IBU MENDORONG ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL BESAR KARENA DIANGGAP MALAS, HINGGA PERUTNYA TERBENTUR KERAS DAN AKHIRNYA ISTRIKU MENGALAMI…

Dika mengangkat tubuh Ambar dengan tangan yang gemetar. Napasnya memburu, pikirannya kosong. Yang ada di kepalanya hanya satu, menyelamatkan istri dan bayi mereka secepat mungkin.

“Tolong buka pintunya, Bu! Cepat!” teriaknya.

Sri masih terpaku beberapa detik. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, tetapi rasa gengsi membuatnya sulit mengakui apa yang baru saja terjadi.

“Aku… aku tidak sengaja…”

Dika menoleh dengan tatapan yang belum pernah diperlihatkannya kepada sang ibu.

“Nanti saja, Bu. Sekarang bukan waktunya.”

Ia membawa Ambar ke mobil dengan bantuan tetangga yang mendengar keributan. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ambar hanya mampu menggenggam lemah tangan suaminya.

“Mas…”

“Aku di sini.”

“Kalau terjadi apa-apa sama bayi kita…”

“Jangan bicara begitu. Kamu dan anak kita pasti selamat.”

Dika mengucapkannya berulang kali, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

Begitu tiba di instalasi gawat darurat, tim medis langsung membawa Ambar ke ruang penanganan. Pintu tertutup rapat. Lampu operasi menyala.

Dika terduduk di lorong rumah sakit dengan pakaian yang masih dipenuhi noda merah. Tangannya tak berhenti gemetar.

Seorang dokter kandungan keluar hampir empat puluh menit kemudian.

“Siapa keluarga pasien?”

“Saya suaminya.”

“Keadaan istri Anda cukup serius ketika tiba di sini. Kami berhasil menstabilkan kondisinya. Bayinya juga masih memiliki denyut jantung. Namun kami harus melakukan tindakan segera dan pasien harus menjalani perawatan ketat.”

Dika menutup wajahnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

“Terima kasih, Dok… terima kasih.”

Sri yang baru tiba bersama adik ipar Dika berdiri beberapa meter di belakang. Mendengar penjelasan dokter, lututnya melemas.

Untuk pertama kalinya sejak Ambar menjadi menantunya, ia merasa benar-benar takut.

Bukan takut dimarahi anaknya.

Melainkan takut kehilangan seseorang karena kemarahannya sendiri.

Malam itu Dika tidak pulang. Ia duduk di samping tempat tidur Ambar yang masih belum sadar.

Perlahan ia menggenggam tangan istrinya.

“Maafkan aku. Aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumah.”

Matanya kemudian tertuju pada ponsel Ambar yang berada di meja.

Layar menyala karena ada pesan masuk dari sahabat Ambar.

Bagaimana keadaanmu? Kalau ibu mertuamu mulai memaksamu kerja lagi, tolong kabari aku. Aku sudah berkali-kali bilang ke kamu untuk cerita ke Dika.

Dika terdiam.

Dengan izin perawat, ia membuka ponsel menggunakan sidik jari Ambar.

Puluhan foto dan video memenuhi galeri.

Ada foto tumpukan cucian yang harus diangkat Ambar saat kandungannya semakin besar.

Video ketika Sri memarahi Ambar hanya karena terlambat menyajikan teh.

Rekaman suara berisi tangisan Ambar yang dikirim kepada sahabatnya.

“Aku nggak mau bikin Mas Dika sedih. Dia kerja keras setiap hari. Aku cuma berharap Ibu suatu hari bisa menerimaku.”

Dika merasa dadanya seperti diremas.

Selama ini Ambar tidak pernah mengadu.

Bukan karena tidak menderita.

Melainkan karena terlalu mencintainya.

Keesokan paginya, Sri datang membawa makanan.

“Dika… Ibu mau ketemu Ambar.”

“Belum bisa.”

“Ibu mau minta maaf.”

“Maaf tidak akan menghapus semua yang sudah Ibu lakukan.”

Sri menangis.

“Ibu benar-benar tidak bermaksud…”

“Kalau tetangga tidak mendengar teriakan Ambar, bagaimana? Kalau kami terlambat sampai rumah sakit, bagaimana?”

Sri tidak mampu menjawab.

Beberapa hari kemudian, kondisi Ambar mulai membaik. Bayinya berhasil dipertahankan, tetapi dokter menjelaskan bahwa ia harus menjalani istirahat total hingga waktu persalinan.

“Mulai sekarang tidak boleh ada aktivitas berat sama sekali,” tegas dokter.

Dika mengangguk.

“Saya mengerti.”

Saat Ambar sadar sepenuhnya, hal pertama yang ia lakukan justru mencari ibunya Dika.

“Mas… Ibu di mana?”

Dika terdiam beberapa saat.

“Ibu pulang.”

“Jangan marahi beliau terlalu keras.”

Dika tersenyum pahit.

“Kamu masih memikirkan perasaan beliau setelah semua yang terjadi?”

