“Saya tidak mau pergi! Ini rumah saya! Naya, tolong Ibu! Bayar utang Dewa sekarang pakai uang di rekeningmu!”

Darah di wajahku seolah turun ke telapak kaki.

Aku tidak langsung menjawab. Pandanganku terpaku pada kasur tempat aku duduk beberapa menit sebelumnya. Kasur yang sama tempat seseorang mengambil fotoku saat tertidur, lalu menggunakan wajahku untuk mengajukan pinjaman seratus juta rupiah.

“Naya, kamu masih di sana?” suara Pak Cipto terdengar cemas.

“Saya berangkat sekarang, Pak.”

Aku menutup telepon, menyambar jaket, lalu memasukkan seluruh berkas penting ke dalam koper. Aku tidak berani meninggalkannya di rumah. Jika Baskara sanggup mengambil KTP-ku saat aku tidur, aku tidak tahu apa lagi yang sudah disentuhnya.

Sebelum keluar, aku memandangi kamar itu untuk terakhir kali. Mendadak, setiap sudutnya terasa seperti tempat kejadian perkara. Lemari, meja rias, bahkan bantal di atas kasur menyimpan kemungkinan pengkhianatan yang belum kuketahui.

Perjalanan menuju kantor di kawasan Kuningan terasa jauh lebih lama dari biasanya. Sepanjang jalan, ponselku terus bergetar. Puluhan pesan masuk dari rekan kerja.

Ada yang bertanya apakah benar aku terlibat pinjaman daring. Ada yang mengirim tangkapan layar berisi ancaman. Beberapa nomor tak dikenal bahkan mengirim foto kantor kami dengan tulisan merah.

Bayar utang Saira Anindita atau seluruh karyawan akan menerima akibatnya.

Tanganku gemetar membaca pesan itu.

Saat tiba, halaman kantor masih dipenuhi kendaraan. Lampu gedung menyala terang meski sudah hampir pukul sepuluh malam. Petugas keamanan berjaga di depan pintu. Di lobi, puluhan karyawan berdiri sambil memegang ponsel masing-masing.

Begitu aku masuk, semua kepala menoleh.

Tatapan mereka menusukku dari berbagai arah. Ada rasa takut, curiga, dan kemarahan yang tidak disembunyikan.

Pak Cipto segera menghampiriku. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan.

“Naya, ikut saya.”

Ia membawaku ke ruang rapat lantai tiga. Di sana sudah ada Direktur Utama, kepala bagian hukum, staf teknologi informasi, dan dua orang polisi berpakaian sipil.

Di layar besar terpampang foto KTP-ku. Di sebelahnya ada foto diriku sedang tidur dengan rambut acak-acakan. Sebuah tangan laki-laki memegang KTP tepat di bawah daguku.

Aku mengenali jam tangan besi di pergelangan tangan itu.

Baskara membelinya tiga tahun lalu dengan uang bonus tahunan dariku.

“Ini tangan suami saya,” kataku lirih.

Salah satu polisi, seorang perempuan bernama Inspektur Ratri, menatapku dengan serius. “Anda yakin?”

“Sangat yakin. Pengait jamnya pernah patah. Saya yang membawanya ke tempat servis.”

Petugas teknologi informasi memperbesar foto tersebut. Bekas goresan di sisi jam terlihat jelas.

Pak Cipto menghela napas berat. “Kenapa suamimu punya data perusahaan kita?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Lalu aku teringat sesuatu.

Dua bulan lalu, laptop kantor yang kupakai dari rumah tiba-tiba rusak. Baskara menawarkan diri membawanya ke temannya yang bekerja sebagai teknisi komputer. Ia mengembalikannya dua hari kemudian dan mengatakan hanya ada masalah pada sistem operasi.

Saat itu aku berterima kasih kepadanya.

Kini aku ingin menampar diriku sendiri karena pernah memercayainya.

“Suami saya pernah membawa laptop kantor ke tempat servis tanpa sepengetahuan perusahaan,” kataku. “Mungkin dia menyalin data kontak karyawan dari sana.”

Kepala teknologi informasi langsung mengetik cepat. Beberapa menit kemudian, ia menemukan bahwa dua bulan lalu ada perangkat asing yang mengakses salinan surel kantorku. Akses itu hanya berlangsung sembilan menit, tetapi cukup untuk mengunduh daftar kontak internal.

Direktur Utama menatapku dengan rahang mengeras.

“Naya, ini pelanggaran berat.”

“Saya tahu, Pak. Saya siap menerima konsekuensinya. Tapi saya bersumpah, saya tidak tahu Baskara melakukan itu.”

Ruangan menjadi sunyi.

Inspektur Ratri menutup map di depannya. “Kami sudah menerima laporan penangkapan Baskara dan Saira dalam kasus pencurian emas serta penipuan. Dengan bukti baru ini, kemungkinan perkara mereka jauh lebih besar daripada yang kita duga.”

Ia kemudian memintaku menyerahkan ponsel, laptop pribadi, dan semua informasi mengenai Baskara. Aku menyetujuinya tanpa ragu.

Malam itu, aku membuat laporan resmi atas pencurian identitas. Perusahaan juga melaporkan penyalahgunaan data dan ancaman terhadap karyawan. Tim hukum mengirimkan pemberitahuan kepada seluruh staf bahwa aku adalah korban, bukan pelaku.

Namun penjelasan resmi tidak langsung menghapus kecurigaan.

Ketika keluar dari ruang rapat, beberapa rekan kerja menghindari tatapanku. Seorang perempuan dari bagian keuangan berbisik kepada temannya saat aku lewat.

“Kalau suaminya bisa mencuri data, siapa tahu dia juga terlibat.”

Kalimat itu menyakitkan, tetapi aku tidak berhenti.

Aku sudah kehilangan terlalu banyak hal untuk runtuh hanya karena bisikan orang.

Menjelang tengah malam, Inspektur Ratri menerima kabar dari kantor polisi. Ia memintaku ikut karena penyidik baru saja menemukan sesuatu dalam ponsel Baskara.

Di ruang pemeriksaan, Baskara duduk dengan kedua tangan diborgol. Kemejanya kusut. Wajahnya pucat dan matanya bengkak karena tidak tidur.

Ketika melihatku, ia langsung berdiri.

“Naya, dengarkan aku dulu.”

Aku tetap berdiri di dekat pintu.

“Kenapa kamu memotretku saat tidur?”

Baskara membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Kenapa kamu mengambil KTP-ku? Kenapa kamu mencuri data kantorku?”

“Aku terpaksa.”

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena akhirnya aku menyadari betapa pengecutnya laki-laki yang pernah kupanggil suami.

“Orang selalu mengatakan terpaksa setelah tertangkap.”

Baskara menunduk. “Saira punya utang besar. Kalau tidak dibayar, mereka mengancam akan menyebarkan foto-fotonya. Ibu juga terus mendesakku. Aku hanya ingin menolong keluarga.”

“Dengan menghancurkan hidup istrimu?”

“Aku pikir pinjamannya bisa dilunasi setelah rumah Ibu terjual.”

“Rumah itu sudah dijual sebulan lalu. Uangnya ke mana?”

Wajah Baskara berubah tegang.

Inspektur Ratri meletakkan sebuah ponsel di atas meja. “Kami menemukan percakapan antara Baskara, Saira, dan seseorang bernama Dewangga. Mereka tidak hanya mengajukan satu pinjaman.”

Ia menggeser beberapa lembar hasil cetak ke arahku.

Namaku digunakan untuk tujuh aplikasi pinjaman. Jumlah keseluruhannya hampir empat ratus juta rupiah. Selain itu, ada sebelas identitas orang lain yang tersimpan dalam folder khusus di ponsel Baskara.

Sebagian adalah tetangga Bu Laras.

Dua di antaranya adalah rekan kerjaku.

Aku menatap Baskara dengan perut mual.

“Kamu menjual identitas orang?”

“Aku tidak menjualnya!” bantahnya cepat. “Dewangga yang mengurus semua aplikasi. Aku hanya memberikan data.”

“Hanya memberikan data?” suaraku bergetar menahan marah. “Kamu menyerahkan kehidupan orang lain kepada sindikat penipu, lalu menyebutnya hanya memberikan data?”

Baskara menangis. Untuk pertama kalinya selama lima tahun pernikahan kami, aku melihatnya benar-benar ketakutan.

“Naya, tolong cabut laporanmu. Kalau kamu bilang semua ini salah paham, hukumanku bisa lebih ringan. Aku suamimu.”

Aku melepas cincin pernikahan dari jariku dan meletakkannya di atas meja.

“Mulai malam ini, kamu bukan siapa-siapa bagiku.”

Aku berbalik pergi.

Namun sebelum mencapai pintu, Inspektur Ratri memanggilku.

“Ada satu hal lagi.”

Ia menunjukkan sebuah video berdurasi dua puluh detik. Dalam video itu, wajahku terlihat menatap kamera sambil mengucapkan persetujuan untuk menjadi penjamin pinjaman. Gerakan bibirku tampak hampir sempurna.

“Aku tidak pernah merekam ini,” kataku.

“Kami tahu. Ini video manipulasi wajah. Tapi ada kesalahan kecil.”

Inspektur Ratri menghentikan video pada detik ketujuh, lalu memperbesar pantulan kaca lemari di belakangku. Di sana terlihat seorang perempuan sedang memegang ponsel.

Perempuan itu memakai gelang berbentuk ular.

Aku pernah melihat gelang itu ratusan kali di tangan Saira.

Bukti tersebut menghancurkan kebohongan terakhir mereka.

Saira akhirnya mengaku. Ia dan Dewangga sudah menjalankan penipuan identitas selama lebih dari setahun. Mereka mengambil data orang-orang terdekat karena lebih mudah menjawab pertanyaan verifikasi. Baskara awalnya hanya membantu mencuri KTP-ku, tetapi kemudian ikut mencari korban lain setelah dijanjikan bagian keuntungan.

Bu Laras mengetahui semuanya.

Bahkan perempuan itu sengaja mengundang tetangga ke rumah, memotret KTP mereka dengan alasan membantu pendaftaran bantuan sosial, lalu menyerahkan foto-foto tersebut kepada Saira.

Rumah yang dijual bukan untuk melunasi utang judi. Sebagian besar uangnya dipakai untuk membeli tiket dan dokumen palsu agar mereka bisa melarikan diri ke luar negeri.

Preman yang datang menyegel rumah ternyata bukan penagih utang biasa. Mereka adalah orang suruhan pembeli yang sudah membayar lunas, tetapi Bu Laras menolak menyerahkan rumah sesuai perjanjian.

Rencana mereka runtuh hanya beberapa jam sebelum keberangkatan.

Pagi harinya, aku kembali ke kontrakan dengan ditemani polisi untuk mengambil barang-barang terakhir. Setelah itu, aku langsung menuju pengadilan agama dan mendaftarkan gugatan cerai.

Aku menyewa kamar indekos sederhana dekat kantor. Ukurannya hanya tiga kali empat meter, dengan satu jendela kecil menghadap atap rumah tetangga. Tidak ada sofa, tidak ada lemari besar, dan tidak ada suara Bu Laras yang memerintahku mengirim uang.

Untuk pertama kalinya, kesunyian terasa seperti kemewahan.

Beberapa minggu berikutnya tidak mudah. Namaku sempat tersebar di media sosial bersama tangkapan layar pinjaman. Aku harus menjelaskan kepada bank, perusahaan pembiayaan, dan pihak berwenang bahwa identitasku telah dicuri. Setiap hari ada dokumen baru yang harus kutandatangani.

Di kantor, Direktur Utama memutuskan tidak memecatku. Aku mendapat surat peringatan karena membiarkan laptop kantor dibawa pihak luar, tetapi perusahaan mengakui bahwa aku adalah korban.

Yang tidak kuduga, Pak Cipto meminta bantuanku dalam tim pemulihan data.

“Kamu mengenal cara mereka bekerja dari dekat,” katanya. “Gunakan pengalaman ini agar tidak ada karyawan lain yang mengalami hal serupa.”

Aku menerima tawaran itu.

Tiga bulan kemudian, polisi menangkap Dewangga di sebuah apartemen di Surabaya. Dari komputernya ditemukan ratusan identitas korban, rekening penampung, serta rekaman percakapan dengan jaringan pinjaman ilegal di luar negeri.

Baskara dan Saira dijerat dengan beberapa pasal sekaligus. Bu Laras juga ditahan karena membantu pencurian data dan menikmati hasil kejahatan.

Pada hari sidang pertama, aku melihat mereka dari kejauhan.

Bu Laras tampak jauh lebih tua. Saat mata kami bertemu, ia menangkupkan tangan dan menggerakkan bibirnya tanpa suara.

Tolong Ibu.

Aku memalingkan wajah.

Bukan karena aku masih membencinya. Kebencian membutuhkan energi, sedangkan aku tidak ingin memberikan apa pun lagi kepada keluarga itu.

Setelah persidangan, Inspektur Ratri menghampiriku di koridor.

“Ada barang yang perlu kami kembalikan.”

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya terdapat buku tabungan lama atas namaku dan satu kunci kecil.

Aku mengenali kunci tersebut sebagai kunci laci meja Baskara.

“Ini ditemukan di tempat Dewangga,” ujar Inspektur Ratri. “Baskara rupanya menyimpan sebagian uang hasil pinjaman di sebuah rekening terpisah. Tapi rekening itu bukan untuk melunasi utang keluarganya.”

Tanganku membeku saat melihat mutasi rekening.

Selama dua tahun terakhir, Baskara rutin mengirim uang kepada seorang perempuan bernama Melati. Jumlahnya puluhan juta rupiah. Pada bagian keterangan transaksi, tertulis biaya sekolah anak.

Aku menatap Inspektur Ratri dengan napas tertahan.

“Siapa Melati?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyerahkan selembar hasil pemeriksaan.

Melati adalah mantan kekasih Baskara.

Dan anak laki-laki berusia empat tahun yang selama ini dibiayainya adalah putra kandung Baskara.

Aku merasa dunia berhenti sesaat.

Lima tahun menikah, Baskara selalu mengatakan belum siap memiliki anak karena keuangan kami belum stabil. Setiap kali aku membicarakan kehamilan, ia memintaku menunggu.

Ternyata ia bukan belum siap menjadi ayah.

Ia sudah menjadi ayah bagi anak perempuan lain.

Aku menggenggam kertas itu erat-erat. Anehnya, aku tidak menangis. Semua luka yang seharusnya menghancurkanku justru terasa seperti pintu terakhir yang terbuka.

Kini aku memahami bahwa kehilangan tujuh puluh lima juta rupiah bukanlah kerugian terbesar dalam hidupku. Kerugian terbesarku adalah lima tahun yang kuhabiskan untuk mempercayai orang yang tidak pernah benar-benar mengenalku.

Namun aku juga mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Enam bulan kemudian, gugatan cerai kami dikabulkan. Namaku dibersihkan dari seluruh pinjaman setelah penyelidikan membuktikan adanya pencurian identitas. Perusahaan mengangkatku sebagai koordinator perlindungan data internal.

Pada suatu sore, aku berdiri di balkon kamar apartemen kecil yang kubeli dari hasil tabungan emasku. Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Naya, ini Ibu. Ibu sudah menyesal. Tolong datang menjenguk. Ibu tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku membaca pesan itu sekali, lalu memblokir nomornya.

Setelah itu, aku membuka jendela lebih lebar. Angin sore masuk membawa aroma hujan dan suara kota yang tidak pernah berhenti bergerak.

Dulu aku mengira keluarga adalah orang-orang yang harus selalu diselamatkan, berapa pun harga yang harus dibayar.

Sekarang aku tahu, keluarga yang sesungguhnya tidak akan meminta kita tenggelam agar mereka bisa tetap bernapas.

Aku meletakkan ponsel di atas meja, menatap langit yang perlahan berubah jingga, lalu tersenyum.

Mereka memang pernah mencuri uangku, identitasku, dan tahun-tahun terbaikku.

Tetapi ada satu hal yang gagal mereka rampas.

Masa depanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang