Malam itu, hujan turun tanpa henti membasahi kawasan elite Menteng. Kilatan petir sesekali menerangi halaman rumah megah milik Claudia Salazar, seolah langit sendiri sedang memperlihatkan sebuah dosa yang selama ini tersembunyi.
Claudia berdiri di balik tirai ruang tamu. Napasnya terasa berat. Dari balik kaca, ia melihat mobil SUV hitamnya menghilang di tikungan, dikendarai Jimena yang masih tertawa senang, sama sekali tidak menyadari bahwa rem kendaraan itu telah dipotong.
Di belakangnya, Ibu Elvira menggenggam sandaran kursi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Ayo telepon dia,” bisik Claudia pelan sambil berpura-pura panik. “Suruh dia hati-hati.”
Ibu Elvira tidak bergerak.

Wajah wanita tua itu berubah pucat seperti mayat.
Beberapa detik kemudian, telepon Jimena berdering. Tidak ada jawaban.
Berdering lagi.
Tetap tidak dijawab.
Claudia memperhatikan ibu mertuanya yang mulai gemetar. Ia tahu wanita itu sedang berdoa agar mobil itu tidak sampai ke jalan menurun di dekat flyover Cikini.
Namun doa itu terlambat.
Ponsel rumah berdering nyaring.
Ibu Elvira mengangkatnya dengan tangan bergetar.
“Halo…”
Suara dari seberang terdengar terburu-buru.
“Apa benar ini keluarga pemilik SUV B 1883 CS? Kendaraan mengalami kecelakaan di Jalan Diponegoro. Mohon segera datang ke Rumah Sakit.”
Telepon terlepas dari tangan Ibu Elvira.
Tubuhnya limbung.
Claudia berpura-pura syok.
“Ada apa? Jimena kenapa?”
Ibu Elvira tidak mampu menjawab.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Claudia sengaja duduk di kursi belakang sambil mengamati wajah ibu mertuanya melalui kaca spion. Wanita itu terus menangis, tetapi tangisnya bukan hanya karena kehilangan.
Tangis itu dipenuhi ketakutan.
Sesampainya di IGD, dokter datang dengan wajah serius.
“Kami mohon maaf. Korban meninggal di tempat akibat kendaraan kehilangan fungsi pengereman.”
Ibu Elvira menjerit histeris.
Claudia ikut menangis.
Namun di balik air matanya, pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun di ruangan itu.
Dokter kemudian berkata pelan,
“Untung saja anak kecil yang hendak dijemput belum sempat naik ke mobil.”
Kalimat itu membuat Claudia hampir kehilangan keseimbangan.
Nico selamat.
Jika Jimena tiba lima menit lebih cepat, putranya pasti ikut berada di dalam mobil.
Tubuh Claudia mendadak dingin.
Mereka bukan hanya ingin membunuh dirinya.
Mereka juga rela mengorbankan Nico.
Malam itu juga polisi datang untuk memeriksa kendaraan.
Seorang petugas forensik memandang bekas rem yang putus.
“Ini bukan kerusakan biasa.”
Suasana berubah sunyi.
“Selang rem dipotong menggunakan alat tajam.”
Ibu Elvira langsung menutup wajahnya.
Claudia menunduk seolah ketakutan.
Dalam hati, ia tahu permainan baru saja dimulai.
Dua hari kemudian Arturo pulang dari Surabaya.
Begitu tiba di rumah duka, ia memeluk ibunya erat-erat.
“Ibu… ini semua musibah…”
Namun Claudia menangkap sesuatu yang aneh.
Tidak ada air mata.
Tidak ada kesedihan yang nyata.
Tatapan Arturo justru beberapa kali mengarah ke mobil polisi yang masih terparkir di depan rumah.
Malam harinya Claudia membuka laptop.
Ia menghubungi seorang teman lama yang bekerja sebagai penyelidik perusahaan asuransi.
“Aku ingin tahu siapa yang mengusulkan polis jiwaku.”
Jawabannya datang keesokan pagi.
Arturo.
Bukan hanya itu.
Lima bulan lalu Arturo juga meminta agar nilai pertanggungan dinaikkan menjadi lima belas miliar rupiah dengan klausul santunan ganda apabila kematian disebabkan kecelakaan.
Claudia menutup layar laptop perlahan.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya semua kepingan mulai tersusun.
Selama bertahun-tahun ia bekerja tanpa mengenal lelah.
Sementara Arturo terus gagal dalam berbagai bisnis.
Diam-diam suaminya memiliki utang lebih dari dua belas miliar rupiah kepada rentenir.
Jika Claudia meninggal, semua masalah itu akan selesai.
Seminggu kemudian polisi memanggil seluruh keluarga.
Hasil laboratorium memastikan adanya bekas potongan logam pada selang rem.
Namun penyidik belum memiliki cukup bukti untuk menetapkan tersangka.
Arturo terlihat sangat tenang.
Bahkan terlalu tenang.
Ketika semua orang meninggalkan ruang pemeriksaan, Claudia sengaja menghampiri suaminya.
“Aku masih tidak percaya Jimena sudah pergi.”
Arturo menghela napas.
“Takdir memang kejam.”
Claudia menatap matanya.
“Kalau malam itu aku yang menyetir, mungkin aku yang mati.”
Selama satu detik, wajah Arturo membeku.
Hanya satu detik.
Tetapi cukup bagi Claudia untuk mengetahui kebenaran.
Malam berikutnya Claudia memasang kamera kecil di garasi, dapur, dan ruang kerja.
Ia juga berhenti meminum susu jahe buatan Ibu Elvira.
Diam-diam ia membawa setiap gelas ke laboratorium.
Hasilnya keluar tiga hari kemudian.
Terdapat kandungan obat penenang dosis rendah yang dikonsumsi terus-menerus dapat menyebabkan tubuh lemah dan mengantuk.
Claudia menutup laporan itu sambil mengepalkan tangan.
Mereka memang sedang mempersiapkan kematiannya sedikit demi sedikit.
Kini ia tidak lagi ingin sekadar selamat.
Ia ingin mereka mengaku.
Melalui kenalannya di bidang teknologi, Claudia memasang sistem perekam suara otomatis di ruang keluarga.
Ia tahu Arturo dan ibunya sering berbicara ketika mengira dirinya sudah tidur.
Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Suatu malam Arturo berkata lirih,
“Semuanya hancur gara-gara Jimena.”
Ibu Elvira menangis.
“Aku tidak tahu Claudia akan menyuruh dia pergi.”
“Kita seharusnya memastikan Claudia yang membawa mobil.”
“Kita tidak punya pilihan. Utangku jatuh tempo bulan depan.”
“Bagaimana dengan polis asuransinya?”
“Selama Claudia hidup, uang itu tidak akan pernah cair.”
Rekaman itu terdengar sangat jelas.
Tidak ada lagi keraguan.
Namun Claudia belum menyerahkannya kepada polisi.
Ia menginginkan satu bukti terakhir.
Keesokan harinya ia berpura-pura menemui notaris.
Dengan sengaja ia berkata keras di depan Arturo,
“Aku sedang berpikir memindahkan seluruh aset perusahaan ke atas namamu supaya kalau terjadi apa-apa keluarga tetap aman.”
Mata Arturo langsung berbinar.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Jimena, ia tersenyum tulus.
Malam itu juga ia menelepon seseorang.
Tanpa ia sadari, ponselnya telah disadap secara hukum setelah Claudia menyerahkan rekaman awal kepada penyidik.
Polisi mendengar seluruh percakapan.
“Kalau aset belum dipindahkan, kita selesaikan saja sebelum akhir minggu.”
“Itu pasti terlihat seperti kecelakaan lagi.”
“Pastikan kali ini tidak gagal.”
Percakapan itu menjadi bukti yang selama ini dicari.
Dua hari kemudian Claudia berpura-pura pergi ke kantor seorang diri.
Sebuah truk besar tiba-tiba melaju kencang dari arah berlawanan.
Namun sebelum sempat menabrak mobil Claudia, polisi yang sudah mengawasi sejak pagi langsung menghentikan kendaraan tersebut.
Sopir truk ditangkap.
Dalam pemeriksaan, ia mengaku dibayar oleh Arturo.
Sore itu juga polisi datang ke rumah.
Arturo masih duduk santai di ruang makan ketika belasan petugas masuk.
“Ada apa ini?”
Seorang penyidik meletakkan surat penangkapan di atas meja.
“Saudara Arturo Salazar ditangkap atas dugaan pembunuhan berencana terhadap istri sendiri, percobaan pembunuhan, serta persekongkolan kriminal.”
Ibu Elvira berteriak histeris.
“Itu bohong!”
Penyidik menyalakan sebuah alat perekam.
Suara Arturo memenuhi ruangan.
“Kita seharusnya memastikan Claudia yang membawa mobil.”
Wajah Arturo seketika kehilangan warna.
Ia memandang Claudia yang berdiri di sudut ruangan.
“Kamu…”
Claudia menatapnya dengan tenang.
“Selama bertahun-tahun aku menganggap kalian keluarga.”
Arturo mencoba berlutut.
“Claudia… dengarkan aku…”
“Tidak.”
“Aku memang mencintaimu.”
“Kalau itu cinta, kenapa kamu menghitung nilai hidupku berdasarkan uang asuransi?”
Tak ada jawaban.
Ibu Elvira ikut ditangkap karena terbukti memotong rem mobil dan bersekongkol meracuni menantunya secara perlahan.
Beberapa bulan kemudian persidangan berlangsung terbuka.
Hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Arturo.
Sementara Ibu Elvira dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara.
Sebelum dibawa keluar ruang sidang, wanita tua itu menangis sambil berkata,
“Aku hanya ingin menyelamatkan anakku.”
Claudia memandangnya tanpa kebencian.
“Ibu tidak pernah menyelamatkannya. Ibu justru mengajarinya bahwa nyawa orang lain bisa ditukar dengan uang.”
Ruangan sidang mendadak sunyi.
Setelah semuanya berakhir, Claudia menjual rumah besar di Menteng.
Ia dan Nico pindah ke rumah yang lebih sederhana.
Sebagian keuntungan perusahaan ia gunakan untuk mendirikan yayasan yang membantu keluarga korban kejahatan finansial dan kekerasan dalam rumah tangga.
Suatu sore, Nico bertanya ketika mereka mengunjungi makam Jimena.
“Bu, Tante Jimena jahat atau baik?”
Claudia terdiam cukup lama.
“Lelaki dan perempuan tidak selalu dilahirkan jahat, Nak. Kadang mereka hanya terlalu lama mengikuti orang yang salah, sampai lupa membedakan mana kasih sayang dan mana keserakahan.”
Nico mengangguk pelan.
Mereka meninggalkan pemakaman ketika matahari mulai tenggelam.
Di belakang mereka, hujan rintik kembali turun.
Bukan lagi sebagai pertanda kematian.
Melainkan seolah mencuci bersih semua kebohongan yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik kemewahan sebuah keluarga.