Ambar menatap langit-langit kamar.

“Aku cuma tidak ingin keluarga kita semakin hancur.”

Jawaban itu membuat Dika semakin yakin bahwa ia menikahi perempuan yang luar biasa.

Namun memaafkan bukan berarti membiarkan semuanya kembali seperti semula.

Seminggu setelah Ambar keluar dari rumah sakit, Dika mengambil keputusan yang mengejutkan.

Ia menyewa sebuah rumah sederhana yang letaknya tidak jauh dari tempat kerjanya.

“Ibu, mulai hari ini aku dan Ambar akan tinggal sendiri.”

Sri langsung berdiri.

“Jadi kamu memilih istrimu daripada ibumu?”

“Aku tidak sedang memilih. Aku sedang menjalankan tanggung jawab sebagai suami.”

“Kamu anak durhaka!”

“Kalau menjaga keselamatan istriku disebut durhaka, biarlah.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Dika meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Biaya rumah sakit cukup besar.

Tabungan mereka hampir habis.

Dika bahkan menjual motor kesayangannya agar kebutuhan persalinan tetap tercukupi.

Melihat perjuangan suaminya, Ambar menangis setiap malam.

“Aku cuma jadi beban.”

Dika menggeleng.

“Kamu bukan beban. Kamu alasan aku pulang setiap hari.”

Sementara itu, Sri menjalani hari-harinya dalam kesunyian.

Rumah yang biasanya ramai terasa kosong.

Tidak ada lagi suara Ambar menyeduhkan teh.

Tidak ada lagi makanan hangat yang diam-diam selalu disiapkan menantunya meski sering dimarahi.

Suatu sore, tetangga datang mengantarkan sebuah kotak.

“Ini barang-barang Ambar yang tertinggal.”

Sri membukanya perlahan.

Di dalamnya ada buku kecil.

Awalnya ia mengira itu buku belanja.

Ternyata sebuah buku harian.

Dengan tangan gemetar, ia membaca halaman pertama.

“Hari ini Ibu kembali marah. Semoga suatu hari nanti beliau sehat dan bahagia. Aku percaya sebenarnya hati Ibu baik, hanya sedang lelah.”

Sri berhenti membaca.

Air matanya mulai mengalir.

Halaman berikutnya.

“Aku ingin anakku nanti tumbuh dengan keluarga yang saling menyayangi. Aku tidak ingin ia belajar membenci siapa pun.”

Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin keras tangis Sri pecah.

Tidak ada satu kalimat pun yang berisi kebencian.

Padahal ia merasa telah berkali-kali menyakiti Ambar.

Beberapa minggu kemudian tibalah hari persalinan.

Dika menggenggam tangan istrinya sepanjang proses.

Setelah penantian yang menegangkan, terdengar tangisan bayi memenuhi ruang bersalin.

Seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.

Dokter tersenyum.

“Selamat. Ibu dan bayinya sehat.”

Dika memeluk Ambar sambil menangis.

“Terima kasih sudah bertahan.”

Di luar ruangan, Sri datang membawa sebuah tas kecil berisi pakaian bayi yang ia jahit sendiri selama berminggu-minggu.

Ia tidak berani masuk.

Ketika Dika keluar, Sri hanya berkata lirih.

“Ibu tidak meminta dimaafkan hari ini. Ibu hanya ingin menyerahkan ini.”

Dika memandang tas itu cukup lama.

“Lihatlah cucumu.”

Sri masuk dengan langkah pelan.

Begitu melihat bayi mungil itu, ia langsung menangis tersedu-sedu.

“Aku benar-benar hampir kehilangan kalian semua karena sifatku sendiri.”

Ambar yang masih lemah tersenyum.

“Bu… menjadi nenek adalah kesempatan baru.”

Sri menatap menantunya.

“Kenapa kamu masih bisa berkata sebaik itu kepadaku?”

Ambar menjawab pelan.

“Karena kalau kebencian terus diwariskan, anak kami hanya akan tumbuh di tengah luka.”

Kalimat sederhana itu mengubah Sri selamanya.

Setahun kemudian, rumah kecil Dika dan Ambar selalu dipenuhi tawa cucu yang sering dikunjungi neneknya.

Sri tidak lagi memerintah.

Ia datang membawa makanan, membantu membersihkan rumah, lalu pulang setelah memastikan menantu dan cucunya baik-baik saja.

Tetangga yang dulu mengenalnya sebagai sosok keras kini sering melihatnya duduk di teras bermain bersama cucunya.

Banyak orang mengira perubahan itu terjadi karena usia.

Padahal hanya Sri yang tahu penyebab sebenarnya.

Ia pernah hampir kehilangan seluruh keluarganya karena merasa dirinya selalu benar.

Sejak hari itu, ia memahami bahwa keluarga tidak bertahan karena siapa yang paling berkuasa, melainkan karena siapa yang berani mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan berubah sebelum penyesalan datang terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang