“Ayahmu sehat, kan, Jo?”

Maria baru sempat mengangkat wajah ketika arus sungai yang semula tampak tenang tiba-tiba menyeret kakinya ke bagian yang lebih dalam. Batu-batu di dasar sungai dipenuhi lumut licin. Sekali terpeleset, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia sempat meraih ranting di pinggir sungai, tetapi ranting itu patah begitu saja.

Air langsung menutup sebagian wajahnya.

Beberapa pemuda yang berada tak jauh darinya panik. Mereka saling memandang, tetapi tak ada yang berani menarik tubuh Maria. Gadis itu mengenakan pakaian yang sudah basah, dan mereka khawatir menyentuhnya akan menimbulkan fitnah.

“Pegang tanganku!” teriak salah satu dari mereka sambil mengulurkan sebatang bambu.

Namun arus membuat Maria semakin menjauh.

Di tepi sungai, Nisa berlari sekuat tenaga.

“Maria! Tahan! Jangan panik!”

Sementara itu, Fattah berdiri mematung hanya sepersekian detik. Kepalanya dipenuhi pertimbangan yang saling bertabrakan. Menolong seorang perempuan yang bukan mahram bukanlah sesuatu yang ia inginkan, tetapi membiarkan seseorang kehilangan nyawa jelas bukan pilihan.

Tanpa berpikir lebih lama, ia melepas jam tangannya, menyerahkan ponsel kepada salah satu panitia, lalu berkata tegas,

“Ambilkan selimut atau kain besar. Cepat!”

Selesai mengucapkannya, ia langsung menceburkan diri ke sungai.

Air dingin menghantam tubuhnya.

Beberapa langkah kemudian ia berhasil mencapai Maria yang mulai kehilangan tenaga. Gadis itu sudah tak sanggup melawan arus.

“Maria! Lihat saya!”

Maria membuka mata dengan susah payah.

“Mas…”

“Jangan melawan arus. Pegang bahu saya.”

Maria menurut. Tangannya gemetar hebat.

Dengan tenaga penuh, Fattah membawa tubuh Maria ke bagian sungai yang lebih dangkal. Begitu sampai di tepian, beberapa ibu-ibu segera menutupi tubuh Maria menggunakan kain besar yang sudah disiapkan.

Semua orang mengembuskan napas lega.

Maria duduk terbatuk-batuk. Air keluar dari mulutnya beberapa kali.

Nisa langsung memeluk sahabatnya sambil menangis.

“Ya Allah… lo bikin umur gue pendek.”

Maria hanya tertawa kecil di sela-sela batuk.

“Maaf…”

Tatapan Maria lalu beralih kepada Fattah yang berdiri beberapa meter darinya. Laki-laki itu segera memalingkan wajah, memberi ruang kepada para perempuan untuk mengurus Maria.

Dalam hati, Fattah hanya mengucap syukur.

Alhamdulillah.

Tidak ada yang lebih penting selain nyawa manusia.

Perjalanan pulang sore itu berlangsung jauh lebih sunyi dibanding saat mereka datang.

Maria yang biasanya paling berisik hanya memandang keluar jendela bus.

Sesekali ia melirik ke arah kursi depan tempat Fattah duduk.

Lelaki itu sibuk membaca Al-Qur’an kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.

Tidak sekali pun ia menoleh ke belakang.

“Mas Fattah benar-benar aneh,” gumam Maria pelan.

Nisa menyenggol lengannya.

“Yang aneh itu lo.”

“Maksudnya?”

“Orang habis ditolong malah senyum-senyum sendiri.”

Maria langsung membuang muka.

“Gue cuma bersyukur masih hidup.”

“Iya, iya.”

Nisa mengangkat kedua alisnya.

“Gue kenal lo dari kecil.”

Beberapa hari kemudian kegiatan bakti sosial selesai sepenuhnya.

Semua peserta kembali menjalani aktivitas masing-masing.

Maria kembali bekerja membantu ayahnya mengantar paket ke berbagai penjuru kota. Baginya, pekerjaan itu bukan sesuatu yang memalukan. Justru sejak tinggal bersama sang ayah, ia belajar bahwa rezeki yang halal selalu membawa ketenangan.

Suatu sore, sepeda motor mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

“Pak, alamatnya benar di sini?”

Ayah Maria mengangguk.

“Iya.”

Ketika Maria turun membawa paket, pintu rumah terbuka perlahan.

Ia membeku.

“Jo?”

Joseph sama terkejutnya.

“Maria?”

Mereka sama-sama tertawa.

“Kok bisa?”

“Gue lagi nganter paket.”

Joseph mempersilakan mereka masuk sebentar untuk minum.

Saat ayah Maria duduk berbincang dengan ayah Joseph yang masih dalam masa pemulihan stroke, Joseph mengajak Maria ke halaman belakang.

Sudah beberapa minggu amplop pemberian Mama Maria masih tersimpan rapi di lacinya.

Ia menarik napas panjang.

“Maria.”

“Hm?”

“Ada yang mau gue kasih.”

Joseph mengeluarkan amplop cokelat itu.

Maria langsung mengenalinya.

“Ini dari nyokap gue, ya?”

Joseph terdiam.

“Gue tahu tulisan tangan beliau.”

Joseph akhirnya mengangguk pelan.

“Maaf.”

Maria tidak langsung mengambil amplop itu.

Ia justru tersenyum.

“Gue tahu Mama masih sayang sama gue.”

“Lalu kenapa nggak diterima?”

Maria memandang langit sore.

“Karena kalau gue terus menerima uang beliau, beliau nggak akan pernah percaya kalau gue benar-benar bahagia.”

Joseph menghela napas.

“Padahal beliau nangis waktu ketemu gue.”

“Mama nangis?”

“Iya.”

Maria menggigit bibirnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku juga sering nangis, Jo.”

Joseph menatap sahabatnya.

“Tapi bukan karena hidupku sekarang susah.”

“Lalu?”

“Karena aku baru sadar… selama ini aku terlalu sibuk menyalahkan Mama. Padahal beliau juga manusia.”

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Maria meminta Joseph mengantarnya bertemu sang ibu.

Malam itu juga.

Rumah besar yang dulu selalu terasa hangat kini terasa asing.

Mama Maria membuka pintu.

Beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Tanpa satu kata pun, sang ibu langsung memeluk putrinya erat.

Tangis keduanya pecah bersamaan.

“Tante… eh… Ma…”

Maria tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

“Aku kangen.”

Mama Maria menangis semakin keras.

“Mama juga.”

Mereka saling meminta maaf tanpa lagi memperdebatkan masa lalu.

Namun satu hal tetap belum berubah.

Maria tetap memilih tinggal bersama ayahnya.

“Mama boleh datang kapan saja.”

Mama Maria mengangguk sambil mengusap air mata.

“Asal kamu bahagia.”

Hari-hari berikutnya hubungan keduanya mulai membaik.

Mama Maria bahkan sesekali diam-diam mengirim makanan ke rumah mantan suaminya.

Tidak lagi melalui Joseph.

Ia datang sendiri.

Sementara itu, kehidupan Fattah justru memasuki ujian baru.

Suatu malam, Bu Nur benar-benar mengajaknya bertamu ke rumah Pak Burhan.

Fattah datang karena tak ingin mengecewakan ibunya.

Anak perempuan Pak Burhan memang baik, santun, dan berpendidikan.

Mereka berbincang hampir satu jam.

Namun sepanjang pembicaraan, hati Fattah terasa kosong.

Sepulang dari sana, Pak Wisnu bertanya pelan.

“Gimana?”

Fattah tersenyum kecil.

“Dia perempuan baik.”

“Tapi?”

“Tapi hati saya tidak bergerak.”

Pak Wisnu hanya mengangguk.

“Kalau begitu jangan dipaksakan.”

Bu Nur sempat kecewa, tetapi akhirnya menerima keputusan anaknya.

Malam itu Fattah kembali melaksanakan salat tahajud.

Ia kembali berdoa.

“Ya Allah… jika memang Engkau sedang menyiapkan seseorang, izinkan aku bertemu dengan cara yang paling Engkau ridai.”

Beberapa hari kemudian, komunitas relawan kembali mengadakan rapat.

Maria datang sedikit terlambat.

Begitu membuka pintu ruangan, hampir semua orang sudah duduk.

Satu-satunya kursi kosong berada tepat di samping Fattah.

Maria menoleh ke arah Nisa.

“Ini sengaja?”

Nisa langsung pura-pura tidak tahu.

“Duduk aja.”

Maria akhirnya duduk.

Sepanjang rapat mereka hampir tidak berbicara.

Sampai ketika rapat selesai, Fattah menghentikan langkahnya.

“Maria.”

“Iya, Mas?”

“Terima kasih.”

Maria mengernyit.

“Terima kasih buat apa?”

“Karena setelah kejadian di sungai, saya belajar sesuatu.”

“Apa?”

Fattah tersenyum.

“Saya terlalu sering menilai seseorang dari apa yang terlihat.”

Maria terdiam.

“Padahal ternyata… hati seseorang jauh lebih penting daripada penampilannya.”

Maria tertawa pelan.

“Mas juga ngajarin saya banyak hal.”

“Apa?”

“Ternyata orang yang kelihatannya paling tenang bisa nekat nyebur sungai juga.”

Fattah ikut tersenyum.

“Itu refleks.”

“Refleks yang menyelamatkan hidup saya.”

Keheningan sesaat menyelimuti mereka.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Di kejauhan, Joseph yang baru datang mengamati keduanya sambil tersenyum tipis.

Ia membuka galeri ponselnya.

Di sana masih tersimpan foto-foto Maria yang selalu tampak bahagia.

Kali ini ia tidak lagi bertanya kebahagiaan seperti apa yang dicari sahabatnya.

Ia akhirnya mengerti.

Bahagia bukan tentang memilih ibu atau ayah.

Bukan tentang hidup berkecukupan atau sederhana.

Bukan pula tentang menemukan seseorang yang sempurna.

Bahagia adalah ketika seseorang berani memilih jalan yang benar, memaafkan luka yang paling dalam, tetap berbakti kepada kedua orang tua meski mereka telah berpisah, dan tetap percaya bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan menemukan waktu terbaik untuk dikabulkan.

Sementara di sisi lain ruangan, tanpa diketahui siapa pun, Bu Nur yang kebetulan datang menjemput putranya melihat sekilas Maria sedang membantu membereskan kursi-kursi setelah semua orang pulang.

Perempuan itu memperhatikan bagaimana Maria mendahulukan para ibu yang lebih tua, menyapa semua orang dengan ramah, lalu diam-diam membersihkan gelas-gelas yang bukan miliknya.

Bu Nur menoleh kepada suaminya.

“Itu ya… Maria?”

Pak Wisnu mengangguk sambil tersenyum.

“Iya.”

Bu Nur tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya kapan Fattah akan dibawa bertemu perempuan pilihan orang lain.

Karena kadang-kadang, jawaban dari doa seseorang tidak datang melalui perkenalan yang direncanakan manusia, melainkan melalui pertemuan-pertemuan sederhana yang telah Allah atur jauh sebelum keduanya saling mengenal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang