Bimo menggeleng pelan. Ia menunduk dalam, melepas toga dari kepalanya, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas kepala sang ibu. Setelah itu, ia melepas selempang bertuliskan predikat lulusan terbaik dan mengalungkannya ke leher Sekar.

Kilatan kamera menyambar berkali-kali ketika Sekar berdiri diapit ketiga putranya. Toga Bimo masih bertengger sedikit miring di kepalanya, sementara selempang lulusan terbaik melingkar di atas kebaya hijau zamrud yang ia jahit sendiri semalaman. Bagas berdiri di sebelah kanan dengan senyum lebar, Bayu memeluk buket bunga di sebelah kiri, dan Bimo merangkul bahu ibunya dengan bangga.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sekar merasa seluruh luka di masa lalu telah menemukan jawabannya.

Namun, tepat ketika fotografer hendak mengambil gambar kedua, kerumunan di belakang mereka mendadak gaduh.

Seorang pria tua bertubuh kurus menerobos barisan tamu. Kemejanya kusut, rambutnya memutih tak terurus, dan langkahnya tampak pincang. Petugas keamanan segera menghadang, tetapi pria itu terus memaksa maju sambil mengarahkan pandangan kepada Sekar.

“Sekar!”

Suara itu membuat tubuh Sekar membeku.

Toga di kepalanya seolah mendadak terasa berat. Senyum di wajahnya perlahan lenyap. Ia mengenali suara itu meskipun dua puluh tahun telah mengikis ketegasan dan kesombongan di dalamnya.

Danu berdiri hanya beberapa meter dari mereka.

Wajahnya jauh berbeda dari laki-laki yang pernah mengusir Sekar dan ketiga anaknya. Pipi yang dahulu berisi kini cekung. Bahunya turun. Tatapan angkuh yang dulu selalu merendahkan Sekar telah berubah menjadi sorot mata lelah dan penuh ketakutan.

Bagas langsung maju satu langkah, berdiri di depan ibunya.

“Bapak mau apa?” tanyanya dingin.

Danu terdiam. Bibirnya bergetar mendengar panggilan itu. Bukan “Ayah”, bukan “Bapak” dengan kehangatan, melainkan sapaan kaku kepada orang asing.

“Aku cuma mau bicara,” katanya pelan.

“Nggak ada yang perlu dibicarakan,” sahut Bagas.

Bimo melepaskan rangkulannya dari Sekar. Ia menatap Danu tanpa berkedip. Meski tidak banyak mengingat wajah ayahnya, ia ingat suara bentakan, pintu yang ditendang, dan malam-malam ketika ibunya menangis diam-diam karena tak punya uang untuk membeli beras.

Bayu, yang paling kecil saat semua itu terjadi, justru tampak paling terguncang. Selama ini ia hanya mengenal Danu melalui potongan cerita kakak-kakaknya dan bekas luka yang tidak pernah benar-benar hilang dari mata ibunya.

“Aku datang bukan untuk membuat keributan,” ujar Danu. “Aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk Bimo.”

Bimo tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

“Bapak tahu nama saya?”

Pertanyaan sederhana itu menghantam Danu lebih keras daripada bentakan.

“Tentu aku tahu. Kamu anakku.”

“Anak yang mana?” balas Bimo. “Anak yang dulu Bapak sebut beban? Anak yang hampir meninggal karena tidak diberi susu? Atau anak yang Bapak usir bersama ibunya?”

Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi. Beberapa tamu yang semula hendak berjalan melewati barisan keluarga memilih berhenti. Sekar menunduk. Ia tidak ingin hari bahagia Bimo berubah menjadi tontonan, tetapi ia juga sadar bahwa pertemuan ini mungkin memang tidak bisa dihindari selamanya.

“Sudah, Bimo,” ucap Sekar lembut. “Hari ini hari wisudamu.”

Danu menatap Sekar dengan mata memerah.

“Aku menyesal.”

Dua kata itu terdengar kecil di tengah gedung besar.

Bagas tertawa pendek tanpa humor.

“Dua puluh tahun, baru sekarang menyesal?”

Danu menelan ludah. “Aku mencari kalian.”

“Kapan?” tanya Bagas. “Setelah Bimo menang lomba nasional dan wajahnya muncul di media? Setelah nama kantor hukum tempatku bekerja dimuat koran? Atau setelah tahu Bayu kuliah kedokteran?”

Danu tidak menjawab.

Keheningan itu sudah menjadi jawaban.

Sekar menarik napas panjang. Ingatannya kembali pada hari ketika ia meninggalkan rumah itu hanya dengan tas kain, ijazah SMA, dan tiga anak yang kelaparan. Darmo dan Lastri menampung mereka di rumah kecil berdinding papan. Sekar tidur bersama anak-anak di ruang tengah beralaskan tikar. Pagi hari ia membantu Lastri membuat gorengan, siang hari mencuci pakaian tetangga, malamnya menjahit seragam sekolah dengan mesin jahit pinjaman.

Tidak ada keajaiban besar yang langsung mengubah hidupnya. Hanya hari-hari panjang yang dibangun dari kerja keras, rasa malu yang ditelan, dan lelah yang tidak pernah sempat dikeluhkan.

Saat Bagas masuk SMP, ia membantu mengantar pesanan kue sebelum berangkat sekolah. Bimo sering tertidur di samping mesin jahit sambil mengerjakan PR. Bayu yang tubuhnya paling lemah harus berulang kali dibawa ke dokter karena daya tahan tubuhnya buruk akibat kekurangan gizi saat kecil.

Sekar pernah hampir menyerah ketika usaha katering rumahan yang ia bangun rugi besar karena pelanggan tidak membayar. Namun Darmo menjual satu-satunya kambing miliknya untuk membeli bahan makanan. Lastri menggadaikan gelang pernikahan agar Sekar bisa melunasi biaya sekolah Bagas.

Keluarga itu tidak punya banyak uang, tetapi mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Sekar akhirnya.

Danu menundukkan kepala. “Aku sakit.”

Bagas menghela napas kasar, seolah sudah menduga ke mana arah pembicaraan itu.

“Ginjal,” lanjut Danu. “Dokter bilang aku harus cuci darah rutin. Aku sudah menjual rumah. Tabunganku habis. Aku tinggal sendiri.”

“Lalu Bapak datang mencari anak-anak yang dulu Bapak buang karena sekarang butuh biaya?” suara Bimo terdengar rendah.

“Aku nggak minta uang,” bantah Danu cepat, meski tatapannya goyah. “Aku hanya ingin dimaafkan sebelum terlambat.”

Bayu menatapnya lama. “Bapak menikah lagi?”

Danu mengangguk pelan. “Pernah.”

“Punya anak?”

“Seorang perempuan.”

“Di mana mereka?”

Danu mengepalkan jari. “Istriku pergi setelah usahaku bangkrut. Anak itu ikut ibunya.”

Bayu tersenyum pahit. “Jadi setelah semua orang meninggalkan Bapak, barulah Bapak ingat kami.”

Danu tidak sanggup membalas.

Petugas keamanan mendekat dan meminta mereka menyelesaikan masalah di luar gedung. Sekar memandang ketiga anaknya. Ia tahu kemarahan mereka bukan hanya kepada Danu, tetapi juga lahir dari keinginan melindungi dirinya.

“Kita bicara di taman belakang,” kata Sekar.

Mereka berjalan menuju taman kecil di samping gedung rektorat. Danu tertatih di belakang mereka. Di bawah pohon ketapang, Sekar duduk di bangku batu, sementara ketiga putranya tetap berdiri di sampingnya.

Danu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas lusuh.

“Aku membawa ini.”

Bagas menerimanya dengan curiga. Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat lama, foto masa kecil mereka, dan sebuah dokumen yang sudah menguning.

Sekar mengenali foto itu. Bagas berusia lima tahun sedang memegang mobil-mobilan kayu. Bimo duduk di pangkuannya, sedangkan Bayu masih bayi. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum mereka diusir.

“Dari mana kamu dapat ini?” tanya Sekar.

“Aku menyimpannya.”

Bagas membuka dokumen terakhir. Wajahnya langsung berubah.

“Surat kepemilikan tanah?”

Danu mengangguk. “Tanah warisan ibuku di pinggir kota. Dulu nilainya kecil. Sekarang daerah itu sedang dikembangkan. Aku sudah menandatangani surat hibah. Tanah itu untuk kalian bertiga.”

Bimo tidak langsung percaya. “Kenapa?”

Danu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Karena aku tahu aku nggak bisa mengembalikan masa kecil kalian. Aku juga nggak bisa mengganti apa yang sudah kulakukan pada ibu kalian. Setidaknya, aku bisa meninggalkan sesuatu.”

Bagas memeriksa dokumen itu lebih teliti. Sebagai orang yang bekerja di firma hukum, ia tahu surat tersebut tampak sah, tetapi tetap perlu diverifikasi.

“Nilainya berapa?” tanya Bagas.

“Sekitar dua miliar rupiah.”

Bayu terkejut, tetapi Bimo justru menatap Danu tajam.

“Kalau memang punya tanah senilai itu, kenapa Bapak bilang nggak punya biaya berobat?”

Danu terdiam cukup lama.

“Aku nggak bisa menjualnya.”

“Kenapa?”

“Karena tanah itu bukan sepenuhnya milikku.”

Bagas mengernyit. “Maksudnya?”

Danu menghela napas. “Separuh tanah itu atas nama Sekar.”

Sekar mendongak cepat.

“Apa?”

“Ibuku membelinya dulu dengan uang pemberian orang tuamu. Setelah kita menikah, suratnya dibuat atas namaku dan namamu. Aku menyembunyikannya.”

Dunia seolah berhenti sesaat.

Sekar menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia teringat ayahnya pernah menjual sebidang sawah sebelum meninggal. Uangnya diberikan kepada Danu sebagai modal usaha. Danu mengatakan usaha itu gagal dan seluruh uang habis. Sekar tidak pernah tahu bahwa sebagian uang tersebut digunakan membeli tanah.

“Kamu mencurinya dariku,” bisik Sekar.

Danu menunduk semakin dalam. “Iya.”

Bagas segera membaca ulang surat kepemilikan itu. Nama Sekar tercantum jelas sebagai pemilik bersama.

“Jadi tanah ini bukan pemberian Bapak,” ujar Bagas tajam. “Setengahnya memang hak Ibu sejak awal.”

Danu mengangguk lemah.

“Lalu separuh milik Bapak diberikan kepada kami karena Bapak benar-benar menyesal, atau karena tanah ini tidak bisa dijual tanpa tanda tangan Ibu?”

Pertanyaan itu membuat Danu terdiam.

Bimo memalingkan wajah dengan kecewa. Bayu mengepalkan tangan. Sekar memejamkan mata. Untuk sesaat, ia hampir percaya bahwa Danu datang karena ingin memperbaiki kesalahan. Ternyata di balik penyesalannya masih ada kepentingan yang disembunyikan.

“Aku memang butuh tanda tangan Sekar,” ujar Danu akhirnya. “Tapi aku bersumpah, sebagian besar hasil penjualannya tetap untuk kalian. Aku cuma butuh biaya pengobatan.”

“Berapa bagian yang kamu mau?” tanya Sekar.

Danu memandangnya penuh harap. “Dua ratus juta. Sisanya untuk anak-anak.”

Bagas segera membungkuk di depan ibunya.

“Ibu nggak perlu setuju. Kita bisa bawa ini ke pengadilan. Hak Ibu jelas. Bahkan kita bisa menuntut bagian Bapak atas pemalsuan dan penggelapan dulu.”

Sekar menatap ketiga putranya bergantian. Bagas marah karena ingin menegakkan keadilan. Bimo terluka karena merasa ayahnya kembali memanfaatkan mereka. Bayu diam, tetapi matanya sesekali mengarah pada tubuh Danu yang kurus dan tangan yang gemetar.

Sekar kemudian menatap laki-laki yang pernah menjadi pusat seluruh penderitaannya.

“Danu, kamu ingat hari ketika Bayu dibawa ke puskesmas?”

Danu menggeleng pelan.

“Dia hampir mati. Dokter bilang tubuhnya kekurangan cairan dan gizi. Saat itu di rumah kita bahkan tidak ada beras. Tapi kamu punya uang untuk membeli rokok dan membayar cicilan motor baru.”

Air mata Danu jatuh.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu,” sahut Sekar. “Kamu tidak pernah melihat Bagas pura-pura kenyang agar adik-adiknya bisa makan. Kamu tidak melihat Bimo memungut nasi yang jatuh ke lantai. Kamu juga tidak mendengar Bayu menangis semalaman karena perutnya sakit.”

Danu menutup wajah.

“Aku minta maaf.”

“Maaf tidak menghapus semuanya,” lanjut Sekar. “Tapi kebencian juga tidak akan mengembalikan masa lalu.”

Bagas menatap ibunya tidak percaya.

Sekar mengambil dokumen dari tangannya.

“Aku akan menandatangani penjualan tanah ini.”

“Ibu!” seru Bimo.

Sekar mengangkat tangan, meminta mereka tenang.

“Separuh hasil penjualan adalah hak Ibu. Separuh lagi hak Danu. Ibu tidak mau mengambil miliknya, dan Ibu juga tidak mau bagian itu diberikan kepada kalian sebagai alat untuk membeli pengampunan.”

Danu mengangkat wajah perlahan.

“Dari bagianmu, ambil biaya pengobatan secukupnya,” kata Sekar. “Sisanya sumbangkan untuk program makanan tambahan anak-anak kurang gizi di puskesmas tempat Bayu dulu dirawat.”

Danu terdiam membatu.

Bayu menelan ludah. Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa harus ke sana?” tanya Danu lirih.

“Supaya penderitaan yang pernah kamu ciptakan bisa menyelamatkan anak lain,” jawab Sekar. “Bukan untuk menebus dosa, karena tidak semua dosa bisa ditebus dengan uang. Tapi setidaknya, kamu bisa berhenti hidup hanya untuk dirimu sendiri.”

Danu menangis tanpa suara.

Sekar berdiri lalu melepas toga Bimo dari kepalanya. Ia merapikannya sebelum mengembalikannya kepada putranya.

“Aku memaafkanmu, Danu,” katanya. “Bukan karena kamu pantas mendapatkannya, tetapi karena aku tidak mau membawa bebanmu sampai akhir hidupku.”

Danu hendak meraih tangannya, tetapi Sekar mundur selangkah.

“Namun, memaafkan bukan berarti mengizinkanmu kembali ke kehidupan kami.”

Danu mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia menerima keputusan tanpa membantah.

Enam bulan kemudian, tanah itu berhasil terjual. Sekar menggunakan bagiannya untuk memperluas usaha katering dan membangun rumah sederhana bagi Darmo dan Lastri. Bagas mengurus seluruh proses hukum tanpa mengambil bayaran. Bimo menerima tawaran kerja dari firma arsitektur ternama di Jakarta, sedangkan Bayu menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

Sesuai permintaan Sekar, sebagian besar bagian Danu disumbangkan kepada puskesmas. Program itu diberi nama Rumah Gizi Sekar, sebuah tempat yang menyediakan makanan tambahan dan pendampingan bagi keluarga kurang mampu.

Danu menjalani pengobatan dengan sisa uangnya. Ia tidak pernah meminta tinggal bersama Sekar atau anak-anaknya. Sesekali ia datang ke puskesmas, membantu membagikan makanan kepada anak-anak sambil duduk di kursi roda.

Suatu sore, Bayu datang sebagai dokter muda yang sedang menjalani pengabdian. Ia melihat Danu menyuapi seorang anak kurus dengan bubur ayam.

Danu terkejut ketika Bayu duduk di sampingnya.

“Ayah,” panggil Bayu pelan.

Sendok di tangan Danu terjatuh.

Itulah pertama kalinya dalam dua puluh tahun salah satu putranya memanggilnya dengan sebutan itu.

Danu menoleh dengan mata penuh air.

Bayu tidak memeluknya. Ia juga tidak mengatakan bahwa semua luka telah sembuh. Ia hanya mengambil sendok yang jatuh, menggantinya dengan yang baru, lalu membantu Danu menyuapi anak itu.

“Jangan terlalu cepat,” ucap Bayu. “Anaknya bisa tersedak.”

Danu mengangguk sambil menangis.

Dari ujung lorong, Sekar berdiri bersama Bagas dan Bimo. Ia melihat pemandangan itu tanpa rasa marah, tanpa pula keinginan mengulang masa lalu. Ia akhirnya memahami bahwa kemenangan terbesar bukanlah ketika anak-anaknya menjadi sukses, bukan pula ketika Danu jatuh miskin dan menyesal.

Kemenangan terbesar adalah ketika penderitaan tidak berhasil mengubah mereka menjadi manusia yang sama kejamnya.

Sekar tersenyum tipis.

Dua puluh tahun lalu, ia keluar dari sebuah rumah dengan membawa tiga anak dan sebuah tas kain kusam. Hari itu ia mengira dirinya kehilangan segalanya.

Ternyata, justru saat itulah ia sedang membawa pulang seluruh masa depannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang