“Hanya gara-gara opor ayam kemarin, terus kamu menganggapku seperti itu, Yan? Iya? Terus kamu mau pisah sama aku? Begitu?”

“Ban dalam dua puluh lima ribu, ban luar seratus lima puluh ribu. Itu yang kualitas sedang. Kalau mau yang lebih bagus, ban luarnya dua ratus tujuh puluh ribuan. Gimana, Mat?”

Mas Ahmad membeku.

Tangannya perlahan masuk ke saku celana, mengambil dompet yang sejak tadi terasa semakin berat, bukan karena isinya, tetapi karena rasa malu yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia membuka dompet itu pelan. Uang yang tersisa bahkan tidak sampai cukup untuk membeli ban baru.

“Kalau… ditambal aja bisa, Bang?” tanyanya lirih.

Bang Ucok menggeleng.

“Udah sobek dari dalam. Ditambal paling tahan sebentar, habis itu bocor lagi. Bahaya kalau dipakai.”

Ahmad mengusap wajahnya kasar. Keringat bercampur debu menempel di dahinya. Baru kali ini ia benar-benar menghitung setiap rupiah yang harus dikeluarkan hanya untuk bisa pulang membawa makan malam.

“Ya… tambal aja dulu, Bang.”

Bang Ucok menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Ya sudah. Saya usahakan semampunya.”

Sambil menunggu, Ahmad duduk di bangku kayu bengkel. Perutnya kembali berbunyi. Roti murah yang tadi dimakannya bahkan tidak cukup menghilangkan rasa lapar.

Di sebelahnya, seorang bapak tua sedang berbincang dengan Bang Ucok.

“Sekarang apa-apa mahal ya. Beras naik, minyak naik, gas naik. Kasihan ibu-ibu yang ngatur uang belanja.”

“Iya,” sahut Bang Ucok. “Yang paling berat itu bukan cari uangnya. Tapi bikin uang cukup sampai akhir bulan.”

Kalimat sederhana itu seperti menghantam kepala Ahmad.

Selama lima tahun menikah, ia selalu merasa tugasnya selesai setiap kali memberikan uang kepada Yana. Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana istrinya mengubah uang yang menurutnya cukup menjadi makanan, kebutuhan anak, listrik, sabun, hingga gas.

Yang ia tahu hanya satu.

Kalau makanan selalu tersedia.

Kalau Dian selalu makan.

Kalau rumah selalu bersih.

Ia tidak pernah bertanya bagaimana semua itu bisa terjadi.

Satu jam kemudian ban motornya selesai ditambal. Ahmad membayar dengan sisa uang yang membuat dompetnya nyaris kosong.

Ia tidak jadi membeli makanan di warteg.

Ia memutuskan pulang.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi wajah Yana yang tadi berteriak sambil menahan air mata.

“Aku capek menambal sulamnya, Mas.”

Kalimat itu kini terdengar jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Sesampainya di rumah, suasana gelap.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Pintu tidak terkunci.

Yana sedang duduk di lantai ruang tamu bersama Dian yang tertidur di pangkuannya.

Tidak ada aroma masakan.

Tidak ada suara televisi.

Hanya keheningan.

Ahmad masuk perlahan.

“Aku pulang.”

Yana tidak menjawab.

Ia hanya terus mengusap rambut Dian.

Ahmad duduk beberapa meter darinya.

“Aku tadi ke warung.”

Masih tidak ada jawaban.

“Aku baru tahu… uang dua puluh ribu memang gak cukup.”

Yana tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum seseorang yang sudah terlalu lama lelah.

“Baru tahu?”

Ahmad menunduk.

“Iya.”

Hening kembali memenuhi ruangan.

Beberapa menit kemudian Ahmad berkata pelan.

“Selama ini… kamu gimana caranya?”

Yana tertawa kecil.

“Mas mau dengar yang jujur?”

“Iya.”

“Aku sering bohong.”

Ahmad mengangkat wajah.

“Bohong?”

Yana mengangguk.

“Kalau Mas nanya lauknya apa, aku bilang udah makan duluan di dapur.”

Padahal?

“Aku gak makan.”

Jantung Ahmad seperti berhenti berdetak.

“Kalau gas habis?”

“Aku pinjam ke Bu Yuli.”

“Kalau beras habis?”

“Aku utang setengah kilo.”

“Kalau Dian minta susu?”

“Aku bilang nanti sore.”

“Padahal?”

“Padahal aku nunggu Mas pulang bawa uang.”

Setiap jawaban terasa seperti tamparan.

Yana melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

“Aku pernah tiga hari makan nasi sama garam, Mas.”

Ahmad menutup wajahnya.

“Aku gak pernah cerita. Karena aku pikir suatu hari nanti Mas bakal sadar sendiri.”

Air mata mulai mengalir di sela jemarinya.

“Aku… aku gak tahu.”

“Iya. Karena Mas gak pernah mau tahu.”

Kalimat itu membuat Ahmad benar-benar kehilangan kata.

Yana berdiri pelan, menggendong Dian ke kamar.

Sebelum masuk, ia berkata tanpa menoleh.

“Aku gak marah karena uangnya sedikit.”

Ahmad mengangkat kepala.

“Aku marah karena Mas selalu menganggap aku yang gak bisa mengatur uang.”

Pintu kamar tertutup perlahan.

Malam itu Ahmad tidak tidur.

Ia duduk sendirian di ruang tamu sampai subuh.

Pagi harinya, sebelum berangkat kerja, ia membuka lemari tempat menyimpan dokumen.

Ia mencari buku tabungan.

Yang selama ini selalu ia banggakan.

Tabungan untuk masa depan.

Tabungan untuk sekolah Dian.

Tabungan keluarga.

Namun setelah dicari ke mana-mana, buku itu tidak ada.

Ia teringat.

Tabungan sekarang sudah menggunakan aplikasi.

Ahmad membuka aplikasi mobile banking.

Saldo tabungan yang selama ini selalu ia sebut-sebut ternyata hanya tersisa Rp1.350.000.

Ia terpaku.

Lalu membuka riwayat transaksi.

Puluhan transaksi belanja online.

Sepatu.

Jam tangan.

Aksesori motor.

Langganan game.

Makan bersama teman kantor.

Kopi setiap pagi.

Cicilan ponsel terbaru.

Semua transaksi kecil yang menurutnya tidak berarti ternyata menghabiskan jutaan rupiah.

Tangannya gemetar.

Selama ini ia menyuruh Yana berhemat.

Sementara dirinya sendiri bahkan tidak sadar uang habis ke mana.

Di kantor pun pikirannya kacau.

Saat jam makan siang, teman-temannya mengajak makan di restoran langganan.

“Ayo Mat.”

Ahmad menolak.

“Nanti aja.”

Ia memilih membeli nasi bungkus sederhana.

Untuk pertama kalinya, ia menghitung uang sebelum membeli makan.

Saat pulang kerja, ia mampir ke pasar tradisional.

Ia membawa daftar belanja yang ditulis sendiri.

Gas.

Beras lima kilo.

Minyak.

Telur.

Sayuran.

Tempe.

Ayam.

Sabun.

Deterjen.

Susu Dian.

Ketika kasir menyebut totalnya, Ahmad kembali terdiam.

Jumlah itu jauh lebih besar daripada perkiraannya.

Ia membayar sambil menelan ludah.

Sesampainya di rumah, ia membawa semua belanjaan itu masuk.

Yana yang sedang menyapu berhenti.

“Ada apa ini?”

“Aku belanja.”

Yana melihat kantong-kantong besar itu dengan tatapan heran.

“Mas…?”

“Aku baru tahu ternyata kebutuhan rumah sebanyak ini.”

Yana tidak menjawab.

Ia hanya membantu mengangkat belanjaan.

Di dasar salah satu kantong plastik, Ahmad menyelipkan sebuah amplop putih.

Yana menemukannya.

“Ini apa?”

“Buka aja.”

Di dalam amplop terdapat kartu ATM milik Ahmad.

Beserta secarik kertas.

PIN: 240819.

“Apa ini?”

“Mulai bulan depan… semua gajiku masuk ke rekening itu.”

Yana mengernyit.

“Terus Mas?”

“Aku minta uang jajan sama kamu.”

Yana mengira Ahmad sedang bercanda.

Namun wajah suaminya sangat serius.

“Aku sadar… yang selama ini gak bisa ngatur uang ternyata bukan kamu.”

Air mata Yana perlahan jatuh.

“Aku sudah hitung semuanya. Cicilan yang gak penting akan aku berhentiin. Nongkrong juga cukup seminggu sekali. Aku bahkan baru sadar tiap bulan uangku habis buat hal-hal yang sebenarnya gak perlu.”

Yana memandangi suaminya lama.

“Aku gak butuh ATM-nya, Mas.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma butuh dihargai.”

Ahmad mengangguk sambil menangis.

“Maafin aku.”

Beberapa hari kemudian, perubahan Ahmad benar-benar terlihat.

Ia mulai membantu mencuci piring.

Mengantar Dian ke PAUD.

Belanja ke pasar setiap akhir pekan.

Bahkan belajar membandingkan harga sayur dari satu kios ke kios lain.

Suatu sore, Bu Yuli datang membawa buku kecil.

“Yan, ini buku utangnya.”

Yana tersenyum malu.

“Aku cicil minggu depan ya, Bu.”

Belum sempat Yana mengambil buku itu, Bu Yuli justru tertawa.

“Udah lunas.”

Yana terkejut.

“Lunas?”

“Iya. Tadi pagi Ahmad datang. Semua utangmu dibayar. Bahkan dia bilang kalau selama ini dia baru tahu istrinya sering utang demi dapur tetap ngebul.”

Yana menoleh ke arah suaminya yang sedang bermain dengan Dian di halaman.

Air matanya kembali mengalir.

Malam itu, setelah Dian tertidur, Ahmad mengeluarkan sebuah buku tulis.

“Apa itu?”

“Catatan pengeluaran.”

Yana tersenyum.

“Kita bikin sama-sama.”

Setiap malam mereka mulai mencatat semua pemasukan dan pengeluaran.

Tidak ada lagi saling menyalahkan.

Tidak ada lagi uang dua puluh ribu yang dipaksa cukup untuk dua hari.

Tidak ada lagi kebohongan tentang sudah makan atau belum.

Beberapa bulan berlalu.

Keuangan mereka memang belum berlimpah.

Namun utang warung sudah lunas.

Mereka mulai memiliki dana darurat sedikit demi sedikit.

Dan yang paling penting, rumah itu kembali dipenuhi tawa.

Suatu hari Ahmad melewati warung Bu Yuli.

Tanpa sengaja ia mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya, “Belajar hemat dong. Uang segini harusnya cukup.”

Ahmad menghentikan motornya.

Ia tersenyum pahit.

Lalu berkata pelan kepada lelaki itu, “Kalau menurutmu uang itu cukup, coba belanjakan sendiri. Baru setelah itu bilang apakah istrimu boros atau justru selama ini dia sedang berjuang sendirian.”

Lelaki itu terdiam.

Ahmad kembali melajukan motornya.

Karena kini ia akhirnya mengerti, mencari nafkah memang melelahkan, tetapi menghargai perjuangan orang yang mengelola setiap rupiah di rumah adalah tanggung jawab yang sama besarnya. Dan sering kali, keluarga tidak hancur karena kekurangan uang, melainkan karena seseorang terlalu lama merasa paling benar tanpa pernah mau memahami pengorbanan yang diam-diam dilakukan oleh orang yang paling setia menunggu di rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang