan, serta bukti rekening.

Aku juga menghubungi Maya.

Awalnya dia ragu bertemu denganku. Kami akhirnya duduk di sebuah kedai kopi kecil di kawasan Kuningan.

Maya tampak jauh lebih tegang daripada saat menolak Gio.

“Saya minta maaf,” katanya. “Saya tidak tahu Pak Gio akan membatalkan pernikahan Anda.”

“Dia bilang mencintai kamu.”

Maya menggeleng cepat.

“Saya tidak pernah punya hubungan apa pun dengannya. Beberapa bulan terakhir dia sering mengajak makan siang dan mengirim pesan pribadi, tapi selalu saya tolak dengan sopan. Saya pikir dia hanya terlalu percaya diri.”

Dia menyerahkan sebuah flash drive kepadaku.

“Ini salinan temuan audit internal. Ada transaksi ke perusahaan fiktif. Pak Gio dan Pak Bastian diduga menggunakan data beberapa klien dan anggota keluarga untuk mengajukan pembiayaan.”

“Beberapa?”

“Nama Anda bukan satu-satunya.”

Aku menatap flash drive itu.

“Kenapa kamu tidak langsung melapor?”

“Saya sudah melapor ke kepala divisi, tetapi Pak Bastian punya posisi kuat. Saya diminta diam sambil menunggu penyelidikan internal. Kemarin pagi saya bilang kepada Pak Gio bahwa jika dia menggunakan dokumen Anda setelah pernikahan, saya akan langsung pergi ke polisi.”

Maya menunduk.

“Saya tidak menyangka dia akan mengarang cerita cinta di depan banyak orang.”

Aku hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas panjang.

Bahkan dalam kejahatan, Gio tetap ingin terlihat seperti tokoh utama dalam kisah romantis.

Tiga hari kemudian, Gio datang ke apartemen.

Dia berdiri di depan pintu dengan wajah kusut. Tidak ada lagi kemeja putih, bunga, atau keyakinan palsu. Hanya seorang laki-laki yang ketakutan.

“Rina, kita harus bicara.”

Aku tidak membukakan pintu. Kami berbicara melalui interkom.

“Aku tahu kamu mengambil laptopku.”

“Itu tertinggal di rumahku.”

“Itu barang pribadiku.”

“Identitasku juga barang pribadiku.”

Dia terdiam beberapa detik.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jelaskan kepada polisi.”

Napasnya terdengar berat.

“Rina, aku melakukan semua itu untuk kita.”

Aku memejamkan mata.

“Jangan gunakan kata kita lagi.”

“Aku ingin investasi itu berhasil. Aku ingin membayar semua utangku kepadamu. Aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa memberi sesuatu.”

“Dengan mencuri identitasku?”

“Aku tidak akan membiarkan kamu rugi.”

“Kamu bahkan membatalkan pernikahan kita untuk menyelamatkan dirimu sendiri.”

“Aku panik!”

Suara Gio pecah.

“Aku takut Maya melapor. Bastian bilang kalau pernikahan tetap dilanjutkan, polisi akan menganggap aset kita milik bersama dan semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi Maya mengancam akan datang ke kantor pencatatan. Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

Aku terdiam.

Jadi Gio bahkan tidak membatalkan pernikahan karena ingin melindungiku. Dia melakukannya karena skenarionya berubah dan dia takut ditangkap di tempat.

“Rina, tolong cabut laporanmu.”

“Tidak.”

“Aku bisa kehilangan pekerjaan.”

“Itu bukan masalahku.”

“Aku bisa dipenjara.”

“Itu akibat pilihanmu.”

Gio memukul pintu sekali.

“Setelah semua yang kita lalui, kamu tega menghancurkan hidupku?”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya lepas.

Aku membuka pintu, tetapi tetap memasang rantai pengaman.

Gio berdiri di luar dengan mata merah.

“Dengarkan aku baik-baik,” kataku. “Aku tidak menghancurkan hidupmu. Aku hanya berhenti menyelamatkanmu dari kehancuran yang kamu buat sendiri.”

Wajahnya menegang.

“Kamu pikir kamu suci? Kamu selalu membuatku merasa kecil!”

“Aku bekerja tiga pekerjaan agar kamu bisa kuliah.”

“Aku tidak pernah memintamu!”

“Kamu memintanya setiap kali kamu bilang hanya aku satu-satunya harapanmu.”

Dia terdiam.

Aku menatap laki-laki yang dulu kucintai lebih dari diriku sendiri.

“Kesalahanku bukan terlalu banyak menolongmu. Kesalahanku adalah mengira rasa terima kasih bisa berubah menjadi cinta.”

Aku menutup pintu.

Dua bulan kemudian, Gio dan Bastian resmi ditetapkan sebagai tersangka atas pemalsuan dokumen, penyalahgunaan data pribadi, dan penipuan finansial. Perusahaan tempat mereka bekerja memecat keduanya. Beberapa korban lain mulai berani melapor setelah kasus tersebut diberitakan.

Maya menjadi saksi kunci.

Sementara itu, aku menjual mobil yang selama ini dipakai Gio dan melunasi sisa cicilan apartemen lebih cepat. Aku juga membatalkan seluruh rencana pesta pernikahan. Sebagian uang yang berhasil dikembalikan oleh vendor kugunakan untuk membuka usaha kecil bersama Siska.

Kami mendirikan layanan konsultasi keuangan untuk perempuan muda yang ingin memahami dokumen pinjaman, kredit, aset, dan risiko penggunaan identitas oleh pasangan atau keluarga.

Ide itu lahir dari kehancuranku sendiri.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke Kantor Catatan Sipil yang sama.

Bukan untuk menikah.

Aku datang sebagai pembicara dalam program edukasi hukum dan keuangan bagi pasangan yang hendak mendaftarkan pernikahan.

Di lobi, aku melihat sudut lantai tempat buket mawar putihku pernah jatuh. Tentu saja tidak ada lagi kelopak bunga di sana. Semuanya sudah dibersihkan sejak lama.

Namun aku masih bisa melihat bayangan diriku sendiri, berdiri dengan gaun putih, menunggu seorang laki-laki mengesahkan masa depanku.

Seorang petugas perempuan yang mengenaliku menghampiri.

“Bu Rina?”

Aku tersenyum.

Dia tampak ragu sebelum berkata, “Saya masih ingat kejadian waktu itu. Saya ikut sedih.”

“Tidak apa-apa.”

“Kadang saya berpikir, seandainya stempel itu sudah ditekan satu detik lebih cepat…”

Aku memandang stempel resmi di meja pelayanan.

Dulu aku mengira satu detik itu menghancurkan hidupku.

Sekarang aku tahu, satu detik itu justru menyelamatkannya.

Aku tersenyum lebih lebar.

“Untung dia menghentikan tangan Ibu.”

Petugas itu terlihat bingung.

Aku menatap pintu keluar yang terbuka, tempat cahaya siang Jakarta masuk memenuhi lobi.

“Karena pernikahan saya memang dibatalkan,” kataku. “Tapi hidup saya tidak.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang