“Dililit kayak gini aja kali ya?”

Maria masih terus berlari sambil menahan malu yang rasanya jauh lebih perih daripada lututnya yang berdarah akibat terjatuh. Wajahnya yang tadi dipenuhi lumpur kini terasa semakin panas karena kalimat yang tanpa sengaja keluar dari mulutnya.

“Minta dijodohin sama Mas Fattah lah.”

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya.

Sesampainya di rumah singgah, Maria langsung mengunci diri di kamar. Ia menjatuhkan tubuh ke kasur tipis sambil memukul bantal berkali-kali.

“Ya Allah… baru jadi mualaf beberapa hari, tapi mulut gue udah bikin dosa malu seumur hidup.”

Nisa yang mendengar suara gaduh dari luar mengetuk pintu.

“Masih hidup?”

“Belum.”

“Pintu dibuka dulu.”

Maria membuka pintu dengan wajah kusut. Nisa langsung tertawa begitu melihat bekas lumpur yang masih menempel di pipi sahabatnya.

“Lo habis perang?”

“Lebih parah.”

“Apa lagi?”

Maria menarik napas panjang.

“Gue nembak ustaz.”

Nisa terdiam beberapa detik.

“Hah?”

“Bukan sengaja.”

“Itu yang paling bahaya.”

Maria akhirnya menceritakan semuanya. Mulai dari doa yang dianggap mustajab sampai kalimat yang tiba-tiba meluncur begitu saja.

Nisa memegangi perutnya karena tertawa terlalu keras.

“Ya ampun, Maria. Belum pernah seumur hidup gue lihat orang nembak ustaz terus kaburnya malah nyungsep ke lumpur.”

“Udah, jangan diulang.”

“Mas Fattah reaksinya gimana?”

“Itu dia. Gue bahkan nggak sempat lihat.”

Malam itu Maria sengaja menghindari Fattah. Setiap kali melihat laki-laki itu dari kejauhan, ia langsung mencari alasan untuk pergi ke arah lain.

Sebaliknya, Fattah justru bersikap biasa saja.

Ia tetap memimpin salat, mengajar anak-anak mengaji, membantu warga mengangkat semen untuk renovasi masjid, bahkan sesekali masih menyapa Maria seperti tidak terjadi apa-apa.

Sikap itu justru membuat Maria semakin gelisah.

“Kenapa dia biasa aja?” gumamnya.

“Bukannya bagus?”

“Justru serem.”

“Kenapa serem?”

“Kalau dia marah, gue masih ngerti. Kalau dia diam begini, gue nggak tahu isi pikirannya.”

Hari terakhir kegiatan bakti sosial akhirnya tiba.

Seluruh relawan berkumpul di halaman masjid untuk berpamitan kepada warga desa.

Anak-anak kecil berlarian memeluk para kakak mahasiswa yang selama beberapa hari menemani mereka belajar.

Seorang nenek menggenggam tangan Maria.

“Mbak Maria nanti datang lagi ya.”

Maria tersenyum haru.

“Insya Allah, Nek.”

Ia sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar begitu alami.

Dulu ia mengucapkan “insya Allah” hanya karena ikut-ikutan.

Sekarang kata itu benar-benar berasal dari keyakinannya.

Saat bus mulai bersiap berangkat, Fattah menghampiri seluruh peserta.

“Terima kasih sudah membantu warga di sini. Semoga Allah membalas semua kebaikan teman-teman.”

Semua mengangguk.

Tatapan Maria sempat bertemu dengan Fattah beberapa detik.

Laki-laki itu hanya tersenyum tipis.

Tidak ada pembahasan mengenai kejadian kemarin.

Tidak ada candaan.

Tidak ada sindiran.

Justru itulah yang membuat Maria semakin penasaran.

Perjalanan pulang berlangsung hampir lima jam.

Begitu tiba di Jakarta, Maria kembali ke rutinitas kuliahnya.

Namun ada satu masalah yang terus menghantuinya.

Ia belum memberi tahu ibunya bahwa dirinya sudah menjadi mualaf.

Hari Minggu yang dikhawatirkannya akhirnya datang.

Pagi-pagi sekali ibunya sudah mengetuk pintu kamar.

“Maria, bangun. Kita berangkat ibadah jam sembilan.”

Maria membuka mata perlahan.

Dadanya sesak.

Hari ini tidak mungkin dihindari lagi.

Ia keluar kamar dengan wajah pucat.

Ibunya tersenyum hangat.

“Kamu sakit?”

Maria menggeleng.

“Mama…”

“Iya?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Ibunya langsung duduk di ruang tamu.

“Ada apa?”

Maria menggenggam kedua tangannya sendiri.

Lidahnya terasa kelu.

Semua keberanian yang selama ini dikumpulkan mendadak hilang.

“Aku…”

Belum sempat melanjutkan, bel rumah berbunyi.

Ibunya berdiri.

“Tunggu sebentar.”

Seorang tamu datang mengantarkan dokumen dari kantor tempat ibunya bekerja.

Kesempatan itu pun hilang.

Maria menghela napas panjang.

Sepanjang hari ia kembali mengurungkan niatnya.

Malamnya, ia membuka ponsel.

Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.

Assalamu’alaikum. Saya Fattah.

Maria langsung terduduk tegak.

Jantungnya berdegup begitu keras.

Ia membaca ulang nama pengirim beberapa kali.

Wa’alaikumussalam.

Baru beberapa detik kemudian balasan masuk.

Nisa cerita kalau kamu belum sempat bicara sama ibu.

Maria langsung menoleh ke langit-langit kamar.

“Nisa…”

Ia sudah bisa menebak siapa pelakunya.

Iya, Mas. Aku masih takut.

Beberapa menit tidak ada balasan.

Kemudian muncul satu pesan lagi.

Takut itu wajar. Tapi orang tua lebih berhak mendengar kabar sebesar ini langsung dari anaknya daripada dari orang lain.

Maria membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu muncul pesan berikutnya.

Jangan menunda karena takut kehilangan. Kadang kejujuran memang menyakitkan di awal, tapi menyelamatkan semuanya di akhir.

Maria menatap layar cukup lama.

Pesan itu sederhana.

Namun entah kenapa membuat dadanya terasa lebih ringan.

Besok paginya, ia memberanikan diri.

Ibunya sedang menyiram bunga ketika Maria menghampiri.

“Ma.”

“Iya?”

“Mama jangan marah dulu ya.”

Ibunya langsung menghentikan aktivitasnya.

“Kamu hamil?”

Maria sampai tersedak.

“Bukan!”

“Lalu?”

Maria menarik napas panjang.

“Aku… sudah masuk Islam.”

Air di selang terus mengalir membasahi halaman.

Namun ibunya sama sekali tidak bergerak.

Wajah perempuan itu perlahan berubah.

“Kamu bercanda?”

Maria menggeleng.

“Kapan?”

“Beberapa minggu lalu.”

“Kenapa?”

Maria mulai menangis.

“Aku menemukan ketenangan yang selama ini aku cari.”

Ibunya mundur satu langkah.

Air matanya jatuh.

“Kamu bahkan tidak cerita sama Mama.”

“Aku takut.”

“Takut Mama apa?”

“Takut Mama membenciku.”

Suasana mendadak sunyi.

Ibunya masuk ke rumah tanpa mengatakan apa pun.

Hari itu menjadi hari paling panjang dalam hidup Maria.

Selama tiga hari mereka hampir tidak berbicara.

Ibunya tetap memasak.

Tetap menyiapkan kebutuhan Maria.

Tetapi tidak lagi banyak mengajak bicara.

Maria hanya bisa menangis setiap malam.

Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusannya telah menghancurkan keluarganya.

Di tengah kebingungan itu, ponselnya kembali berdering.

Kali ini Fattah yang menelepon.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Saya dengar dari Nisa.”

Maria langsung mendengus.

“Itu anak kalau punya mulut nggak ada rem.”

Fattah terkekeh pelan.

Untuk pertama kalinya Maria mendengar laki-laki itu tertawa.

Suara tawanya ternyata hangat.

“Bagaimana keadaan ibu?”

“Masih diam sama aku.”

“Itu bukan berarti beliau membenci kamu.”

“Kok Mas yakin?”

“Karena seorang ibu biasanya butuh waktu menerima kehilangan harapan yang selama ini dia bangun.”

Maria terdiam.

“Jangan memaksa beliau menerima hari ini.”

“Kalau beliau nggak pernah menerima?”

“Doakan.”

Sesederhana itu.

Doakan.

Beberapa minggu berlalu.

Hubungan Maria dan ibunya perlahan mulai mencair.

Mereka belum membahas agama lagi.

Tetapi sudah mulai makan bersama.

Sesekali bercanda.

Bahkan suatu sore, ibunya tiba-tiba bertanya.

“Kamu sekarang salat lima waktu?”

Maria mengangguk.

“Iya.”

“Kalau begitu jangan sampai bolong.”

Maria hampir menangis mendengar kalimat itu.

Bukan karena ibunya sudah menerima.

Tetapi karena setidaknya ibunya mulai menghargai pilihannya.

Enam bulan kemudian.

Masjid tempat Fattah mengajar mengadakan kajian akbar.

Maria dan Nisa datang sebagai peserta.

Setelah acara selesai, Nisa sengaja menghilang entah ke mana.

Maria yang sedang membereskan sandal tiba-tiba mendengar suara di belakangnya.

“Maria.”

Ia menoleh.

Fattah berdiri beberapa langkah darinya.

“Mas.”

“Saya mau bicara sebentar.”

Maria langsung gugup.

“Iya.”

Fattah tampak menarik napas panjang.

“Saya sudah istikharah beberapa bulan.”

Maria mengerjapkan mata.

“Saya juga sudah bicara dengan guru saya.”

Jantung Maria mulai berdegup lebih cepat.

“Saya tidak datang untuk memberi jawaban atas kalimat yang pernah kamu ucapkan waktu itu.”

Maria langsung ingin menghilang dari bumi.

“Mas…”

“Tapi saya datang karena setelah mengenal kamu, saya melihat kesungguhan kamu belajar Islam.”

Maria hanya bisa diam.

“Saya belum bisa menjanjikan kehidupan yang mewah.”

Tatapan Fattah tetap tenang.

“Tapi kalau ibu kamu mengizinkan, saya ingin datang bersama keluarga untuk melamar kamu.”

Air mata Maria langsung jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia tertawa kecil sambil mengusap pipinya.

“Mas…”

“Iya?”

“Ternyata doa ustaz memang ada yang dikabulkan.”

Fattah tersenyum untuk pertama kalinya tanpa menahan.

“Bukan karena saya ustaz.”

“Lalu?”

“Karena Allah selalu mendengar doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh.”

Maria mengangguk pelan.

Ia teringat hari ketika mulutnya “bocor” dan tanpa sengaja mengucapkan doa paling memalukan dalam hidupnya.

Dulu ia mengira itu adalah kesalahan terbesar.

Kini ia justru memahami bahwa terkadang, kejujuran yang keluar tanpa rencana bisa menjadi awal dari takdir yang telah lama Allah siapkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang