Di sebuah desa kecil di tepi Sungai Saddang, Sulawesi Selatan, warga mengenal Rina Amalia dan Lina Amalia sebagai saudari kembar yang tak pernah bisa dipisahkan. Wajah mereka nyaris sama, suara mereka serupa, bahkan tawa mereka terdengar seperti gema satu sama lain. Namun hidup telah menggoreskan luka yang berbeda pada hati keduanya.
Di usia empat puluh delapan tahun, mereka sudah dua kali merasakan pahitnya kehilangan. Rina ditinggalkan suaminya yang tenggelam dalam minuman keras dan utang. Lina diceraikan suaminya sendiri setelah bertahun-tahun dihina karena tak kunjung memberikan keturunan. Tak ada anak yang memanggil mereka ibu. Tak ada keluarga yang menunggu mereka pulang selain satu sama lain.
Ketika Pak Haji Burhan, lelaki terkaya di desa itu, datang membawa lamaran yang tak pernah terbayangkan, mereka menganggapnya sebagai kesempatan terakhir untuk mengubah nasib. Mereka tahu usia bukan lagi sahabat mereka. Namun bayangan hidup berkecukupan dan harapan melahirkan seorang putra yang akan menjadi pewaris keluarga membuat mereka mengabaikan semua keraguan.
Beberapa bulan pertama terasa seperti mimpi.

Setiap pagi mereka menikmati kopi hangat di beranda rumah megah yang menghadap hamparan sawah. Tak ada lagi tangan yang pecah-pecah karena mencangkul tanah. Tak ada lagi malam yang dihabiskan menghitung sisa uang untuk membeli beras. Pak Haji Burhan memperlakukan mereka dengan sopan, memenuhi semua kebutuhan mereka, bahkan membawa mereka berobat ke dokter spesialis di Makassar untuk memeriksa kemungkinan memiliki keturunan.
Namun hasil pemeriksaan membuat hati keduanya hancur.
Dokter menjelaskan dengan lembut bahwa peluang mereka untuk hamil secara alami hampir tidak ada lagi.
Pak Haji Burhan hanya tersenyum saat mendengar kabar itu.
“Keajaiban masih bisa terjadi,” katanya singkat.
Sejak saat itu, ia mulai sering bepergian ke luar kota dengan alasan mengurus kebun dan usaha perikanan. Ia pulang membawa hadiah mahal, tetapi juga membawa tatapan yang semakin sulit ditebak.
Persaingan di antara Rina dan Lina perlahan berubah menjadi kecemasan. Mereka sama-sama takut suatu hari nanti suami mereka akan mencari perempuan lain yang lebih muda.
Ketakutan itu akhirnya menjadi kenyataan pada malam ketika mereka membuka pintu kamar utama.
Rina dan Lina membeku.
Perempuan muda bergaun merah itu tidak tampak terkejut sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis sambil merapikan rambutnya. Wajahnya cantik, usianya mungkin baru dua puluh lima tahun.
Pak Haji Burhan menghela napas panjang, seolah sudah lelah menyimpan rahasia.
“Aku memang berniat memberitahu kalian,” katanya tenang.
“Mengapa tidak sekarang saja?”
Rina gemetar.
“Siapa dia?”
Perempuan itu berdiri perlahan lalu membungkukkan badan.
“Nama saya Siska.”
Lina menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
“Apakah kau menikah lagi?”
Pak Haji Burhan mengangguk tanpa rasa bersalah.
“Sudah enam bulan.”
Kalimat itu seperti petir yang membelah langit.
“Enam bulan?” Rina berteriak.
“Berarti saat kami tinggal di rumah ini…”
“Kalian memang tidak tahu.”
Lina terduduk di lantai. Air matanya mengalir tanpa suara.
Pak Haji Burhan tetap duduk tenang.
“Aku membutuhkan pewaris. Dokter sudah memastikan kalian hampir mustahil mempunyai anak. Aku tidak bisa membiarkan seluruh hartaku tidak memiliki penerus.”
Rina menggenggam tangan adiknya.
“Jadi selama ini kami hanya pelengkap?”
Pak Haji Burhan tidak menjawab.
Siska justru berbicara pelan.
“Saya sedang hamil tiga bulan.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa berputar.
Lina hampir pingsan.
Rina menarik napas panjang sambil menahan amarah yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Malam itu mereka mengemasi pakaian dan berniat pergi meninggalkan rumah tersebut.
Namun saat melewati ruang kerja Pak Haji Burhan, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat.
Refleks mereka bersembunyi di balik pintu yang sedikit terbuka.
Pak Haji Burhan masuk bersama seorang pria asing berpakaian jas hitam.
“Dokumennya sudah siap?” tanya pria itu.
“Sudah.”
Pak Haji Burhan membuka map cokelat yang tadi mereka lihat di meja kamar.
“Kalau bayi itu lahir, seluruh aset akan langsung dipindahkan atas nama yayasan.”
Pria itu tampak bingung.
“Bukankah Bapak ingin mewariskannya kepada anak?”
Pak Haji Burhan tersenyum getir.
“Aku tidak punya anak.”
“Tapi perempuan itu sedang hamil.”
Pak Haji Burhan tertawa pelan.
“Itu bukan anakku.”
Rina dan Lina saling berpandangan.
Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
Pak Haji Burhan melanjutkan.
“Aku mandul sejak dua puluh tahun lalu akibat kecelakaan. Tidak mungkin aku memiliki keturunan.”
Pria itu terdiam.
“Lalu mengapa semua sandiwara ini?”
“Agar semua orang percaya aku masih mampu mempunyai anak. Kalau keluargaku tahu aku mandul, mereka akan berebut hartaku sebelum aku meninggal.”
“Perempuan itu tahu?”
“Tidak.”
“Bagaimana kalau bayi itu lahir?”
Pak Haji Burhan menarik napas panjang.
“Aku sudah membuat surat wasiat. Semua kekayaanku akan menjadi milik yayasan pendidikan dan rumah sakit gratis. Tidak satu rupiah pun jatuh kepada istri-istriku ataupun bayi itu.”
Rina menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Lina mulai memahami semuanya.
Selama ini mereka bukan istri yang dicintai.
Siska juga bukan perempuan yang dicintai.
Mereka semua hanyalah pion dalam permainan seorang lelaki tua yang ingin menjaga nama besarnya sampai akhir hayat.
Malam itu juga Rina dan Lina diam-diam menemui Siska.
Awalnya perempuan muda itu marah karena mengira mereka hendak mengusirnya.
Namun ketika Rina menceritakan semua yang didengarnya, wajah Siska perlahan berubah pucat.
“Itu tidak mungkin.”
“Kami mendengarnya sendiri.”
Siska menangis tersedu-sedu.
Ia mengaku sudah menjalin hubungan dengan seorang pria lain sebelum bertemu Pak Haji Burhan. Saat mengetahui dirinya hamil, pria itu menghilang. Dalam keadaan putus asa, ia menerima lamaran Pak Haji Burhan yang berjanji akan mengakui bayi tersebut sebagai pewaris.
“Aku benar-benar percaya dia ingin menjadi ayah.”
Rina memeluk perempuan itu.
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, ketiga perempuan tersebut menangis bersama.
Keesokan harinya mereka mendatangi notaris yang disebutkan Pak Haji Burhan.
Awalnya sang notaris menolak berbicara.
Namun setelah mengetahui bahwa mereka mengetahui isi surat wasiat dan menunjukkan beberapa rekaman suara yang sempat direkam Lina menggunakan telepon genggamnya, notaris akhirnya membuka semua rahasia.
Selama bertahun-tahun Pak Haji Burhan memang menikahi beberapa perempuan dengan harapan masyarakat menganggap dirinya masih subur.
Tidak satu pun dari mereka pernah menerima warisan.
Semua aset sudah lama direncanakan untuk disumbangkan setelah kematiannya.
Bahkan rumah megah itu pun akan berubah menjadi panti jompo.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan kembali ke rumah besar itu.
Pak Haji Burhan sedang duduk sendirian di ruang tamu.
Tatapannya tenang, seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
“Kalian sudah tahu semuanya.”
Rina mengangguk.
“Mengapa membohongi kami?”
Pak Haji Burhan memejamkan mata.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Tidak ada seorang pun yang benar-benar ingin mendampingiku jika mengetahui aku mandul.”
Lina menatap lelaki tua itu dengan mata merah.
“Jadi kau memilih menghancurkan hidup perempuan lain agar tidak merasa kesepian?”
Tak ada jawaban.
Siska maju selangkah.
“Aku tidak menuntut hartamu.”
“Aku hanya ingin anakku lahir dengan mengetahui siapa dirinya.”
Pak Haji Burhan menunduk.
Air mata akhirnya jatuh dari wajah lelaki yang selama ini selalu tampak kuat.
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan kebohongan.”
Seminggu kemudian, seluruh desa dikejutkan oleh pengumuman yang dipasang di balai desa.
Pak Haji Burhan mengakui secara terbuka bahwa dirinya tidak memiliki keturunan dan meminta maaf kepada semua perempuan yang pernah ia sakiti.
Ia juga mengubah sebagian isi surat wasiat.
Rumah megahnya tetap menjadi panti jompo, tetapi sebagian besar lahan pertanian dan usaha perikanan diserahkan kepada koperasi desa agar dikelola bersama oleh warga.
Rina dan Lina memilih meninggalkan rumah besar itu.
Mereka kembali ke gubuk lama di tepi Sungai Saddang.
Namun kali ini mereka tidak pulang dengan tangan kosong.
Mereka membawa Siska yang sedang mengandung.
Mereka merawatnya seperti adik sendiri.
Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat.
Bayi itu bukan pewaris harta miliaran rupiah.
Namun ia tumbuh dikelilingi tiga perempuan yang mengasihinya tanpa syarat.
Pak Haji Burhan datang menjenguk beberapa hari setelah kelahiran.
Ia tidak meminta dipanggil ayah.
Ia hanya meletakkan sebuah buku tabungan atas nama bayi itu, lalu berkata pelan, “Semoga hidupnya dimulai dengan kejujuran, bukan kebohongan seperti hidupku.”
Tak lama kemudian ia pergi tanpa menoleh lagi.
Rina memandang bayi yang sedang tertidur di pelukan Lina.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, rumah kecil yang dulu terasa sunyi dipenuhi suara tangis bayi dan tawa yang tulus.
Mereka akhirnya menyadari bahwa kemewahan memang bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak pernah mampu membeli keluarga. Kadang-kadang, warisan paling berharga bukanlah tanah, rumah, atau uang, melainkan keberanian untuk mengakhiri sebuah kebohongan agar generasi berikutnya dapat memulai hidup dengan kebenaran.
