“Apa ini?” suara Nolan berubah tajam. Rahangnya mengeras saat menatap Citra penuh tekanan. “Jawab aku, Cit.

Pupil mata Nolan bergetar saat menatap Nesya dan Citra bergantian. Dalam hitungan detik yang terasa seperti berjam-jam, napasnya tercekat, tenggorokannya kering, dan seluruh tubuhnya mendadak dingin.

“Aku pilih… Citra.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi dampaknya seperti pisau yang menembus dada Nesya.

Nesya tidak langsung bereaksi. Wajahnya membeku, matanya menatap Nolan tanpa berkedip. Ia seolah masih berusaha memastikan bahwa laki-laki yang berdiri di depannya benar-benar orang yang selama ini ia cintai.

“Baik,” ujar pria bertubuh besar. “Kamu sudah memilih.”

Salah satu pria membuka ikatan Citra. Perempuan itu segera berlari ke arah Nolan dan memeluknya erat.

“Makasih, Kak,” isaknya. “Aku tahu Kakak gak akan ninggalin aku.”

Nolan memeluk Citra, tetapi pandangannya masih tertuju pada Nesya. Ada rasa bersalah yang muncul, meski ia berusaha menepisnya.

“Nesya, aku akan kembali,” katanya terburu-buru. “Aku janji akan cari cara buat menyelamatkan kamu.”

Nesya tersenyum tipis.

“Nggak perlu janji kalau kamu sendiri tahu kamu gak akan menepatinya.”

“Nes—”

“Pergi saja.”

Nada suara Nesya begitu tenang hingga justru membuat Nolan merasa semakin tertekan.

Para penculik mendorong Nolan dan Citra menuju pintu. Sebelum keluar, Citra menoleh ke arah Nesya. Tangis di wajahnya mendadak menghilang. Bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan yang sangat tipis.

Nesya melihatnya dengan jelas.

Saat pintu gudang tertutup, salah satu pria yang berdiri di samping Nesya langsung melepaskan ikatannya.

“Gimana, Mbak?” tanyanya.

Nesya mengusap pergelangan tangannya yang memerah. “Cukup.”

Pria itu mengangguk, lalu mengambil ponsel dari sakunya. “Semua terekam. Dari awal sampai akhir.”

Nesya berdiri perlahan. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya tampak berkaca-kaca.

Penculikan itu memang bukan penculikan sungguhan.

Semua telah direncanakan Nesya sejak beberapa hari sebelumnya, setelah ia mendapatkan rekaman yang membuktikan bahwa Citra selama ini hanya memanfaatkan Nolan. Ia ingin menunjukkan kebenaran tanpa bisa dibantah.

Nesya sebenarnya tidak pernah menduga Nolan akan memilih Citra. Ia berpikir gelang itu akan menjadi alasan yang cukup bagi Nolan untuk memilihnya. Namun, ternyata ia salah.

Nolan tidak hanya memilih Citra.

Ia juga menyerahkan gelang milik Nesya tanpa izin, seolah benda itu tidak lebih dari alat pembayaran.

Gelang itu bukan sekadar perhiasan.

Itu adalah pemberian terakhir dari ibu Nesya sebelum meninggal dunia.

Seorang pria menyerahkan gelang tersebut kepada Nesya.

“Ini, Mbak. Masih aman.”

Nesya menerima gelang itu dengan tangan gemetar. Ia memejamkan mata sesaat, menahan air mata yang hampir jatuh.

“Terima kasih.”

Di luar gudang, Nolan membawa Citra menuju mobil sewaan. Namun, baru saja mereka berjalan beberapa meter, Citra menghentikan langkah.

“Kak, kita harus pergi cepat.”

Nolan menatapnya curiga. “Kenapa kamu gak terlihat lemas lagi?”

Citra tampak terkejut. “Apa?”

“Di rumah sakit kamu sampai pingsan. Infus kamu cabut. Darah berceceran. Tapi sekarang kamu bisa lari dan berdiri seperti gak terjadi apa-apa.”

Citra kembali memasang wajah sedih. “Karena aku takut, Kak. Adrenalin bisa bikin orang kuat.”

Nolan menatap pakaian pasien yang dikenakan Citra. Baru sekarang ia menyadari tidak ada bekas darah di tangan perempuan itu.

“Pesan yang kamu kirim juga aneh,” lanjut Nolan. “Kamu bilang ada orang yang mengancam akan menyakiti Nesya kalau aku gak datang sendirian. Dari mana kamu tahu Nesya juga dibawa?”

Wajah Citra memucat.

“Aku… aku dengar mereka bicara.”

“Di mana?”

Citra membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar.

Nolan mundur selangkah.

“Ini semua ulah kamu?”

“Kak, jangan mulai lagi.” Citra menangis. “Aku baru saja diculik.”

“Jawab aku!”

Bentakan Nolan membuat Citra tersentak.

Beberapa detik kemudian, tangisnya berhenti. Wajah memelas itu perlahan berubah dingin.

“Kalau memang aku yang merencanakan semuanya, lalu kenapa?” tanyanya pelan.

Nolan menatapnya tak percaya.

Citra tertawa kecil. “Aku cuma ingin membuktikan siapa yang lebih penting buat Kakak. Dan ternyata aku menang.”

“Jadi benar…”

“Kenapa kaget?” Citra mendekat. “Bukankah Kakak sendiri yang memilihku?”

Nolan merasa dadanya sesak. “Kamu menyuruh orang menculik Nesya?”

“Mereka teman-temanku. Cuma akting.”

“Dan darah di rumah sakit?”

“Aku sengaja mencabut infus.”

“Kamu gila.”

Senyum Citra lenyap.

“Aku gila karena siapa?” bentaknya. “Sejak kecil, cuma Kak Nolan yang selalu membelaku. Ayah dan Ibu sibuk bertengkar. Semua orang pergi. Cuma Kakak yang tetap ada. Lalu Nesya datang dan merebut semuanya.”

“Nesya gak pernah merebut apa pun.”

“Dia membuat Kakak berubah!”

“Tidak. Kamu yang membuatku buta.”

Citra mendadak menampar Nolan.

Suara tamparan itu terdengar keras di tengah gudang kosong.

Nolan tidak membalas. Ia hanya menatap Citra dengan ekspresi kecewa.

“Selama ini aku menganggapmu adik,” katanya lirih. “Aku membela kamu karena merasa bertanggung jawab. Tapi kamu menggunakan rasa sayangku untuk menyakiti orang lain.”

Citra menggigit bibir. “Kalau Kakak kembali ke Nesya, aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk.”

“Jangan ancam aku.”

“Aku gak mengancam.” Citra mengeluarkan ponsel. “Aku punya banyak hal tentang Kakak. Data kantor, percakapan, bahkan dokumen yang pernah Kakak kirim. Kalau aku mau, karier Kakak bisa selesai.”

Nolan menegang.

Baru saat itu ia menyadari bahwa selama ini Citra bukan hanya memainkan perasaannya, tetapi juga diam-diam mengakses hidupnya.

“Kamu ambil data kantorku?”

Citra tersenyum. “Kakak selalu memberikan kata sandi apa pun kepadaku.”

Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari arah belakang.

Nolan dan Citra menoleh bersamaan.

Nesya berdiri di pintu gudang, ditemani dua orang pria. Di tangannya terdapat ponsel yang sedang merekam.

“Bagus,” kata Nesya. “Akhirnya kamu mengaku sendiri.”

Wajah Citra berubah panik.

“Kak Nesya…”

“Jangan panggil aku seperti itu.”

Citra melangkah mundur. “Ini jebakan?”

“Jebakan yang kamu sempurnakan sendiri.”

Nolan menatap Nesya dengan mata penuh penyesalan. “Nesya, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa?” Nesya mendekat. “Bahwa kamu memilih perempuan yang menyusun penculikan palsu? Atau bahwa kamu mengambil gelang peninggalan ibuku tanpa izin untuk menyelamatkan orang yang terus memfitnahku?”

Nolan menunduk.

“Aku mengira Citra benar-benar sakit.”

“Dan aku?” suara Nesya bergetar. “Kamu bahkan gak bertanya bagaimana keadaanku.”

“Nesya, maaf.”

“Maaf gak selalu bisa memperbaiki sesuatu.”

Citra tiba-tiba berlari hendak merebut ponsel Nesya. Namun, salah satu pria segera menahannya.

“Lepaskan aku!” teriak Citra.

Nesya menatapnya dingin. “Rekaman ini akan diserahkan ke polisi. Termasuk pengakuanmu soal data kantor Nolan.”

Citra tertawa histeris. “Kalian pikir polisi akan percaya? Gak ada penculikan sungguhan. Mereka semua cuma aktor.”

“Benar,” jawab Nesya. “Tapi pencurian data, ancaman, dan akses ilegal tetap kejahatan.”

Senyum Citra menghilang.

Pada saat itu, suara sirene terdengar dari kejauhan. Dua mobil polisi berhenti di depan gudang. Rupanya Nesya telah menghubungi polisi sebelum datang kembali.

Citra berusaha melarikan diri, tetapi segera diamankan.

Saat polisi memeriksa ponselnya, mereka menemukan lebih banyak hal daripada yang diduga. Ada foto dokumen perusahaan, percakapan dengan pesaing bisnis tempat Nolan bekerja, dan bukti bahwa Citra pernah menjual informasi internal.

Nolan terduduk lemas.

Ia baru menyadari bahwa beberapa masalah di kantornya selama ini ternyata berasal dari kebocoran data yang dilakukan Citra.

Citra menatap Nolan saat tangannya diborgol.

“Kak, bilang ke mereka aku gak salah.”

Nolan tidak bergerak.

“Kak Nolan!” teriaknya. “Aku melakukan ini semua karena aku sayang Kakak!”

Nolan berdiri perlahan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Bukan,” katanya. “Kamu melakukan semuanya karena ingin memiliki dan mengendalikan. Itu bukan sayang.”

Citra menatapnya dengan penuh kebencian.

“Kalau Kakak memilih aku dari awal, semua ini gak akan terjadi.”

Nesya menatap Citra untuk terakhir kalinya.

“Justru karena dia selalu memilihmu, kamu merasa bisa melakukan apa saja.”

Polisi membawa Citra pergi.

Gudang kembali sepi.

Nolan mendekati Nesya, tetapi perempuan itu mundur.

“Berikan aku kesempatan.”

Nesya menggeleng.

“Aku pernah memberimu terlalu banyak kesempatan. Setiap kali Citra berbohong, kamu menyuruhku memahami. Setiap kali dia menyakitiku, kamu memintaku mengalah. Hari ini kamu bahkan memilih dia saat nyawaku seolah berada dalam bahaya.”

“Aku salah.”

“Benar. Dan kesalahan itu punya akibat.”

Nesya melepas cincin dari jarinya, lalu meletakkannya di telapak tangan Nolan.

Nolan menatap cincin itu dengan wajah hancur.

“Kita selesai?” tanyanya lirih.

Nesya tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi.

Tiga bulan kemudian, Citra resmi menjadi tersangka dalam kasus pencurian data dan pemerasan. Ia juga harus menjalani pemeriksaan kejiwaan setelah beberapa kali menunjukkan perilaku tidak stabil selama penyidikan.

Nolan kehilangan pekerjaannya karena dianggap lalai menjaga informasi perusahaan. Meski tidak dipenjara, reputasinya rusak. Teman-teman yang dulu menghormatinya perlahan menjauh.

Ia mencoba menghubungi Nesya berkali-kali, tetapi tidak pernah mendapat jawaban.

Suatu sore, Nolan datang ke rumah lama Nesya. Rumah itu sudah kosong. Tetangga mengatakan Nesya telah pindah ke kota lain dan memulai pekerjaan baru.

Di depan pintu, Nolan menemukan sebuah kotak kecil dengan namanya tertulis di atasnya.

Di dalam kotak itu ada beberapa foto mereka, sebuah surat, dan gelang emas yang dulu sempat ia berikan sebagai tebusan.

Nolan membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Aku mengembalikan semua yang pernah membuatku bertahan. Bukan karena semuanya tidak berarti, tetapi karena aku akhirnya sadar bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dipilih. Hari itu, kamu tidak kehilangan aku karena memilih Citra. Kamu kehilangan aku karena selama bertahun-tahun, kamu selalu membuatku menjadi pilihan kedua.

Nolan terduduk di teras rumah kosong itu.

Tangisnya pecah untuk pertama kali tanpa bisa ia sembunyikan.

Di bagian paling bawah surat, terdapat satu kalimat terakhir.

Dan mungkin kamu belum sadar, Nolan. Rekaman pertama yang membongkar kebohongan Citra bukan berasal dariku. Rekaman itu dikirim oleh ibumu sendiri.

Nolan membeku.

Ia segera menelepon ibunya.

Setelah lama terdiam, sang ibu akhirnya mengakui bahwa ia sudah mengetahui perilaku Citra sejak berbulan-bulan lalu. Ia sengaja mengirim rekaman itu kepada Nesya karena Nolan tidak pernah mau percaya setiap kali keluarga mencoba memperingatkannya.

“Ibu berharap kamu sadar sebelum kehilangan semuanya,” ujar ibunya dengan suara bergetar.

Nolan menutup telepon, menatap rumah kosong di depannya.

Ia akhirnya memahami kenyataan yang paling menyakitkan.

Selama ini, bukan Nesya yang berusaha memisahkannya dari Citra.

Justru semua orang sedang berusaha menyelamatkannya.

Namun, ia terlalu sibuk membela orang yang salah hingga tak sadar telah menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.

Dan ketika kebenaran akhirnya terlihat jelas, tidak ada lagi yang tersisa untuk diperbaiki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang