Aku tidak pernah menyangka bahwa pagi setelah peresmian restoran yang kubiayai dengan uang warisan dua miliar rupiah akan menjadi awal dari babak paling kelam sekaligus paling menentukan dalam hidupku.
Saat aku selesai merapikan riasan di depan meja rias, Ibu Widya masih menatap wajahku dengan tatapan penuh curiga. Matanya berpindah dari cushion bermerek yang baru saja kututup ke tas kulit yang kubawa. Reno pun ikut memperhatikannya. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, mereka melihatku tampil berbeda.
“Heh, kamu dapat uang dari mana beli semua barang mahal itu?” tanya Ibu Widya sambil menyilangkan tangan. “Bukannya semua uang hasil gadai rumah orang tuamu sudah kamu serahkan ke Reno buat modal restoran?”

Aku tersenyum tipis.
“Ibu terlalu yakin tahu semua tentang hidup saya.”
Jawaban itu membuat wajahnya langsung merah.
“Jangan mutar-mutar! Jawab!”
“Apa gunanya saya menjawab kalau Ibu tetap akan percaya pada pikiran Ibu sendiri?”
Reno melangkah mendekat. Matanya menatap produk-produk skincare di meja rias.
“Riana… itu merek luar negeri, kan? Harganya mahal.”
“Mungkin.”
“Kamu dibayar berapa di pabrik sampai bisa beli beginian?”
Aku berdiri perlahan sambil mengangkat tas.
“Gajiku memang tidak cukup.”
“Nah, kan!” seru Ibu Widya penuh kemenangan. “Pasti ada laki-laki lain yang kasih kamu uang!”
Aku hanya tersenyum.
Tuduhan itu tidak lagi melukaiku. Justru membuatku sadar bahwa mereka akan selalu mencari alasan untuk merendahkanku.
“Kalau sudah selesai menuduh, saya berangkat kerja.”
Baru dua langkah aku berjalan, Reno menarik lenganku.
“Kamu berubah.”
“Aku memang berubah.”
“Karena uang?”
Aku menatap matanya tanpa rasa takut.
“Bukan. Karena akhirnya aku berhenti mencintai orang yang salah.”
Tanganku kulepaskan dari genggamannya. Reno membeku beberapa saat. Mungkin baru kali itu ia sadar perempuan yang selama ini selalu menuruti semua keinginannya telah benar-benar menghilang.
Aku meninggalkan rumah kontrakan tanpa menoleh.
Di perjalanan menuju pabrik, ponselku berdering.
Nama yang muncul membuatku tersenyum.
Pak Arman.
“Selamat pagi, Nona Riana.”
“Pagi, Pak.”
“Dokumen investasi restoran sudah selesai kami audit.”
Aku menghentikan langkah.
“Bagaimana hasilnya?”
“Seperti dugaan Anda. Seluruh modal pembangunan berasal dari rekening yang Anda transfer. Nilainya tepat dua miliar rupiah.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Bagaimana dengan kepemilikannya?”
“Karena transfer dilakukan melalui perusahaan keluarga Mahendra, secara hukum restoran tersebut berada di bawah perusahaan. Reno hanya ditunjuk sebagai pengelola operasional.”
Aku memejamkan mata sesaat.
Berarti selama ini mereka bahkan tidak sadar bahwa restoran yang mereka banggakan sebenarnya bukan milik mereka.
“Hari ini juga kami akan menyelesaikan seluruh dokumen final.”
“Terima kasih, Pak.”
“Dan satu lagi.”
“Ya?”
“Pemilik pusat perbelanjaan ingin bertemu langsung dengan pewaris perusahaan Mahendra. Beliau mendengar restoran baru itu mengalami keributan saat grand opening.”
Aku tersenyum kecil.
“Nanti saya atur waktunya.”
Sesampainya di pabrik, aku bekerja seperti biasa. Tidak ada satu pun rekan kerja yang tahu siapa diriku sebenarnya.
Bagiku, menjadi buruh bukan sesuatu yang memalukan.
Justru di tempat sederhana itu aku belajar menghargai setiap tetes keringat.
Saat jam makan siang hampir tiba, seorang satpam menghampiriku.
“Bu Riana?”
“Iya?”
“Ada tamu mencari.”
Aku mengernyit.
Siapa yang datang ke pabrik?
Begitu keluar menuju ruang tamu, aku langsung melihat Reno berdiri di sana. Wajahnya tampak lelah dengan mata sembap akibat mabuk semalam.
“Ada apa?” tanyaku dingin.
“Aku mau bicara.”
“Aku sedang kerja.”
“Cuma sebentar.”
Aku menghela napas.
“Katakan.”
Reno tampak ragu.
“Semalam… aku mungkin keterlaluan.”
“Mungkin?”
“Iya… aku salah.”
Aku tertawa pelan.
“Kamu datang sejauh ini cuma untuk bilang itu?”
“Aku… aku sebenarnya ingin kita memperbaiki semuanya.”
Aku menatapnya lama.
Kalimat itu terdengar lucu setelah ia mempermalukanku di depan semua tamu restoran dan memperkenalkan Selin sebagai calon istrinya.
“Apa Selin sudah bosan sama kamu?”
Wajah Reno langsung berubah.
“Jangan bawa-bawa Selin.”
“Kenapa? Bukankah dia perempuan sempurna pilihanmu?”
“Itu beda.”
“Beda bagaimana?”
Reno mengusap wajahnya.
“Dia… dia sibuk.”
Aku hampir tertawa.
Perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan ternyata bahkan tidak sempat menemaninya saat mabuk.
Sedangkan aku yang telah menemaninya tiga tahun justru diusir dari restoran yang kubiayai.
“Aku harus kembali bekerja.”
Saat aku hendak masuk, Reno kembali memanggil.
“Riana.”
Aku berhenti.
“Aku masih suamimu.”
Aku menoleh.
“Tidak lama lagi.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Aku kembali bekerja tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Sore harinya, saat jam kerja selesai, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang pabrik.
Seluruh karyawan langsung memandang ke arah mobil itu.
“Ada bos besar, ya?”
“Mobil siapa itu?”
Seorang pria berjas turun dan berjalan menghampiriku.
“Selamat sore, Nona Riana.”
Ia membungkukkan badan dengan hormat.
Seluruh rekan kerjaku membelalak.
Aku mengenalnya.
Pak Arman.
“Mobil sudah siap.”
“Baik.”
Aku masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara.
Dari kaca belakang, aku sempat melihat wajah Reno yang masih berdiri di depan gerbang pabrik.
Mulutnya terbuka karena terkejut.
Ia mungkin tidak pernah membayangkan istrinya yang dianggap buruh miskin dijemput sedan mewah dengan sopir pribadi.
Namun itu baru permulaan.
Mobil berhenti di sebuah gedung perkantoran megah di pusat kota Jakarta.
Di lantai paling atas, Kakek sudah menungguku.
Begitu melihatku masuk, beliau langsung berdiri dan memelukku.
“Kamu kelihatan lebih kuat.”
“Aku harus kuat.”
Beliau mengangguk pelan.
Di atas meja telah tersusun beberapa map berlogo perusahaan Mahendra Group.
Pak Arman membukanya satu per satu.
“Ini dokumen kepemilikan restoran.”
Aku membacanya perlahan.
Namaku tercantum sebagai pemegang saham mayoritas melalui perusahaan keluarga.
Sedangkan Reno hanya tercatat sebagai direktur operasional yang sewaktu-waktu bisa diberhentikan.
“Apakah semuanya sudah sah?”
“Sudah.”
Aku menandatangani dokumen terakhir.
Pulpen berhenti tepat ketika Pak Arman mengeluarkan satu map lagi.
“Ada satu informasi tambahan.”
“Apa itu?”
Beliau menyerahkan beberapa foto.
Foto-foto itu memperlihatkan Reno dan Selin sedang makan malam romantis beberapa hari sebelum peresmian restoran.
Yang membuatku terdiam bukan hubungan mereka.
Melainkan pria lain yang duduk bersama mereka.
Aku mengenalnya.
Pria itu adalah Andra Wijaya, seorang pengusaha yang beberapa bulan terakhir berusaha mengambil alih beberapa aset keluarga Mahendra.
“Kenapa mereka bertemu?”
Pak Arman menarik napas.
“Kami sudah menyelidikinya.”
“Lalu?”
“Diduga Selin sengaja mendekati Reno agar mendapatkan akses terhadap restoran tersebut.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi selama ini…”
“Reno kemungkinan besar hanya dimanfaatkan.”
Aku menatap foto-foto itu cukup lama.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak lagi merasa marah.
Aku justru merasa kasihan.
Reno telah mengkhianati orang yang benar-benar mencintainya demi perempuan yang ternyata memiliki tujuan lain.
Kakek menatapku lembut.
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tidak akan memperingatkan mereka.”
“Kamu yakin?”
“Mereka memilih jalan mereka sendiri.”
Pak Arman kemudian berkata pelan.
“Besok malam ada jamuan investor restoran.”
“Aku tahu.”
“Semua pengelola wajib hadir.”
Aku mengangguk.
“Itu berarti Reno dan Selin juga akan datang.”
“Benar.”
Kakek tersenyum penuh arti.
“Dan besok malam untuk pertama kalinya semua orang akan mengetahui siapa pemilik restoran yang sebenarnya.”
Aku menatap lampu-lampu kota dari balik jendela gedung.
Bayangan wajah Ibu Widya yang mengusirku, Reno yang memperkenalkan Selin di hadapanku, dan seluruh penghinaan yang kuterima selama tiga tahun terakhir kembali memenuhi pikiranku.
Tidak ada lagi air mata.
Yang tersisa hanyalah ketenangan.
Karena aku akhirnya mengerti satu hal.
Membalas penghinaan tidak selalu harus dengan kemarahan.
Kadang-kadang, cara terbaik adalah membiarkan seseorang berdiri di puncak kesombongannya, lalu menunjukkan bahwa seluruh pijakan yang selama ini mereka banggakan ternyata dibangun di atas milik orang yang mereka hina.
Dan besok malam, ketika semua tamu berdiri memberikan tepuk tangan kepada pemilik restoran itu, Reno, Selin, dan Ibu Widya akan menyadari bahwa perempuan yang mereka usir, mereka hina, dan mereka anggap hanya buruh miskin… adalah satu-satunya orang yang berhak menentukan apakah mereka masih memiliki masa depan di restoran tersebut atau tidak.
