“Mbak, calon suami Mbak buat aku aja, ya? Sebagai gantinya, cowok yang dijodohkan sama aku, buat Mbak aja.”

Jingga menatap tumpukan dokumen di atas ranjang dengan jemari yang perlahan mulai gemetar. Dadanya terasa sesak. Hari itu hidupnya berubah terlalu cepat. Pagi tadi dia masih menjadi perempuan yang dipermalukan ibu kandung dan adiknya sendiri. Siang harinya dia dipaksa menikah dengan pria asing yang dikira semua orang miskin dan cacat. Kini, pria itu berdiri tegak di hadapannya, sehat, berwibawa, dan jelas bukan orang sembarangan.

“Kenapa diam?” suara Azriel memecah keheningan.

Jingga menarik napas panjang sebelum membuka halaman pertama.

Di sana tertulis jelas berbagai syarat yang membuatnya membelalak.

Selama satu tahun mereka tetap menjadi pasangan sah secara hukum, tetapi tidak boleh ada hubungan suami istri tanpa persetujuan kedua belah pihak. Jingga tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan Azriel. Dia juga tidak boleh memberi tahu siapa pun mengenai keberadaan suaminya tanpa izin. Sebagai gantinya, seluruh kebutuhan hidup Jingga akan ditanggung penuh.

Di halaman terakhir terdapat satu kalimat yang membuatnya berhenti bernapas sejenak.

“Setelah satu tahun, apabila salah satu pihak ingin mengakhiri pernikahan, pihak lain wajib menyetujui tanpa tuntutan apa pun.”

Jingga mengangkat kepalanya.

“Mas… jadi dari awal memang berniat cerai?”

“Bukan urusanmu.”

Jawaban itu terdengar dingin seperti biasa.

“Aku bukan barang yang bisa dipinjam selama satu tahun.”

“Kamu juga bukan wanita yang kupilih sendiri.”

Kalimat itu menusuk tepat di dadanya.

Azriel mengambil sebuah pulpen dan meletakkannya di depan Jingga.

“Kalau tidak mau, kita bisa membatalkan sekarang juga.”

Jingga mengepalkan tangan.

Membatalkan?

Lalu dia harus pulang ke rumah ibunya?

Mendengar lagi hinaan Pinkan?

Melihat Rustam menikahi adiknya sambil menertawakan dirinya?

Tidak.

Harga dirinya sudah diinjak sekali. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya lagi.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil pulpen dan menandatangani seluruh dokumen.

Azriel hanya mengangguk tipis.

“Kamu lebih berani daripada yang kukira.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku memang tidak sedang memuji.”


Malam itu mereka tidak pulang ke rumah reyot yang selama ini diceritakan Azriel.

Mobil justru melaju menuju kawasan elite di pusat kota.

Jingga semakin bingung ketika pagar besi setinggi hampir tiga meter terbuka otomatis.

Di baliknya berdiri sebuah rumah bergaya modern dengan taman luas dan kolam kecil yang diterangi lampu-lampu hangat.

Beberapa pelayan sudah berbaris rapi.

“Selamat malam, Tuan Azriel.”

Jingga berhenti melangkah.

Pelayan?

Rumah sebesar ini?

Bukankah semua orang mengatakan Azriel hanyalah pria miskin yang hidup sendirian di rumah tua?

Azriel melewati mereka begitu saja.

“Siapkan kamar untuk Nyonya.”

“Baik, Tuan.”

Nyonya.

Jingga hampir tidak percaya panggilan itu ditujukan kepadanya.

Seorang perempuan paruh baya menghampiri sambil tersenyum ramah.

“Perkenalkan, saya Bu Rini. Kepala pelayan di rumah ini.”

Jingga masih terlalu syok untuk membalas.

Sepanjang malam dia hampir tidak bisa tidur.

Semua teka-teki terasa semakin rumit.

Kalau Azriel kaya, mengapa dia rela tinggal di rumah reyot selama beberapa bulan terakhir?

Mengapa seluruh kampung percaya dia miskin?

Apa sebenarnya tujuan pria itu?


Keesokan paginya.

Saat Jingga turun ke ruang makan, Azriel sudah duduk membaca koran sambil menikmati kopi hitam.

Dia mengenakan kemeja putih sederhana, tetapi aura dinginnya membuat seluruh ruangan terasa sunyi.

“Tidak sarapan?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

Jingga duduk perlahan.

“Aku masih bingung.”

“Itu bukan alasan untuk melewatkan makan.”

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Sampai akhirnya telepon Jingga berdering.

Nama Ibunya muncul.

Dia ragu mengangkatnya.

Azriel melirik sekilas.

“Angkat.”

Jingga menekan tombol hijau.

Belum sempat berbicara, suara ibunya langsung terdengar keras.

“Jingga! Kamu di mana? Kenapa sejak kemarin tidak pulang?”

“Aku…”

“Kamu jangan macam-macam! Pinkan mau pinjam surat nikahmu.”

Jingga mengernyit.

“Untuk apa?”

“Iya ampun. Rustam butuh syarat administrasi buat mengurus sesuatu. Pokoknya cepat kirim.”

Jingga tertawa pahit.

Bahkan setelah membuang dirinya, ibunya masih ingin memanfaatkannya.

“Maaf, Bu.”

“Apa?”

“Aku tidak akan memberikan apa pun lagi.”

Klik.

Dia langsung memutus sambungan.

Tangannya gemetar hebat.

Air mata perlahan mengalir.

Tanpa disangka, secangkir teh hangat bergeser ke arahnya.

Azriel tidak mengatakan apa pun.

Hanya meletakkan cangkir itu.

Untuk pertama kalinya Jingga melihat sisi lain pria itu.

Dingin di luar, tetapi diam-diam memperhatikan.


Tiga hari kemudian.

Berita pernikahan Rustam dan Pinkan mulai memenuhi media sosial.

Foto-foto mereka tersebar.

Semua orang memuji pasangan itu.

Jingga menatap layar tanpa ekspresi.

Tiba-tiba Azriel muncul di belakangnya.

“Masih sakit?”

Jingga menggeleng.

“Sedikit.”

“Boleh menangis.”

“Aku capek menangis.”

Azriel terdiam beberapa saat.

“Aku juga.”

Jingga menoleh.

“Itu pertama kalinya Mas bicara tentang diri sendiri.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Sama seperti kamu, aku juga pernah dikhianati orang yang paling kupercaya.”

Kalimat itu menggantung.

Dia tidak melanjutkan.

Namun untuk pertama kalinya Jingga menyadari, di balik wajah dingin itu ternyata tersimpan luka yang jauh lebih besar.


Seminggu kemudian.

Sebuah pesta amal diadakan di salah satu hotel termewah Jakarta.

Azriel mengajak Jingga ikut.

“Kamu harus datang.”

“Aku tidak punya gaun.”

“Nanti ada yang mengurus.”

Beberapa jam kemudian seorang penata busana datang membawa beberapa gaun mahal.

Jingga hampir tidak mengenali dirinya sendiri setelah selesai dirias.

Saat memasuki ballroom, semua mata langsung tertuju kepada mereka.

Azriel menggandengnya dengan tenang.

Beberapa pengusaha besar langsung menghampiri.

“Selamat malam, Tuan Azriel.”

“Tuan Direktur.”

“Tuan Presiden Komisaris.”

Jingga membeku.

Direktur?

Presiden Komisaris?

Siapa sebenarnya suaminya?

Sebelum sempat bertanya, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

“Jingga?”

Dia menoleh.

Pinkan.

Rustam.

Ibunya.

Ketiganya berdiri mematung.

Wajah mereka berubah pucat.

Pinkan menatap gaun mahal yang dikenakan Jingga.

Lalu melihat Azriel yang sedang berbincang akrab dengan para pejabat dan pemilik perusahaan besar.

“Ka… Kak?”

Rustam bahkan sampai menjatuhkan gelas minumnya.

“Itu… Azriel?”

Seorang pengusaha tua tiba-tiba menghampiri Azriel.

“Tuan Azriel, selamat atas pernikahannya. Nyonya Azriel sangat cantik.”

Ibunya langsung melongo.

“Nyonya…?”

Pengusaha itu tersenyum.

“Tentu. Beliau istri pewaris utama Mahkota Group.”

Suasana mendadak sunyi.

Mahkota Group.

Nama itu dikenal hampir seluruh Indonesia.

Perusahaan yang memiliki jaringan hotel, properti, pelabuhan, hingga rumah sakit.

Pinkan kehilangan keseimbangan.

“Tidak… tidak mungkin…”

Rustam memucat.

Ibunya mulai gemetar.

Jingga sendiri ikut terkejut.

Dia sama sekali tidak tahu identitas suaminya sebesar itu.


Setelah acara selesai, Pinkan nekat mengejar mereka sampai parkiran.

“Kak!”

Jingga berhenti.

Pinkan langsung menangis.

“Kak… maafin aku.”

Jingga menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku salah.”

“Tahu.”

“Aku benar-benar menyesal.”

“Bagus.”

Pinkan menggenggam tangan kakaknya.

“Kak… sebenarnya yang cocok sama Mas Azriel itu aku.”

Jingga tertawa kecil.

“Apa?”

“Aku bisa dampingi dia. Aku lebih cantik. Lebih pantas.”

Jingga belum sempat menjawab.

Azriel justru berbicara lebih dulu.

“Aku tidak memilih istri berdasarkan wajah.”

Pinkan menangis semakin keras.

“Kalau begitu… tukaran saja.”

Jingga benar-benar mengira dirinya salah dengar.

“Maksudmu?”

“Kak menikah sama Rustam saja. Aku sama Mas Azriel.”

Keheningan berlangsung beberapa detik.

Lalu terdengar suara tawa pelan.

Bukan Jingga.

Melainkan Azriel.

Itu pertama kalinya pria dingin itu tertawa.

Sayangnya tawa itu bukan karena bahagia.

Melainkan karena merasa ucapan Pinkan terlalu menggelikan.

“Saudari Pinkan.”

Pinkan langsung menatap penuh harap.

“Kalau hari ini saya hanyalah pria miskin seperti yang kalian kira, apakah kamu masih ingin bertukar?”

Pinkan tidak mampu menjawab.

“Tidak.”

Jawaban itu justru keluar dari ibunya secara refleks.

Semua orang langsung menoleh.

Wanita itu menutup mulutnya sendiri, sadar telah mengatakan isi hatinya.

Azriel tersenyum sinis.

“Itulah jawaban yang saya tunggu.”

Dia menggenggam tangan Jingga.

“Laki-laki yang kalian buang karena dianggap tidak berharga, sekarang tiba-tiba menjadi incaran karena kalian tahu siapa dirinya.”

Tatapan dinginnya beralih kepada Rustam.

“Dan kamu.”

Rustam menunduk.

“Kamu kehilangan wanita yang tetap memilih keluarganya meski dikhianati. Itu kerugian terbesar dalam hidupmu.”

Tak seorang pun mampu membalas.

Azriel membuka pintu mobil untuk Jingga.

Sebelum masuk, Jingga memandang adiknya untuk terakhir kali.

“Aku tidak pernah iri karena kamu merebut Rustam.”

Dia tersenyum tipis.

“Aku hanya bersyukur ternyata Tuhan menukar kehilangan itu dengan seseorang yang jauh lebih berharga.”

Mobil perlahan meninggalkan parkiran.

Pinkan terduduk di aspal sambil menangis histeris.

Rustam hanya bisa memandangi mobil yang semakin menjauh.

Ibunya berdiri membisu.

Baru saat itulah mereka sadar bahwa mereka tidak pernah kehilangan karena kemiskinan.

Mereka kehilangan karena keserakahan.

Di dalam mobil, Jingga menoleh kepada Azriel.

“Mas.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Azriel tetap menatap jalan di depan.

“Aku belum menjadi suami yang baik.”

“Mungkin belum.”

“Lalu kenapa berterima kasih?”

Jingga tersenyum lembut.

“Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang tidak menilai aku dari apa yang bisa kuberikan.”

Azriel terdiam cukup lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, jemarinya menggenggam tangan Jingga dengan hangat.

“Tidak semua pernikahan dimulai dengan cinta.”

Jingga membalas genggaman itu.

“Tapi cinta bisa tumbuh pada dua orang yang sama-sama memilih untuk tidak saling meninggalkan.”

Mobil terus melaju di bawah langit malam Jakarta, meninggalkan masa lalu yang penuh pengkhianatan, menuju masa depan yang tidak pernah mereka rencanakan, tetapi justru menjadi awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang