Aku menggenggam benda itu dengan tangan gemetar. Sebuah kotak beludru hitam berisi cincin emas putih yang sangat kukenal. Cincin itu bukan milikku, melainkan cincin pasangan milik kakakku, Rian, yang telah meninggal dua tahun lalu. Di bagian dalamnya masih terukir nama “Rian & Arni” beserta tanggal pernikahan mereka.
Di bawah kotak itu terselip sebuah amplop cokelat.
Jantungku berdetak semakin kencang.
Dengan napas yang memburu, kubuka amplop tersebut. Isinya beberapa lembar hasil pemeriksaan rumah sakit, foto-foto lama, dan sebuah buku harian kecil.

Aku membuka halaman pertama.
“Tidak ada yang tahu kalau aku mulai mencintai Rama bahkan sebelum Sya menikah dengannya.”
Tanganku langsung berhenti.
Aku membaca kalimat itu berulang kali, berharap mataku salah melihat.
Namun setiap halaman berikutnya membuat dadaku semakin sesak.
Arni menulis bagaimana ia diam-diam menyukai Rama sejak pertama kali dikenalkan sebagai calon suamiku. Setelah kakakku meninggal karena kecelakaan, Rama sering membantu mengurus berbagai keperluan keluarga. Dari situlah hubungan terlarang itu mulai tumbuh.
Air mataku menetes tanpa bisa kutahan.
Ternyata semua yang selama ini kuanggap sebagai perhatian kepada seorang kakak ipar yang sedang berduka hanyalah kedok.
Aku terus membalik halaman.
Di halaman terakhir tertulis sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
“Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, rumah ini akan menjadi milik kami sebelum akhir tahun.”
Aku langsung memotret seluruh isi buku harian itu menggunakan ponsel.
Tidak lama kemudian terdengar suara pagar terbuka.
Aku buru-buru memasukkan kembali semua barang ke tempat semula.
Suara mobil Rama.
Aku mematikan lampu kamar Arni lalu keluar dengan tenang, mengunci kembali pintunya menggunakan kunci duplikat.
Beberapa detik kemudian Rama masuk ke rumah sambil tersenyum.
“Sya? Kamu sudah pulang?”
Aku menatap wajah pria yang selama delapan tahun menjadi suamiku.
Wajah yang dulu selalu membuatku merasa aman.
Kini hanya membuatku muak.
“Aku pulang lebih cepat.”
“Oh… bagaimana perjalananmu?”
“Lumayan.”
Aku menjawab singkat lalu berjalan ke dapur mengambil segelas air.
Rama mengikuti di belakang.
“Kamu kelihatan capek.”
“Iya.”
Ia mencoba menyentuh bahuku.
Refleks aku menghindar.
Rama tampak sedikit heran.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku harus menahan diri.
Belum saatnya.
Arni turun dari lantai dua beberapa menit kemudian dengan pakaian rumah yang rapi. Wajahnya terlihat sedikit pucat saat melihatku.
“Sya… kamu sudah pulang?”
“Iya.”
“Kapan sampai?”
“Beberapa jam yang lalu.”
Tatapan Arni langsung berubah gelisah.
Aku tahu ia sedang memastikan apakah aku sempat masuk ke kamarnya.
“Mbak tadi istirahat di kamar?” tanyaku santai.
“Iya.”
“Kamarnya dikunci ya?”
“Iya… memang kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku cuma lihat pintunya tertutup.”
Arni mengangguk pelan.
Ia tampak lega.
Aku hampir tersenyum melihat kepanikannya.
Semakin orang berusaha menyembunyikan sesuatu, semakin mudah kebohongannya terlihat.
Sore harinya Cira dan adiknya pulang dari sekolah.
Melihat anak-anak berlari memelukku membuat dadaku kembali sesak.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mereka tumbuh bersama ayah yang mengkhianati keluarganya.
Malam itu kami makan bersama seperti keluarga normal.
Rama beberapa kali mengambilkan lauk untukku.
Arni beberapa kali memuji masakanku.
Kalau aku tidak mengetahui semuanya, mungkin aku masih percaya mereka benar-benar peduli.
Setelah anak-anak tidur, aku kembali membuka foto-foto hasil salinan buku harian Arni.
Tiba-tiba sebuah foto menarik perhatianku.
Foto hasil pemeriksaan kehamilan.
Tanggalnya sekitar enam bulan setelah kakakku meninggal.
Aku memperbesar tulisan dokter.
Usia kehamilan delapan minggu.
Aku mencoba menghitung.
Waktu itu Arni masih tinggal bersama keluarga kakakku.
Rama hampir setiap hari mengantar kebutuhan rumah.
Dadaku kembali berdebar.
Jangan-jangan…
Ponselku bergetar.
Frans mengirim pesan.
“Bu Tasya, besok saya sudah membuat jadwal bertemu notaris. Tapi saya ingin bertanya satu hal. Apakah selama ini suami Ibu pernah meminjam uang atas nama Ibu?”
Aku langsung membalas.
“Tidak pernah.”
Beberapa menit kemudian teleponku berdering.
“Bu Tasya, saya baru menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Saya tadi mengecek data perusahaan tempat suami Ibu bekerja.”
“Lalu?”
“Beliau memiliki sebuah perusahaan kecil atas nama orang lain.”
“Orang lain?”
“Iya.”
“Atas nama siapa?”
Frans terdiam beberapa detik.
“Atas nama Mbak Arni.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
“Perusahaan itu berdiri sekitar satu tahun yang lalu.”
“Modalnya?”
“Masih kami telusuri. Tapi kemungkinan besar berasal dari aset keluarga Ibu.”
Aku memejamkan mata.
Ternyata mereka tidak hanya berselingkuh.
Mereka juga mulai membangun kehidupan baru menggunakan uangku.
“Besok pagi kita bertemu,” kataku tegas.
“Baik.”
Keesokan harinya aku datang ke kantor Frans.
Ia sudah menyiapkan banyak dokumen.
“Bu Tasya, saya menyarankan satu hal.”
“Apa?”
“Jangan ajukan gugatan sekarang.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena bukti kita belum cukup untuk menghancurkan mereka.”
“Lalu?”
“Biarkan mereka merasa aman.”
Frans kemudian menunjukkan hasil penyelidikannya.
Ternyata Rama diam-diam menggadaikan beberapa aset perusahaan menggunakan tanda tangan elektronik yang pernah kuberikan saat kami masih saling percaya.
“Apa itu ilegal?”
“Kalau terbukti tanpa persetujuan Ibu, tentu saja.”
“Lalu?”
“Kita kumpulkan semuanya.”
Aku mengangguk.
Selama dua minggu berikutnya hidupku berubah menjadi sandiwara.
Aku berpura-pura menjadi istri yang tidak tahu apa-apa.
Aku tetap memasak.
Tetap tersenyum.
Tetap mengantar anak-anak sekolah.
Sementara Frans diam-diam mengumpulkan seluruh bukti.
Mulai dari rekaman CCTV, mutasi rekening, hingga transaksi pembelian apartemen mewah.
Suatu malam Frans menelepon dengan nada bersemangat.
“Bu Tasya.”
“Iya?”
“Kita sudah mendapatkan semuanya.”
“Apa maksudnya?”
“Saya menemukan bukti transfer rutin dari rekening Ibu ke rekening suami Ibu, lalu dipindahkan lagi ke rekening Mbak Arni.”
“Jumlahnya?”
“Hampir seluruh tabungan yang selama ini Ibu kumpulkan.”
Aku mengepalkan tangan.
Hari yang kutunggu akhirnya datang.
Seminggu kemudian orang tua Rama mengadakan acara syukuran ulang tahun pernikahan mereka yang keempat puluh.
Seluruh keluarga besar hadir.
Paman.
Bibi.
Sepupu.
Tetangga.
Semuanya berkumpul.
Rama dan Arni tampak begitu santai.
Mereka bahkan beberapa kali saling bertukar pandang tanpa sadar.
Aku datang mengenakan gaun sederhana bersama kedua anakku.
Ibunda Rama langsung memelukku.
“Sya, akhirnya kamu datang.”
Aku tersenyum.
“Iya, Bu.”
Saat makan malam dimulai, Rama berdiri membawa mikrofon.
“Hari ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya…”
Semua orang bertepuk tangan.
Aku menunggu sampai ia selesai berbicara.
Kemudian aku berdiri.
“Maaf. Sebelum acara dilanjutkan, saya juga ingin mengatakan sesuatu.”
Semua mata tertuju kepadaku.
Rama terlihat bingung.
“Sya?”
Aku mengeluarkan sebuah flash drive.
“Pak, Bu… selama bertahun-tahun saya selalu menganggap keluarga ini sebagai keluarga saya sendiri.”
Suasana menjadi hening.
“Tapi ternyata saya hanya menjadi orang yang membiayai pengkhianatan.”
Rama langsung memucat.
“Apa maksudmu?”
Aku menoleh kepada panitia.
“Boleh pinjam proyektornya sebentar?”
Beberapa menit kemudian layar besar menyala.
Satu per satu foto muncul.
Transfer uang.
Dokumen perusahaan.
Percakapan.
Foto Rama memasuki apartemen bersama Arni.
Lalu halaman-halaman buku harian Arni.
Ruangan langsung dipenuhi suara gaduh.
Ibunda Rama menutup mulutnya sambil menangis.
Ayahnya memukul meja begitu keras hingga gelas-gelas bergetar.
“Rama! Apa ini?”
Rama mencoba merebut mikrofon.
“Itu fitnah!”
“Fitnah?” kataku tenang.
Aku menyerahkan map terakhir kepada ayah mertuaku.
“Silakan baca halaman terakhir.”
Beliau membuka dokumen itu.
Wajahnya berubah pucat.
“Itu… sertifikat apartemen…”
Frans yang sejak tadi duduk di belakang akhirnya berdiri.
“Dibeli menggunakan dana yang berasal dari rekening Bu Tasya.”
Ruangan menjadi semakin ricuh.
Arni tiba-tiba menangis.
“Aku bisa jelaskan…”
Namun belum sempat ia melanjutkan, ibu mertuaku menamparnya.
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan.
“Aku menganggapmu seperti anak sendiri!”
Rama mencoba membela Arni.
Tetapi ayahnya justru menunjuk pintu.
“Keluar.”
“Pak…”
“Keluar dari rumah ini!”
Semua tamu menyaksikan kejatuhan mereka.
Tidak ada lagi yang memandang mereka sebagai pasangan yang saling mencintai.
Yang tersisa hanyalah dua orang yang menghancurkan keluarganya sendiri demi keserakahan.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian selesai.
Hak asuh kedua anak jatuh kepadaku.
Sebagian besar aset yang dapat dibuktikan berasal dari penghasilanku berhasil kembali menjadi milikku.
Perusahaan atas nama Arni juga disita setelah penyelidikan menemukan aliran dana yang tidak sah.
Suatu sore, saat mengantar Cira pulang sekolah, aku melihat Rama berdiri sendirian di depan sebuah toko kecil.
Pakaiannya kusut.
Wajahnya jauh lebih tua daripada usianya.
Ia menatap kami dari kejauhan.
Cira menggenggam tanganku lebih erat.
“Mama… ayo pulang.”
Aku mengangguk.
Tanpa menoleh lagi, kami berjalan meninggalkannya.
Saat itu aku akhirnya mengerti bahwa balas dendam terbaik bukanlah membuat seseorang menderita dengan tanganku sendiri, melainkan membiarkan mereka hidup selamanya dengan konsekuensi dari pilihan yang mereka buat, sementara aku memilih melangkah maju bersama anak-anakku menuju kehidupan yang jauh lebih tenang dan bermartabat.
