Nama itu masih terngiang ketika azan Subuh berkumandang.

Malam itu menjadi malam terakhir Ayunda menangisi pengkhianatan tanpa arah. Saat langit mulai memucat menjelang Subuh, air matanya telah habis. Yang tersisa hanyalah tekad yang dingin, tenang, dan jauh lebih berbahaya daripada amarah yang meledak-ledak.

Ia tidak membangunkan Yogi. Ia tidak memukul, tidak berteriak, bahkan tidak menatap wajah suaminya lebih lama dari biasanya. Ketika Yogi membuka mata dan tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa, Ayunda membalas dengan senyum yang sama.

“Selamat pagi, Sayang.”

“Pagi. Kok sudah bangun?”

“Aku mau bikin sarapan spesial.”

Yogi terlihat lega. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya telah melihat seluruh isi hidup rahasianya semalam.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi sebuah sandiwara.

Ayunda tetap memasak, tetap mencuci pakaian, bahkan masih mengantar bekal makan siang ke kantor Yogi beberapa kali. Di depan semua orang, mereka tampak seperti pasangan harmonis.

Tetapi diam-diam, Ayunda mulai menyusun setiap keping bukti.

Ia menyalin seluruh foto dari cloud ke penyimpanan pribadinya.

Ia memotret jaket krem milik Wulan.

Ia menyimpan anting persahabatan itu dalam sebuah kotak kecil.

Ia mencatat tanggal, lokasi, dan waktu setiap foto yang pernah diambil Yogi bersama Wulan.

Semakin banyak ia melihat, semakin sesak dadanya.

Perselingkuhan itu bukan baru terjadi beberapa bulan.

Sudah hampir dua tahun.

Berarti hampir separuh usia pernikahan mereka dipenuhi kebohongan.

Yang lebih menyakitkan, hampir setiap kali Yogi berkata sedang lembur, hampir selalu ada foto dirinya bersama Wulan.

Bahkan ketika Ayunda dirawat karena demam berdarah setahun lalu, Yogi ternyata hanya menjenguk sebentar. Setelah itu ia pergi makan malam bersama Wulan.

Ayunda menutup laptopnya perlahan.

“Hebat sekali kalian,” gumamnya lirih.

Beberapa hari kemudian Wulan menghubunginya.

“Ayun, minggu depan kita ketemu yuk. Aku kangen.”

Ayunda membaca pesan itu berkali-kali.

Kangen?

Setelah semua ini?

Dengan tangan yang tenang ia membalas.

“Tentu. Aku juga kangen.”

Di balik layar ponsel, senyum tipis muncul di wajahnya.

Permainan baru saja dimulai.

Hari Sabtu mereka bertemu di sebuah kafe yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat favorit mereka.

Wulan datang dengan pakaian putih sederhana dan wajah yang tetap ramah.

Begitu melihat Ayunda, ia langsung memeluknya.

“Aduh, kamu kurusan.”

Ayunda membalas pelukan itu.

“Iya, akhir-akhir ini banyak pikiran.”

“Yogi sehat?”

“Sehat.”

Wulan mengangguk sambil tersenyum.

Senyum yang kini terasa palsu.

Selama dua jam mereka mengobrol seperti dulu.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang rencana liburan.

Wulan berbohong dengan sangat lancar hingga Ayunda hampir kagum melihat kemampuan sahabatnya itu.

Saat pesanan kopi datang, Ayunda sengaja memandang telinga kanan Wulan.

Anting bunga itu tidak ada.

“Anting hadiah ulang tahunku ke mana?”

Wulan spontan menyentuh telinganya.

“Oh… hilang kayaknya.”

“Kapan?”

“Entahlah… mungkin beberapa minggu lalu.”

Ayunda mengangguk pelan.

Padahal ia tahu persis anting itu berada di laci kamarnya.

Wulan bahkan tidak sadar di mana ia kehilangannya.

Artinya…

Ia benar-benar sering berada di mobil Yogi.

Sepulang dari pertemuan itu, Ayunda menangis lagi.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena akhirnya semua keraguannya benar-benar lenyap.

Malam berikutnya, Ayunda menghubungi seseorang yang sudah lama tidak ia temui.

Namanya Raka.

Sepupu Yogi.

Raka bekerja sebagai konsultan hukum dan selama ini cukup dekat dengan Ayunda.

“Ada apa, Yun? Kok tiba-tiba ngajak ketemu?”

Ayunda hanya menyerahkan flashdisk berisi semua bukti.

Raka membukanya satu per satu.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

“Ya Allah… ini serius?”

Ayunda mengangguk.

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau nanti aku memilih pergi, aku tidak mau kehilangan hakku.”

Raka menarik napas panjang.

“Kamu sudah memikirkan ini matang-matang?”

“Aku sudah melewati fase menangis.”

“Sekarang?”

“Aku ingin hidup.”

Raka menatap Ayunda cukup lama.

“Aku akan bantu.”

Beberapa minggu kemudian, tanpa diketahui Yogi maupun Wulan, seluruh dokumen keuangan rumah tangga mulai dikumpulkan.

Buku tabungan.

Sertifikat rumah.

Bukti cicilan.

Rekening bersama.

Ayunda baru menyadari sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Ada transfer rutin ke rekening atas nama Wulan.

Jumlahnya tidak kecil.

Kadang lima juta.

Kadang sepuluh juta.

Kadang lebih.

Jika dijumlahkan selama hampir dua tahun, nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Uang itu berasal dari rekening keluarga.

Rekening yang juga berisi hasil kerja keras Ayunda.

Malam itu Ayunda menatap Yogi yang sedang menonton televisi.

“Mas.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal nyari aku?”

Yogi tertawa kecil.

“Kok ngomong begitu?”

“Jawab aja.”

“Ya pasti dicari lah. Kamu istriku.”

Ayunda tersenyum hambar.

“Semoga nanti jawaban itu masih sama.”

Yogi tidak mengerti maksudnya.

Sebulan kemudian datang undangan ulang tahun ibu Yogi yang keenam puluh.

Seluruh keluarga besar akan hadir.

Termasuk Wulan.

Karena sejak lama Wulan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga mereka.

Ayunda melihat kesempatan yang selama ini ia tunggu.

Hari itu rumah orang tua Yogi penuh tawa.

Meja makan dipenuhi makanan.

Anak-anak berlarian.

Semua tampak bahagia.

Yogi sibuk membantu tamu.

Wulan datang mengenakan gaun biru muda.

Ia bahkan masih sempat memeluk Ayunda.

“Aku senang kamu datang.”

“Aku juga.”

Acara berjalan lancar hingga selesai makan malam.

Saat semua orang berkumpul di ruang keluarga, Ayunda berdiri.

“Boleh aku bicara sebentar?”

Ruangan langsung hening.

Yogi tersenyum.

“Wah, istriku mau pidato nih.”

Ayunda mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Ia membukanya perlahan.

Anting bunga itu terlihat berkilau.

Wulan langsung membeku.

“Ada yang kenal anting ini?”

Ibu Yogi tersenyum.

“Cantik ya.”

Ayunda mengangguk.

“Ini hadiah ulang tahun untuk sahabat terbaikku dua tahun lalu.”

Ia menatap Wulan.

“Betul kan?”

Wulan memaksakan senyum.

“Iya… itu mirip punyaku.”

“Bukan mirip.”

Ayunda membalik anting itu.

“Masih ada ukiran W dan A.”

Ruangan mulai sunyi.

“Aku menemukannya di mobil suamiku.”

Yogi mendadak berdiri.

“Ayun… jangan…”

“Belum selesai.”

Dengan tenang Ayunda menghubungkan laptop ke televisi ruang keluarga.

Foto pertama muncul.

Yogi dan Wulan sedang makan malam.

Foto kedua.

Mereka bergandengan tangan.

Foto ketiga.

Berpelukan di apartemen.

Foto keempat.

Berciuman.

Tangisan ibu Yogi pecah lebih dulu.

Ayahnya memukul meja begitu keras hingga gelas berguncang.

“Yogi!”

Yogi mencoba merebut laptop.

“Ayun, dengarkan aku dulu!”

Ayunda mundur satu langkah.

“Dua tahun.”

Ruangan terasa membeku.

“Dua tahun kalian membohongiku.”

Wulan menangis.

“Ayun… aku bisa jelaskan.”

“Apa yang mau dijelaskan?”

“Aku… aku jatuh cinta…”

“Tapi dia suamiku.”

Tidak ada yang mampu menjawab.

Ayunda membuka file terakhir.

Daftar transfer uang.

Nominal demi nominal muncul memenuhi layar.

“Terima kasih juga karena sudah menikmati hasil kerja keras rumah tangga kami.”

Semua mata kini berpindah ke Wulan.

Wajah perempuan itu sepucat kertas.

Ibu Yogi menampar anaknya tanpa ragu.

“Selama ini Mama bangga sama kamu!”

Tamparan itu terdengar keras.

Yogi tidak melawan.

Ia hanya menunduk.

“Aku khilaf.”

Ayunda menggeleng pelan.

“Sekali disebut khilaf.”

Ia mengganti slide.

“Tapi ini dua tahun.”

Slide berikutnya.

Puluhan foto.

Puluhan kebohongan.

“Ini namanya pilihan.”

Tidak ada lagi yang membela mereka.

Bahkan keluarga Wulan yang datang belakangan hanya mampu menangis malu.

Ayunda menutup laptop.

“Aku tidak datang untuk membuat keributan.”

Ia mengeluarkan map cokelat.

“Ini surat gugatan cerai.”

Yogi terdiam.

“Aku sudah tanda tangan.”

Tangannya gemetar.

“Ayun… jangan tinggalkan aku.”

Kalimat itu terlambat.

Sangat terlambat.

Ayunda memandang laki-laki yang pernah menjadi pusat dunianya.

“Aku pernah mempercayaimu sepenuh hati.”

Air matanya akhirnya jatuh lagi.

“Tapi kepercayaan tidak mati karena satu kebohongan.”

“Ia mati karena kebohongan yang diulang terus sampai kita tidak lagi mengenali siapa orang yang berdiri di depan kita.”

Yogi berlutut.

Semua orang menyaksikannya.

“Maafkan aku.”

Ayunda hanya tersenyum.

Senyum yang tenang.

“Maaf itu kuberikan.”

Yogi mengangkat kepala penuh harapan.

“Tapi kesempatan kedua tidak.”

Ia berbalik meninggalkan rumah itu.

Tidak ada yang mengejarnya.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian selesai.

Hak-hak Ayunda dipenuhi berdasarkan bukti yang ia kumpulkan.

Ia memilih pindah ke kota lain.

Membuka usaha kecil yang sejak lama ingin ia jalankan.

Hidupnya memang tidak langsung bahagia.

Masih ada malam-malam ketika ia terbangun karena mimpi buruk.

Masih ada hari-hari ketika nama Wulan terlintas di kepalanya.

Namun perlahan luka itu berubah menjadi pelajaran.

Suatu sore, ketika sedang menutup toko, ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal mengirim sebuah pesan.

“Aku Wulan. Aku hanya ingin bilang maaf. Yogi meninggalkanku enam bulan lalu. Sekarang aku baru mengerti rasanya kehilangan seseorang yang paling dipercaya.”

Ayunda membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Ia tidak membalas.

Ia menghapusnya.

Lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.

Di depan tokonya, matahari mulai tenggelam.

Langit Jakarta memancarkan warna jingga yang indah.

Ayunda menarik napas panjang.

Dulu ia mengira kehilangan suami dan sahabat adalah akhir hidupnya.

Ternyata justru pada hari semuanya runtuh, ia menemukan dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, pengkhianatan memang mampu menghancurkan sebuah hubungan.

Tetapi hanya kita sendiri yang menentukan apakah pengkhianatan itu juga akan menghancurkan masa depan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang